My Hubby

My Hubby
Chapter 58



Rey berjalan dengan marah di area koridor, begitu sampai ia membuka pintu itu dengan sedikit kencang.


Rey bisa lihat keponakannya duduk dengan luka yang tidak kecil membuat amarahnya semakin bergejolak.


“Jadi, siapa yang bisa menjelaskan mengapa keponakan saya sampai terluka seperti ini?” tanya Rey dengan nada tak biasa sembari menatap kepala sekolah dengan tajam.


“Maaf Pak Rey, Aiden kedapatan bertengkar dengan teman sekelasnya, anak itu membela diri saat Aiden mendorongnya hingga terjatuh” rahang rey bergemeletuk lalu berjalan dan berjongkok di depan Aiden yang menunduk.


“Kamu tidak apa-apa Aiden?” nada bicara Rey berubah drastis saat bicara dengan Aiden tapi bukannya menjawab Aiden justru berkaca-kaca menatap pamannya.


“Tidak apa-apa, Uncle tidak akan marah dengan Aiden, tapi boleh Uncle bertanya?” anak itu mengangguk.


“Kenapa Aiden memukul teman Aiden? Tolong ceritakan apa yang sebenarnya terjadi”


“Maaf Uncle” untuk membuat Aiden sedikit tenang Rey mengusap kepala anak itu lalu memeluknya membuat tangis Aiden pecah.


“Uncle tidak marah, Uncle hanya ingin tau kenapa Aiden memukul teman Aiden, bukankah itu bukan hal yang baik” ucap Rey mencoba memancing informasi dari Aiden sembari mengusap punggung anak itu dengan sayang.


“Tapi Albert yang memulai semuanya, dia bilang..” jelas Aiden dengan nada serak, sedikit bimbang untuk melanjutkan kalimatnya hingga Rey mengurai pelukan mereka.


“Bukankah kita juga seorang teman?” anak itu kembali mengangguk.


“Jadi coba ceritakan, Albert bilang apa sampai Aiden mendorongnya” tanya Rey dengan santai tanpa ada nada diskriminsai sedikitpun.


Bisa Rey lihat air mata Aiden meluruh lagi, dengan telaten Rey mengusap punggungnya, “Katanya Bunda Aiden gila, Bunda tidak seperti itu kan Uncle, Aiden bilang kalau Bunda sedang sakit, tapi Albert tetap bilang kalau Bunda Aiden gila, Aiden tidak suka Albert berkata seperti itu Uncle”


Cukup, Rey tidak bisa menahan amarahnya, ia langsung berdiri menghadap kepala sekolah yang kini menunduk.


Semua orang yang ada diruangan itu terkejut, mereka memang belum mengetahui kronologi yang sebenarnya, karena Aiden hanya diam sejak tadi sedangkan Albert berkata Aiden mendorongnya hingga terjatuh.


“Apa anda hanya akan diam setelah mengetahui apa yang terjadi?” dengan gugup kepala sekolah itu mendongak lalu menggeleng, hal yang membuat geram adalah tidak ada pergerakan apapun dari pria paruh baya itu.


“Tolong panggilkan anak itu kemari” ucap Rey dengan tegas, lalu dengan cepat kepala sekolah menelpon salah satu guru untuk memanggil anak itu.


“Jangan marah-marah uncle, Aiden tidak suka uncle marah-marah” Rey tersenyum lalu menangkup wajah Aiden.


“Uncle hanya ingin memberitahu teman Aiden kalau yang ia katakan itu salah, Aiden tenang saja ya, sekarang Aiden ikut paman Rasha dulu ya” ucap Rey sembari memasrahkan Aiden pada Rasha.


Bertepatan Aiden pergi, anak nakal itu datang dengan seorang guru, “Namamu Albert bukan?”


“Iya”


“Kenapa kamu mengolok Bunda Aiden dengan sebutan gila” Rey kehilangan kontrolnya bahkan ia lupa dengan siapa ia bicara hingga tanpa sadar meninggikan nada suaranya.


Bukan hanya anak itu yang ketakutan, tapi kepala sekolah dan guru yang ada disana merasakan hal yang sama.


“Karena Mama bilang, salah satu pasiennya adalah Bunda Aiden” hilang sudah kesabaran Rey.


“Dimana Mamamu bekerja?”


“Rumah sakit jiwa” tanpa bertanya lebih lanjut, Rey kembali menghadap kepala sekolah.


“Panggil orang tua Albert seperti anda menghubungi saya” seperti yang sudah-sudah, Kepala sekolah segera bergerak cepat agar tidak terkena amukan Rey yang terlihat berkali lipat menyeramkan dari biasanya.


Rey memilih duduk untuk menunggu orangtua anak itu, sedangkan Albert sudah dikembalikan ke kelasnya.


Tak lama seorang wanita modis datang dengan angkuh memasuki ruang kepala sekolah, “Ada apa ya pak? Kenapa saya dipanggil kemari” tanya wanita itu tanpa sadar bahwa Rey sudah ada di tempat itu dari sebelumnya.


Tak butuh waktu lama, wanita itu segera menyadari kehadiran Rey yang membuatnya panas dingin, bukan karena takuta tapi karena ketampanan Rey tentu saja.


Rey merasa jijik ditatap sedemikian rupa oleh ibu dari anak yang telah mengolok adik dan keponakannya.


“Tidak bisa menjelaskan?” tanya Rey pada kepala sekolah yang kini kembali menunduk.


“Ada apa ya?” tanya wanita itu dengan genit.


“Anda bekerja di rumah sakit jiwa tempat adik saya dirawat?” wanita itu sedikit merenung, tapi atensinya yang terpusat pada ketampanan Rey membuatnya tak mengingat apa-apa.


“Adik anda?”


Rey sudah jengah “Anak anda mengolok keponakan saya karena ibunya sedang dirawat di tempat anda bekerja” wanita bernama Wina itu mendadak berkeringat dingin.


Kini ia paham mengapa dirinya dipanggil kesini.


Dari name tag wanita itu Rey sudah mengantongi hal apa saja yang harus ia temukan mengenai orang yang mengusik keluarganya.


“Semua sudah jelas, saya tidak akan memperpanjang ini, tapi bersiaplah menerima surat pemecatan hari ini juga” wajah Wina mendadak pucat, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa.


Rey meninggalkan ruangan itu, berjalan melalui koridor sekolah yang banyak anak kecil berlarian, Rey jadi membayangkan semua wajah keponakannya, meski hari ini ada yang mengusik salah satu dari mereka, tapi Rey akan memperbaiki semuanya.


Saat sudah mencapai mobil yang ia gunakan untuk menuju ke sekolah Aiden, Rey segera mengubah mimik wajahnya.


“Uncle tidak marah-marah kan?” tanya Aiden to the point, tentu saja Rey tersenyum, mengusak puncak kepala anak itu dengan sayang.


“Uncle tidak pernah marah kok” mendengar itu bukannya percaya tapi Aiden justru menelisik ke arah Rey, membuat pria itu gemas dan memeluk keponakannya itu.


“Uncle menepati janji untuk tidak marah” setelah yakin Aiden membalas pelukan Rey.


“Tapi besok kamu pindah sekolah saja ya?” celetuk Rey membuat Aiden menatapnya.


“Kenapa begitu?”


“Uncle tidak suka dengan sekolahan itu”


Wajah Aiden berubah murung, tapi ia mengangguk.


“Sepertinya Tuan Muda tidak menyukai saran itu Tuan” ucap Rasha menengahi dua pria beda usia itu.


“Benar begitu Aiden?” anak itu tak menjawab, membuat Rey membuat wajah kecil itu mendongak ke arahnya.


Baru dari sana, Rey sepaham dengan Rasha, dirinya mungkin terlalu memaksakan kehendak.


“Tidak apa kalau Aiden tidak mau pindah sekolah, Uncle akan menghargai semua keputusan Aiden, jangan ragu untuk mengatakan hal yang Aiden suka dan tidak suka ya?” wajah murung itu sirna.


Bagi Aiden pamannya adalah segala-galanya, hal yang tidak bisa ia dapat dari Ayah dan Bundanya bisa ia cari di diri Unclenya.


“Jadi Aiden tidak ingin pindah sekolah?”


“Tidak Uncle, disana banyak teman yang baik dengan Aiden” lalu sisa perjalanan mereka dihabiskan dengan cerita tentang daftar teman yang membuat Aiden berat meninggalkan sekolahnya.


TBC