
Pagi itu setelah keluar dari hotel, Dion melajukan mobilnya menuju rumah Papa Adiguna.
Dion akan memberitahukan pada mereka mengenai rencana pernikahannya dengan Keyla.
Mereka akan diminta untuk menghadiri acara pernikahannya dan di tunjuk menjadi saksi atas pernikahan yang ada di langsungkan 2 hari lagi.
Dion dan Keyla sudah sepakat hanya hanya akan melangsungkan pernikahan di depan keluarga Celina saja tanpa mengundang siapapun, bahkan tak akan memberitahukan Papa Surya. Mereka pikir Papa Surya juga tak perlu tau akan acara pernikahan ini, karna di mata Papa Surya mereka masih berstatus suami istri.
"Kenapa wajahmu seperti itu.?" Dion melirik sekilas, melihat wajah Keyla yang terus merenung sejak keluar dari hotel. Sepertinya tidak senang dengan rencana pernikahan yang akan di gelar sebentar lagi.
"Seperti itu bagaimana.?" Keyla balik bertanya.
"Kamu tidak senang menikah denganku.?!" Nada bicara Dion terdengar ketus, tentu saja karena tak melihat kebahagiaan di wajah Keyla.
Dalam bayangan Dion, Keyla akan senang saat di ajak untuk menikah. Tapi realitanya tak seperti itu, yang ada justru terlihat tertekan dan terpaksa.
"Aku tidak tau." Jawab Keyla jujur. Dia memang tidak tau, bahkan bingung dengan perasaannya saat ini. Sadar terlalu mudah perasaannya berubah. Terkadang menginginkan Dion, tapi terkadang tak mau menjalani pernikahan lagi.
Namun dalam situasi seperti ini, Keyla tak mau mengambil resiko. Dia harus tetap menikah dengan Dion untuk mencegah hal-hal seperti tadi malam.
Daripada harus melakukannya tanpa ikatan pernikahan, lebih baik memang menikah.
Keyla juga memikirkan seandainya benih Dion berkembang di rahimnya, pasti akan semakin rumit jika tanpa ikatan pernikahan.
"Kamu yang punya perasaan, bagaimana bisa tidak tau.!" Pekik Dion.
"Kalau memang tidak mau, aku bisa batalkan sebelum bicara dengan Papa Adiguna."
"Jangan.! Aku mau menikah denganmu." Cegah Keyla. Yang terpenting saat ini memang harus menikah lebih dulu, tentang perasaannya terhadap Dion, mungkin akan semakin kuat seiring berjalannya waktu. Lagipula tak mungkin berlama-lama tidur dalam satu kamar tanpa ikatan pernikahan.
"Bagus kalau begitu."
"Bukankah kamu yang akan di untungkan, jadi bisa merasakan kepuasan kapanpun kamu mau." Tutur Dion datar.
Sontak ucapannya membuat Keyla meradang dengan mata yang membulat sempurna, bagaimana bisa Dion bicara tentang keuntungan dan kepuasan padanya, padahal Dion sendiri yang akan merasakan keuntungan itu. Sudah pasti Dion akan menyeretnya ke atas ranjang setelah menikah nanti.
"Kamu tidak salah bicara Di.? Bukankah kamu yang selalu menginginkan kepuasan." Protes Keyla.
"Tidak selalu." Jawab Dion enteng.
"Karna tadi malam kamu yang meminta kepuasan dari ku."
"Kamu mau pura-pura lupa.?" Tanya Dion dengan ekspresi meledek.
"Bahkan 3 kali memintanya." Sudut bibir Dion mengulas senyum bangga. 3 kali dia membuat Keyla menggelinjang kenikmatan, tentu saja ada rasa kebanggaan tersendiri. Apalagi saat mengingat wajah Keyla saat memohon padanya untuk melakukan penyatuan. Seolah-olah Keyla begitu mendambakan sentuhannya.
"Apa itu perlu di bahas.? Kamu tau sendiri itu terjadi karna pengaruh obat, jadi bukan sepenuhnya keinginanku.!" Tutur Keyla kesal.
"Sama saja." Sahut Dion tak mau kalah.
Keyla hanya berdecak, memilih diam karna malas berdebat.
...*****...
Celina menatap kedua sejoli itu dari atas sampai bawah. Bibirnya terlihat di katupkan untuk menahan senyum. Tentu saja dia sedang memikirkan kejadian tadi malam antara Dion dan Keyla di hotel.
Bayangan Keyla yang meminta untuk di sentuh karna pengaruh obat, Celina jadi membayangkan sepanas apa percintaan mereka.
"Ada apa.?!" Tanya Dion ketus, bukannya di sambut untuk masuk ke ruang keluarga, Celina malah menahannya di ruang tamu dan menatapnya dengan tatapan macam-macam.
"Atau jangan-jangan tidak jadi kaw- in.?" Ledeknya. Keyla hanya menundukkan wajah, malu bukan kepalang pada wanita yang sudah seperti adiknya itu. Apalagi semalam Celina memergokinya hampir mencium Vano.
"Kamu itu bawel sekali.!" Dion menjentikkan jarinya di kening Celina, setelah itu menggandeng Keyla dan menyelonong masuk. Karna sebelum datang, Dion sudah mengirimkan pesan pada Papa Adiguna kalau dia akan segera ke rumah.
Suasana di ruang keluarga terlihat ramai, ada Naura dan adiknya yang sedang bermain dengan Mama Alisha, sedangkan Vano tampak sedang berbicara serius dengan Papa Adiguna.
"Selamat Pagi Mah, Pah,," Sapa Dion.
"Kalian sudah datang, ayo duduk." Ujar Papa Adiguna. Namun sebelum duduk, keduanya lebih dulu mencium tangan kedua orang tua Celina.
"Dimana Leo.? Kenapa tidak di ajak.?" Tanya Mama Alisha. Mendengar nama Leo di sebut, Naura yang sedang asik menemani adiknya bermain, langsung menoleh pada Keyla.
"Leo tidak ikut ya Aunty.?" Tanya Naura, gadis kecil itu tampak kecewa tidak melihat kehadiran Leo bersama mereka.
"Iya, Leo di rumah sedang menemani kakeknya." Sahut Keyla. Dia lalu menunduk untuk mencubit gemas pipi Naura serta adik laki-lakinya.
"Sepertinya kita memang harus jadi besan Kak,," Celetuk Celina.
"Putriku sangat menyukai Leo." Tambahnya sembari duduk di samping Vano.
"Kamu itu bicara apa, mereka masih kecil." Tegur Papa Adiguna.
Celina hanya menyengir kuda.
Dion dan Keyla sudah duduk bersebelahan. Sempat ada obrolan tentang perusahaan sampai akhirnya Dion mengutarakan tujuannya datang ke rumah.
"Saya dan Keyla akan menikah,," Tuturnya. Kabar dadakan itu seketika membuat kedua bola mata Celina membulat sempurna, antara senang sekaligus rasa jahil untuk meledek keduanya.
"Pasti gara-gara semalam tidak pakai pengaman kan.?" Celetuk Celina. Dion dan Keyla seketika panik, menatap dengan kedua mata yang melotot pada Celina.
Mulut Celina benar-benar mematikan, sekali bicara langsung bisa membuat wajah Keyla dan Dion tercoreng di depan Papa Adiguna dan Mama Alisha.
"Kau ini bicara apa.!" Tegur Vano. Dia terlihat tidak suka istrinya membahas hal seperti itu di depan kedua orang tuanya.
"Sayang kau ingat kan semalam mereka,,,
"Jadi kapan kalian akan menikah.?" Tanya Papa Adiguna. Dia terlihat enggan menanggapi ucapan nyeleneh putrinya. Jika memang ucapan Celina benar, hal itu juga bukan masalah untuk Papa Adiguna. Lagipula Dion dan Keyla sudah sama-sama dewasa.
Melihat Papa Adiguna yang memotong ucapan Celina dan enggan membahasnya, keduanya langsung bernafas lega walaupun tidak bisa menghilangkan rasa malu.
"Lusa Pah. Hanya meresmikan saja, tidak perlu ada pesta." Jawab Dion.
"Kami juga tidak akan memberi tau Papa Surya, karna beliau hanya tau kami masih suami-istri." Tuturnya. Papa Adiguna tampak menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Baiklah, Papa dukung keputusan kalian. Semua ini juga untuk kebaikan Leo, dia pasti senang kalau orang tuanya bersama." Ujarnya lembut.
"Menikah di rumah ini saja, Papa yang akan menyiapkan semuanya."
Papa Adiguna benar-benar mendukung mereka, bahkan dengan senang hati akan mengurus segala keperluan mereka saat menikah nanti.
Dion dan Keyla sudah pasti sangat bersyukur dan berterima kasih bisa di anggap sebagai anak oleh keluarga mereka.
"Terimakasih banyak Pah,," Ucap Dion dan Keyla.
Papa Adiguna mengangguk.
"Selamat sayang, Mama senang kalian bisa bersatu lagi. Semoga diberi kelancaran." Ucap Mama Alisha penuh haru. Dia sudah seperti akan menikahkan anak kandung.