My Hubby

My Hubby
Chapter 48



“Rumah mewah di Jalan Arjasari dibom oleh komplotan tak di kenal”


“Berita terkini, telah terjadi pengeboman sebuah rumah mewah di Jalan Arjasari”


Klik!


Layar televisi itu berubah hitam.


Rey melempar remote TV lalu beralih menatap sang adik yang masih shock.


“Istirahatlah, kamu dan anak-anakmu sudah aman” Mira mendongak air mata itu belum berhenti.


Rey duduk di samping Mira dan memeluk adiknya dengan sayang.


“Aku ingin bertemu Mas Ardan.. dia pasti khawatir.. apa dia..”


“Ssstttt, cukup Mira, semuanya akan baik-baik saja, aku akan menemukannya, untukmu, hmm?” dalam kondisi masih menangis Mira mengangguk.


Rey kembali memeluk Mira, beruntung ia tidak terlambat saat informannya mencium gelagat mencurigakan dari seseorang, ternyata ia lah yang memasang bom sialan itu.


“Mas Ardan pergi untuk bernegosiasi dengan ayah kandung Arkan” ucap Mira tanpa diminta.


Dalam hati Rey kembali mengumpati Ardan, laki-laki sombong dan bodoh itu sudah menempatkan adik tercintanya dalam bahaya hanya demi anak dari wanita sialan yang juga ia benci.


Rey hanya menyimak.


“Kami sangat menyayangi Arkan seperti anak sendiri Bang, terlebih Arkan tidak bisa dipisahkan dengan Aiden, mereka seperti ada untuk satu sama lain” Mira sedikit tertawa mengingat kedekatan dua putranya.


Rey tidak menyanggah itu, karena mereka berdua memang terlihat seperti saudara sedarah.


“Lalu beberapa hari sebelumnya rumah kami di teror seseorang yang di duga ayah kandung Arkan, Dinda bilang ia ingin mengambil Arkan untuk jadi penerusnya”


“Apa kamu tau siapa ayah kandung Arkan?”


“Dinda hanya mengatakan nama pria itu”


“Siapa?”


“Alex”


Rey tercengang, di dunia ini memang banyak orang dengan nama itu, tapi dari salah satu diantaranya Rey yakin sangat mengenalnya.


Rey bangkit, lalu membantu Mira untuk berdiri dengan hati-hati, “Istirahat ya, tidurlah, ibu yang sedang mengandung mana boleh kelelahan”


“Tapi Bang..”


“Tidur Mira, itu perintah, menurutlah ini demi kebaikan anak dalam kandunganmu juga”


Dengan pasrah Mira mengangguk, lalu dengan langkah gontai berjalan menuju kamar yang sudah Rey sediakan untuknya.


Rey termenung sendirian di ruang tamu, “Aku harap itu bukan kamu Lex”


***


“Kamu masih kuat Din?”


Dinda ingin menggeleng tapi mereka sudah berjalan sejauh ini, “Masih Mas” bohongnya.


Ardan mengangguk lalu kembali melanjutkan perjalanan mereka, “Ayo bergegas, kita harus sudah keluar dari hutan ini sebelum matahari terbit” Dindan mengangguk saja.


Aiden dan Mira pasti mereka masih selamat, pati mereka baik-baik saja..


Sugesti baik yag berusaha Ardan tekankan untuk memicu semangatnya.


“Disini juga tidak ada Bos” sayup-sayup Ardan mendengar seruan itu dari jauh.


Byur..


Ardan dan Dinda kini berada di bawah permukaan air, Ardan memeluk Dinda saat Alex tepat berada di atas mereka.


“Cari sampai dapat! Kalian tidak boleh berhenti sebelum menemukan mereka”


“Baik bos”


Tak lama Alex pergi, setelah merasa aman Ardan naik ke permukaan, lalu membantu Dinda untuk menepi juga.


“Mereka sangat dekat dengan kita Mas”


“Tidak apa-apa, kita akan keluar dari sini sebelum mereka menemukan kita”


Dinda terdiam saat merasakan ujung pistol di kepala belakangnya.


“Apa kamu pikir bisa melarikan diri setelah apa yang kamu lakukan” ucap Alex dengan seringainya.


Ardan segera menarik Dinda untuk mendekat, bidikan itu beralih pada mereka berdua sekarang.


“Serahkan wanita sialan itu, dan kamu boleh pergi”


“Tidak semudah itu” ucap Ardan sembari mengeluarkan pistol miliknya.


Di tengah malam yang dingin ini, Dinda bisa melihat dua pria yang pernah ada dalam hidupnya saling menodongkan senjata.


***


“Apa tidak ada kabar dari mereka Mas?” tanya Rini saat Andreas masuk rumah di pagi hari.


“Ada! Kabar baiknya rumah itu kosong, kemungkinan Ardan tau kalau ia akan di serang lalu mengamankan semuanya sebelum pengeboman itu terjadi” Rini tak bisa menahan rasa harunya, setidaknya ada harapan mereka semua baik-baik saja.


“Cari mereka Mas, aku ingin menemuinya” pinta Rini pada sang suami.


“Iya, orang suruhanku sedang menelusuri keberadaan mereka”


Di dalam kota yang sama.


“Mira ayo makanlah meski sedikit” bujuk Rey yang hanya di hadiahi gelengan Mira.


“Aku ingin Mas Ardan, bagaimana aku bisa makan sementara suamiku sendiri belum di ketahui keberadaannya..” ucap Mira sembari terisak, Rey memeluk Mira, mengusap kepala Mira dengan sayang.


“Aku sedang mencari keberadaan suamimu, sabarlah” Rey berusaha menahan segala rasa cemburunya, kali ini bukan saatnya untuk memperlihatkan apa isi hatinya, mungkin tidak akan pernah bisa di tampakkan pada Adiknya ini.


Sebuah perasaan terlarang yang harusnya tak boleh ada.


Rey menyudahi lamunannya “Makanlah, apa kamu tidak kasihan pada bayi yang ada di perutmu, dia pasti kelaparan Mira”


Mira memejamkan matanya, membiarkan buliran air mata itu terjatuh, dengan malas Mira mengambil alih piring yang sejak tadi di pegang Rey, berikut dengan alat makannya.


Rey tersenyum, Mira memang ibu yang baik, apapun yang terjadi padanya ia pasti tidak akan membahayakan anak-anaknya.


“Abang keluar dulu ya, habiskan makanan dan susunya, Abang mau cek keponakan Abang dulu” tak ada respon, Mira hanya mengangguk sembari meneruskan makannya meski lamban.


Rey menutup pintu, memeriksa handphonenya, barangkali ada info terbaru tentang adik iparnya, Sebenarnya Rey malas menyebut Ardan seperti itu, tapi ini harus ia lakukan untuk menghapus semua perasaannya.


Mungkin saja bisa, Rey akan belajar menerima semuanya.


“Uncle!” Rey sedikit berjengit lalu tersenyum dan berjongkok di depan Aiden.


“Ya boy?” diusapnya rambut anak itu yang sialnya sangat mirip dengan Ardan, seakan-akan pria itu tidak ingin indentitasnya sebagai pasangan Mira tak terlihat jadi ia mewariskan semua tampangnya yang menjengkelkan itu pada Aiden.


Meski Rey mengakui gen Ardan bukan gen yang kaleng-kaleng, tapi Rey tetap tak menyukainya.


“Aiden sudah boleh bertemu dengan Bunda kan?” Rey menatapi wajah kecil itu dengan seksama, anak yang sangat Mira nantikan kehadirannya selama kehamilan dulu.


“Uncle?” Rey tersenyum, meski wajahnya mengingatkan Rey pada pria bajingan itu, Aiden tetap anak Mira, keponakannya.


“Boleh, tapi jangan buat Bunda kelelahan ok?”


“Yeay! Terimakasih Uncle!” Rey mengangguk lalu mengamati Aiden yang berlari riang ke kamar Bundanya, Rey hendak melangkah tapi langkahnya terhenti saat ada anak kecil lain di rumahnya mengintip di balik pintu.


Senyuman Rey mendadak sirna, anak wanita murahan itu terpaksa Rey bawa dalam huniannya, meski hati merasa tak ingin tapi demi Mira dan Aiden, Rey melakukannya.


Melihat tatapan mengerikan itu Arkan memilih kembali masuk dalam kamarnya dan berdiam diri di sana.


Rey mengabaikan anak itu, benar-benar tidak memperdulikannya dan pergi..


TBC