
"Cium tangan dulu sama Papa,," Keyla mendorong pelan bahu Leo agar mendekat pada Dion dan mencium tangannya sebelum pulang ke rumah.
"Naura juga, cium tangan dulu sama Uncle." Keyla juga melakukan hal yang sama pada Naura.
Mereka pamit pulang pada Dion setelah sarapan bersama. Sarapan yang cukup riuh karna obrolan Nuara dan Leo, sedangkan Dion dan Keyla justru saling diam sejak pembahasan di dapur sebelum sarapan.
"Leo pulang dulu Papa," Kata Leo sembari mencium punggung tangan Dion.
Senyum di bibir Dion mengembang. Semalam tidur berdua bersama putranya tentu membuatnya bahagia.
"Jangan nakal anak Papa,," Dion mencium kening Leo.
"Iya Papa." Leo menurut.
"Naura juga pulang Uncle, bye,, bye,," Setelah mencium tangan Dion, Naura mengajak Leo keluar dari apartemen dengan menggandeng tangannya.
"Ayo kak Leo,," Ajak Naura. Leo memasang wajah datar, tapi dia menuruti keinginan Naura karna tidak mau mendengarkan nasehat dari Mama dan Papanya lagi.
"Kami pulang, maaf sudah merepotkan." Ucap Keyla dengan menundukkan pandangan. Sejak terjadi obrolan di dapur, Keyla memang sengaja menghindari kontak mata dengan Dion. Takut kecewa melihat tatapan mata Dion.
"Yakin tidak perlu di antar.?" Tanya Dion. Sudah ketiga kalinya Dion menanyakan hal itu.
Keyla mengangguk yakin.
"Terimakasih, taksinya sudah menunggu di bawah."
"Permisi,," Keyla bergegas keluar, menyusul Naura dan Leo yang sudah menunggu di luar.
Dion berdiri di pintu, menatap kepergian mereka dalam diam. Perasaannya tidak menentu, bahagia dan kecewa menjadi satu. Sulit untuk melupakan hal buruk yang terjadi di masalalu, yang dulu sempat membuat Dion merasa enggan melanjutkan hidupnya.
...***...
Begitu sampai di rumah, Keyla langsung menitipkan Leo dan Naura pada baby sitter mereka. Dia bergegas ke kamar untuk mandi dan bersiap ke kantor. Sejujurnya tidak nyaman bekerja dengan Dion, apalagi harus satu ruangan dengannya.
Keyla tidak pernah berfikir akan seperti ini jadinya. Dia fikir, Dion bisa berdamai dengan keadaan. Berusaha untuk bersikap normal layaknya bersikap kepada orang yang baru dia kenal. Tapi ternyata Dion tetap menganggapnya sebagai mantan istri yang dulu pernah meninggalkannya dalam keadaan terpuruk.
Keyla tidak pernah keberatan kalau Dion membencinya, namun dia ingin Dion bisa bersikap profesional. Entah saat di kantor sebagai atasan dan bawahan, dan ketika berada di luar sebagai orang tua Leo.
Keyla pamit berangkat pada Leo dan Naura. Dia buru-buru keluar karna taksi yang dia pesan sudah menunggu 10 menit yang lalu.
Sebenarnya bisa saja Keyla minta di antar oleh supir Celina, bahkan Celina sendiri yang menyuruh Keyla agar di antar oleh supir saat akan keluar rumah, ataupun ke kantor.
Tapi Keyla tidak enak hati jika memakai fasilitas itu untuk urusan pribadinya, kecuali dalam keadaan mendadak seperti kemarin malam saat Leo dan Naura ingin menginap di apartemen Dion.
Keluar dari gerbang yang menjulang tinggi. Keyla celingukan mencari taksi online yang dia pesan. Didepan rumah, tidak ada jenis mobil yang sesuai dengan aplikasi. Bahkan tidak ada mobil lain yang terparkir di depan rumah kecuali mobil mewah berwarna hitam. Keyla tidak yakin kalau itu adalah taksi online yang dia pesan.
Mengambil ponsel dalam tasnya, Keyla bermaksud menghubungi taksi online itu untuk menanyakan keberadaannya, dia takut supir taksi itu berhenti di rumah yang salah.
Baru sempat membuka aplikasi, tiba-tiba mobil mewah itu bergerak mendekat dan berhenti tepat di di depan Keyla. Keyla menatap mobil itu dengan dahi berkerut.
Tak berselang lama, pintu mobil terbuka. Keyla sedikit terkejut melihat seseorang yang keluar dari dalam mobil itu.
"Pak Arkan.?" Seru Keyla. Terkejut sekaligus bingung karna Arkan datang ke rumah Celina, sedangkan Arkan tau kalau Vano dan Celina masih berada di Singapura.
Arkan mengulas senyum tipis, senyum yang menyiratkan kekaguman dan rasa tertarik pada lawan jenis. Arkan seolah tidak peduli dengan status janda anak 1 yang di sandang oh Keyla.
"Nyari mobil A*la yah.? Tanya Arkan.
Keyla mengangguk cepat.
"Iya, Pak Arkan melihatnya.? Dimana mobil itu.?" Keyla kembali mengedarkan pandangan ke semua sisi jalan.
"Sudah pergi 5 menit yang lalu." Kata Arkan sembari melirik arloji di tangannya.
"Pergi.? Tapi aku,,,
"Aku yang menyuruhnya pergi." Ungkap Arkan tanpa rasa bersalah sedikitpun. Dia terlihat santai saja sedangkan Keyla sudah di buat panik olehnya.
Dia bisa telat kalau memesan taksi online lagi di jam kerja seperti ini.
"Aku jauh-jauh datang kesini untuk mengantar kamu ke kantor, tapi ternyata sudah keduluan sama taksi online. Kalau aku tidak menyuruhnya pergi, sia-sia aku datang kemari." Arkan mengulas senyum teduh.
"Ayo masuk,," Ujarnya sembari membukakan pintu untuk Keyla.
Keyla bengong di tempat. Bukannya senang karna ada yang akan mengantarnya ke kantor, Keyla justru merasa terbebani. Dia takut Arkan akan terus datang setiap hari. Keyla tidak menutup mata, dia tau Arkan sedikit tertarik padanya. Itulah yang membuat Keyla akan merasa terbebani karna dia tidak akan bisa memberikan harapan apapun pada Arkan.
"Kamu bisa telat kalau tidak berangkat sekarang." Suara Arkan membuyarkan lamunan Keyla.
"I,,iya,,," Keyla bergegas masuk, dia tidak punya pilihan lain saat ini. Mungkin kedepan dia akan menolak kalau Arkan kembali datang menjemputnya.
"Bagaimana kabar kamu dan Leo.?" Arkan membuka obrolan setelah beberapa saat dia di dalam mobil.
"Kami baik-baik saja." Pandangan Keyla lurus ke depan, dia enggan melirik ke arah Arkan karna sadar saat ini Arkan tengah melihatnya lewat kaca spion.
"Syukurlah."
"Aku baru tau kamu bekerja di perusahaan itu. Apa baru bekerja.?"
"2 minggu yang lalu aku juga meeting dengan mereka, tapi tidak ada kamu."
Arkan telihat penasaran. Terlebih Keyla bekerja dengan mantan suaminya.
"Iya, saya baru bekerja beberapa hari yang lalu."
"Pak Arkan tidak telat kalau mengantarkan saya.?" Kali ini Keyla melirik sekilas. Arkan tersnyum tipis dengan pandangan lurus ke jalanan.
"Tidak masalah selagi Vano tidak ke kantor." Sahut Arkan santai.
Keyla hanya tersnyum kikuk, tidak tau lagi harus bicara apa. Dia tidak terlalu pandai memulai obrolan dengan orang yang baru beberapa kali di temui.
"Apa minggu depan kamu dan Leo ada acara.?" Tanya Arkan antusias.
"Aku tidak punya kesibukan di luar selain bekerja. Kalau Leo, setiap minggu akan menghabiskan waktu bersama Papanya."
"Baiklah, mungkin aku harus meminta ijin lebih dulu dengan Papanya Leo." Timpal Arkan.
"Hah.?" Keyla bengong.
Melihat wajah bengong Keyla yang polos, membuat Arkan terkekeh.
"Kamu seperti anak SMA." Ujar Arkan.
Keyla hanya tersenyum kaku. Kedua kembali terlibat obrolan ringan sampai akhirnya Arkan menghentikan mobil di depan kantor Keyla.
"Terimakasih banyak Pak, maaf merepotkan." Ucap Keyla sebelum keluar dari mobil.
"Tidak, justru aku senang bisa mengantar kamu."
"Lebih senang lagi kalau kamu tidak memanggilku 'Pak', aku jadi merasa sangat tua." Arkan tersenyum tipis.
"Maaf,"
"Sekali lagi terimakasih,," Keyla menundukkan kepalanya, setelah itu keluar dari mobil Arkan.
Begitu menoleh ke samping, Keyla melihat mobil Dion di belakang mobil Arkan. Dion sedang menunggu mobil Arkan maju agar bisa masuk ke area kantor.
Suara klakson yang berulang kali membuat Arkan bergegas melajukan mobilnya. Keyla juga bergegas pergi dari sana dan masuk ke dalam kantor.
...*****...
Mampir juga ke novel di bawah🥰
..."Terjebak Pernikahan Kontrak"...