My Secretary

My Secretary
Bab 34



"Ck,, ck,, ck,," Jonathan berdecak sembari menggelengkan kepalanya. Menatap heran pada Dion yang baru saja membukakan pintu.


Entah apa saja yang di lakukan oleh Dion dan Keyla di dalam ruangan kerja mereka yang terkunci dari dalam.


Joe tentu saja tidak bisa berfikir positif tentang hal itu. Pikiran kotornya jadi melayang kemana-mana.


"Apa semalam tidak sempat mengasah ke jan tan nan mu.?" Tanya Joe dengan nada menyindir.


"Bisa-bisanya mesum di kantor."


"Aku tau kalian suami istri, tapi tidak seharusnya,,


"Berisik.!" Ketus Dion. Dia keluar begitu saja, berjalan tegap melewati Joe yang sengaja datang untuk memanggil Dion dan Keyla karna harus pergi meeting.


"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan Joe, kami hanya makan siang di dalam." Jelas Keyla. Dia sejak tadi berdiam diri di belakang Dion. Kini baru berani menjelaskan setelah Dion beranjak.


"Ayo Joe,,," Keyla juga beranjak dan terburu-buru menyusul Dion untuk menghindari tatapan dingin dan tajam dari manusia es itu.


"Ya ampun, sial sekali nasibku." Joe menggerutu kesal. Nasibnya tak pernah beruntung. Setiap kali menyukai wanita, selalu saja wanita itu menyukai pria lain.


Dan ini yang paling mengenaskan. Dia menyukai wanita yang ternyata sudah menikah dan memiliki anak. Lebih parahnya lagi, wanita itu merupakan istri dari atasannya sendiri.


...****...


Keyla dan Joe berjalan tergesa-gesa lantaran berusaha menyeimbangkan langkah Dion yang sudah jauh di depannya.


Keduanya hanya bisa menggelengkan kepala dengan ulah Dion.


Sepertinya moodnya sedang buruk. Bahkan saat di dalam mobil, Dion tidak mengijinkan Keyla ataupun Joe saling bicara.


Jadi sepanjang perjalanan, mereka bertiga hanya saling diam.


"Repot kalau suami istri satu kantor, urusan pribadi di bawa sampai kesini." Gumam Joe. keyla hanya mengerutkan dahi. Joe asal bicara saja tanpa tau permasalahannya. Padahal Dion memang seperti itu, suka tiba-tiba dingin dan ketus. Tergantung moodnya.


"Silahkan masuk Pak, Bu,," Seorang pelayan yang berjaga di luar ruang VIP itu mempersilahkan mereka bertiga untuk masuk ke dalam dan membukakan pintu.


"Makasih Mba," Ucap Keyla ramah. Beda sekali dengan Dion dan Joe yang hanya diam, memasang wajah tegas dan datar.


"Selamat siang Pak Sanjaya,," Sapa Dion ramah. Matanya tertuju pada sosok laki-laki yang duduk di samping Sanjaya.


Dion tersenyum kecut, pantas saja dia merasa tidak asing saat melihatnya. Rupanya wajahnya hampir 60 persen mirip dengan Sanjaya.


"Siang Pak Dion, silahkan duduk." Ujarnya. Ketiga orang itu bangun dari duduknya untuk menyapa Dion.


Keyla yang sejak masuk melihat laki-laki itu, berdiri mematung di tempat. Pikirannya seketika kacau melihat William ada di sana.


Rasa takut mulai menyelimuti. Keyla tidak bisa membayangkan jika William mengatakan sesuatu yang bisa saja mempermalukan dirinya lagi seperti kemarin.


Terlebih saat ini William tengah menatap ke arahnya. Tatapan matanya selalu tajam dan dalam. Sorot mata yang sejak dulu membuat Keyla tidak berani berlama-lama menatap William.


"Key,!" Joe menepuk pelan pundak Keyla. Menatap dan menggerakkan sebelah alisnya. Joe seperti melihat perubahan ekspresi dari wajah Keyla.


Keyla mengulas senyum tipis dan menggelengkan kepalanya. Mengisyaratkan pada Joe bahwa dia baik-baik saja.


"Ini William, putra saya." Ujar Sanjaya memperkenalkan putra pertama sekaligus putra tunggalnya.


"Senang bertemu dengan Anda," William mengulurkan tangannya pada Dion. Senyum dibibirnya seolah sedang meledek.


"Dion.!" Tegas Dion. Dia menerima jabatan tangan William. Keduanya saling menekan kuat tangan masing-masing dan beradu tatapan tajam.


"Di,," Tegur Keyla lirih. Dia ingin Dion menarik tangannya dari genggaman William. Karna Keyla bisa melihat tangan Dion yang mulai memerah akibat cengkraman William.


William tersenyum kecut melihat Keyla yang khawatir pada Dion. Dia kemudian melepaskan tangan Dion begitu saja.


Mereka bergegas duduk. Ada 6 orang di dalam ruangan yang cukup luas itu. Minuman dan beberapa dessert sudah tersaji di sana sejak tadi.


"William yang akan meneruskan kerja sama ini."


"Semoga ini menjadi awal yang baik untuk mengembangkan perusahaan." Tutur Sanjaya. Dia begitu berwibawa dengan pembawaannya yang tenang dan baik. Auranya benar-benar menyejukkan, berbeda sekali dengan William yang memiliki tatapan tajam dan raut wajah tegas.


Dion dan Sanjaya mulai terlibat obrolan ringan, setelah itu mulai membahas kerja sama mereka.


Keyla lebih banyak menundukkan pandangan. Dia hanya bicara seperlunya saja.


Hampir 2 jam mereka membicarakan kerjasama itu. Dion dan William terlihat profesional saat membicarakan soal pekerjaan. Tidak ada lagi tatapan tajam diantara keduanya. Mereka terlihat lebih santai dari sebelumnya.


Keyla bisa bernafas lega melihat keseriusan mereka berdua soal pekerjaannya. Setidaknya permasalahan pribadi mereka tidak akan menjadi penghalang dalam hubungan kerja sama itu.


"Kerja sama yang menyenangkan. Aku harap kedepannya perusahaan ini akan banyak melakukan kerja sama." Ucap William dengan senyum penuh arti. Dia berdiri dari duduknya.


Mengulurkan tangan pada Dion yang akan pergi.


"Tentu saja." Dion menjawab datar dan menjabat tangan William sekilas.


"Terimakasih atas kerja kerasnya Nona Keyla." Kini William mengulurkan tangan pada Keyla. Sontak hal itu membuat Keyla gemetar, takut untuk membalas uluran tangan William.


"Jangan khawatir, tanganku tidak kotor." Ucap William. Suaranya lembut tapi penuh penekanan.


Karna merasa tidak enak pada orang tua William dan yang lainnya, akhirnya Keyla memberanikan diri untuk menjabat tangan William.


Telapak tangan Keyla sudah berkeringat dan dingin.


Hal itu membuat William tersenyum. Keyla mengalihkan pandangan dan langsung menarik tangannya dari genggaman William.


Tubuhnya sedikit gemetar karna takut.


"Kami permisi Pak Sanjaya,," Pamit Dion. Dia membungkuk sopan.


"Terimakasih." Ujarnya lagi.


"Sama-sama Pak Dion."


...****...


"Aku ke toilet sebentar." Pamit Keyla begitu keluar dari ruangan. Wajahnya pucat. Pelipisnya sedikit berkeringat.


"Siapkan mobil Joe.!" Tegas Dion.


"Kenapa.? Kamu mau mengantar istrimu sampai kedalam toilet.?" Tanya Joe dengan nada protes.


"Jangan banyak bicara, lakukan saja kalau tidak mau pulang jalan kaki.!" Tegas Dion kesal.


"Oke,, oke.!" Geram Joe dan bergegas pergi dari sana.


"Ayo." Tiba-tiba Dion menggandeng tangan kanan Keyla. Menggenggamnya erat dan mengajaknya ke toilet.


Keyla mengikuti langkah Dion sembari menatap tangannya yang terus di genggaman olehnya.


Keyla tersenyum tipis. Dia paham apa yang sedang di lakukan oleh Dion padanya.


Dion pasti sengaja menggenggam tangannya untuk menghapus jejak tangan William di sana.


Ini yang tidak pernah berubah dalam diri Dion. Meski saat ini sikapnya dingin dan ketus, namun Dion selalu memberikan perhatian kecil padanya secara tidak langsung.


...****...


"Ya ampun aku merasa sedang berada dalam drama percintaan romantis." Sindir Joe saat Keyla dan Dion datang ke mobil. Berjalan beriringan, membuat Joe jengkel karna merasa nasibnya semakin mengenaskan. Berada di tengah-tengah Keyla dan Dion yang tak jarang mengumbar kedekatan.


"Tidak perlu banyak komentar." Sinis Dion geram. Dia membukakan pintu untuk Keyla tanpa mengatakan apapun.


"Silahkan masuk istriku tercintanya,," Seru Joe. Dia semakin menjadi - jadi untuk menyindir Dion.


Ucapannya langsung mendapat tatapan tajam dari Dion.


"Bukankah seharusnya kamu bicara seperti itu Di.? Kedengarannya sangat romantis." Joe terkekeh geli. Dia sama sekali tidak menghiraukan singa yang sudah hampir menerkam dirinya.


"Tutup mulutmu jika tidak ingin aku robek.!" Ancam Dion.


Keyla menatap pusing dengan perdebatan mereka, dia memilih masuk kedalam mobil.


"Galak sekali singa yang sedang cemburu." Joe pura-pura merinding. Dia juga bergegas masuk ke dalam mobil.


Sebenarnya tau jika Dion cemburu lantaran William menjabat tangan Keyla. Joe bisa melihat tatapan mata Dion yang berapi-api saat itu.