My Secretary

My Secretary
Bab 16



Masuk ke pusat perbelanjaan dengan masing-masing mengandeng Leo dan Naura, mereka berdua terlihat seperti sepasang suami-istri yang memiliki 2 orang anak. Terlihat layaknya keluarga kecil yang bahagia, apalagi celotehan Naura yang sesekali membuat Dion dan Keyla tersenyum. Mereka benar-benar layak menjadi keluarga yang harmonis.


"Ayo Aunty, cepat ke sana." Naura menarik tangan Keyla untuk mempercepat langkah agar sampai di tempat yang dia inginkan.


Keyla terpaksa mengikuti langkah Naura yang setengah berlari menggandeng tangannya. Gadis cantik itu terlihat tidak sabar untuk bermain.


Sementara itu, Dion hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Naura yang cenderung tidak bisa diam, cerewet dan tidak sabaran.


Berbeda dengan Leo yang sangat kalem, pendiam dan tidak banyak tingkah.


Dion sampai enggan membayangkan punya anak perempuan seperti Naura. Entah akan sepusing dan serepot apa saat mengurusnya nanti.


"Kak Leo, Uncle, ayo buaran." Naura berteriak di depan pintu masuk timezone. Tak lupa melambaikan tangan dan sedikit melompat kegirangan.


Sedangkan Keyla terlihat kewalahan melihat kecerewetan Naura yanga mengundang perhatian orang-orang di sekitarnya. Hal itu sampai membuat Keyla merasa malu karna di tatap banyak orang.


"Pelan-pelan sayang, jangan berisik." Terus Keyla lembut.


Sudut bibir Dion terangkat. Wajah panik Keyla yang bercampur malu seperti jadi hiburan tersendiri untuknya.


Keyla menatap tajam ke arah Dion. Dia sempat melihat Dion yang tersenyum meledek ke arahnya meski memalingkan pandangan ke arah lain.


"Tidak usah meledek." Tegur Keyla begitu Dion berhenti di depannya.


Dion hanya melirik datar tanpa membalas ucapan Keyla. Dia langsung masuk ke dalam, mengikuti Naura dan Leo yang sudah dulu berada di dalam.


"Ya ampun, kenapa Dion jadi menyebalkan seperti itu." Gumam Keyla tak habis pikir. Dia menyusul mereka dengan ekspresi kesal.


Selama berada di dalam, Dion dan Keyla terlihat kewalahan menemani dua bocah itu bermain. Seakan tidak ada kata lelah, Naura dan Leo enggan berhenti untuk mencoba semua permainan yang bisa mereka mainkan.


Dion sampai menghela nafas berat. Menemani anak bermain memang menguras tenaga.


"Kamu temani mereka dulu, aku sudah lelah." Ujar Dion. Keyla melongo mendegarnya. Bagaimana bisa dia mengawasi 2 anak sekaligus sedangkan Leo dan Naura selalu pergi sesuka hati ke permainan yang mereka inginkan. Itu akan membuat Keyla kebingungan, siapa yang harus dia ikuti.


"Jangan bercanda Di, Naura disana, Leo disitu. Sebentar lagi pasti mereka akan lari ke tempat lain, lalu aku harus mengikuti yang mana.?"


Protes Keyla. Dia tidak mengijinkan Dion berhenti mengawasi dan mengikuti Leo.


"Kalau begitu suruh mereka berhenti. Sudah 1 jam lebih mereka bermain."


"Lagipula sudah waktunya makan malam, sebaiknya pindah ke restoran saja." Tutur Dion. Dia benar-benar sudah tidak sanggup lagi berjalan kesana-kemari untuk mengikuti Leo. Tenaganya sudah terkuras habis. Terlebih, dia juga habis bekerja.


"Ya sudah. aku bujuk Naura dulu."


"Tolong kamu bujuk Leo juga." Pinta Keyla. Dia bergegas menghampiri Naura dan membujuk dengan berbagai cara agar Naura mau berhenti bermain dan mau makan malam.


Setelah melewati drama membujuk Naura, akhirnya dia mau keluar dari timezone. Mereka langsung pergi ke salah satu restoran di pusat perbelanjaan itu untuk makan malam.


Sepertinya Dion belum sanggup kalau harus memiliki 2 anak dengan jarak yang dekat. Sejak tadi terlihat menghela nafas karna tingkah dua anak itu.


Mungkin setelah ini Dion akan menolak kalau kedua bocah itu ingin pergi bersama lagi.


"Ayo habiskan makannya, setelah itu pulang."


Dion sudah tidak sabar untuk mengakhiri kelelahan ini. Rasanya ingin berbaring dan pergi ke alam mimpi.


Selesai makan malam, Dion buru-buru mengajak mereka untuk keluar dari pusat perbelanjaan. Tapi ternyata tidak semudah yang di bayangkan. Baik Naura maupun Leo, mereka meminta untuk masuk ke toko mainan. Merengek ingin membeli mainan terbaru.


Namun dia tidak sanggup jika harus mengikuti langkah kaki mereka lagi yang terlalu aktif.


"Kamu lelah Di.?" Tanya Keyla. Dia tidak tega melihat wajah Dion yang terlihat lesu dan kelelahan.


Dion menghela nafas berat sembari melirik Keyla.


"Menurutmu.?" Ujarnya sedikit kesal.


Keyla menggeleng pelan dengan mengukir senyum tipis.


"Ya sudah, kamu tunggu saja di luar. Biar aku yang menemani mereka memilih mainan." Keyla membiarkan Dion untuk keluar dari toko mainan itu agar bisa duduk sejenak.


Dion mengangguk setuju, dia mengambil dompet lalu mengeluarkan kartu atm dan menyodorkannya pada Keyla.


"Pakai ini." Ujarnya. Dion bergegas pergi setelah memberikan kartu itu. Keluar dari toko mainan dan menunggu di tempat yang tidak jauh dari sana.


Hingga 30 menit berlalu, mereka bertiga tak kunjung keluar dari toko mainan itu. Dion sudah menduga akan lama. Tidak bisa dibayangkan kalau tadi dia tetap ikut menemani mereka mencari mainan, pasti akan membuatnya semakin kelelahan. Entah apa yang mereka cari sampai bisa selama itu di dalam sana hanya untuk membeli mainan.


"Kita bertemu lagi Di,,," Suara itu terdengar sinis di telinga Dion. Tanpa melihat wajahnya, Dion sudah hapal siapa pemilik suara itu.


"Masih berani muncul di hadapanku.?" Ketus Dion sembari mengangkat wajahnya dan menyimpan ponsel kedalam saku celana. Dion menatap Viona dengan tatapan tajam. Wanita ular di depannya benar-benar membuatnya tak habis pikir. Dia terlampau tebal muka sampai-sampai masih berani menyapa dan berdiri di hadapannya.


"Kenapa tidak.?" Jawab Viona santai. Dia justru duduk di samping Dion dan tersenyum lebar.


"Kamu harus ingat Di, kita pernah tidur di ranjang yang sama." Tuturnya dengan senyum kepuasan.


"Sayang sekali anakku tidak bisa memiliki ayah setampan dirimu." Viona mengusap perutnya yang terlihat sudah menonjol dengan balutan dress ketat yang melekat di tubuhnya.


Dion menatap jijik pada wanita di sampingnya. Viona benar-benar tidak punya malu. Dia sudah menipunya dengan mengatakan bahwa anak itu adalah darah dagingnya. Sedangkan pada malam sial itu, Viona sudah hamil 7 minggu.


"Sudah ku duga kamu memang gila." Sinis Dion.


"Wanita jal*ng.!" Cibirnya dengan tatapan jijik. Dion berdiri dari duduknya, memilih untuk pergi dari sana.


"Papa,,," Teriakan Leo membuat Dion tetap berdiri di tempat. Mereka bertiga sudah keluar dari toko mainan dan tengah berjalan ke arahnya. Leo dan Naura bahkan berlari sambil membawa mainan di tangannya. Sementara itu, Keyla tampak kewalahan membawa mainan lain yang dibeli oleh Leo dan Naura.


"Ayo pulang Uncle, Naura mau main ini dirumah." Seru Naura sembari menunjukkan mainan di tangannya.


"Iya, ayo pulang." Ujar Dion. Dia menggandeng tangan Leo dan Naura untuk segera pergi dari sana.


"Haii,, senang bertemu denganmu lagi." Sapa Viona pada Keyla. Dia berdiri sambil mengusap perutnya. Seolah sengaja ingin menunjukan perut buncitnya pada Keyla yang sejak tadi menatap perutnya.


Keyla mengangguk dengan senyum kaku.


Tanpa Viona melakukan gerakan mengusap perut sekalipun, Keyla sudah tau kalau wanita itu sedang hamil.


Kini Keyla menatap Dion. Dia tidak membutuhkan penjelasan, namun merasa tidak habis pikir dengan Dion yang sudah menghamili wanita tapi belum menikahi.


"Ayo pulang." Tegas Dion. Namun Keyla semakin menatapnya heran karna Dion terlihat mengabaikan wanitanya.


"Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, itu bukan anakku.!" Ujar Dion memberi tau, kemudian menggandeng Leo dan Naura pergi dari sana. Dia terlihat kesal karna Keyla seolah menatap curiga padanya.


"Sampai ketemu besok Di,,," Teriak Viona. Dion tidak menghiraukannya sama sekali.


Keyla segera menyusul Dion tanpa mengatakan apapun pada Viona. Melihat hal itu, senyum kepuasan mengembang di bibir Viona.