
Keyla menghela nafas sambil menjatuhkan tubuhnya di ranjang. 2 hari belakang sibuk memindahkan barang-barangnya di apartemennya ke apartemen Dion. Besok Papa Surya sudah di perbolehkan pulang, itu sebabnya hari ini Keyla sibuk sejak pagi merapikan apartemen Dion untuk menata kembali barang-barangnya. Dia juga menata dan merapikan kamar yang akan di tempati oleh Papa Surya.
Sejak tadi siang dia hanya berdua dengan pengasuh Leo, karna setelah makan siang, Dion dan Leo pergi ke rumah sakit untuk menemani Papa Surya.
Keyla menatap langit-langit kamar, pandangan matanya mulai mengitari kesemua sudut kamar milik Dion. Mulai besok dia terpaksa harus tidur satu kamar dengan mantan suaminya itu.
Entah apa jadinya, Keyla bahkan tidak berani membayangkan hal itu. Sudah pasti dia malu dan merasa canggung jika harus berada dalam satu kamar berdua dengan Dion.
"Bagaimana ini.?" Gumam Keyla. Dia bertanya pada dirinya. Entah harus sampai kapan dia dan Dion akan berpura-pura masih menjadi sepasang suami-istri di depan Papa Surya. Sandiwara ini memang baik untuk menjaga kondisi Papa Surya paska operasi, tapi tidak baik untuk dirinya dan juga Dion.
Tinggal berdua dalam satu atap saja tidak baik untuk mereka yang tidak memiliki ikatan pernikahan, tapi mereka justru akan tidur di dalam kamar yang sama.
Keyla berharap semua sandiwara ini tak akan lama, perlahan bisa memberitahu kebenarannya pada Papa Surya pelan-pelan, paling tidak menunggu sampai kondisinya lebih stabil.
Rasa lelah dan kantuk menjadi satu, pandangan mata Keyla perlahan mulai berkabut, semakin lama terbawa ke alam mimpi. Dia tidur dengan nyenyak di atas ranjang yang sudah bertahun-tahun di tiduri oleh Dion.
Dalam keadaan memakai hot pants dan kaos polos yang longgar, Keyla terlihat sangat nyaman tidur dengan posisi terlentang dan kaki yang menjuntai ke lantai.
...****...
Dion pulang ke apartemen sembari menggendong Leo yang tertidur. Dia bergegas pergi ke kamar Leo untuk membaringkan putranya di sana. Leo terlihat kelelahan, padahal di rumah sakit hanya bercanda dengan Papa Surya dan sibuk dengan mainannya. Dia juga berlari ke sana kemari saat berada di sana.
Dion keluar kamar setelah membaringkan Leo di ranjang. Dia lalu pergi ke kamarnya, berniat untuk mandi. Meski sempat menanyakan keberadaan Keyla dalam hati, namun Dion tidak berniat mencarinya. Dia ingin buru - buru mandi lebih dulu karna merasa panas.
Setelah masuk dan menutup pintu, Dion berdiri di tempat. Sorot matanya menatap wanita cantik yang tengah tertidur pulas di ranjangnya.
Tanpa sadar dia menelan saliva setelah memfokuskan pandangannya pada kedua paha Keyla yang terbuka dengan kain minim yang hanya membalut setengah pahanya.
"Apa kamu ingin menggodaku." Gumamnya dengan sudut bibir yang terangkat. Dion berjalan menghampiri ranjang, pandangan matanya terus fokus pada sesuatu yang membuat tubuhnya terasa semakin panas.
Berhenti tepat di depan Keyla, Dion menatap wajah Keyla beberapa saat, raut wajah yang terlihat sangat kelelahan. Manik matanya perlahan turun kebawah, Dion tersenyum smirk memandangi sesuatu di balik baju Keyla.
"Sepertinya kamu sudah siap." Seru Dion, dia sengaja mengeraskan suaranya agar di dengar oleh Keyla.
"Jadi bagian mana dulu yang haru aku sentuh.?" Serunya lagi.
Keyla mulai menggeliat, suara Dion berhasil masuk ke alam mimpi dan berhasil membangunkannya.
"Aaahhkkkk,,,!!!" Keyla melonjak kaget melihat wajah Dion yang sangat dekat dengannya. Kakinya yang menjuntai di gerakkan dengan kencang hingga menendang bagian sensitif milik Dion yang berdiri di depannya.
"Aaarrggh.! ** **.!" Pekik Dion sembari beranjak dari hadapan Keyla dan memegangi bagian yang terkena tendangan kaki Keyla.
Menyadari hanya memakai hot pants, Keyla menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Dia lalu turun dari ranjang, menatap Dion yang kesakitan dengan jantung yang berdetak kencang karna takut.
"Ma,,Maaf Di, aku tidak sengaja,," Ucap Keyla terbata. Dia perlahan berjalan menjauh, berniat untuk keluar dari kamar. Sayangnya Dion menyadari hal itu dan enggan membiarkan Keyla keluar begitu saja setelah menendang aset berharganya.
Dion berlari cepat ke arah Keyla dan mencekal tangannya.
"Setelah melukainya, kamu mau pergi begitu saja.?" Ujar Dion. Wajah Keyla berubah pucat, berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Dion.
"Aku bilang tidak sengaja." Seru Keyla.
"Tidak sengaja.? Sudah 2 kali kamu membuatnya kesakitan."
Keyla tidak bisa berkata-kata setelah Dion mengingatkannya dengan kejadian waktu itu. Dia bingung harus berkata apa lagi untuk memberikan pembelaan.
"Saat itu kamu bisa lolos, tapi kali ini kamu harus bertanggungjawab." Pinta Dion dengan nada bicara dan tatapan mata yang serius.
Keyla menggeleng cepat sebagai penolakan. Mana mungkin dia mau bertanggungjawab jika Dion meminta hal-hal yang di luar batas. Cukup 1 kali saja dia melakukan kesalahan pada saat terjebak di Bandung.
"Aku benar-benar tidak sengaja Di, kenapa harus ada pertanggungjawaban segala.?" Protes Keyla.
"Lepas, aku mau keluar." Keyla menarik tangan Dion agar melepaskan genggaman tangannya.
"Tidak akan." Jawab Dion enteng.
"Sebelum menyembuhkannya, kamu tidak bisa keluar dari kamar ini." Tuturnya serius.
"Are you kidding.?!" Keyla menatap kesal.
"No." Jawab Dion cepat. Keyla membulatkan matanya.
"Di.!! Lepas.!" Teriaknya.
"Jangan berisik, Leo sedang tidur."
"Aku ingin mandi, setidaknya kamu bisa memandikannya sebagai bentuk tanggungjawab." Tutur Dion dengan senyum penuh arti. Dia sedang membayangkan Keyla memandikan keris saktinya.
"Ayo ke kamar mandi." Dia menarik tangan Keyla, hal itu semaki membuat Keyla membulatkan mata karna panik.
"Maaf Di, kamu sendiri yang memintanya." Ujar Keyla, dia lalu menginjak kaki Dion dengan menghentakkan kaki sekuat mungkin.
"Aaaarghh.!" Teriak Dion kesakitan. Saat itu juga Dion melepaskan tangan Keyla dan memberikan celah bagi Keyla untuk lari dan keluar dari kamar.
"Keylaaaa,,,!!" Teriak Dion geram.
"Lihat saja nanti setelah Papa pulang, apa kamu masih bisa melarikan diri." Ujar Dion dengan senyum kepuasan di wajahnya. Keyla yang baru saja membuka pintu, seketika diam mematung dengan rasa takut yang berkali-kali lipat.
Entah bagaimana dia bisa kabur dari kamar Dion jika Papa Surya sudah tinggal di apartemen ini. Sudah pasti akan menimbulkan kecurigaan jika dia tidur di kamar Leo.
"Soo,, mau pasrah atau dengan cara pemaksaan.?" Ujar Dion lagi. Dia menahan tawa melihat wajah pucat Keyla.
"Dasar menyebalkan.!" Cibir Keyla ketus. Dia lalu menutup kasar pintu kamar Dion bergegas pergi ke dapur, masih dengan membalut tubuh bagian bawahnya dengan selimut.
Keyla mengambil air dingin dan meneguknya hingga tak tersisa. Dia tidak habis pikir dengan sikap Dion. Terkadang membuatnya bingung, kesal, merasa tersentuh dan terkadang membuatnya sampai senam jantung karna kemesumannya.
"Kenapa dia jadi semakin aneh." Gumamnya tak habis pikir.
...***...
...makasih yang masih stay di novel ini 🙏🏻...
...Akhirnya muncul ide lagi, semoga bisa rutin up walaupun dikit-dikit....
Emang perlu istirahat sepertinya, ibarat kata waktu itu sudah panas mesinnya 🤣, jadi perlu di istirahatkan sejenak.