
suara dering ponsel memecah keheningan di ruang kerja itu. Dia mengambil ponsel yang ada di atas meja kerja, matanya menyipit melihat nama yang tertera pada layar ponselnya itu. Nama petugas lapas yang di percayai oleh Dion untuk mengurus segala keperluan sang Papa selama berada di dalam tahanan.
Petugas itu memang jarang menelfon, hanya sesekali setiap kali membutuhkan uang untuk keperluan sehari-hari sang Papa.
"Ya, hallo,,," Ucap Dion begitu sambungan telfonnya terhubung.
Sesaat memaku, diam membisu dengan sorot mata yang menerawang jauh dan perlahan mulai berkaca-kaca. Kesedihan mendalam terpancar jelas di wajahnya.
"Baik, saya akan segera ke sana." Ucapnya dengan suara yang tercekat. Dion mematikan telfon, memasukkan ponsel kedalam saku jasnya kemudian beranjak dari duduknya.
Keyla menatap heran sejak mendengar suara Dion, dia bisa merasakan ada hal besar yang terjadi hingga membuat Dion terlihat sangat kacau.
"Ada apa Pak.?" Tanya Keyla dengan rasa penasaran yang tinggi.
"Ayo ikut, kita harus ke rumah sakit sekarang." Ajak Dion tegas. Perintah Dion membuat pikiran Keyla jadi kalut, dia membayangkan sesuatu hal terjadi pada putranya.
"Leo.? Apa terjadi sesuatu pad Leo.?" Tanyanya panik. Tanpa pikir panjang langsung beranak dari duduknya sembari menyambar tasnya dan berjalan menghampiri Dion.
"Leo biak-baik saja, kita juga akan menjemputnya." Ucap Dion. Dia lalu beranjak, Keyla mengikuti langkah Dion dengan buru-buru. Dia masih mencecar Dion dengan pertanyaan pertama yang belum sempat di jawab oleh Dion.
"Jangan buat aku aku panik Di, sebenarnya ada apa.?" Tanya Keyla sekali lagi. Dia sudah bertanya berulang kali tapi Dion masih diam saja.
"Papa terkena serangan jantung," Jawab Dion singkat. Dia membuka pintu dan masuk ke dalam, di susul Keyla yang kaget mendengar berita itu.
Keyla langsung terdiam sejak mendengar jawaban dari Dion. Mendengar kabar buruk tentang orang tua Dion, membuat Keyla merasa sedih sekaligus kasihan padanya. Masa tuanya harus di habiskan di dalam tahanan dan sekarang sedang dalam masa kritis di sisa masa tahanannya yang akan berakhir 2 minggu lagi.
Keyla berharap mantan Papa mertuanya itu baik-baik saja agar bisa melihat Cucunya.
Setelah menjemput Leo di apartemen, Dion melakukan mobilnya ke rumah sakit.
Dion mengendari mobilnya dengan kecepatan tinggi, membuat Keyla berulang kali harus mengingatkan Dion agar tetap hati-hati.
Dion menggendong Leo, dia berjalan tergesa-gesa sembari menggandeng tangan Keyla tanpa sadar.
Hal itu membuat Keyla harus setengah berlari agar tidak terseret.
Sampainya di ruang UGD, Dion menurunkan Leo. Dia juga melepaskan tangan Keyla dari genggamannya. Dion berjalan menghampiri Papanya yang tengah terbaring lemah dengan selang oksigen yang sudah terpasang.
Kehadiran putranya membuat Surya mengukir senyum tipis di tengah rasa sakit yang terasa menghimpit.
"Pah,,," Suara Dion tercekat. Dia meraih tangan Papanya dan menggenggamnya. Mata Dion kembali berkaca-kaca. Dia berusaha menahan tangis melihat kondisi Papanya yang terlihat tak berdaya.
Keyla menggandeng Leo, mengajak Leo untuk ikut mendekat agar Papa Surya bisa melihatnya.
Keyla berharap dengan melihat dan mengetahui siapa Leo, akan sedikit memberikan kekuatan untuk Papa Surya agar bisa bertahan.
"Pah,,," Kini giliran Keyla yang menyapanya. Papa Surya terlihat kesulitan bicara hingga tidak berkata apapun saat Dion dan dia menyapanya.
"Maafin Keyla tidak pernah datang menjenguk Papa." Ucapnya dengan tatapan sendu.
"Keyla kesini mengajak Leo," Keyla mendekatkan Leo pada Papa Surya.
"Ini cucu Papa, anak Dion." Tuturnya. Air mata Keyla tumpah, dia tidak bisa membendungnya. Terlalu menyesakkan dada.
Saat mendengar Keyla menyebut Leo sebagai cucunya, mata Papa Surya langsung berkaca-kaca. Tek berselang lama meneteskan air mata. Tangannya mencoba meraih tangan Leo namun terlihat kesulitan.
"Leo, ayo peluk kakek." Pinta Keyla. Leo yang saat di perjalanan sudah diberi tau perihal kakeknya, tanpa ragu mendekat dan memeluk Papa Surya.
Tangis Papa Surya semakin pecah, terlihat dari air matanya yang semakin deras mengalir.
Dia berusaha menyentuh Leo dengan susah payah, memandang lekat wajah Leo yang mirip dengan Dion.
Tentu saja dia sangat terkejut, tidak menyangka kalau ternyata Dion dan Keyla sudah memiliki anak, selama ini Dion tidak pernah mengatakan apapun perihal kehidupan rumah tangganya, selalu mengatakan jika dia dan Keyla baik-baik saja.
"Papa harus sembuh, Leo pasti akan senang bermain dengan kakeknya." Ujar Dion.
Saat ini sang Papa butuh kekuatan untuk bertahan. Beberapa menit lagi akan dilakukan tindakan untuk operasi.
Papa Surya merespon dengan anggukan kecil dan seulas senyum tipis. Dia terus menggenggam tangan Leo dan menatap wajahnya dengan mata berbinar.
...*****...
Sudah lebih dari 30 menit, Dion masih terlihat gelisah. Dia terus mondar-mandir di depan ruang operasi. Papa Surya satu-satunya orang tua yang dia miliki saat ini. Terlepas dari kesalahannya yang telah mengakibatkan keluarganya jadi hancur hingga Mama meninggal dunia, Papa Surya tetap berarti untuknya.
"Minum dulu,,," Keyla menyodorkan air mineral yang baru saja dia beli bersama Leo.
Dion mengambil tanpa mengatakan apapun dan langsung meneguknya.
"Kamu harus tenang, aku yakin Papa akan baik-baik." Ucap Keyla. Dia tidak tega melihat Dion begitu gelisah dengan sorot mata sendu.
"Sebaiknya kamu duduk dulu." Ajak Keyla. Tanpa ragu dia menggandeng tangan Dion dan menyuruhnya untuk duduk di samping Leo.
"Jangan sampai membuat Leo bingung karna melihat kamu seperti ini." Tuturnya lagi.
Dion masih diam, dia merangkul pundak Leo setelah duduk di sampingnya. Tersenyum pada Leo yang sejak tadi menatapnya.
"Do'akan Kakek agar cepat sembuh." Ujar Dion pada putranya.
Leo menganggukkan kepala.
Keyla menatap Dion dengan tatapan iba, tidak tega melihat Dion sedih seperti itu.
Begitu dokter keluar dari ruang operasi, Dion langsung menghampirinya. Menanyakan kondisi sang Papa paska operasi.
Namun jawaban dokter itu membuat gurat kesedihan di wajah Dion semakin bertambah. Dia semakin terlihat putus asa mendengar kondisi Papa Surya yang koma setelah operasi.
Kini Dion hanya menunggu keajaiban untuk kesembuhan sang Papa. Dia berdiri mematung di depan ruang ICU. Menatap dari kaca kecil pada pintu itu.
Keyla tidak bisa menahan tangis, apa yang dialami oleh Dion saat ini, pernah di rasakan juga olehnya beberapa tahun silam. Perasaan tak menentu menunggu di depan pintu ICU saat Papanya dalam keadaan koma.
Keyla berharap hal buruk tidak terjadi pada Papa Surya. Dia tidak bisa membayangkan akan sehancur apa perasaan Dion jika itu terjadi.
"Ayo peluk Papa,," Ajak Keyla. Dia mengajak Leo menghampiri Dion dan memeluknya bersamaan.
Dion mematung mendapat pelukan dari Leo dan Keyla, namun seketika perasaannya jadi jauh lebih tenang.
"Jangan khawatir, kami ada disini." Ucap Keyla lembut.
"Percayalah, tidak akan terjadi hal buruk pada Papa." Ujarnya lagi.
Dion mengangguk pelan dengan seulas senyum tipis.
Perlahan Dion membalas pelukan mereka, dia mendekap Keyla dan Leo.