My Secretary

My Secretary
Bab 33



Dari basemen hingga ke apartemennya, Dion menggendong Leo yang tertidur. Sedangkan Keyla membawa tas berisi perlengkapan mereka.


Perjalanan yang tadi mereka tempuh terasa cukup lama lantaran tidak ada obrolan apapun di dalam mobil. Keyla dan Dion sibuk dengan pikirannya sendiri, dan Leo juga tertidur 30 menit setelah meninggalkan resort.


Dion membawa Leo ke kamar dan membaringkannya di ranjang. Dia keluar, menghampiri Keyla yang duduk termenung di ruang keluarga dengan tas yang masih tergeletak di lantai.


Sejak bertemu dengan William, Keyla memang jadi berubah. Kebahagiaan yang sempat terpancar dari wajahnya perlahan mulai meredup dan berubah sedu. Kina bahkan semakin sendu dengan tatapan kosong.


"Jangan pikirkan ucapannya." Ujar Dion. Dia lantas duduk di samping Keyla.


Tarikan nafas dan helaan nafas berat keluar dari mulut Keyla. Seolah ada beban berat yang ingin dia keluarkan.


"Aku sedang merenungi ucapannya, dia memang benar." Tutur Keyla. Dadanya seolah di remas, mengingat kata-kata William yang sangat menyakiti hatinya.


Selama hidup bersama William, Keyla memang merasa hanya di jadikan sebagai pemuas nafsunya saja.


Tapi tak habis pikir William akan menyebut dirinya hanya pantas untuk nikmati.


Keyla jadi merasa dirinya benar-benar sangat rendah sebagai perempuan. Apalagi dia baru melakukan hal itu dengan Dion tanpa adanya ikatan apapun.


"Besok aku ingin mencari tempat tinggal, tidak seharusnya aku tinggal bersama kamu."


"Kalau hanya Leo saja, itu tidak akan jadi masalah karna Leo anak kamu."


"Aku harus mandi." Keyla beranjak dari duduknya, dia menghiraukan Dion yang hampir saja mencekal tangannya.


"Apa salahnya kalau kamu dan Leo tetap tinggal disini." Seru Dion. Keyla menghentikan langkah, berbalik badan dan menatap Dion tajam.


"Jelas salah, bahkan sangat salah."


"Tidak seharusnya tinggal satu rumah tanpa ada ikatan pernikahan. Seharusnya aku tidak jadi murahan seperti ini."


Mata Keyla berkaca-kaca. Dia merutuki dan menyesali kebodohannya sendiri lantaran melakukan hal yang merugikan diri sendiri.


Keyla masuk kedalam kamar dan menguncinya. Dia menatap Leo yang tengah tertidur pulas. Tidak mudah menjalani peran single parent. Apa yang dia lakukan sepertinya selalu salah.


Celina yang awalnya santai saja dengan kehadiran dirinya di rumah itu, kini juga memandangnya buruk. Padahal sedikitpun tidak ada niatan untuk mengganggu rumah tangga Celina.


...*****...


Keyla baru keluar kamar saat menjelang malam. Berbeda dengan Leo yang sudah keluar dan main bersama Dion setelah bangun tidur dan dimandikan.


Suara canda dan tawa di ruang keluarga hanya menarik sekilas perhatian Keyla. Dia sempat menatap ke arah mereka yang terlihat sangat bahagia.


Lagi-lagi Keyla hanya bisa menarik nafas dalam. Dengan statusnya yang sudah memiliki anak, Keyla tidak bisa sembarangan dalam memilih keputusan. Dia juga harus mempertimbangkan apa yang terbaik untuk Leo.


Tapi jika kondisinya seperti ini, memang lebih baik jika tinggal terpisah dari Dion. Sekalipun Leo akan merasa sedih karna tidak lagi tinggal bersama kedua orang tuanya.


Hampir 1 jam berkutat di dapur untuk menyiapkan makan malam, Keyla menghampiri Dion dan Leo yang masih asik bermain.


"Ayo makan dulu." Ajak Keyla.


"Oke Mama,," Leo antusias dan langsung beranjak dari sana.


Begitu juga dengan Dion yang ikut menyusul Leo dan Keyla. Dia mempercepat langkah hingga berjalan di samping Keyla.


"kalian akan tetap tinggal disini." Ucap Dion. Itu bukan pilihan, melainkan perintah.


"Apa kamu tidak lihat Leo sangat bahagia tinggal disini bersama kita."


"Jangan pikirkan perkataan dan pendapat orang lain, kamu yang menjalaninya, bukan mereka.!" Tegas Dion. Dia tidak memberikan Keyla kesempatan untuk menolak karna berlalu begitu saja dan duduk di depan meja makan bersama Leo.


...*****...


"Aku berangkat sendiri saja Di,," Ucap Keyla begitu dia dan Dion keluar dari apartemen.


Dion melirik tajam.


"Jangan macam-macam.!" Tegurnya. Dia tidak mengijinkan Keyla untuk berangkat sendiri.


"Tapi Di,,,


"Keyla.!" Potong Dion tegas, dia juga menatapnya tajam.


Seperti sebelumnya, kedatangan mereka kali ini juga tetap mendapat perhatian dari karyawan kantor.


Dion terlihat cuek saja dengan tatapan semua orang. Dia berjalan tegap dan santai menuju lift khusus. Berbeda dengan Keyla yang selalu menundukkan pandangan setiap kali mendapat tatapan dari mereka. Memang bukan tatapan kebencian, tapi tetap saja Keyla merasa risih dan malu.


...*****...


Joe mengetuk pintu dan masuk begitu saja ke ruangan kerja Dion sebelum diijinkan. kaki-laki itu sama sekali tidak merasa bersalah meski Dion menatapnya tajam.


"Sepertinya ruangan ini terasa lebih dingin dari biasanya." Ucap Joe dengan nada menyindir. Dia tidak tau apa yang sedang terjadi di antara Dion dan Keyla, hanya saja raut wajah keduanya memang terlihat sedang ada masalah.


"Sebaiknya keluar kalau hanya ingin bicara hal yang tidak penting.!" Ketus Dion.


Joe terkekeh kecil, dia lalu duduk di depan meja kerja Dion dan menyodorkan berkas yang dia bawa.


"Siang ini ada meeting dengan pemilik Sanjaya's Group di restoran xxx." Tutur Joe.


"Mereka setuju dengan kerjasama itu.?" Dion menatap serius.


"Sepertinya mereka tertarik. Aku dengar perusahaan anaknya yang di luar negeri juga akan dilibatkan."


"Bukankah itu keren.?" Ujar Joe.


Dion hanya mengangguk saja.


"Key,,," Joe beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Keyla.


Dion yang melihat Jeo sedang beraksi untuk menggoda Keyla, hanya mengawasinya dengan sorot mata tajam.


"Ada apa Joe,," Keyla melirik sekilas, dia kembali fokus lagi pada laptopnya.


"Kalau udah bosen sama Dion, sini sama aku aja." Ucapnya lirih dan sedikit memajukan kepalanya.


'tuukkk.!!'


Suara bolpoin yang di mendarat di kepala Joe.


"Sialan.!" Umpat Joe kesal. Dia mengusap bagian kepala belakangnya.


"Kalau sudah selesai cepat balik ke ruangan lu.!" Perintah Dion dengan nada sewot.


"Cemburu bilang boss.!" Ledek Joe. Dia lalu beranjak dari duduknya.


"Nona Keyla, aku tunggu jandamu." Goda Joe dengan kedipan matanya.


Keyla hanya menggeleng heran dengan kelakuan Jonathan. Laki-laki itu seperti tidak kapok mencari keributan dengan Dion. Malah terlihat sengaja untuk memancing keributan.


"Berisik lu.!" Ketus Dion. Dia hampir melemparkan bolpoin lagi pada Joe, namun Joe langsung menghilang dari ruangan itu dalam hitungan detik.


"Jangan marah-marah Pak, hanya buang - buang energi." Celetuk Keyla lirih.


Dion melirik dengan tatapan kesal.


"Kamu siap-siap setelah makan siang, kita akan meeting." Ucap Dion. Keyla mengangguk paham.


...*****...


"Tidak usah keluar, aku usah pesan makan siang." Ucap Dion datar. Kayla yang sudah berdiri jadi duduk kembali di kursinya.


"Kita makan disini Pak.? Dengan Joe dan Mba Diana.?" Tanya Keyla.


"Joe dan Diana.? Untuk apa makan bersama mereka." Sahut Dion cuek. Dia melepaskan jasnya, menggantungnya di tempat yang berada di pojok meja ruangan. Melonggarkan dasi dan berjalan menuju sofa.


"Ekhem,,,!" Deheman Dion membuyarkan lamunan Keyla. Dia kedapatan sedang memperhatikan Dion sejak membuka jas hingga laki-laki itu duduk bersender di sofa.


Aura dan pesonanya selalu bertambah setiap kali Dion melakukan hal itu. Normal dan wajar jika Keyla menatapnya dengan tatapan kagum.


Sejak dulu memang pesona dan ketampanan Dion tak pernah luntur.


Ternyata membentengi hati bukan perkara yang mudah jika setiap hari banyak menghabiskan waktu bersama Dion.


Keyla ikut duduk di sofa setelah OB membawakan makanan pesanan Dion ke ruangan itu. Keduanya makan dengan tenang tanpa ada gangguan dari siapapun karna Dion mengunci pintu.