My Secretary

My Secretary
Bab 49



"Mama,, Papa,,," Leo bergegas lari menghampiri Keyla dan Dion yang baru saja pulang. Semalam Leo sempat mencari mereka karna tak pulang.


Keyla membalas pelukan Leo yang tadi mendekapnya. Putranya itu terlihat rindu padahal hanya di tinggal sejak malam dan pulang pukul 11 siang.


"Leo cariin Mama sama Papa," Tuturnya. Dia lalu melepaskan pelukannya pada Keyla dan beralih memeluk Dion yang langsung di gendong oleh laki-laki itu.


"Oh ya.?" Ujar Dion.


"Jagoan Papa makin berat saja." Komentarnya setelah menggendong Leo dan merasa tubuh putranya itu semakin berat.


"Itu karna Leo sudah besar, sepertinya sudah cocok kalau Leo punya adik." Ujar Papa Surya yang masih duduk di tempatnya.


"Leo mau adik." Kata Leo.


"Kata Kakek, Papa sama Mama sedang membuatkan adik untuk Leo." Tuturnya dengar raut wajah polos khas anak-anak. Ucapannya membuat Keyla menunduk malu dan beranjak dari ruang tamu.


Begitu juga dengan Papa Surya yang tampak malu lantaran ucapannya tadi malam di beberkan oleh Leo. Padahal tujuannya untuk membuat Leo diam karna semalam Leo terus mencari Mama dan Papanya, bahkan memintanya untuk menelfon mereka agar pulang.


Sedangkan Papa Surya tidak berani menelfon Dion, takut mengganggu mereka.


"Pah, kenapa bicara seperti itu pada Leo." Tegur Dion pelan. Leo masih terlalu kecil untuk mendengarkan kalimat seperti itu, walaupun dia tidak tau bagaimana caranya membuat adik, tapi suatu saat pasti akan penasaran dan mencari tau hal itu.


"Papa bingung harus jawab apa, semalam Leo terus mencari kalian dan meminta untuk menelfon. Jadi Papa terpaksa bilang seperti itu agar Leo berhenti mencari kamu."


"Dia malah senang setelah mendengarnya. Memang sudah waktunya dia punya adik."


Jelasnya, tapi tetap di akhir kalimat memberikan dukungan agar Leo segera diberikan adik.


Dion terlihat menghela nafas pelan, lalu menurunkan Leo.


"Iya, secepatnya Leo akan punya adik." Ujar Dion. Pada akhirnya dia tak menyangkalnya. Mungkin sebentar lagi akan ada adik Leo di dalam rahim Keyla.


"Papa mau ganti baju dulu ya," Pamitnya pada Leo.


Dia lalu bergegas masuk ke dalam kamar. Saat pintu di tutup, suara teriakan terdengar melengking hingga membuat Dion harus menutup telinganya.


"Aaaaa,,, Kenapa langsung masuk.!" Teriak Keyla. Dia langsung berjongkok, sembunyi di balik sofa karna tubuh bagian atas belum selesai di balut dengan baju.


"Apa aku harus mengetuk pintu di kamarku sendiri.?!" Seru Dion. Ini kamarnya dan dia bebas keluar masuk tanpa harus ijin ataupun mengetuk pintu lebih dulu.


"Tapi di dalam kamarmu ada orang lain, setidaknya ketuk pintu dulu." Sahut Keyla sembari memakai baju, lalu mulai berdiri dan menunjukan dirinya.


"Lagipula aku sudah hafal bentuknya, tak perlu repot-repot bersembunyi." Tutur Dion enteng. Dia berjalan begitu saja ke dalam walk in closet.


Keyla menggeram kesal, dia melayangkan tinjuan ke udara tepat setelah Dion melewatinya.


*****


Malam itu Keyla tak bisa tidur, karna memikirkan pernikahannya dengan Dion yang akan di langsungkan besok pagi pukul 10. Walaupun tidak akan di hadiri tamu, tapi tetap saja merasa grogi menyambut pernikahannya.


Sementara itu Dion masih terlihat serius duduk di depan laptopnya yang menyala. Sudah pukul 11 malam tapi masih saja sibuk dengan pekerjaan, padahal besok akan menjadi hari yang mendebarkan karna harus mengucapkan ijab qabul.


"Sudah malam, kenapa masih sibuk dengan pekerjaan." Mau tak mau, Keyla terpaksa harus menegur Dion agar menghentikan aktivitasnya. Bukan tanpa alasan, Keyla tentu saja menginginkan acara pernikahannya berjalan dengan lancar, begitu juga dengan pengucapan ijab qabul Dion. Walaupun masih ragu dengan pernikahannya.


"Kenapa.? Kamu ingin tidur sambil di peluk.? Atau ingin mengeluarkan keringat.?" Seru Dion tanpa mengalihkan pandangan matanya pada laptop.


Keyla membelalakan mata lebar-lebar, geram mendengar ucapan Dion. Bisa-bisanya mengatakan hal seperti itu, seolah-olah dia sangat menginginkan Dion untuk segera naik ke ranjang dan menyentuhnya.


"Kau itu menyebalkan sekali.!" Cibir Keyla.


"Bukankah besok hari pernikahanmu, kalau satu kali gagal mengucapkan ijab qabul, aku tidak mau melanjutkannya." Seru Keyla dengan ancaman. Mendengar hal itu, Dion mengalihkan pandangan dari laptop dan menatap Keyla.


"Aku tau kamu ahlinya, tapi ijab qabul bukan hanya sekedar hafalan saja."


"Sudahlah, terserah kamu saja mau tidur atau tidak." Keyla membelakangi posisi duduk Dion. Wanita itu selalu menyerah jika sudah mulai berdebat. Berdebat dengan Dion tak akan ada ujungnya, sekalipun ada, tetap dia yang menang.


Dion menutup laptopnya, perlahan beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ranjang.


Dia menatap punggung Keyla sembari mengulas senyum smirk, perlahan naik ke atas ranjang dan berbaring tepat di belakang Keyla tanpa meninggalkan jarak.


"Bilang saja ingin dipeluk." Katanya sembari melingkarkan tangan di perut Keyla dengan erat.


Keyla reflek membuka mata dan melonjak kaget dalam dekapan Dion.


"Di, kau itu apa-apaan.!" Keyla menggerakkan tangannya kebelakang untuk membuat Dion menyingkir dari belakang tubuhnya.


"Aku pikir kau ingin seperti ini,," Tuturnya. Dion malah sengaja mengeratkan pelukannya, bahkan menahan kedua tangan Keyla hingga tak bisa lagi memberontak.


"Lepas Di, jangan begini." Pinta Keyla.


"Oh jadi bukan pelukan.? Lalu kamu ingin yang seperti apa.?" Dion berbisik lembut di telinga Keyla, dia bahkan sengaja menghembuskan nafasnya di sana.


"Aku tidak mau bercanda Di. Aku harus tidur." geramnya. Keyla sampai menarik nafas dalam menghadapi Dion yang menyebalkan itu. Terlalu menguji kesabarannya.


"Bagaimana kalau olahraga dulu,,?" Bisiknya dengan nada meminta.


"Mengeluarkan keringat akan mengurangi kecemasan. Bukankah kaku sedang cemas sampai tidak bisa tidur.?"


"Setelah ini aku jamin kamu akan langsung tidur." Ucapnya dengan suara yang terdengar menggoda. Tangannya bahkan sudah merambat kemana-mana, mencari benda yang bisa dia genggam dan di mainkan.


"Pegang saja kalau berani.! Besok aku akan kabur.!" Ancam Keyla saat tangan Dion hampir sampai di dua aset kembarnya.


Seketika Dion berhenti, dia mengurungkan niatnya untuk menyentuh benda kenyal itu.


"Jadi sudah berani mengancam.?" Tanya Dion.


"Kenapa tidak." Jawab Keyla cepat.


"Sudah lepas, jangan dekat-dekat.!" Keyla menyingkirkan tangan Dion dari atas perutnya.


"Jangan peluk lagi.!" Teriaknya kemudian. Dia seolah bisa melihat gerakan Dion di belakangnya yang sudah siap untuk memeluknya lagi.


"Tunggu setelah kita menikah, jangan harap aku akan membiarkanmu tidur." Ujar Dion. Itu terdengar serius, Keyla bahkan sampai merinding membayangkannya.


Dion terlalu ganas jika benar-benar sudah melakukannya. 2 kali melakukan hal itu dengan Dion setelah bercerai, rasanya tak sebanding pada saat dulu masih menikah dengannya. Meski sama-sama membuatnya mengeram nikmat, tapi rasanya berkali-kali lipat lebih mengerikan dengan dulu.


Keyla menarik selimut hingga sebatas da -da, lalu bergegas memejamkan mata.


****


Pagi itu seperti biasa, Keyla dan Dion pamit pada Leo dan Papa Surya untuk pergi ke kantor, walaupun sebenarnya mereka akan melangsungkan pernikahan.


Keduanya sudah sepakat untuk tidak memberi tau Papa Surya.


Walaupun kedengarannya tidak baik karna menutupi kabar pernikahan dari orang tuanya sendiri, namun Dion memiliki sudut pandang yang berbeda.


Bagi Dion hal ini justru akan membuat Papa Surya syok jika mengetahui mereka akan menikah hari ini. Sedangkan beliau tak pernah tau tentang perceraiannya.


Seandainya memberi tau kebenaran ini, Dion takut Papa Surya tak akan bisa menerima kesalahan Keyla yang saat itu meninggalkannya. Papa Surya juga bisa saja memandang buruk Keyla karna mau tidur satu kamar dengan Dion, walaupun Dion sendiri yang memintanya.


Jadi lebih baik memang harus seperti ini saja menurut Dion. Yang terpenting sudah meresmikan kembali hubungannya dengan Keyla.