My Secretary

My Secretary
Bab 24



Seperti biasa pagi itu Keyla sudah bersiap untuk pergi ke kantor. Dia sudah pamit pada Celina dan menitipkan Leo padanya.


Saat keluar dari gerbang rumah Celina yang menjulang tinggi, Keyla menghela nafas kesal lantaran taksi online yang dia pesan selalu tidak ada di tempat. Yang dia lihat saat ini justru 2 mobil yang terparkir di pinggir jalan dengan pemilik berada di luar mobil masing-masing.


Entah apa yang akan dilakukan oleh kedua laki-laki itu, yang jelas Keyla terlihat malas untuk berurusan dengan mereka berdua di pagi hari seperti ini.


Ingin pura-pura tidak melihat ke arah mereka dan sibuk dengan ponsel untuk memesan taksi kembali, tapi Arkan malah menghampirinya.


"Key,, ayo berangkat. Taksi yang kamu pesan sudah aku suruh pergi." Ucapnya santai, sedikitpun tidak ada rasa bersalah dari raut wajahnya meski sudah berulang kali melakukan hal ini pada Keyla.


Jujur saja, Keyla terpaksa mau di antara oleh Arkan karna merasa tidak enak menolak ajakannya. Dia selalu ingat dengan kebaikan Arkan yang beberapa bulan lalu sempat menolongnya membawa Leo ke rumah sakit. Tak hanya itu, Arkan juga terikat kerja sama dengan perusahaan tempatnya bekerja, jadi semakin tidak enak untuk menolak ajakannya.


"Maaf Ar,, kali ini aku berangkat sendiri saja." Tolaknya halus.


"Aku bisa pesan taksi lagi." Keyla membuka aplikasi di ponselnya.


Rasanya tidak mungkin jika dia menyetujui ajakan Arkan sementara di depan matanya ada Dion yang sejak tadi terus mengawasinya.


Entah ada motif apa sampai Dion tiba-tiba datang ke rumah saat akan berangkat ke kantor.


Di bilang akan menemui Leo, tapi Dion tidak memarkirkan mobilnya di dalam. Dia malah memarkirkan mobil di pinggir jalan sembari bersender di luar mobil.


"Kenapa.? Karna ada mantan suami kamu.?" Arkan menatap penasaran. Sekalipun Keyla akan menyangkal, tebakannya sudah pasti benar 100 persen lantaran melihat gelagat Keyla yang terlihat gugup dan manik matanya yang sesekali melirik ke arah Dion.


"Bu,,bukan begitu, tapi aku tidak mau terus merepotkan kamu." Sangkalnya.


"It's ok kalau hanya satu atau 2 kali, tapi ini sudah terlalu sering, aku jadi tidak enak dan merasa merepotkan." Jelas Keyla. Dia tidak mau merasa berhutang budi lagi pada Arkan, takut tidak bisa membalas kebaikan Arkan padanya.


Karna bagi Keyla, kebaikan seseorang padanya merupakan hutang yang suatu saat harus di bayar. Dalam arti harus membalasnya.


"Aku tidak pernah merasa di repotkan, santai saja."


"Aku hanya ingin mengantar kamu, jadi jangan memikirkan hal seperti itu."


"Ayo berangkat, jangan sampai nanti kamu terlambat." Arkan menggandeng tangan Keyla, dia mengajak paksa untuk masuk ke dalam mobilnya. Tapi belum sempat sampai ke mobilnya, langkahnya terpaksa berhenti lantaran Dion mencegahnya. Dion berdiri tegap di depan Arkan dan Keyla. Memasang wajah datar namun terkesan dingin dan angkuh. Tatapan matanya juga semakin menajam.


"Masuk.!" Serunya memerintah. Dia menggerakkan kepala kesamping, menyuruh Keyla untuk masuk ke d'alam mobilnya.


"Maaf Pak Dion, siapa yang ada suruh masuk ke mobil anda.?" Tanya Arkan santai. Dia terlihat rileks, tidak seperti Dion yang kaku.


"Kamu tidak dengar aku bilang apa.?!" Seru Dion lagi. Dia mengabaikan pertanyaan Arkan dan kembali bicara pada Keyla tanpa mau menyebut namanya.


"A,,aaku,,," Keyla menjadi gugup dan bingung. Dia tidak tau harus bagaimana dan menjawab apa. Situasi seperti ini justru membuatnya kehilangan semangat di pagi hari.


"Pak Dion tidak lihat kalau Keyla sedang bersama saya dan akan ikut dengan saya." Potong Arkan.


Dia kembali menggandeng Keyla untuk menuju ke mobilnya yang terparkir di belakang mobil Dion.


Mobil yang tiba-tiba muncul yang berhenti di depannya. Dion datang terlambat tapi mau menyuruh Keyla untuk ikut dengannya.


"Maaf Pak Dion, saya duluan." Keyla pamit sopan dan membungkukan kepalanya pada Dion. Meski sebenarnya enggan ikut salah satu dari mereka, tapi akhirnya Keyla memutuskan untuk ikut ajakan Arkan agar perdebatan di antara keduanya cepat berakhir.


"Apa kamu mau di pecat.?!" Seru Dion dengan nada ancaman. Keyla yang hampir masuk kedalam mobil Arkan jadi mengurungkan niatnya.


Dia bahkan baru bekerja kurang dari 2 minggu, tapi sudah mendapat peringatan akan di pecat.


"Kau hitung sampai 3, kalau sampai hitungan ketiga kamu belum masuk ke dalam mobil, jangan harap hari ini bisa bekerja lagi." Dion membuka pintu kemudi dan bersiap masuk kedalam tanpa menatap ke arah Keyla.


"Sattuuu,,,, duaaa,,,


Wajah Keyla seketika panik dan pucat, dia melepaskan tangan Arkan berlalu dari sana.


"Maaf Arkan, aku tidak bisa ikut." Teriak Keyla sembari berlari menuju mobil Dion dan langsung masuk kedalam mobilnya.


"Tigaa,,!!"


greeeppp.!!!


Hitungan berakhir bersamaan dengan pintu mobil yang tertutup. Keyla duduk di samping Dion dengan nafas yang tersenggal karna lari dalam jarak 3 meter hanya dalam waktu 1 detik.


Saat itu juga Dion langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Keluar dari perumahan elit itu dan baru memelankan kecepatan saat keluar dari perumahan.


Sejak masuk ke mobil Dion, Keyla memilih diam hingga saat ini. Moodnya anjlok gara-gara dua laki-laki tadi, terutama Dion yang sangat pemaksa sampai memberikan ancam segala padanya.


Entah apa yang diinginkan oleh mantan suaminya itu. Datang tak diundang, tapi mengajaknya berangkat bersama dengan sikap sombongnya.


Dion memarkirkan mobilnya di basemen khsusus. Keyla langsung bersiap untuk keluar, tapi sebelumnya mengucapkan terimakasih lebih dulu pada Dion.


"Terimakasih,," Ucapnya tulus.


"Lain kali tidak perlu datang dan memaksa saya lagi, saya tidak mau merepotkan." Pintanya lembut. Namun ucapannya membuat Dion menatap tajam, seakan tidak terima dengan larangan Keyla.


"Apa berangkat dengan laki-laki itu lebih menyenangkan." Ujar Dion dengan nada sindiran.


"Bukan seperti itu Pak, saya juga tidak mau lagi berangkat dengan siapapun untuk kedepannya."


"Lebih baik pakai taksi online saja." Keyla terlihat hati-hati dalam bicara, namun hal itu tetap saja seakan memancing kekesalan Dion. Laki-laki itu bergegas turun dari mobil, hal itu membuat Keyla ikut menyusul keluar.


Dion menutup pintu dengan sedikit membantingnya dan mengunci mobil sembari berlalu dari sana. Dia meninggalkan Keyla begitu saja, seolah dia tidak mengajak siapapun di dalam mobilnya tadi.


"Ya ampun,, apa yang ada dalam pikirannya." Keyla hanya bisa menggeleng heran dengan sikap dan kelakuan Dion pagi ini.


Jam kerja belum di mulai, tapi amarah sudah naik ke ubun-ubun seolah hari sudah menjelang siang.


Entah akan seperti apa suasana dan situasi di dalam ruang kerja mereka.


Keyla setengah berlari memasuki kantor, dia menggunakan lift karyawan hingga membuatnya terlambat sampai di ruangan. Berbeda dengan Dion yang sudah duduk di kursi kerjanya, bahkan jasnya sudah dilepas dan dasinya sedikit di kendurkan ikatannya.


Hal seperti itu biasanya dilakukan oleh orang yang sedang emosi hingga membuat tubuhnya terasa panas.


Dan faktanya saat ini Dion memang emosi.


"Selamat pagi Pak," Sapa Keyla sembari menutup pintu. Dion sama sekali tidak menggubrisnya, bahkan terkesan tidak mendengar suaranya.


Keyla hanya bisa menarik nafas dalam, tidak terlalu memusingkan sikap Dion memang sering mendadak keluar tanduk.


...*****...