My Secretary

My Secretary
Bab 44



Saat Dion masuk ke dalam kamar, Keyla sudah berbaring di atas ranjang dengan tubuh yang di balut selimut tebal hingga sebatas leher. Posisi tidurnya membelakangi bagian ranjang yang kosong.


Dion mengulas senyum tipis melihat mantan istrinya yang pura-pura tidur, padahal belum 5 menit masuk ke dalam kamar, tapi sudah memejamkan mata.


Berjalan santai ke kamar mandi, Dion melewati ranjang begitu saja. Dia membiarkan Keyla untuk tenang sejenak sebelum nanti mengerjainya sampai pucat.


"Ekhhem,," Dion sengaja berdehem saat kembali ke kamar. Melirik Keyla yang masih pada posisinya seperti semula.


"Kamu pikir aku akan membiarkanmu tidur begitu saja.?" Dion mengeraskan suaranya agar di dengar jelas oleh Keyla.


"Sudah aku katakan, kali ini kamu harus tanggungjawab. Tidak peduli dengan cara pasrah ataupun di paksa." Ujarnya sambil menahan senyum.


Perlahan Dion naik ke atas ranjang. Meski kasur itu bergerak, tapi Keyla masih bertahan dengan posisinya. Dia sama sekali tidak merespon, tetap memejamkan mata dan tidak menggerakkan badannya sedikitpun.


"Aku hitung sampai 3, kalau kamu belum membuka mata dan berbalik badan, jangan harap baju kamu akan terlepas utuh. Aku akan menariknya sampai robek." Dion bicara santai sembari berbaring menatap punggung Keyla.


"Satu,,,"


"Dua,,,"


Dion mengerutkan dahi melihat Keyla yang tak kunjung berbalik badan ke arahnya. Wanita itu sama sekali tidak takut dengan ancamannya.


"Tiga,!" Seru Dion tegas.


Namun Keyla tetap tidak berbalik badan meski Dion sudah sampai pada hitungan ketiga.


"Jadi kamu memang lebih suka di paksa, hemm.?!" Dion bergeser mendekat, tangannya perlahan menarik selimut yang membalut tubuh Keyla.


Dia tetap tidak membuka mata meski Dion menarik selimut hingga tubuh Keyla berbalik ke arahnya.


Kedua mata Dion membulat sempurna. Dia terlihat kesal mendapati Keyla yang ternyata benar-benar tidur.


"Sial.!" Geramnya kesal. Niat hati mau mengerjai Keyla, justru malah dia yang merasa di kerjai oleh wanita itu.


"Bisa-bisanya langsung tidur setelah menempel di kasur." Gumamnya lagi.


Dia jadi geram sendiri karna gagal mengerjai Keyla.


...*****...


"Aaarrrghhh,,," Teriak Keyla tepat di depan wajah Dion. Dia setelah itu mendorong dan menendang Dion hingga menjauh dari hadapannya.


Dia benar-benar kaget saat membuka mata dan bangun dalam dekapan Dion. Wajahnya saling berhadapan hampir tanpa jarak.


"Sh -it.! Apa yang kamu lakukan,,?!" Pekik Dion sembari memegangi paha dan da- danya yang tadi di tendang dan di dorong Keyla.


"Harusnya aku yang bertanya seperti itu.! Kenapa kamu memelukku.?!" Protes Keyla dengan raut wajah kesal. Dion jadi mencari kesempatan dalam kesempitan. Seenaknya saja memeluknya saat dia dalam keadaan terlelap.


"Ini ranjangku, aku bebas memeluk apa saja yang ada di ranjangku." Dengan entengnya Dion memberikan jawaban yang justru membuat Keyla semakin geram padanya.


"Ya ampun, kenapa semakin hari semakin menjengkelkan." Keyla bergumam pelan sembari beranjak dari ranjang. Sepertinya dia tidak mau melanjutkan perdebatan dengan Dion dan memilih untuk keluar dari kamar.


Dion tersenyum meledek melihat Keyla berjalan ke arah pintu. Tidak sabar ingin melihat reaksi Keyla saat menyadari pintu itu tidak bisa di buka.


"Diiiii,,,!!" Seru Keyla dengan mata yang melotot. Dion sudah mengunci pintunya, sedangkan di sana tidak ada kunci yang menggantung.


"Dimana kuncinya.?! Cepat berikan padaku.!" Keyla berjalan menghampiri Dion yang masih berbaring di ranjang sambil tersenyum puas melihatnya tidak bisa keluar dari kamar.


"Siapa suruh tadi malam kamu tidur duluan.!"


"Kalau mau kuncinya, ambil saja sendiri." Tuturnya.


"Aku simpan disini." Dion menunjuk saku celana pendeknya tepat di depan paha.


"Kamu bercanda.?!"


"Aku tidak mau." Tolak Keyla.


"Kalau begitu aku akan teriak saja biar Papa dengar. Bila perlu aku akan beri tau Papa kalau kita bukan lagi suami istri.!" Ancam Keyla mendapat ancaman seperti itu, Dion langsung turun dari ranjang. Dia menghampiri Keyla dan membekap mulutnya.


"Kamu berani mengatakannya.?" Bisik Dion. Kelya memukul tangan Dion yang membekapnya hingga terlepas.


"Di aku tidak mau berdebat.! Cepat berikan kuncinya padaku.!"


Sembari menghela nafas kasar, Keyla memberanikan diri mendekati Dion. Tanpa ragu mendekap tubuh Dion dengan sebelah tangan, dan satu tangannya lagi berusaha untuk mengambil kunci dari dalam saku celana Dion.


Semudah itu Keyla mengambilnya, karna Dion tak menghindari ataupun mencegah tangan Keyla yang merogoh kantongnya. Dion bahkan diam saja, menatap Keyla yang masih mendekapnya.


"Dapat.!" Seru Keyla. Dia langsung bergegas lari ke arah pintu dan membukanya dengan kunci yang baru saja dia ambil.


Dion hanya tersenyum tipis melihat Keyla berlari ke arah pintu dan keluar dari kamar.


Sepertinya hati mulai bisa menerima kenyataan.


...*****...


Dion dan Keyla pamit untuk berangkat ke kantor setelah lebih dari 1 minggu mereka tidak ke kantor dan hanya menyelesaikan pekerjaan di rumah.


Keduanya keluar bersamaan dari apartemen. Keyla memilih menjaga jarak beberapa langkah di belakang Dion.


"Keyla,,,!"


Suara itu membuat Keyla menghentikan langkah, begitu juga dengan Dion. Keduanya kompak menoleh.


Keyla tersenyum kikuk melihat Arkan berjalan menghampirinya. Terakhir Arkan datang ke apartemen saat hari kedua Papa Surya di rawat. Keyla sudah bilang pada Arkan kalau saat itu dia tidak akan ke kantor untuk 1 minggu ke depan.


Dan setelah 1 minggu tidak datang, kini Arkan muncul lagi di hadapannya. Tentu saja untuk mengantarnya berangkat ke kantor.


"Harusnya bilang padaku kalau hari ini kamu berangkat, untung saja aku tidak telat datang kesini." Ujar Arkan sembari berjalan mendekati Keyla.


"Maaf Ar,, aku,,


"Kamu ingin membuat Papa curiga karna melihatmu di antar jemput laki-laki lain.?!" Potong Dion sewot.


"Katakan padanya untuk tidak datang lagi kesini.!" Tegasnya sembari berlalu begitu saja dari hadapan Keyla.


Keyla berdecak kesal mendengar ocehan Dion menatap jengkel ke arahnya karna selalu berbuat dan bicara sesukanya.


"Kenapa.?" Tanya Arkan bingung.


"Kalian ada masalah lagi.?"


Keyla menggeleng pelan.


Keduanya lalu bergegas pergi. Kali ini Keyla akan berangkat dengan Arkan untuk terakhir kalinya.


Dia terpaksa harus melarang Arkan untuk tidak datang ke apartemen lagi.


"Jadi kamu memintaku mundur sebelum memulai.?" Ujar Arkan sembari mengulas senyum yang terlihat kecewa.


"Banyak gadis cantik diluar sana yang jauh lebih baik dariku, kamu bisa mendapatkannya." Tutur Keyla lirih. Sebenarnya dia juga tidak percaya diri di dekati oleh Arkan, walaupun usianya mungkin sama dengannya, tapi Arkan terlihat jauh lebih muda dibanding dirinya yang sudah memiliki Leo.


Dia merasa Arkan lebih pantas mendapat wanita yang masih gadis.


"Tapi bagaimana kalau aku hanya menginginkanmu.?" Arkan menoleh dan memberikan tatapan dalam yang membuat Keyla mengalihkan pandangan ke arah lain.


Tatapan matanya yang dipenuhi cinta, membuat Keyla gugup.


"Tidak, kamu pantas mendapat wanita yang lebih segalanya dariku."


"Aku benar-benar minta maaf untuk ini." Ucap Keyla tulus.


"Terimakasih sudah baik padaku selama ini."


Arkan tampak diam saja, terus bungkam sampai berhenti di depan kantor Keyla.


Hal itu tentu saja membuat Keyla merasa bersalah padanya, tapi lebih baik memang seperti ini. Karna dia juga tidak pernah berfikir untuk memulai hubungan dengan Arkan.


"Terimakasih, hati-hati di jalan." Ucap Keyla sebelum keluar dari mobil. Arkan hanya merespon dengan anggukan dan senyum tipis. Dia tentu saja sangat kecewa dengan keputusan Keyla, tapi tidak mungkin juga memaksakan kehendaknya.


...*****...


Stay tune di "Terjebak Pernikahan Kontrak", ada give away pulsa untuk 3 orang, masing-masing 50k.