
"Selesaikan pekerjaan kamu, jangan pulang sebelum selesai." Tegas Dion. Dia beranjak dari duduknya setelah melepaskan jas dan memasangnya di senderan kursi.
Keyla yang sedang fokus hanya melirik sekilas sembari menganggukan kepala.
"Brrakk.!"
Suara pintu yang tertutup kencang mengagetkan Keyla hingga tersentak. Dia langsung menatap ke arah pintu dan mendapati Dion sudah tidak ada di dalam ruangan itu.
"Ya ampun, kenapa dia jadi semakin menyebalkan seperti itu." Keyla menggeleng heran.
Tak mau ambil pusing, Keyla kembali merevisi proposal itu.
Menghadapi sikap Dion harus banyak-banyak sabar dan jangan terlalu dibawa perasaan agar tidak sakit hati.
30 menit berlalu, Dion kembali ke ruangan. Dia langsung menyambar jas dan mengambil tas kerja miliknya.
"Kamu boleh pulang." Seru Dion.
"Hah,, Kenapa Pak.?" Tanya Keyla.
Sejak tadi dia sedang serius dengan pekerjaannya, hingga tidak terlalu jelas mendengar ucapan Dion yang sangat cepat.
"Kamu bisa pulang sekarang.!" Tegasnya.
Perintah dari Dion tentu saja membuat Keyla kebingungan. Dia jadi bengong.
Baru 30 menit tapi sudah di suruh pulang, pekerjaan yang diberikan oleh Dion bahkan belum selesai setengahnya.
"Pulang.? Tapi pekerjaannya belum selesai Pak." Ujar Keyla bingung. Padahal Dion sendiri yang menyuruhnya untuk menyelesaikan pekerjaan dan tidak boleh pulang sebelum selesai.
"Terserah kamu saja, mau pulang atau tidak.!" Ketusnya sembari beranjak keluar dari ruangan tanpa mengatakan apapun lagi.
"Ya ampun,, ada apa dengan manusia es itu.!" Keyla menggeram kesal sambil mengacak-acak rambutnya sendiri karna dibuat emosi oleh kelakuan Dion yang menguji kesabaran.
Entah apa maksudnya menyuruhnya untuk lembur, tapi baru 30 menit sudah disuruh pulang.
Benar-benar menjengkelkan, selalu seenaknya sendiri.
Tidak mau berada di ruangan itu sendirian, Keyla memutuskan untuk pulang. Lagipula Dion sendiri yang menyuruhnya pulang.
Keyla memesan taksi untuk pulang ke apartemen.
Pekerjaan kali ini tidak banyak, tapi terasa sangat melelahkan karna harus menghadapi manusia es.
*****
Keyla buru-buru masuk ke dalam apartemen. Dia ingin mandi, bila perlu berendam untuk menyebarkan pikirannya yang selalu di buat kusut oleh Dion.
Langkahnya terhenti di depan pintu kamar Leo. Terdengar suara bising di dalam sana. Tawa itu sangat jelas milik Dion.
Keyla menghela nafas berat. Dia senang karna Leo bisa selalu dekat dengan Dion. Tapi dilain sisi, Keyla merasa frustasi harus selalu melihat Dion.
Hidupnya jadi seperti 24 jam hanya melihat wajah Dion saja.
Sudah cukup 8 jam berada di kantor dengan di suguhkan pemandangan wajah Dion yang selalu dingin dan terkadang asam.
Begitu sampai di apartemen, Keyla harus di suguhkan dengan wajah itu lagi.
"Permisi Bu, saya pamit pulang,," Pengasuh Leo menghampiri Keyla.
Kedatangannya membuat Keyla sedikit tersentak lantaran tadi sedang melamun.
"Ah iya,, terimakasih sudah menjaga Leo." Keyla tersenyum tulus pada wanita paruh baya itu.
"Sama-sama Bu." Ucapnya. Dia bergegas pergi dan keluar dari apartemen.
Keyla membuka perlahan pintu kamar Leo karna penasaran dengan apa yang sedang di lakukan oleh mereka. Tawa mereka tak kunjung reda sejak tadi, hingga menarik rasa penasaran Keyla untuk melihat ke dalam.
Namun baru membuka sedikit pintu itu, seseorang dari dalam menarik pintu dengan kuat dan membuat Keyla terdorong ke dalam.
"Aaaaa,,,," Kedua tangan Keyla berusaha mencari sesuatu yang bisa dia pegang untuk menopang tubuhnya agar tidak tersungkur ke lantai.
"Brukk.!!"
Walaupun sudah menemukan pegangan, Keyla tetap jatuh tersungkur. Namun tubuhnya tidak langsung bersentuhan dengan lantai karna ada tubuh Dion di bawahnya.
"Aaarghh,,!" Geram Dion sembari memegangi kepalanya.
"Mama,,, Papa,,," Leo langsung berlari menghampiri kedua orang tuanya yang terjatuh.
"Ya,yaampun Di,, ma,maaf,,," Suara Keyla terbata. Dia panik melihat raut wajah Dion yang kesakitan sembari memegangi kepalanya yang terbentur.
"Keyla.! Kau ini benar-benar,," Geram Dion dengan tatapan tajam.
Keyla bergegas menyingkir dari atas tubuh Dion, tapi karna terburu-buru, dia jadi menekan milik Dion dengan lututnya.
"Di, kamu kenapa.?"
"Papa,, Papa,, kenapa.?" Loe berjongkok, dia mengguncang punggung Dion.
"Kenapa kamu bilang.?" Dion menekankan kalimatnya. Dengan susah payah dia berusaha untuk berdiri.
"Leo, Leo tunggu di luar dulu ya." Dion menyuruh Leo untuk keluar dari kamar. Bocah kecil itu menurut, dia mau keluar dari kamar dan tidak protes saat Dion menutup pintu.
"Di, kamu mau apa.? Leo bisa berfikir macam-macam kalau kita berduaan di dalam kamar seperti ini." Wajah Keyla seketika panik.
"Leo masih kecil, dia tidak bisa berfikir macam-macam seperti mu.!" Sahutnya ketus.
"Apa kamu tau apa yang baru saja kamu lakukan.?!" Seru Dion. Dia berjalan mendekat dengan langkah yang sedikit terseret. Benda pusaka itu sepertinya mengalami cidera hingga membuat Dion tidak berjalan dengan sempurna.
"Tidak." Keyla menggeleng cepat. Dia sama sekali tidak tau apa yang membuat Dion sampai menjerit kesakitan.
"Tidak kamu bilang.?!" Dion semakin terlihat geram.
"Kamu sudah menginjaknya dengan lututmu.!" Seru Dion sembari mengarahkan matanya ke bagian benda itu.
Keyla langsung melongo, dia tidak menyangka sudah menekan milik Dion dengan lututnya. Pantas saja Dion langsung menjerit saat dia beranjak dari atas tubuh Dion.
"Ya ampun, apa masih berfungsi.?" Pertanyaan konyal itu lolos begitu saja dari mulut Keyla. Dia takut milik Dion jadi mati dan tidak bisa digunakan lagi. Bila-bisa Dion akan menduda seumur hidup karna tidak ada yang mau dengannya.
Pertanyaan itu membuat Dion langsung tersenyum penuh arti.
"Mana aku tau.!" Sahutnya.
"Harus di coba dulu kalau mau tau masih berfungsi atau tidak.!" Kata Dion. Dia pura-pura terlihat kesal padahal ada niat terselubung di dalamnya.
"Ya sudah, sebaiknya kamu coba saja di kamar mandi. Aku keluar dulu,,," Keyla berjalan cepat ke arah pintu, membuka kunci dan buru-bur kabur dari hadapan Dion. Dia tau akal bulus Dion yang sedang berusaha untuk menjebak.
"Keyla.! Kau.!!" Seru Dion.
"Kamu harus tanggungjawab.!" Teriak Dion sembari mengejar ke arah pintu.
"Tidak mau.!" Sahutnya sembari menahan tawa. Dia bergegas lari ke kamarnya.
"Mama mandi dulu ya sayang." Pamit Keyla pada Leo yang tengah duduk di ruang keluarga.
Begitu masuk ke kamar, Keyla langsung menguncinya. Dia tidak mau Dion tiba-tiba masuk dan menyuruhnya untuk tanggungjawab.
"Sial.!" Gerutu Dion lirih.
*****
Suasana makan malam terasa canggung. Keyla tidak berani menatap ke arah Dion. Dia masih takut dengan kejadian tadi sore.
Walaupun Dion tidak membahasnya lagi untuk bertanggungjawab, namun gerak gerik dan tatapan mata Dion terkadang membuat Keyla merasa curiga. Entah kenapa Keyla sangat yakin kalau Dion akan terus menagih pertanggungjawaban itu darinya.
Dion menemani Leo bermain setelah makan malam. Sementara itu, Keyla yang sudah selesai mencuci piring memilih untuk berdiam diri di dalam kamar.
Tentu saja untuk menghindar dari Dion.
Keyla menatap jam yang sudah menunjukkan pukul 9 malam. Di luar juga sudah sunyi, tidak terdengar suara apapun lagi. Dia berharap Dion dan Leo sudah tidur, atau jauh lebih baik lagi kalau Dion pulang ke apartemennya.
Karna penasaran, Keyla memutuskan untuk keluar kamar dan mengeceknya. Dia mengendap-endap seperti maling di tempat tinggalnya sendiri.
Suasana di luar cukup redup karna lampu di beberapa ruangan sudah dimatikan.
Keyla tersenyum lega, itu artinya Leo sudah tidur.
Tak sampai di situ, Keyla berjalan ke kamar Leo untuk memastikan keberadaan Dion. Entah dimana laki-laki menyebalkan itu. Berharap Dion kembali ke asalnya.
Baru akan memutar handle pintu, Keyla di kagetkan dengan kehadiran Dion yang tiba-tiba sudah berdiri di dibelakangnya.
"Ya ampun.! Kamu membuatku kaget.!" Pekik Keyla. Dia berusaha tenang meski sebenarnya takut pada Dion.
"Bagaimana.? sudah siap tanggungjawab.?" Tanya Dion dengan sebelah alis yang di angkat.
"Jangan gila Di.! Aku tidak mau.!" Sahut Keyla sewot.
"Jangan menyentuhku lagi.! Kamu harus tau batasan."
"Kalau mau melakukannya, nikahi aku dulu.!" Tangan Keyla tegas. Dia tidak serius mengancam Dion seperti itu. Keyla hanya ingin Dion berhenti berbuat macam-macam sesuka hati.
Ucapan Keyla langsung membuat Dion diam seketika.
"Kenapa.? Tidak mau menikahiku.?" Tanya Keyla.
"Kalau begitu jangan macam-macam lagi." Keyla buru-buru pergi dari hadapan Dion. Selagi Dion diam saja dan tidak mengejarnya, Keyla terus berjalan cepat dan masuk kedalam kamar.
Dia mengunci pintu dengan perasaan lega. Akhirnya bisa lolos dari terkaman buaya.