
"Ya ampun calon pengantin sudah datang." Suara cerewet khas Celina menyambut kedatangan Dion dan Keyla di ruang keluarga.
Keyla tersenyum malu, tak hanya pada Celina saja, tapi pada kedua orang tua Celina dan beberapa pekerja di rumah itu yang juga sedang ada di sana.
"Ayo nak ke ruang ganti dulu, MUA nya baru saja datang." Mama Alisha beranjak dari duduknya dan mengajak Keyla pergi untuk mengganti gaun dan make up.
Sementara itu sembari menunggu Keyla selesai mengganti gaun, Dion memilih bergabung dengan Papa Adiguna dan Vano.
"Sayang, sepertinya aku juga harus make up dan ganti gaun." Celina terlihat beranjak, namun Vano menahan tangannya.
"Nanti saja, Erik sepertinya haus,," Vano menyerahkan Erik ke pangkuan Celina, balita itu memang terlihat ingin menyusu.
Mau tidak mau, Celina tak jadi pergi menyusul Keyla dan Mama Rena. Dia menyusui Erik setelah memakai penutup dada.
"Papa sudah menyiapkan tiket ke Bali, lusa kamu dan Keyla bisa berangkat." Ujar Papa Adiguna pada Dion. Laki-laki itu terdiam, antara senang dan bingung menerima hadiah dari Papa Adiguna.
Jika pergi berdua, dia harus meninggal Leo dan Papa Surya di apartemen. Tentu saja Dion tak bisa membiarkan mereka berdua sekalipun ada asisten rumah tangga yang bisa diminta untuk menginap.
"Terimakasih Pah, tapi sepertinya aku tidak bisa pergi. Papa baru sehat, tidak tenang kalau meninggalkan Papa dengan Leo." Dion menolak secara halus.
"Jangan memikirkan itu, Papa kamu dan Leo bisa tinggal sementara disini."
"Lagipula hanya 4 hari di Bali, kamu bisa beralasan untuk urusan pekerjaan kalau tidak enak sama Papa kamu."
Papa Adiguna sampai seperhatian itu pada kebahagiaan Dion dan Keyla. Dia ingin membuat hubungan keduanya semakin membaik paska menikah.
Mendengar penuturan Celina mengenai hubungan Dion dan Keyla yang sebenarnya, Papa Adiguna jadi berinisiatif untuk memberikan mereka waktu berdua.
"Papa benar Kak,, terima saja. Biarkan Leo disini." Celina ikut menyahuti obrolan mereka.
"Jangan sia-siakan kesempatan untuk bulan madu tanpa gangguan. Aku yakin malam itu pasti belum puaskan.?" Celetuk Celina. Vano yang duduk di sebelah Celina, langsung memelototi istrinya itu.
Malu rasanya jika harus membahas hal seperti itu di depan Papa Adiguna. Apa lagi dengan Dion yang menjadi objek pembicaraan, wajahnya langsung ciut karna malu.
Setelah di bujuk dan berfikir ulang, akhirnya Dion menerima hadiah dari Papa Adiguna untuk pergi honeymoon ke Bali.
...*****...
Keyla beberapa kali terlihat tersenyum saat MUA yang merias wajahnya terus memujinya berulang kali.
Walaupun tidak menggunakan riasan tebal, Keyla terlihat sangat cantik dan elegan. Terlebih balutan gaun berwarna putih yang sedikit terbuka di bagian depan, membuat kecantikan Keyla semakin terpancar.
"Pantas saja Dion memilih sendiri bertahun-tahun, mana bisa melupakan wanita secantik kamu." Puji Mama Alisha yang sejak tadi diam.
"Mama berlebihan, aku tidak secantik itu." Ucap Keyla malu.
"Kenyataannya memang seperti itu. Kita lihat saja nanti setelah Dion masuk dan melihat kamu seperti ini. Pasti terpesona." Godanya sembari mengedipkan mata. Keyla hanya tersenyum mendengar ucapan Mama Alisha yang tak jauh berbeda dengan Celina saat menggodanya.
Sementara itu, asisten MUA keluar dari ruangan untuk memanggil calon pengantin pria.
Dan memang benar dugaan Mama Alisha, Dion tampak berdiri si tempat saat pertama kali bertatapan dengan calon istrinya. Walaupun sudah pernah melihat Keyla berdandan seperti ini saat dulu menikah, tapi kecantikan Keyla sulit untuk membuat pandangan matanya berpaling.
"Ekhem,, segitunya menatap Kak Keyla." Tegur Celina yang juga ikut masuk ke dalam ruangan.
"Air liurnya hampir menetes." Ledeknya sembari berjalan melewati Dion dan menghampiri Keyla.
Keyla jadi salah tingkah, berbeda dengan Dion yang tampak cuek saja dan mengikuti arahan untuk mengganti bajunya dengan setelan kemeja dan tuxedo.
...*****...
Do'a dan harapan terbaik di ucapkan untuk pasangan pengantin itu.
Celina terlihat bahagia menyaksikan pernikahan Dion dan Keyla. Sejak awal dia memang orang pertama yang mendukung mereka kembali.
Saat ini mereka sedang melakukan sesi foto keluarga, setidaknya ada kenang-kenangan saat mereka melangsungkan pernikahan yang kedua kalinya.
Acara sederhana yang bertempat di halaman belakang itu, sudah dihiasi dengan bunga-bunga cantik untuk spot foto mereka.
Keyla terlihat ragu untuk menggandeng tangan Dion, namun tetap melakukannya di depan semua orang.
Senyum di bibirnya juga mengembang sempurna. Setidaknya untuk membuat kenangan yang bagus dalam foto itu.
Selama acara berlangsung, Dion selalu mencuri pandang pada wajah cantik istrinya. Tak hanya terpesona, Dion juga memikirkan hal lain. Tentu saja memikirkan apa yang akan dia lakukan setelah acara selesai.
Tatapan mesumnya sudah mulai terpancar dari sorot mata tajam itu.
Bayangan malam pertamanya dengan Keyla beberapa tahun lalu, muncul di kepalanya hingga membuat Dion tak sabar untuk mengulangi malam itu lagi dengan pergulatan panas yang sesungguhnya.
...*****...
Keduanya merasa bersyukur dengan kelancaran acara pernikahan yang sepenuhnya di urus oleh Papa Adiguna. Berulang kali mereka berterima kasih pada keluarga Celina yang begitu tulus menerimanya sebagai anggota keluarga tanpa membedakannya dengan Celina maupun Vano.
Saat ini Dion dan Keyla sedang dalam perjalanan menuju rumah. Mereka kembali ke apartemen dengan menyesuaikan jadwal pulang kerja.
Suasana terlihat sunyi saat keduanya memasuki apartemen. Tak seperti biasanya yang langsung di sambut oleh Leo.
"Apa Papa dan Leo tidur.?" Tanya Keyla, dia berjalan masuk ke dalam untuk mengecek ke kamar Leo maupun kamar Papa Adiguna.
Dion tampak santai, berjalan mengikuti Keyla untuk ikut melihat mereka berdua.
"Tidak ada Di,," Kata Keyla setelah membuka pintu kamar Leo. Dion lalu beralih ke kamar Papa Surya, namun tak juga menemukan keberadaan mereka di sana.
"Mereka tidak ada, sepertinya pergi." Kata Dion.
"Kenapa tidak memberi tau dulu." Gumamnya sembari mengambil ponsel dari dalam tas kerjanya untuk menghubungi Papa Surya.
Namun sebelum menghubunginya, Dion lebih dulu membaca pesan dari Papa Surya yang memberi tau jika dia dan Leo sedang pergi ke taman.
Dion mengulas senyum smirk sembari membalas pesan dari Papa Surya.
"Bagaimana Di.? Mereka ada dimana.?" Tanya Keyla cemas.
"Mereka ada di taman, bukankah mereka sangat pengertian," Tutur Dion sembari berjalan mendekat ke arah Keyla. Hal itu membuatmu Keyla melangkah mundur setelah melihat senyum mesum di bibir Dion.
"A,,aaku harus mandi." Ucap Keyla sembari berjalan cepat menuju kamar untuk menghindari terkaman Dion.
"Jangan coba-coba menghindari kalau akhirnya kamu yang paling menikmati,," Seru Dion, dia berjalan cepat menyusul Keyla dan enggan melepaskan Keyla begitu saja.
Walaupun tidak berfikir untuk melakukan penyatuan sore ini, namun Dion ingin memberikan sesuatu pada Keyla yang akan membuat wanita itu memohon padanya untuk melakukan penyatuan.
"Aku tidak menghindari, masih ada waktu nanti malam." Sangkal Keyla. Dia tetap tidak mau melakukannya saat ini juga.
"Tenang saja, nanti malam aku juga akan memintanya lagi." Jawab Dion dengan senyum menggoda. Dia menutup pintu kamar dan menguncinya, setelah itu menggendong paksa Keyla dan membawanya ke kamar mandi.