
Dion bergegas keluar dari apartemennya, berniat datang ke apartemen sebelah untuk pamit pada Leo dan berangkat bersama dengan Keyla.
Namun baru saja menutup pintu, Dion di kejutkan dengan sosok laki-laki yang tengah berbicara dengan Keyla di depan pintu apartemen Keyla.
Dion menatap tejam pada sosok laki-laki yang dia kenal itu. Entah darimana laki-laki itu tau kalau Keyla tinggal disini.
Dion pikir setelah 1 bulan tidak melihatnya mendekati Keyla, laki-laki itu sudah menyerah. Ternyata masih terlihat semangat untuk menarik perhatian Keyla sampai bisa mengetahui keber6 Keyla saat ini.
"Maaf Arkan,, aku,,
"Permisi.!" Dion menyelonong masuk begitu saja kedalam apartemen Keyla. Dia bahkan sampai menyenggol bahu Arkan.
Ulah Dion membuat Keyla dan Arkan menatap heran. Namun Dion cuek saja. Dia memanggil Leo sembari masuk ke dalam.
"Kamu dan Dion tinggal,,,
"Tidak, aku tidak tinggal bersama dengannya." Potong Keyla cepat.
"Tapi apartemen Dion ada di sebelah." Keyla menatap ke arah pintu apartemen yang berada persis di sebelahnya.
Arkan terkekeh gemas melihat kepanikan di wajah Keyla.
"Aku bukan mau bilang kalian tinggal bersama." Tutur Arkan.
"Kenapa bisa berfikir aku akan bilang seperti itu.?" Arkan tersenyum tipis. Terlihat senang melihat Keyla tersipu malu karna sudah salah sangka.
"Aa,aku,,," Keyla jadi gugup sendiri.
"Lupakan saja." Ujar Arkan santai.
"Jadi bagaimana.? berangkat bersama.?" Arkan menatap penuh harap.
"Aku sudah jauh-jauh datang kesini, tidak mungkin akan dibiarkan berangkat sendirian kan.?" Tuturnya dengan senyum tipis.
Keyla terlihat bingung, entah kenapa tiba-tiba memikirkan Dion. Takut Dion akan marah padanya jika berangkat dengan Arkan. Tapi di sisi lain merasa kasihan pada Arkan yang sudah sengaja datang ke apartemen untuk menjemputnya.
Keyla bahkan heran bagaimana Arkan bisa tau kalau dia tinggal di apartemen ini. Saat ditanya, Arkan hanya menjawab rahasia.
Entah siap yang memberitahunya, atau mungkin diam-diam Arkan membuntutinya dan Dion saat pulang dari kantor.
"Kamu akan berangkat dengan Dion.?" Tanya Arkan lagi karna Keyla tak kunjung memberikan jawaban sejak tadi.
"Tidak." Keyla menggeleng cepat. Dia merasa kasihan pada Arkan sampai tidak tega untuk menolak ajakannya, terlebih wajahnya terlihat sendu saat menunggu jawaban darinya.
"Tunggu sebentar, aku ambil tas dan pamit pada Leo dulu." Ujar Keyla, dia lalu bergegas masuk dan membiarkan pintu tetap terbuka.
Keyla tidak berani menyuruh Arkan untuk masuk ke dalam apartemen, karna dia sadar apartemen yang dia tempati saat ini adalah fasilitas yang diberikan oleh Dion untuk Leo, jadi Keyla merasa tidak punya hak untuk memasukan orang lain ke apartemen ini tanpa seijin Dion. Apalagi Arkan yang jelas-jelas tidak disukai oleh Dion.
Saat masuk, Dion tampak sedang duduk di samping Leo yang tengah di suapin oleh pengasuhnya.
Laki-laki itu asik mengajak Leo bicara.
"Leo harus habiskan makanannya yah, Mama berangkat dulu." Ucap Keyla sembari menghampiri putranya dan mendaratkan kecupan di pucuk kepala Leo.
"Iya Mama,, Hati-hati di jalan." Ucap Leo. Dia mengulurkan tangan, meraih tangan Keyla dan mencium punggung tangannya.
"Anak pinter,," Keyla mengusap gemas rambut Leo. Dia lalu beralih pada Dion yang sejak tapi terus menatapnya datar.
"Maaf Di, aku berangkat duluan." Pamit Keyla pada Dion.
Tanpa menunggu respon dari Dion, Keyla bergegas pergi. Dion hanya diam saja, menatap tajam punggung Keyla yang kian menjauh dari pandangan matanya.
"Maaf lama,," Ucap Keyla begitu keluar menghampiri Arkan. Laki-laki itu menunggu dengan bersandar di dinding dan kedua tangan yang disilangkan. Senyumnya mengembang saat melihat Kelya datang.
"Tidak masalah." Sahut Arkan.
"Ayo,," Ajaknya. Keyla mengangguk. Keduanya jalan beriringan menuju basement.
"Beberapa hari terakhir aku datang ke rumah Celina, ternyata sudah tidak tinggal di sana lagi." Tutur Arkan. Dia mulai melajukan mobilnya.
"Jadi kamu masih sering datang ke sana.?"
"Tidak, hanya 2 kali." Sahut Arkan.
"Aku baru kembali dari LN 4 hari lalu. Aku pikir kamu masih tinggal di sana, jadi aku datang seperti biasa untuk menjemputmu." Arkan menoleh sekilas dengan senyum tipis.
"Maaf, aku tidak sempat memberi tau." Keyla terlihat tidak enak pada Arkan.
"Tidak masalah." Jawab Arkan lembut.
"Apa Dion tidak marah melihat kamu berangkat denganku.?"
Keyla menoleh, diam sejak karna untuk berfikir.
"Aku rasa dia tidak suka kalau aku dekat denganmu." Tutur Arkan dengar tawa kecil. Dia mengingat sikap dingin dan ketus Dion saat dekat dengan Keyla. Sorot mata Dion seolah sedang mengibarkan bendera peperangan padanya.
Keyla tersenyum kikuk.
"Mungkin hanya perasaan kamu saja." Jawabnya. Walaupun Keyla setuju dengan pendapat Arkan, namun dia enggan membenarkan hal itu.
Dia juga tidak mau terlalu percaya diri jika Dion cemburu padanya karna dekat dengan Arkan.
"Makasih Ar,," Keyla tersenyum tulus.
"Aku jemput lagi nanti, tidak ada penolakan." Ujar Arkan.
"Tapi,,,
"Sudah aku bilang tidak ada penolakan." Potong Arkan lembut.
Keyla hanya diam, lalu bergegas keluar dari mobil. Kalau dia terus menjawab, bisa-bisa akan semakin lama tertahan di dalam mobil.
"Hati-hati di jalan." Ujarnya sembari menutup pintu.
Arkan mengangguk dan tersenyum teduh.
...*****...
Sejak pagi hingga hampir menjelang jam pulang kantor, suasana di ruang kerja itu sangat sunyi.
Tidak ada obrolan yang terjadi di antara Dion dan Keyla.
Dion bahkan tidak menoleh sedikitpun sejak masuk kedalam ruangan. Dan setiap kali akan keluar ruangan, dia berjalan tegap dengan pandangan ke arah lain, sangat jelas menghindari untuk menatap ke arah Keyla.
Meski memasang wajah datar saat pertama kali datang, namun terlihat jelas ada kekesalan yang dia pendam.
Menyadari ada yang berbeda dari sikap Dion, Keyla memilih acuh. Dia sudah bisa menebak apa yang membuat Dion jadi seperti itu.
Sudah pasti karna tadi Arkan datang ke apartemen dan dia memilih untuk berangkat bersama Arkan.
Terkadang sikap Dion yang plin-plan membuat Keyla bingung sendiri menghadapinya.
Entah apa yang di inginkan oleh mantan suaminya itu.
Terkadang Keyla merasa Dion menginginkannya untuk kembali, tapi tak jarang Dion membuatnya merasa tidak di inginkan.
Dering ponsel milik Keyla memecah keheningan di dalam ruangan mereka. Keyla bergegas mengambil dan mengangkat sambungan telfon dari Arkan.
"Ya halo,,,"
"Apa.? Sudah di bawah.? Tapi 15 menit lagi aku baru turun,,"
"Ok, baiklah."
Keyla mematikan telfon dan memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Saat pandangan matanya lurus ke depan, dia melihat sorot mata tajam Dion yang terus mengarah padanya. Tatapan matanya terlalu mengerika, seakan ingin memangsa buruannya.
Keyla memilih sibuk dengan pekerjaannya dan pura-pura tidak tau dengan hal itu.
15 menit jadi terasa sangat lama karna Keyla merasa gerak geriknya terus di awasi oleh Dion. Begitu jam kerja berakhir, dia langsung beranjak dari meja kerjanya. Berjalan menghampiri meja kerja Dion untuk pamit ke luar lebih dulu.
"Permisi Pak, maaf saya duluan." Pamit Keyla sopan. Dia sampai membungku padanya.
Dion tak langsung menjawab, dia justru beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Keyla.
"Kenapa buru-buru.?" Tanya Dion. Nada bicaranya memang santai, tapi mampu membuat bulu kuduk Keyla meremang karna aura yang keluar dari tubuh dan tatapan Dion terasa mencekam. Keyla bahkan sampai mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak dengan Dion.
"Tapi ini sudah waktunya pulang Pak." Sahut Keyla.
Dion hanya mengukir senyum smirk.
"Aku punya pekerjaan yang harus kamu selesaikan, hari ini kamu lembur.!" Tegas Dion dengan suara datar. Dia mengambil map hitam di meja kerjanya dan memberikannya pada Keyla.
"Proposal ini sangat buruk.! Kamu harus merevisinya." Perintah Dion. Keyla menerima map itu dengan ekspresi bingung. Pekerjaan itu bukan tugasnya, tapi Dion malah melimpahkan padanya.
"Tapi Pak, ini bukan,,,
"Apa kamu tidak dengar perintahku.?" Seru Dion.
"Cepat kerjakan, selesaikan hari juga.!" Titahnya tegas.
Keyla yang tidak punya hak untuk menolak perintah atasannya, segera kembali ke meja kerja dan mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Dion.
Dia terpaksa mengirimkan pesan pada Arkan agar tidak menunggunya.