
Masuk kedalam kamar, Dion terlihat pusing dengan memijat pelipisnulamya berulang kali. Apa yang baru saja dilihat oleh matanya, terus terbayang - bayang di kepala. Sudah bertahun-tahun tidak melihat bagian tubuh mantan istrinya yang dulu selalu membuatnya kehilangan akal sehat hingga tidak bisa menahan diri.
Semakin lama dipikirkan, membuat kepala atas bawah terasa semakin berdenyut. Kalau hanya kepala atas mungkin masih bisa di kendalikan, tapi sulit untuk mengendalikan kepala bawah.
Dion bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Berdiri di depan wastafel dan mencuci wajahnya berkali-kali, berharap bayangan menggoda itu hilang dari kepalanya.
Kenangan memang sulit untuk dilupakan meski hati telah tergores. Rasa sakit tak mampu menghilangkan kenangan. Selama bertahun-tahun tersiksa dengan semua kenangan yang pernah ada di antara dia dan Keyla selama menjalani hubungan dan mengarungi bahtera rumah tangga meski berjalan sangat singkat.
Memang benar, hal yang paling sulit dilakukan adalah melupakan kenangan indah yang sudah terpatri dalam hati. Meski hati tak lagi mencintai.
Dion kembali berbaring di samping Leo dengan posisi berhadapan.
Tangannya menyentuh wajah tampan Leo yang sangat mirip dengannya meski bibirnya mengikuti bentuk bibir Keyla.
Hadirnya Leo tak hanya mengubah seluruh hidupnya, tapi juga membuka luka yang selama ini di pendam. Luka yang sulit untuk di ungkapan, karna tidak ada kata yang mampu menggambarkan seberapa besar luka yang dia rasakan.
Bertahun-tahun mengira bahwa Leo telah tiada sejak dalam kandungan. Rasa sakit saat kehilangan Leo bahkan begitu memilukan.
Lalu, tiba-tiba Keyla memilih pergi meninggalkannya. Membawa rahasia besar darinya sampai akhirnya rahasia itu di buka sendiri oleh Keyla dengan membawa Leo kehadapannya.
Keyla wanita terbaik yang pernah Dion temui, tapi dia juga satu-satunya wanita yang tega menghancurkan hidup dan impiannya.
Di saat jatuh dan tidak memiliki apapun lagi, Keyla justru meninggalkannya. Memilih hidup dengan laki-laki yang bisa memberikan uang untuk pengobatan sang Papa.
Dia bukan melarang Keyla untuk menyelamatkan hidup sang Papa. Tapi seharusnya ada cara lain yang bisa dia lakukan tanpa harus mengorbankan keluarga, memisahkan seorang putra dengan Papanya.
Andai saja Keyla mau berkata jujur tentang masalah yang sedang dia hadapi, pasti tidak akan seperti ini akhirnya.
Dion tersenyum kecut. Mungkin memang sudah jalannya seperti ini. Takdir tidak menginginkan mereka tetap bersama saat itu.
...*****...
Bangun lebih awal, Keyla langsung beranjak ke dapur untuk membuat sarapan. Setidaknya sebelum pulang ke rumah Celina, dia dan anak-anak sudah makan. Jadi setelah itu dia bisa bersiap ke kantor tanpa hambatan.
Tidak sulit menemukan bahan makanan di dapur Dion. Laki-laki itu memang sering memasak sejak dulu. Bahkan saat pertama kali mengetahui Keyla hamil, Dion lebih sering turun ke dapur dan membuat makan sehat untuknya.
Masa-masa itu terlalu indah, sayang untuk di lupakan.
Saat memilih pergi dari kehidupan Dion dan hidup dengan laki-laki lain, dia selalu mengingat kenangan bersama Dion.
Kehidupannya yang begitu menyedihkan dan menyakitkan, mungkin sebagai balasan karna telah meninggalkan laki-laki sebaik Dion.
"Ekhmm,,," Suara deheman Dion membuat Keyla menoleh. Dia tersenyum tipis tapi di tanggapi datar oleh Dion.
Laki-laki itu terlihat cuek dengan keberadaan Keyla di dapur yang tengah sibuk memasak.
Dia mengambil gelas dan memenuhinya dengan air hangat.
"Mau aku bikinkan teh.?" Tawar Keyla tulus.
"Tidak." Dion menjawab cepat, setelah itu meneguk air sampai habis.
Keyla hanya bisa tersenyum tipis. Dia tidak pernah marah sedikitpun pada Dion setiap kali Dion bersikap dingin dan ketus padanya.
Keyla sadar, dia telah menorehkan luka yang dalam di hati Dion. Sudah sewajarnya Dion bersikap seperti itu padanya.
Keyla bahkan merasa beruntung karna Dion mau menerima kehadirannya.
"Apa Leo belum bangun.?" Keyla kembali bersuara. Tidak peduli meski akan ditanggapi dingin oleh Dion. Setidaknya Keyla harus bersikap baik pada ayah kandung putranya.
"Sudah." Dion meletakkan gelas di wastafel dan beranjak pergi.
"Apa kita perlu bicara lagi Di.?" Tanya Keyla. Dion menghentikan langkah. Setelah itu berbalik badan untuk menatap Keyla.
"Apa yang perlu dibicarakan.?" Dion balik bertanya. Sorot matanya begitu dingin.
"Berkali-kali aku meminta maaf dan kamu selalu bilang memaafkan ku, tapi aku merasa belum mendapatkan maaf dari kamu." Wajah Keyla mulai sendu. Dengan sikap Dion yang seperti itu, Keyla jadi di hantui rasa bersalah setiap hari karna merasa Dion belum memaafkannya.
Keyla sadar, apa yang telah dia perbuat pada Dion sangat keterlaluan. Tapi Keyla membutuhkan permintaan maaf dari Dion dan berharap Dion bisa bersikap wajar padanya. Tidak melulu bersikap dingin dan ketus, hal itu membuat Keyla merasa terbebani.
Sangat berat membesarkan dan mengurus Leo bersama - sama jika sikap Dion membuat Keyla tidak nyaman.
"Lalu apa yang kamu inginkan.?" Tanya Dion datar.
"Aku tidak bisa seperti ini Di, sikap kamu terlalu menyiksa. Aku benar-benar merasa terbebani." Keluh Keyla dengan mengungkapkan apa yang dia rasakan selama ini.
"Padahal aku ingin kita fokus mengurus dan membesarkan Leo bersama-sama, tanpa harus mengingat hal buruk di masalalu."
Keyla berharap Dion bisa membuang sedikit egonya demi Leo. Mencoba untuk membuka lembaran baru sebagai kedua orang tua Leo meski tak harus bersatu kembali.
"Dan kamu juga harus ingat, siapa yang membuat hal buruk itu terjadi." Ucap Dion. Tatapan matanya masih menyisakan kekecewaan yang mendalam. Dion belum bisa melupakan hal buruk yang terjadi dalam hidupnya.
Terlalu menyedihkan dirinya kala itu. Merasa tidak berguna sebagai laki-laki setelah semua yang dia miliki lenyap dalam sekejap. Membuatnya harus melihat derita selama bertahun-tahun karena di tinggalkan behitu saja oleh Keyla.
"Aku tidak akan pernah lupa Di. Setiap hari, setiap waktu, bahkan setiap detik, aku selalu mengingat kesalahanku." Mata Keyla berkaca-kaca. Dia mengatakan apa yang sebenarnya. Hidupnya benar-benar tidak tenang selama Dion masih bersikap seperti itu padanya.
"Aku telah menuai apa yang aku tanam."
"Ada harga yang harus dibayar dengan penderitaan karna sudah meninggalkan laki-laki sebaik kamu."
Keyla mengusap butiran bening dari sudut matanya. Hatinya sakit jika harus mengingat penderitaan yang dia alami karna lebih memilih hidup dengan laki-laki lain. Laki-laki yang membuat Keyla pernah menginginkan kematiannya sendiri karna tidak sanggup lagi menerima perlakuan buruk darinya.
Dion hanya diam. Bibirnya terkunci rapat. Kedua manik matanya tak beralih sedikitpun dari wajah Keyla. Dia terlihat menunggu apa yang akan di ucapkan oleh Keyla selanjutnya.
"Aku kembali karna ingin menebus semua dosa dan kesalahanku pada kamu Di. Tapi yang aku rasakan justru semakin tersiksa."
"Mungkin tidak seharusnya kami kembali secepat ini."
Keyla merasa serba salah. Usaha untuk menebus kesalahan dan mengembalikan kebahagiaan Dion dengan membawakan Leo ke hadapannya, ternyata tidak seindah dan semudah yang Keyla bayangkan.
"Kalau kamu memang belum siap melihat wajah wanita yang pernah menyakiti kamu, bilang saja."
"Wanita itu akan pergi, dia akan kembali saat kamu sudah siap memaafkannya." Keyla mengukir senyum tipis yang menyayat hati. Dia beranjak pergi dari dapur, pergi kekamar untuk membangunkan Naura lebih dulu.
Sementara itu, Dion masih mematung di tempat setelah mendengarkan keluh kesah dan harapan Keyla. Semua itu terdengar mudah di ucapkan karna tidak pernah mengalaminya secara langsung.
...****...
Stuck idea 😢 makanya gak up dr kemaren. Gimana dong ya.
Dipaksain ngetik kok malah puyeng sendiri, nyut nyutan kek mo meledak😂.