
Dion dan Keyla mendatangi rumah pertama yang mereka temui.
Tanpa basa-basi, Dion langsung menanyakan penginapan pada laki-laki paruh baya yang tengah duduk di teras rumah sederhana itu.
"Ada penginapan yang saya urus di belakang rumah, tapi hanya sisa 1 kamar." Jawabnya.
"Apa kalian pasangan suami istri.?" Tanya laki-laki itu dengan tatapan menelisik.
"Kami sudah memiliki anak." Jawab Dion cepat. Berbeda dengan Keyla yang diam saja karna bingung harus menjawab apa.
"Kalau begitu saya antara ke penginapan."
"Disini hanya menerima pasangan suami saja." Tuturnya. Tanpa meminta bukti, laki-laki paruh baya itu langsung membawa Dion dan Keyla menuju kamar yang akan mereka tempati.
Keyla melongo di buatnya. Padahal Dion hanya bilang kalau mereka sudah memiliki anak, bukan mengatakan suami istri.
Sepertinya penjaga penginapan tidak fokus atau mungkin memang jawaban Dion yang ambigu.
"Pakai dulu payungnya." Dia meminjamkan payung pada Dion.
"Si Aa bajunya basah, kalau mau nanti saya pinjamkan baju sama celana pendek. Tapi maaf, tidak sama kolornya." Ujarnya sembari tersenyum geli.
Dion yang mendengar hal itu hanya mengerutkan dahinya.
"Iya tidak apa Pak, tolong nanti pinjam baju untuk suami saya." Jawab Keyla. Dion reflek menatap Keyla yang tengah berjalan di sampingnya.
Tatapan Dion hanya di balas senyum kaku oleh Keyla.
Dia tidak bermaksud untuk mengaku sebagai pasangan suami istri, namun dalam keadaan mendesak seperti ini, dia tidak punya pilihan lain.
Kalau Keyla tidak ikut berperan sebagai pasangan suami istri, bisa-bisa mereka kesulitan mendapatkan penginapan lagi dan Dion akan semakin lama kehujanan.
"Iya neng, nanti saya bawakan baju gantinya."
"Ayo masuk,," Penjaga penginapan membukakan pintu. Mereka masuk ke dalam rumah berukuran kecil namun memiliki 2 lantai.
Bangunan yang terdiri dari ruang tamu, ruang keluarga dan dapur serta 2 kamar berada di lantai bawah.
"Kamar yang kosong ada di atas."
"Sebenarnya ada 2, tapi kamar yang satu masih proses pembangunan, belum di isi furnitur. Kamar mandinya juga belum bisa di pakai." Penjaga penginapan menjelaskan panjang lebar sembari menggiring Dion Dan Keyla menaiki tangga.
"Tidak apa, kami hanya butuh 1 kamar." Sahut Dion menanggapi.
"Kalau mau membuat makanan bisa buat sendiri di dapur. Disini sudah disediakan makanan instan." Jelasnya lagi.
Dion dan Keyla hanya mengiyakan saja.
"Ini kuncinya." Begitu sampai di depan kamar, penjaga itu menyerahkan kunci pada Dion yang terlihat sudah kedinginan.
"Maaf A, pembayaran langsung." Katanya sembari membungkuk sopan.
Dion langsung melirik Keyla.
"Dompetku ada di tas." Ucapnya. Keyla yang paham segera membuka tas milik Dion dan mengambil dompet, kemudian menyodorkannya pada Dion.
Selesai melakukan pembayaran, Dion bergegas masuk, disusul oleh Keyla yang terlihat ragu masuk kedalam.
Dion mengambil handuk di atas kursi, kemudian langsung masuk ke dalam kamar mandi. Walaupun jarak dari mobil ke rumah tadi tidak terlalu jauh, tapi karena hujannya lebat, seluruh tubuhnya jadi basah kuyup dan mulai menggigil lantaran udaranya yg sangat dingin.
Keyla meletakkan tas miliknya dan Dion di atas meja.
"Di,, aku mau ke dapur sebentar." Teriak Keyla di depan pintu kamar mandi. Suara guyuran shower terdengar jelas.
"Hemm." Hanya deheman datar yang terdengar dari dalam, namun seperti kedinginan.
Keyla beranjak ke dapur, dia membuat mie instan dan dua cangkir teh panas. Hanya ada itu yang tersedia di dapur. Sisanya hanya snack, roti dan minuman lainnya.
"Neng ini baju ganti buat si Aa,,," Penjaga penginapan menghampiri Keyla di dapur sembari menyodorkan satu setel baju miliknya.
"Terimakasih Pak,," Ujar Keyla.
"Sami-sami, jangan lupa besok di kembalikan ya Neng. Itu baju baru, saya baru pakai 2 kali." Laki-laki paruh baya itu tersenyum malu. Keyla ikut tersenyum kemudian menganggukan kepala.
"Ya ampun,,," Keyla langsung berbalik badan setelah masuk ke kamar. Dia melihat Dion hanya berbalut handuk sebatas pinggang dan bertelanjang dada.
"Mana bajunya." Pinta Dion dengan suara datar. Dari depan pintu kamar mandi langsung menghampiri Keyla.
"Ini,," Keyla menyodorkan baju ke belakang tanpa berani membalikkan badan.
"Apa yang kamu hindari, kamu sudah pernah melihatnya." Seru Dion sembari mengambil baju dari tangan Keyla.
Wajah Keyla seketika bersemu merah, dia masih ingat akan hal itu, namun kali ini terasa beda. Entah bagaimana mengatakannya.
"Minum dulu Di tehnya." Keyla meletakkan teh di atas meja, masih berusaha untuk tidak melihat Dion.
"Aku harus ke bawah lagi untuk mengambil mie."
Keyla keluar kamar, Dion hanya menatap datar kemudian segera memakai baju. Dan yang pasti tanpa kolor. Karna penjaga itu tidak meminjamkan kolor dan Dion juga tidak mungkin memakai kolornya yang basah.
Baju beserta dalamnya juga sudah dia cuci dan siap untuk di jemur agar besok bisa di pakai lagi.
Saat kembali ke lantai atas, rupanya Dion sedang berada di luar kamar. Dia duduk di sofa yang ada di depan kamar. Tepat di depan balkon, nampak jemuran baju dengan pakaian milik Dion yang tergantung di sana.
"Sepertinya tidak akan kering walaupun di tunggu sampai besok Di. Udaranya terlalu dingin." Komentar Keyla setelah memperhatikan semua pakaian basa itu.
"Besok minta tolok Bapak tadi saja untuk membelikan baju." Tambahnya sembari ikut duduk di samping Dion dan meletakkan nampan di atas meja berisi 2 mangkuk mie dan beberapa cemilan.
Dion yang mendengar komentar Keyla hanya diam saja. Sejujurnya memang dia memiliki pemikiran yang sama dengan Keyla. Baju itu hanya di keringkan manual, rasanya tidak akan kering dalam waktu semalaman di tengah hujan seperti ini dan cuaca kota bandung yang cukup dingin.
Kalaupun kering, mungkin hanya dalamnya saja.
"Makan dulu mienya, nanti keburu dingin."
Keyla meletakkan mangkuk di depan Dion.
"Makasih." Ucapnya datar. Keyla mengangguk dengan senyum tipis.
"Kamu sudah menghubungi Leo.?" Dion terlihat menghawatirkan putranya karna Keyla tidak akan pulang malam ini. Dia takut putranya akan menangis dan mencari keberadaan Keyla.
"Sudah. Aku juga sudah menghubungi Celina barusan."
"Leo mengerti, dia baik-baik saja dan mau tidur dengan Vano." Tutur Keyla.
Tadi di sela - sela membuat mie, dia menyempatkan untuk menghubungi Celina dan mengatakan tidak bisa pulang lantaran ban mobil Dion dan terjebak hujan.
Tentu saja Keyla mendapat respon yang membuatnya malu. Celina terus meledeknya, bahkan menuduhnya hanya pura-pura dan mengatakan sudah direncanakan untuk bermalam dengan Dion. Meski Keyla terus menyangkal dan tidak mengatakan tidur 1 kamar, Celina tidak percaya.
Lagi-lagi dia kembali menyarankan pengaman padanya. Bahkan menyemangatinya agar bisa memuaskan Dion.
Entah apa isi kepala Celina, Keyla sampai geleng-geleng kepala mendengar ucapannya.
"Syukurlah,," Dion nampak lega ketika tau Leo tidak merengek mencari Keyla.
Keduanya mulai menyantap mie dan menghabiskan beberapa cemilan yang di bawa oleh Keyla. Cuaca yang dingin dan perut yang lapar, membuat keduanya dengan cepat menghabiskan semua makanan itu.
"Aku mandi dulu Di,," Keyla beranjak dari kursi dan masuk ke kamar.
Seharian dia belum mandi, sekalipun cuacanya dingin, tetap saja badan terasa lengket.
Keyla keluar kamar mandi dalam keadaan menggigil. Meski mandi menggunakan air hangat, tetap saja bisa membuatnya kedinginan begitu selesai mandi. Mungkin udaranya terlalu dingin.
Keyla jadi memikirkan Dion, kenapa laki-laki itu tampak biasa saja setelah mandi, sama sekali tidak kedinginan padahal dia yang kehujanan.
"Ada teh panas di atas meja, minum saja." Ujar Dion. Dia sedang sibuk dengan laptop di atas ranjang, tapi sempat memperhatikan Keyla yang kedinginan.
"Makasih Di."
Keyla tersenyum tipis sembari mengambil teh yang dibuatkan oleh Dion.
Rupanya Dion tau kalau saat ini Keyla butuh minuman panas untuk menghangatkan tubuhnya.
Sepertinya Dion belajar dari pengalaman beberapa menit yang lalu.