
1 minggu berlalu. Sejak kejadian itu, Dion tidak berani macam-macam lagi pada Keyla. Sikapnya juga berubah, baik di kantor maupun di apartemen. Dion mulai bersikap normal layaknya bersikap pada orang lain.
Sikap dingin dan ketusnya terhadap Keyla perlahan mulai berkurang. Dia juga lebih santai saat Arkan datang ke apartemen untuk menjemput Keyla. Tidak seperti sebelumnya yang menatap tajam dengan ekspresi tidak suka.
Keyla melirik arloji di pergelangan tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Biasanya Dion sudah bersiap untuk keluar dari ruangan 10 menit sebelumnya, tapi sampai saat ini masih berkutat dengan laptop di depannya.
Keyla jadi merasa tidak enak jika pamit pulang, sedangkan atasannya saja masih sibuk dengan pekerjaan. Hal itu membuar Keyla berdiam diri di meja kerjanya, sesekali melirik ke arah Dion.
"Sudah waktunya pulang, kenapa masih diam disitu.?" Tegur Dion dengan suara datar, tapi matanya tak beralih sedikitpun dari layar laptop di depannya.
Keyla langsung menatap ke arah Dion, terlihat senang karna akhirnya Dion memberikan tanda untuk menyuruhnya pulang.
"Saya boleh pulang Pak.?" Tanya Keyla.
"Memangnya siapa yang melarang kamu pulang.?" Dion balik bertanya. Suaranya semakin datar saja, namun sempat melirik sekilas pada Keyla.
Ucapan Dion membuat Keyla tersenyum kikuk, merasa salah tingkah hingga melontarkan pertanyaan yang tidak masuk akal.
Tidak mau menyia nyiakan kesempatan, Keyla langsung bergegas dari duduknya. Sejak tadi dia memang sudah membereskan meja kerjanya dan siap untuk pulang. Hanya saja dia menunggu komando dari si penguasa ruangan.
"Permisi Pak, saya pulang duluan." Pamit Keyla setelah berhenti di depan meja kerja Dion. Laki-laki itu hanya memberikan anggukan.
Keyla beranjak keluar, sebenarnya belakangan ini merasa ada yang kurang karna perubahan sikap Dion. Biasanya Dion selalu membuatnya berangkat dan pulang bersama dengan menggunakan segela cara, bahkan terkadang menggunakan cara yang tidak masuk akal.
Tapi sudah 1 minggu ini Dion tidak pernah lagi kengajaknya berangkat atau pulang besama.
...*****...
"Kamu ada acara nanti malam.?" Tanya Arkan. Dia melirik dalam sosok wanita cantik yang duduk di sebelahnya. Sudah beberapa hari ini selalu menjemput dan mengantarnya pulang.
"Tidak ada." Jawab Keyla sembari menggelengkan kepalanya.
"Mau makan malam di luar.?" Ajak Arkan dengan senyum teduh di wajahnya.
Keyla diam sesaat, mencari cara untuk menolak ajakan Arkan.
"Maaf Ar, aku,,,
"Kamu tidak akan menolak kan.?" Potong Arkan dengan nada bicara yang terdengar kecewa.
"Kamu bisa mengajak Leo, aku juga ingin dekat dengannya." Tuturnya dengan seulas senyum.
Ada keseriusan dalam raut wajah dan sorot mata Arkan saat mengatakan ingin dekat dengan Leo.
Keyla memang sudah paham kemana arah Arkan sejak awal mendekatinya. Arkan seperti ingin menjalin hubungan ke arah yang lebih serius.
"Baiklah, tapi aku tidak bisa janji. Aku harus bicara dulu dengan Leo." Tuturnya.
"Nanti aku kabari lagi."
Arkan tersenyum senang mendengar jawaban Keyla, meski belum pasti bisa makan malam bersama, setidaknya Keyla mau menerima ajakannya.
"Terimakasih Ar,," Ucap Keyla sembari membuka pintu mobil. Arkan hanya menganggukkan kepalanya.
"Hubungi aku kalau Leo setuju untuk pergi denganku." Katanya sambil terus menatap ke arah Keyla. Tatapan yang bisa di artikan penuh rasa di dalamnya.
Memang sejak awal melihat Keyla di rumah Celina, wanita cantik itu sudah menarik perhatiannya.
Wajah cantik dan aura yang terpancar seakan memberikan energi positif untuknya.
"Iya,, aku mengerti." Jawab Keyla.
"Hati-hati di jalan." Keyla segera menutup pintu mobil setelah keluar. Dia sadar jika Arkan sedang menatapnya intens, jadi berusaha untuk mengakhiri tatapan itu.
...*****...
Keyla baru saja menghubungi Arkan, mengatakan padanya kalau Leo bersedia untuk pergi bersama mereka.
Saat ini Kayla sedang bersiap-siap setelah tadi menggantikan baju Leo dan memakaikan sepatu pada putranya.
"Mamaa,,, ada Papa,,," Seru Leo. Dia berteriak sembari masuk ke dalam kamar Keyla.
Keyla langsung menoleh, dia lupa memberi tau Dion kalau malam ini akan pergi jadi tidak bisa makan malam bersama di apartemen. Karna biasanya memang Dion selalu datang menjelang makan malam.
"Iya sayang, nanti mama keluar." Keyla kembali menyisir rambut panjangnya yang dibiarkan terurai.
"Papa mau ajak Leo jalan-jalan Mah,," Seru Leo lagi. Dia sudah berdiri di samping Keyla.
"Iya. Ayo Mama, jangan lama-lama." Leo menarik tangan Keyla, mengajaknya untuk keluar dari kamar.
"Iya sayang sebentar, Mama ambil tas dulu."
Keyla langsung mengambil tas di atas ranjang begitu Leo melepaskan tangannya. Setelah itu bergegas menghampiri Dion yang sudah duduk santai di ruang keluarga.
Laki-laki itu terlihat lebih muda dengan memakai setelan casual.
"Ayo Papa, kita jalan-jalan." Seru Leo.
Ucapan Leo seolah tidak di dengar oleh mereka. Karna baik Keyla maupun Dion, keduanya sama-sama menatap bingung.
Dion bingung lantaran Leo sudah bersiap untuk pergi, begitu juga dengan Keyla. Sedangkan dia belum memberi tau Keyla kalau akan mengajak Leo keluar malam ini.
"Di,, kamu mau ajak Leo kemana.?" Tanya Keyla setelah beberapa saat saling terdiam.
"Apa kamu dan Leo mau pergi.?" Bukannya menjawab, Dion malah mengajukan pertanyaan yang serupa.
Keyla langsung gugup, dia tidak enak untuk berkata jujur pada Dion. Entah kenapa d
sedikit takut membuat Dion kesal padanya karna sudah berani mengajak Leo pergi dengan laki-laki lain.
"A,,aaku dan Leo,,," Ucap Keyla gugup, dan bersaan dengan itu bel apartemen berbunyi.
"Sebentar Di,," Keyla bergegas pergi untuk membukakan pintu. Mungkin dia akan menunda makan malam bertiga dan membiarkan Dion membawa Leo jalan-jalan. Karna tidak mungkin jika Keyla melarang Dion membawa Leo jalan-jalan.
"Key,," Senyum Arkan mengembang. Sangat manis, penuh dengan kekaguman dalam tatapannya.
"Kamu cantik." Pujian itu lolos begitu saja dari bibir Arkan saat melihat Keyla.
"Makasih." Keyla hanya tersenyum kikuk.
"Kamu sudah siap.?" Tanyanya.
"Dimana Leo.?" Pandangan mata Arkan mengarah kedalam apartemen. Beberapa detik kemudian ekspresi wajahnya langsung berubah saat melihat Dion ada di dalam sembari menggendong Leo.
Keyla langsung paham dengan perubahan wajah Arkan, ditambah dia mendengar suara langkah kaki yang kian mendekat.
"Maaf Ar,, aku tidak tau kalau Dion maun mengajak Leo jalan-jalan." Turut Keyla. Dia langsung merasa tidak enak hati pada Arkan.
"Hanya mengajak Leo.? Atau mengajak kamu juga.?" Tanya Arkan, tapi tatapan matanya terus menatap lurus ke belakang Keyla. Menatap Dion yang berdiri tak jauh di belakang Keyla.
"Aku hanya akan pergi dengan putraku." Jawab Dion cepat.
"Kalau kalian mau pergi, pergi saja." Ucapnya lagi.
Dion lalu berjalan melewati Keyla dan Arkan untuk keluar dari apartemen.
"Mama,,, Ayo Mah,,," Leo melambaikan tangan pada Keyla, meminta Keyla untuk ikut dengannya.
"Leo hanya pergi dengan Papa saja,," Ujar Dion
"Mama tunggu di rumah." Katanya sembari melirik sekilas ke arah Keyla.
"Tapi Leo mau pergi sama Mama juga." Leo merengek, enggan pergi bersama Dion jika tanpa Mamanya.
"Pergilah,, lain kali saja kita makan bersama." Ucap Arkan lirih. Dia sedikit mengulas senyum meski jelas terlihat kecewa karna batal makan malam bersama Keyla dan Leo.
"Tapi Ar,,,
"Tidak apa, masih ada hari esok." Potong Arkan cepat.
"Aku pulang dulu." Pamitnya sembari mengusap sekilas pundak Keyla.
"Maaf,," Keyla menunduk dengan perasaan bersalah sekaligus kasihan pada Arkan.
"It's ok." Jawabannya. Arkan beranjak dari sana dengan langkah lesu.
Keyla menghela nafas, menatap kasihan pada Arkan yang terlihat kecewa.
"Mau ikut atau tidak.?" Tegur Dion datar.
Keyla mengangguk cepat, mengunci pintu dan mengikuti langkah Dion di belakang.