
21++++++
Dion tak habis pikir pada orang yang telah memberikan obat perangsang dalam minuman Keyla. Entah ada motif apa di dalamnya. Atau mungkin minuman itu di tujukan untuk orang lain namun salah sasaran.
Walaupun Dion melihat sendiri kalau Arkan yang mengambil minuman itu dari tangan pelayan, Dion tak bisa menyimpulkan begitu saja jika Arkan pelakunya. Apalagi dia sempat melihat Arkan yang masih mengobrol santai dengan seseorang saat dia dan Celina pergi menuju toilet.
Jika memang Arkan yang sudah memberikan obat perangsang itu pada Keyla, harusnya sejak awal Arkan membuntuti Keyla pergi ke toilet. Mencegah agar Keyla tidak jatuh ke tangan orang lain saat pengaruh obat perangsang itu mulai bekerja.
"Gerah Di,, aku harus lepas baju,," Racau Keyla. Sejak tadi dia terus berbicara seperti itu. Beberapa kali bahkan terlihat ingin mencium Dion.
"Aku yang akan melepaskannya nanti, tunggu sampai di kamar." Sahutnya. Dion terus merangkul Keyla untuk membawanya ke kamar hotel yang baru saja dia booking.
Sampainya di depan kamar, Dion membuka pintu dengan akses card di tangannya. Dia membawa Keyla masuk dan segera mengunci pintu.
Ditatapnya wajah Keyla yang berkabut gairah. Ekspresi wajah dan tatapan matanya saja mampu membuat Dion merasakan gairah yang menggebu itu. Hanya beberapa detik memandangi wajah Keyla, memperhatikan gerakan bibir Keyla yang di gigit sendiri berulang kali, mampu membuat Dion menelan saliva.
Entah siapa yang memulai, pagutan dan luma -t*n bibir keduanya berlangsung cukup panas.
Keyla terlihat agresif dan mendominasi. Tangannya bergerak cepat melepas jas Dion, lalu membuka satu persatu kancing kemejanya.
Jemarinya menelusuri da- da bidang Dion dengan gerakan yang menggoda.
Memberikan sensasi yang berbeda dalam diri laki-laki itu. Dion bahkan semakin tidak sabar untuk melakukannya.
Perlahan namun pasti, Dion berhasil menggiring Keyla dan menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Mengungkung tubuh wanita itu dalam keadaan seluruh kancing kemeja yang sudah terlepas. Dan itu di lakukan oleh Keyla.
Dion kembali memberikan serangan pada bibir sensual Keyla. Entah kenapa Dion justru yang terlihat lebih bersemangat melakukannya. Membuat Keyla tak perlu memohon padanya.
Sambil terus mengabsen setiap inci bibir dan leher jenjang Keyla yang, Dion melepaskan kemeja dan melemparnya sembarangan arah.
"Apa kamu ingin adik untuk Leo.?" Bisik Dion, lalu menyapukan lidahnya di telinga Keyla. Membuat tubuh wanita yang ada di bawah kungkungan terlihat semakin menegang.
"Tidak Di," Jawabannya cepat dengan gelengan kepala.
Mendengar penolakan dari Keyla, Dion kembali mengulangi hal itu lagi dengan gerakan yang semakin liar.
Keyla tak bisa menahan suara khas percintaan itu. Keluar begitu saja dari bibir seksinya saat Dion terus menyapu area telinganya.
"Yakin tidak mau.?" Tanya lagi untuk memastikan. Lagi-lagi Keyla kembali menolak.
"Kamu kamu menginginkannya bukan.?" Dion menelusuri paha Keyla, tangannya bergerak naik dan menyingkap dress hingga sebatas perut.
Keyla tidak menjawab, dia memejamkan mata dan terus menggigit bibir bawahnya. Da -danya membusung saat Dion berhasil menyentuhnya. Menggerakkan lembut jarinya pada sesuatu yang sejak awal sudah terasa basah.
Ada rasa kesal dan marah di hati Dion. Marah pada seseorang yang memberikan obat perangsang itu. Entah apa jadinya jika bukan Vano yang bertemu Keyla di toilet, mungkin saat ini wanita cantik itu tengah di nikmati oleh laki-laki lain.
Keyla kembali mengeluarkan suara indah yang membuat Dion semakin menggebu. Dia mengecup lembut bibir Keyla.
"Lepaskan saja, itu sangat indah." Bisik Dion. Dia menginginkan Keyla untuk melepaskan de -sa-h*n tanpa harus menahannya.
Setelah membuat Keyla merasakan puncak ke -nik-m*tan untuk pertama, Dion mulai menanggalkan kain yang masih tersisa di tubuhnya, kemudian melepaskan dress milik Keyla.
Walaupun sudah mendapatkan pelepasan, Keyla masih saja terlihat on fire untuk merengkuhnya. Efek yang di timbulkan dari obat itu sepertinya sangat besar.
"Oke, waktunya memberikan adik untuk Leo." Ucap Dion. Dia mulai melakukan penyatuan. Kini mulai hanyut dalam permainan yang memabukkan. Saling meracau dan mengerang.
"Diluar saja please,," Seru Keyla saat merasakan gerakan Dion semakin cepat.
...****...
Dion melirik Keyla. Nafasnya baru saja teratur, tapi terlihat kembali menahan sesuatu yang bergejolak dengan menggigit bibir bawahnya. Efek obat itu sepertinya akan sulit untuk hilang dalam waktu singkat.
"Jangan di tahan, lakukan saja." Ucap Dion. Kayla langsung menatap ke arahnya dengan raut wajah menahan malu. Bahkan sangat malu karna harus melewati malam panas ini bersama Dion untuk kedua kalinya setelah bercerai darinya.
Sejujurnya memang sangat menyiksa jika tidak melampiaskannya, namun Keyla sudan sangat malu pada Dion. Rasanya tidak mungkin jika dia memintanya lagi.
"Untuk apa menyiksa diri sendiri, kamu tidak akan bisa tidur malam ini kalau belum menuntaskannya." Tutur Dion.
Keyla hanya diam, berbalik badan membelakangi Dion dan memilih untuk menahannya meski semakin lama membuatnya tidak karuan dan sulit berfikir jernih. Lagi-lagi merasa tidak bisa mengendalikan diri seperti sebelumnya. Lalu membayangkan sentuhan sebelumnya hingga membuat tubuhnya menegang.
"Yakin tidak mau melakukannya.?" Tanya Dion memastikan. Sebenarnya dia sudah bisa menebak kalau Keyla sudah tidak bisa menahannya lagi.
"Kalau begitu aku akan memesan makanan, aku lapar." Ujarnya sembari beranjak untuk turun ranjang. Namun lebih dulu di tahan oleh Keyla.
Mereka kembali melakukannya, Dion hanya berbaring dan membiarkan Keyla merengkuh ke -nik-m*tannya sendiri dengan bergerak teratur di atas tubuhnya. Sesekali mempercepat gerakan.
Dua benda kenyal di depan wajahnya, tak lepas dari sasaran Dion. Dia menye-s*p dan memainkannya secara bersamaan.
Malam ini mungkin terasa indah untuknya, bahkan untuk Keyla yang terlihat menikmati.
...****...
Dion memeluk erat tubuh Keyla dari belakang. Mereka berada dalam balutan selimut yang sama dan dalam keadaan tanpa sehelai benang yang melekat di tubuh.
"Lusa kita menikah." Ucap Dion dengan nada serius. Keyla reflek menoleh dan berbalik badan.
"Menikah.?" Keyla mengulangi ucapan Dion, dia ragu dengan pernyataan Dion.
Setelah sekian lama bersikap ketus dan seenaknya, kini tiba-tiba akan menikahinya dalam waktu dekat.
Keyla memang tidak berfikir untuk menolak karna takut benih Dion akan berkembang di rahimnya, hanya saja dia ragu kalau Dion serius ingin menikahinya.
"Kenapa.? Kamu tidak mau.? Atau mengharapkan orang lain.?" Cecar Dion.
"Bukan begitu, tapi,,,
"Tidak ada penolakan. Setuju atau tidak, lusa kita tetap akan menikah." Potong Dion cepat.
Dion lalu turun dari ranjang dan memunguti baju miliknya, lalu beranjak ke kamar mandi.
"Pakai baju kamu, aku sudah memesan makan malam." Ujar Dion begitu kembali dari kamar mandi dan sudah memakai pakaian lengkap tanpa jas.
"Malam ini kita menginap di sini, aku sudah memberi tau Papa." Ujarnya lagi. Dion lalu duduk di sofa, menatap ke arah Keyla yang masih berbaring di ranjang.
"Kenapa belum turun.?" Protesnya karna Keyla masih diam di atas ranjang.
"Mau aku yang pakaikan bajunya.?" Tawar Dion dengan mengulas senyum mesum.
"Aku bisa sendiri." Keyla langsung beranjak, mengambil baju miliknya dan pergi ke kamar mandi.
...****...
THR pulsa masing-masing 50k untuk 4 orang. Cek di novel Terjebak Pernikahan Kontrak, syarat dan ketentuan ada di bab 126.