My Secretary

My Secretary
Bab 32



Keyla terlihat bengong setelah melewati malam panasnya bersama Dion dalam waktu yang cukup lama. Dia melamun, membungkus tubuh polosnya dengan selimut tebal. Sedikitpun tidak berani untuk menoleh ke samping. Dimana Dion masih terdengar mengatur nafasnya yang memburu setelah tenaganya terkuras habis untuk mencapai kenikmatan.


Laki-laki itu hanya membalut tubuh bagian bawahnya dengan celana pendek. Dada bidangnya terlihat seksi dengan tetesan keringat di atasnya.


Dion menoleh, menatap lekat wajah Keyla dari samping.


Raut wajah yang penuh sesal membuat Dion merasa bersalah.


"Kenapa.? Kamu menyesal.?" Tanya Dion lirih.


Keyla hanya merespon dengan gelengan pelan tanpa menatap Dion. Tatapan matanya masih fokus ke langit-langit kamar, terlihat menerawang jauh.


"Aku harus kembali ke kamar Leo." Keyla bergegas turun dengan tubuh yang masih berbalut selimut. Dia memunguti bajunya yang bercecer di lantai yang tanpa sadar telah dilempar asal oleh Dion.


Keyla tidak heran karna sudah paham betul dengan ulah Dion. Dia pernah menjadi istrinya, jadi mana mungkin tidak tau kebiasaan mantan suaminya.


"Hemm,," Dion hanya memperhatikan Keyla, tidak mengatakan apapun lagi hingga Keyla keluar dari kamar.


"Sial.!!" Umpat Dion sembari mengusap kasar wajahnya. Dia jadi kacau sendiri karna menyadari perbuatannya adalah kesalahan besar. Namun dia bisa apa saat rasa itu sudah menggebu dan tidak bisa di tahan lagi.


...****...


Liburan mereka jadi canggung. Keyla dan Dion tidak banyak berkomunikasi seperti sebelumnya. Keduanya lebih banyak berinteraksi dengan Leo tanpa melibatkan satu sama lain.


Kejadian semalam bukannya membuat hubungan mereka semakin dekat, malah menciptakan pembatas yang tak terlihat.


"Sudah mainnya, kita makan siang dulu." Ujar Dion pada Leo, namun manik matanya sedikit melirik ke arah Keyla.


"Setelah itu pulang." Dion menggendong Leo dan beranjak dari sana. Keyla mengikuti langkah Dion tanpa memberikan protes.


Ketiganya sudah berada di dalam restoran. Makanan yang mereka pesan juga sudah datang. Mereka makan dengan tenang. Keyla dan Dion terkadang bergantian menyuapi Leo.


Interaksi mereka sudah seperti keluarga kecil yang bahagia.


"Mama ke toilet sebentar sayang," Pamit Keyla pada Leo, tak lupa pamit juga pada Dion meski tidak mendapat respon darinya.


"Aku ke toilet sebentar Di."


Keyla bergegas ke toilet. Saat baru keluar dari toilet dan akan kembali ke mejanya, seseorang mencekal erat pergelangan tangannya dan menariknya pergi dari sana.


"Lepas Wil.!! Berhenti menggangguku,! Kita tidak punya urusan lagi." Seru Keyla penuh amarah. Entah apa yang di inginkan oleh William, padahal laki-laki itu yang mencampakkan dirinya dan menceraikannya. Tapi begitu tidak sengaja bertemu, William justru mengganggunya.


William menghentikan langkahnya, dia membawa Keyla ke tempat yang tidak banyak orang. Tangannya masih terus mencekal pergelangan Keyla.


"Apa kamu tidak rindu padaku.?" William menaikan sebelah alisnya.


"Rindu.? Apa yang harus aku rindukan dari sosok laki-laki kejam sepertimu.?" Keyla menatap sinis. Selama 4 tahun hidup bersama William, sedikitpun tidak ada kenangan indah di dalamnya. Lalu bagaimana bisa di rindu pada sosok William.? Bahkan untuk sekedar mengingatnya saja Keyla harus berfikir berulang kali.


Pernikahannya dengan William hanya hitam di atas putih. Bukan pernikahan yang sehat dan normal pada umumnya. Dia hanya di jadikan pemuas tanpa di berikan pengakuan.


William tidak pernah mengatakan pada siapapun bahwa dia telah menikah.


William tersenyum santai mendapat pujian dari Keyla yang mengatakan jika dirinya laki-laki kejam.


"Kalau aku kejam, mana mungkin aku membiarkan anak itu tetap tinggal di rumahku." Tuturnya dengan pembawaan yang tenang namun tetap terlihat menyeramkan.


"Kamu saja yang tidak tau terimakasih.!" Ketus William penuh penekan.


"Aku sudah menolong orang tuamu, tapi apa balasan yang kamu berikan padaku.?!" William memegang dagu Keyla yang menekannya kuat.


"Sakit Wil.!" Pekik Keyla dengan raut wajah menahan sakit.


"Sakit.?? Lebih sakit mana dengan balasan yang kamu berikan padaku.?" William menatap tajam. Sorot matanya di penuhi kebencian dan amarah.


"Kamu pikir apa yang membuatku jadi berubah seperti ini setelah beberapa hari menikahimu.?!"


William menatap jengah. Dia melepaskan kasar tangannya dari dagu Keyla.


"Bukannya menyadari kesalahan, kamu justru semakin menjadi.! Kamu pikir aku tidak tau setiap malam kamu menangisi laki-laki itu.?!" William tersenyum kecut. Dia selalu mengawasi Keyla lewat ccvt yang terhubung di ponselnya. Awalnya dia ingin menjalani pernikahan itu dengan semestinya dan mau menerima Keyla apa adanya, termasuk menerima anak dalam kandungan Keyla.


Tapi setelah melihat apa yang di lakukan Keyla di malam setelah pernikahan mereka, William jadi mengurungkan niatnya. Pada akhirnya dia memilih untuk membuat surat perjanjian dan akhirnya berbuat kasar pada Keyla karna merasa dibodohi dan diperalat untuk kesembuhan orang tuanya saja.


"Kamu wanita tidak tau diri yang pernah aku temui.! Bahkan jal -lang yang aku sewa saja cukup tau diri.!"


"Apa kamu bahagia setelah aku menceraikanmu.?!" William mengulas senyum sinis.


Keyla sejak tadi diam, berusaha untuk mencerna penuturan yang keluar dari mulut William. Ada perasaan tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh William.


Memang pada awalnya William bersikap normal saja padanya, tapi Keyla pikir itu hanya sandiwaranya saja di depan sang Papa.


"Kenapa diam saja.?! Kamu mulai menyadari kesalahanmu atau justru tidak merasa bersalah.?" William memegang kedua bahu Keyla dan mendorongnya pelan hingga bersender di dinding.


"Lepas Wil, aku mohon jangan seperti ini." Keyla menggelengkan kepalanya, dia ketakutan melihat wajah William yang semakin mendekat padanya.


"Aku minta maaf jika membuatmu kecewa, aku pikir kamu memang tidak menginginkan pernikahan itu."


Keyla berbicara sambil menutup matanya. Dia tidak berani membuka mata lantaran wajah William sudah sangat dekat dengannya. Hembusan nafas William bahkan sampai terasa di wajahnya.


"Kamu pikir kata maaf bisa mengembalikan waktuku yang terbuang sia-sia selama lebih dari 4 tahun.?!" Cengkraman di kedua bahu Keyla semakin kuat. William seolah tidak peduli melihat Keyla yang terus meringis menahan sakit.


"Sakit Wil,,," Suara Keyla bergetar, dia seperti akan menangis.


"Lepas.!!" Suara yang tidak asing itu terdengar jelas di telinga Keyla. Dia langsung membuka mata dan melihat Dion yang sedang menyingkirkan kedua tangan William, setelah itu mendorong William untuk menjauh.


"Kau lagi." William menatap kecut.


"Kalau di lihat-lihat, kalian memang seperti pasangan yang serasi." William memperhatikan Keyla dan Dion bergantian.


"Pantas saja dia tidak bisa melupakanmu." Ucapnya pada Dion.


"Apa kamu tau jika mantan istrimu itu masih mencintaimu selama menikah denganku.? Dia bahkan terus menangisimu setiap malam."


"Bukankah wanita seperi itu hanya pantas untuk dinikmati saja.?" Ujarnya dengan sorot mata tajam.


Penghinaan dari William membuat mata Keyla berkaca-kaca, rasa sesak dan sakit begitu menghujam hatinya. Apa lagi tadi malam Dion baru saja memaksanya melakukan hubungan itu.


Keyla jadi berfikir bahwa Dion juga memiliki pemikiran yang sama dengan William.


Dia jadi merasa menjadi sangat rendah dan benar-benar tidak memiliki harga diri.


Keyla menetes air matanya, dia berusaha untuk menahan namun tidak sanggup. Ucapannya terlalu menusuk, dia juga merasa semua itu benar.


Keyla menghapus air matanya lalu berlari menjauh dari dua laki-laki itu.


"Kau.!! Jaga mulutmu.!" Dion hampir melayangkan tinjuan pada William, namun William menahan dan menghempas kasar tangan Dion.


"Luar biasa.! Pantas saja dia sangat mencintaimu.!" Ucap William lalu pergi begitu saja dengan langkah tegap.


Dion hanya mengepalkan tangannya tanpa berniat untuk menahan William. Dia bergegas pergi untuk menyusul Keyla yang terlihat sangat hancur.


Saat kembali ke meja makan, Keyla sudah menggendong Leo. Matanya sedikit sembab meski tidak lagi mengeluarkan air mata.


"Aku mau pulang." Ucapnya lirih dengan wajah yang tertunduk.


Dion mengangguk setuju dan bergegas kembali ke resort untuk mengemasi baju-baju mereka.