
Keyla kembali ke ruang kerjanya setelah makan siang di kantin bersama Joe. Laki-laki itu sepertinya tidak pantang menyerah untuk mendekati Keyla agar mendapatkan cinta dari wanita pujaannya saat ini.
"Ternyata Putri Diana dan Pangeran Dion belum kembali." Ungkap Joe saat membukakan pintu untuk Keyla dan melihat ruangan itu masih kosong.
Keyla hanya melirik acuh ke meja kerja Dion, dia tidak ambil pusing mengenai hal itu.
Awalnya Dion memaksa Keyla untuk makan bersama, namun tiba-tiba Diana masuk ke ruangan mereka dan mengajak Dion untuk makan siang di luar. Diana sama pemaksanya dengan Dion, tapi Dion kewalahan menghadapi kecerewetan Diana sampai akhirnya setuju untuk makan bersamanya.
Dan ketika Joe datang menghampiri Keyla untuk mengajaknya makan di kantin kantor, Dion hanya bisa melihat keduanya pergi tanpa mengatakan apapun.
"Terimakasih Joe," Ucap Keyla untuk makan siang yang di berikan oleh Joe.
"Kalau begitu aku mau melanjutkan pekerjaan," Keyla masuk kedalam, tapi rupanya Joe juga ikut membuntuti Keyla sampai ke ruang kerjanya.
Keyla menoleh kebelakang, dia terlihat bingung menatap Joe.
"Ada apa Joe.?" Tanya Keyla.
"Duduklah, aku ingin bicara." Raut wajah Joe begitu serius. Dia meminta Keyla untuk duduk di kursi kerjanya dan dia sendiri duduk di depan Keyla.
Keduanya duduk berhadapan, saling menatap. Tatap mata Joe begitu dalam dan ekspresi wajah semakin serius. Seperti ada hal besar yang akan dia katakan pada Keyla.
Situasi seperti ini membuat Keyla terlihat tidak nyaman. Sesekali melirik ke arah pintu yang tertutup, entah kenapa dia berharap Dion datang ke ruangan itu agar Joe tidak jadi bicara padanya.
Karna melihat gerak - gerik dan tatapan mata Joe, Keyla seolah bisa menebak apa yang akan di bicarakan oleh laki-laki itu. Laki-laki yang terang-terangan sedang mendekatinya.
"Kamu mau bicara apa Joe.?" Akhirnya Keyla memberanikan diri untuk memecah keheningan di antara mereka, sekaligus memutus pandangan mata Joe yang sejak tadi tak berkedip menatapnya.
"Key,,," Joe meraih tangan kanan Keyla yang ada di atas meja dan langsung menggenggamnya. Hal itu sontak membuat Keyla kaget dan reflek untuk menarik tangannya, namun genggaman tangan Joe cukup Keyla.
"Maaf, jangan seperti ini Joe, kita di kantor." Tegur Keyla lembut. Namun Joe seperti tidak mengindahkan teguran Keyla, justru menarik tangan Keyla agar lebih dekat di depannya.
"Memangnya kenapa.? Ini hanya pegangan tangan saja." Jawab Joe santai. Dia merasa sikapnya tidak akan menimbulkan masalah sekalipun nanti ada yang melihatnya, lagipula hanya memegang tangan, beda lagi kalau memegang yang lain. Begitu pikirnya.
Karna kalau memegang yang lain mungkin akan jadi aib di kantor jika ada tidak sengaja melihatnya. Kalau hanya memegang tangan, hanya akan jadi gosip saja.
"Aku tapi,,,
"Aku menyukai mu." Potong Joe tegas. Sedikitpun tidak ada keraguan saat mengungkapkannya. Begitu juga dengan tatapan matanya yang Keyla tau bahwa itu bukan tatapan biasa.
"Aku serius, aku menyukaimu Keyla,," Ungkapnya lagi.
Keyla dibuat memaku, bingung bagaimana caranya untuk menolak Joe. Joe memang baik selama yang dia tau, namun sedikitpun tidak ada perasaan lebih untuknya. Bahkan saat ini Keyla menutup hatinya untuk laki-laki, dia hanya ingin fokus pada Leo dan dirinya sendiri agar bisa hidup bahagia setelah bertahun-tahun mengalami kepedihan.
"Joe,, aku minta maaf, tapi aku,,,
"Aku harap itu bukan penolakan," Potong Joe.
"Tidak masalah kalau kamu belum memiliki perasaan padaku, bukankah semua butuh proses.?" Ujarnya. Baru kali ini Joe berbicara serius selain masalah pekerjaan.Biasanya laki-laki itu selalu membubuhkan dengan candaan dan cibiran yang dengan mudah keluar dari mulutnya. Tapi kali ini benar-benar sangat serius.
"Apa.?" Ujarnya tak percaya.
"Jadi kamu sudah menikah dan punya anak.?" Joe berharap Keyla tidak memiliki suami, tidak masalah kalau dia janda dan punya anak.
"Kamu ingin tau siapa ayah dari anaknya.?" Tiba-tiba terdengar suara Dion yang memenuhi ruangan tersebut. Entah sejak kapan Dion masuk, Keyla dan Joe bahkan kaget melihat keberadaan Dion. Keduanya sama sekali tidak mendengar pintu di buka, bahkan tidak terdengar langkah kaki sedikitpun, namun Dion sudah berdiri di tengah-tengah ruangan. Dan kini berjalan mendekat ke arah mereka.
Keyla langsung menarik tangannya dari genggaman Joe, dan dengan mudahnya bisa lepas karna Joe mengendurkan genggamannya lantaran kaget melihat kedatangan Dion.
"Sepertinya kamu harus tau rahasia ini Joe.!" Dion menepuk pundak Joe. Sikapnya begitu tenang, namun tatapan matanya seperti dipenuhi kekesalan yang tertahan.
"Aku dan Keyla sudah memiliki anak sejak 4 tahun yang lalu." Ungkap Dion. Dia memperjelas setiap kata yang diucapkan.
Joe melongo, kaget sekaligus tidak percaya. Selama bekerja di perusahaan ini sejak 3 tahun yang lalu, dia tidak pernah mendengar berita bahwa Dion sudah menikah, apalagi memiliki anak. Semua karyawan di perusahaan ini bahkan mengira Dion masih single.
"Kalian pasti sendang menipuku. Memangnya aku percaya." Ujar Joe sembari terkekeh. Dia merasa bahwa Dion dan Keyla sedang menipunya lantaran selama ini Joe melihat gelagat yang tidak biasa antara Dion dan Keyla. Mungkin mereka punya hubungan diam-diam dan sengaja mengaku sudah memiliki anak agar dia menyerah begitu saja.
"Lalu kau pikir aku bohong.?!" Nada bicara Dion meninggi.
"Kalau tidak percaya, datang saja ke apartemenku nanti malam. Biar aku kenalkan anakku padamu." Ujar Dion menantang. Tentu saja dia sangat percaya diri memberikan tantangan pada Joe, karna memang pada kenyataannya dia dan Keyla sudah memiliki anak.
Lagi-lagi Joe terkekeh. Dia benar-benar tidak bisa mempercayai ucapan Dion.
"Kamu pikir aku bisa dengan mudah di bodohi.?"
"Bisa saja nanti kamu membayar anak kecil yang mau mengaku sebagai anakmu." Tuduh Joe.
"Berani sekali menuduhku seperti itu.! Kau lihat saja nanti, jangan kaget kalau wajahnya mirip denganku.!" Geram Dion. Dia menarik bahu Joe agar berdiri.
"Pergi dari sini dan kembali ke ruanganmu.! Ini sudah waktunya jam kerja.!" Titahnya tegas.
Joe berdecak kesal dan bergegas pergi dari ruangan itu. Keyla yang sejak tadi diam, kini pura-pura sibuk dengan laptopnya. Menghindari tatapan Dion yang terlihat menyeramkan.
"Kamu pikir ini tempat umum.?! Bebas berduaan dan pegangan tangan.!" Seru Dion. Terdengar nada kekesalan di dalamnya.
Keyla memberikan diri mengangkat wajah dan menatap mata Dion. Tajam, sangat menakutkan. Tatapan yang terlihat diselimuti amarah kecemburuan.
Keyla menepis prasangkanya, rasanya tidak mungkin kalau Dion cemburu pada dia dan Joe. Sedangkan selama ini sikap Dion masih menyebalkan dan ketus padanya.
"Maaf, Saya tidak tau karna Pak Joe tiba-tiba memegang ta,,,
"Tapi bukan berarti pasrah saja.!" Ketusnya. Dion berlalu dan kembali ke meja kerjanya dengan wajah yang dipenuhi amarah.
Keyla hanya bisa melongo menghadapi sikap atasannya itu. Seenaknya saja mengatakan dia pasrah saat di pegang tangannya oleh Joe.
Dion benar-benar tidak berkaca saat bicara dan mencela orang lain. Apa dia lupa saat berada di penginapan. Dion justru meminta Keyla untuk pasrah saja saat menerima sentuhan darinya yang menuntut lebih.
Sekarang seenaknya saja menyalahkan Keyla hanya karna di pegang tangannya oleh Joe.