My Secretary

My Secretary
Bab 43



Leo terlihat senang saat Papa Surya sampai di apartemen. Dia terus duduk di samping Kakeknya itu dan mengajaknya berbicara.


Dion mengukir senyum melihat kedekatan keduanya yang tak kurang dari seminggu dan kini terlihat semakin akrab.


Kondisi kesehatan Papa Surya yang cepat membaik, sepertinya di pengaruhi oleh kehadiran Leo.


Anak laki-laki itu seperti menjadi kekuatan tersendiri untuk Papa Surya.


Dion beranjak dari duduknya, memberikan Leo dan sang Papa berdua di dalam kamar. Lagipula keduanya sedang asik sendiri sampai melupakan keberadaannya yang sejak tadi hanya menyimak pembicaraan mereka.


Harum masakan membuat Dion merubah tujuan, dia jadi berbelok ke arah dapur untuk memastikan wangi masakan kesukaan sang Papa.


Sudah lama dia tidak mencium wangi masakan ini, terakhir kali sebelum Papa Surya di penjara dan rumah belum di sita.


Keyla yang dulu sering memasak makanan ini, di buat khusus untuk kedua mertuanya.


Dion menghentikan langkah, berdiri tak jauh dari Keyla yang terlihat sibuk di dapur. Sebagian makanan bahkan sudah tertata di meja makan, lengkap dengan buah yang sudah di kupas dan di potong. Dia masukan kedalam cup.


Dion mengukir senyum, dia ingat masa-masa itu. Kehangatan dan keromantisan dalam keluarga beberapa tahun silam.


Masa-masa yang sempat ingin dia hapus dari ingatannya karna terlalu menyakitkan harus berakhir tragis.


Sang Mama meninggal dunia, Papa Surya di tetapkan sebagai tersangka, seluruh harta dan aset kekayaan keluarga lenyap begitu saja, belum lagi Keyla yang memilih pergi dari hidupnya.


Terlalu menyakitkan hingga Dion enggan mengingatnya kembali.


Tapi kali ini dia justru tersenyum karna mengingatnya. Merasa rindu dan ingin kembali pada masa itu.


Mematikan kompor dan memindahkan masakan di mangkuk besar, Keyla membawanya untuk di letakan di meja makan.


Saat berbalik badan, dia terlihat terkejut melihat Dion yang berdiri mematung dengan senyum yang terukir di bibirnya. Laki-laki itu terlihat sedang melamun, bahkan tidak sadar saat ini di tatap oleh Keyla.


"Di,,? Sedang apa.?" Tegur Keyla.


Dion yang tersadar, langsung menggelengkan kepalanya dan pergi begitu saja.


Keyla sampai mengerutkan dahi melihat sikap aneh Dion, tapi kemudian kembali sibuk dengan pekerjaannya.


...****...


Mereka sudah duduk di depan meja makan setelah Keyla memanggilnya untuk makan siang.


Papa Surya terlihat senang bisa merasakan kembali masakan menantunya.


"Terimakasih nak,, akhirnya Papa bisa makan masakan kamu lagi setelah bertahun-tahun." Ucapnya.


"Pasti masakan kamu semakin enak." Pujinya.


Keyla mengukir senyum, tapi ada rasa bersalah di balik senyum itu. Papa Surya pasti kecewa karna selama berada di tahan tidak pernah di jenguk olehnya.


"Maafin Keyla Pah, selama ini tidak pernah datang menemui Papa." Ucap Keyla lirih. Entah bagaimana anggapan Papa Surya terhadapnya. Papa Surya hanya tau kalau pernikahan Keyla dengan Dion masih baik-baik saja, pasti kecewa karna menantunya tidak pernah menjenguknya atau sekedar menitipkan makanan pada Dion saat Dion menjenguknya.


"Tidak apa, Papa bisa mengerti."


"Kamu sudah berjuang keras demi membantu Dion memulihkan ekonominya, belum lagi harus mengurus Leo. Pasti kamu dan Leo mengalami masa-masa yang sulit." Tuturnya sendu.


Keyla mengerutkan dahi, dia tidak paham dengan apa yang di bicarakan oleh Papa Surya.


"Sebaiknya makan dulu, kita bicara lagi nanti." Ujar Dion. Dia terlihat sengaja mengakhiri pembicaraan di antara Papa Surya dan Keyla, seolah ada sesuatu yang tidak ingin terbongkar saat itu juga.


Keyla jadi menatap curiga pada Dion. Entah hal apa yang diceritakan oleh Papa Surya tentangnya selama ini. Keyla merasa Dion membuat imagenya tetap baik di mata Papa Surya. Sedangkan dia sudah meninggal Dion dan memberikan luka di hatinya.


Suasana di apartemen terasa hangat karna kehadiran Papa Surya. Seharian menghabiskan waktu bersama di ruang keluarga untuk mengobrol. Kini mereka sedang menonton kartun kesukaan Leo setelah makan malam.


Leo sangat lengket dengan Papa Surya, sejak Papa Surya datang tadi pagi, Leo selalu berada di sampingnya.


"Leo, ayo tidur sayang." Ajak Keyla. Selain ingin menyuruh Leo tidur, Keyla juga ingin menghindari agar tidak tidur satu kamar dengan Dion. Dengan alasan menemani Leo tidur, Keyla akan ikut tidur di kamar itu.


"Biar sama Papa saja, Papa ingin tidur dengan cucu Papa yang tampan ini." Ujar Papa Surya sembari mendekap bahu Leo.


"Ayo Leo, tidur sama Kakek." Ajaknya. Leo mengangguk patuh.


"Leo mau tidur sama Kakek, Mah,," Ucap Leo.


"Selamat malam Mama, Papa,," Serunya dengan melambaikan tangan pada Dion dan Keyla.


"Selamat malam jagoan Papa." Dia mendekat dan mencium kening Leo. Berbeda dengan Keyla yang langsung ciut lantaran kehilangan celah untuk menghindari Dion.


Keyla menghela nafas melihat Papa Surya dan Leo masuk kedalam kamar Leo.


Kalau sudah seperti ini, dia tidak akan mungkin bisa tidur di kamar lain selain kamar Dion. Tidak mungkin jika dia tidur di kamar yang sudah dipersiapkan untuk kamar Papa Surya, walaupun malam ini Papa Surya tidur kamar Leo.


"Sudah aku bilang, pasrah saja." Kata Dion dengan nada penuh kepuasan.


"Atau kamu lebih suka menggunakan cara pemaksaan.?" Tanyanya. Dia menahan senyum sembari beranjak dari duduknya dan berlalu dari hadapan Keyla.


Keyla melongo menatap kepergian Dion. Keringat dingin tiba-tiba bermunculan di pelipisnya.


Mungkinkah hal itu akan terjadi untuk kedua kalinya.? Apa Dion benar-benar tega melakukan hal itu lagi padanya.?


Keyla jadi bertanya-tanya dengan wajah yang mulai berubah pucat.


Kalau nanti dia melawan dan berteriak meminta tolong, pasti Papa Surya akan mengetahui yang sebenarnya. Keyla takut hal itu akan menggangu kesehatan Papa Surya yang baru saja pulang dari rumah sakit.


"Ya ampun, kenapa sejak tadi aku tidak terfikir hal ini." Gumam Keyla. Senyum lega mengembang di bibirnya.


Dia lalu berbaring di sofa, dengan alasan ketiduran saat menonton televisi, dia tidak akan masuk ke kamar Dion.


"Oke Keyla, malam ini kamu selamat." Gumamnya lirih sembari memejamkan mata.


Tidak peduli meski harus tidur di sofa, asal tidak tidur di kandang buaya.


"Apanya yang selamat.?"


Suara Dion membuat Keyla melonjak kaget. Dia bahkan langsung berdiri. Matanya membulat sempurna melihat Dion yang tengah berdiri di belakang sofa.


Entah bagaimana buaya itu tiba-tiba muncul di belakangnya. Dia bahkan mendengar ucapannya.


"Jadi kamu lebih memilih tidur di sofa di banding di ranjang yang empuk itu.?" Tanya Dion. Dia berjalan memutari sofa untuk mendekat pada Keyla.


"Di jangan macam-macam." Pinta Keyla sembari berjalan mundur.


"Aku setuju tidur di kamarmu, tapi tidak untuk berbuat hal aneh." Tuturnya. Keyla memang tidak keberatan satu kamar dengan Dion untuk sementara waktu asal Dion bisa menahan diri tidak menyentuhnya.


"Hal aneh seperti apa.? Coba katakan padaku." Ucap Dion memancing. Dia terus berjalan maju, sedangkan Keyla berusaha untuk terus menghindar dengan berjalan mundur.


"Di.! Kamu benar-benar,,," Keyla menghembuskan nafas kasar, dia sampai tidak bisa berkata-kata menyikapi sikap aneh Dion.


"Cepat ke kamar atau mau aku gendong.?" Dion memberikan penawaran yang membuat Keyla semakin kesal.


"Kamu benar-benar menyebalkan.!" Pekik Keyla. Dia mendorong da - da Dion dan berlalu dari hadapannya dengan wajah yang cemberut. Pada akhirnya Keyla tetap masuk ke dalam kamar Dion.