
"Ekhem,," Keyla berdehem pelan untuk mencairkan suasana yang sangat kaku, bahkan mungkin membeku.
Baik Keyla maupun Dion, keduanya terlihat canggung berduaan di dalam kamar. Meski sudah beberapa kali berada di dalam kamar yang sama, namun saat itu selalu ada Leo. Sedangkan sekarang mereka hanya berdua saja.
"Kalau ngantuk tidur saja." Ujar Dion. Dia terus menyibukkan diri dengan laptop untuk mengalihkan pikiran dan tubuhnya yang mulai tidak karuan.
Setelah tubuhnya diguyur hujan deras, tentu saja dia dilanda kedinginan. Namun sejak tadi berusaha untuk terlihat biasa saja walaupun kaki dan tangannya seperti membeku. Udara di dalam kamar juga sangat dingin, padahal hanya ada ventilasi kecil di atas jendela kamar.
Keyla beranjak dari kursi. Dia baru berani ke ranjang setelah Dion menawarinya untuk tidur.
Entah tidak peka atau bagaimana. Sudah 30 menit duduk di kursi dan kedinginan, Dion sama sekali tidak melirik ke arahnya. Sibuk dengan laptop.
Kalau tadi tidak mengeluarkan suara, mungkin Keyla akan ketiduran di kursi dalam keadaan menggigil.
"Maaf Di, aku tidur duluan." Keyla duduk disisi ranjang dan mulai merebahkan tubuhnya. Dia mengambil tempat paling pinggir, tidak berani terlalu ketengah. Walaupun berbahaya karna dia bisa saja jatuh dalam sekali geser.
"Hemm,,," Dion menjawab acuh.
"Selimutnya aku pakai ya,," Keyla menarik selimut yang berada di tengah-tengah ranjang. Dion hanya melirik, namun menganggukan kepala. Hanya ada 1 selimut yang disediakan.
Keduanya sama-sama kedinginan meski sudah terbiasa tidur di ruangan bersuhu rendah. Tapi kali ini memang sangat dingin sampai Dion dan Keyla merasa membeku. Hujan di luar bahkan masih sangat deras, semakin menambah hawa dingin yang kian menusuk.
Lebih dari 15 menit berbaring, bersembunyi di balik selimut tebal, tak lantas membuat Keyla merasa hangat, apa lagi memejamkan memejamkan mata. Yang ada selimut yang dia pakai malah semakin terasa dingin. Namun Keyla masih meringkuk membelakangi Dion.
Turun dari ranjang, Dion meletakkan laptopnya di atas meja, kemudian naik kembali ke atas ranjang dan merebahkan diri di samping Keyla.
Celana panjang dan kaos yang dia kenakan sama sekali tidak menghangatkan tubuhnya yang semakin lama kian membeku.
Di tariknya bagian selimut dibelakang punggung Keyla. Mantan istrinya itu langsung menoleh kaget.
"Kenapa Di,,?" Tanyanya sambil memegang erat ujung selimut agar tidak lepas dari tubuhnya.
"Kamu pikir cuma kamu saja yang kedinginan." Sahut Dion dengan nada ketus. Dia terus menarik selimut sampai bisa menutupi seluruh tubuhnya. Akhirnya selimut itu harus dibagi 2. Keyla juga tidak tega untuk melarang Dion karna tau seperti apa posisi Dion.
"Ketengah sedikit kalau mau kebagian selimutnya." Pinta Dion.
Posisi Keyla terlalu ke pinggir, sedangkan selimut itu tidak cukup di rentangkan terlalu lebar.
Keyla menurut, dia langsung bergeser sedikit ke tengah. Jarak antara dia dan Dion tak kurang dari 50 cm. Kalau mereka sama meletakkan tangan di samping tubuh, sudah pasti akan bersentuhan.
Hening,,,,
Tidak ada lagi pergerakan atau ucapan dari keduanya. Dion dan Keyla sama-sama memejamkan mata meski sebenarnya belum tertidur.
Kilatan petir dan suara dentuman yang keras, membuat Keyla reflek berteriak.
"Aaaa,,,!!" Keyla menjerit dan reflek memeluk Dion.
"Aku takut Di,,," Ujarnya dengan suara bergetar.
Cengkraman tangannya di dada Dion sangat kuat, padahal Keyla mencengangkan bagian selimut dan kaosnya saja.
"Hanya petir, tidak akan masuk ke dalam." Ujar Dion santai. Dia membuka mata sekilas saat mendengar Keyla berteriak, tapi kemudian memejamkan matanya lagi.
Sadar dia telah memeluk Dion, Keyla buru-buru melepaskan pelukannya dan kembali ke posisi semula.
"A,,aaku tau, tapi kaget saja,," Ucapnya gugup.
Dion nampak tidak merespon. Terus memejamkan mata untuk menghilangkan pikirannya yang mulai melayang kemana-mana.
Dia laki-laki normal, dalam keadaan dingin seperti ini dan hanya berduaan dengan wanita di dalam kamar, munafik kalau tidak menginginkan hal lebih.
Namun Dion berusaha untuk menahan diri, salah satunya dengan cara seperti itu dan menganggap tidak ada wanita di dalam kamar itu.
"Ya ampun,,," Desah Dion kesal. Dia sudah berusaha menahan diri tapi Keyla malah memancingnya. Kedua benda kenyal itu terasa menempel di lengan besarnya.
Dion meraba ponsel yang tadi dia letakan di samping bantalnya. Begitu berhasil meraih ponsel, Dion langsung menghidupkan senter di ponselnya.
Kamar yang tadinya gelap dan keduanya tidak bisa melihat apapun, kini kembali terang meski tidak seterang sebelumnya.
"Kamu mau kemana Di.?" Keyla mencekal erat lengan Dion karna bergeser menjauh.
"Lepas dulu, aku harus meletakkan ponsel ini di atas meja." Tuturnya. Keyla segera melepaskan pelukannya, membiarkan Dion meletakkan ponsel di meja agar cahaya dari senter itu bisa menyebar lebih luas ke arah ranjang.
Begitu Dion kembali merebahkan diri di ranjang, Keyla langsung bergeser mendekat.
"Ma,,maaf, aku takut." Ucapnya saat Dion memperhatikan tingkahnya yang terus menempel pada Dion.
Kalau saja tidak ada kilatan petir dan suaranya, mungkin Keyla bisa sedikit menjaga jarak dengan Dion.
Dion terlihat menarik nafas dalam, kemudian bungkam tanpa memberikan komentar apapun.
Keduanya kembali bersembunyi di balik selimut. Semakin malam justru semakin dingin. Hujan bukannya reda malah terdengar semakin deras.
Sudah hampir pukul 9 malam, keduanya masih berusaha melawan hawa dingin yang tak kunjung berkurang.
Suara petir membuat mereka membuka mata bersamaan, saat itu pandangan mata keduanya beradu. Cukup lama saling menatap tanpa suara.
Perlahan pandangan mata Dion turun ke bibir Keyla. Tatapanya mulai berubah dalam dan terlihat menahan sesuatu.
Entah siapa yang memulai, bi bir keduanya sudah menyatu. Saling bertautan, menye - sap dan memberikan sensasi yang menghangatkan satu sama lain.
Semakin lama menjadi ci - uman yang menuntut. Dion menekan tengkuk Keyla dan memperdalam pagutan bi - birnya.
Setalah hampir 5 tahun, keduanya bisa merasakan ci - uman yang hangat seperti dulu. Meski tak lagi sama, ada sesuatu yang terasa asing, namun sama-sama mendatangkan gelayar di dalam hati keduanya.
Keyla lebih banyak diam, membiarkan Dion mengabsen setiap inci bi - birnya yang sanggup menghangatkan tubuh.
Seketika hawa dingin yang menusuk berubah hangat dan perlahan mulai panas.
Keduanya reflek menyingkirkan selimut yang sejak tadi tidak memberikan kehangatan sama sekali.
Dion melepaskan ci - umannya setelah cukup lama hanyut dalam pagutan yang memabukkan.
Keyla menunduk malu saat Dion menatapnya. Dia tidak berani menatap Dion. Malu karna pasrah saja saat Dion menempelkan bi -birnya, bahkan setelah itu membalasnya dengan pagutan lembut.
Dion memegang dagu Keyla dan mengangkatnya agar kembali menatapnya. Saat Keyla sudah menatapnya, Dion kembali mendaratkan ci-uman. Merasa tidak ada penolakan pada ci-uman kedua, Dion semakin melancarkan aksinya untuk saling memberikan kehangatan.
Tangannya mulai merayap, berhenti di atas benda kenyal milik Keyla dan berusaha melepaskan kancing kemejanya.
Keyla terlihat terkejut dengan kedua mata yang membulat sempurna. Dia langsung melepaskan ci-uman dan menahan tangan Dion.
"Di,," Tegurnya. Keyla terlihat tidak setuju melakukan hal lebih dari sekedar penyatuan bi-bir.
"Kenapa.? Bukannya kamu juga butuh kehangatan." Ujar Dion.
"Tapi tidak seperti ini." Keyla memasangkan satu kancing kemeja yang sudah sempat di lepas oleh Dion.
"Sebaiknya kita tidur." Keyla menarik selimut dan menutupi tubuhnya hingga sebatas leher, lalu membelakangi Dion.
"Jangan pura-pura, aku tau kamu juga menginginkannya." Bisikan Dion. Dia memeluk Keyla dari belakang setelah ikut masuk kedalam selimut.
Tidak peduli dengan penolakan Keyla, tangannya masuk kedalam kemeja mulai mere-m*snya.
"Di,, jangan seperti ini,," Keyla terus menolak, namun Dion tidak mau mendengarkannya. Bahkan semakin liar dan berada di atas tubuhnya.