
Hingga malam kembali menyapa Rey belum juga kembali, Mira semakin cemas, kini Abang, Suami, juga Dinda hilang entah kemana.
“Bunda, jangan mondar-mandir terus Aiden pusing lihatnya, Adik juga pusing kan?” Arkan mengangguk, Mira menatap keduanya dengan sedih.
Apa yang bisa Mira lakukan untuk mengetahui keberadaan mereka bertiga sementara dia sedang bersama dua anak kecil dan janin yang ada dalam perutnya.
Mira semakin merasa tak berguna.
Aiden berlari mendekat, begitu juga Arkan, mereka memeluk kaki Mira seraya mendongak, “Bunda, jangan sedih terus nanti adik Aiden ikutan sedih”
Karena terharu dengan sikap manis Aiden dan Arkan Mira malah menangis, membuat dua anak itu kelimpungan melihat air mata Bundanya.
“Loh loh, gimana ini Bunda malah nangis
“Abang sih”
“Loh kok Abang”
“Sudah-sudah” Mira menghapus air matanya, lalu mencoba tersenyum meski hatinya menahan perih.
Ting tong!
Ketiganya melihat ke arah pintu, tanpa kata Mira bergegas, dia berharap satu diantara tiga dari orang yang tunggu datang.
Pintu terbuka.
Ada Rini, Andreas, Siska dan Daru dengan anak mereka.
Mira langsung memeluk ibu mertuanya, Rini menyambut pelukan itu tak kalah hangat, di kecupnya pucuk kepala sang menantu dengan sayang, setelah semua ketidakpastian semalam akhirnya mereka bisa bertemu kembali.
Selanjutnya, Mira beralih pada Siska yang matanya masih sembab setelah menangisi nasib sahabatnya ini.
“Aku seneng banget kamu baik-baik aja”
“Iya aku baik-baik aja Sis”
Setelah suasana haru biru itu terjadi mereka semua masuk, Aiden dan Arkan langsung bermain dengan Dito anak Siska dan Daru yang baru berusia delapan bulan.
Rini menggenggam tangan menantunya setelah Mira menceritakan bagaimana Rey membawa mereka semua setelah Ardan pergi disusul Dinda.
“Syukur kalian semua sudah keluar dari rumah itu sebelum bom itu meledak” ada perasaan lega di hati Rini, meski hatinya belum puas karena ternyata Ardan putra mereka tidak bersama cucu dan menantunya.
“Apa kamu gak tau kemana Ardan dan Dinda pergi?” tanya Daru yang hanya dihadiahi gelengan pelan Mira.
“Bahkan Bang Rey ikut hilang kabar” serunya disambut helaan nafas semua orang yang ada disitu.
Rini dan Andreas baru tau jika menantu mereka masih memiliki anggota keluarga lain, tidak dengan Siska dan Daru yang sudah mengenal Rey dengan baik.
“Jangan terlalu dipikirkan Mira, kamu tidak sendirian, Papa akan bantu mencari mereka bertiga, ok?”
“Apa saya boleh membantu om?” Andrean mengangguki permintaan Daru.
Setelah bertukar nomor telepon Andreas dan Daru pergi, mengetahui lawan mereka cukup berbahaya membuat keduanya harus memiliki strategi yang matang untuk menemukan mereka bertiga.
Di rumah itu tinggal Rini, Siska, Mira dan para anak-anak.
***
Rey membelah hutan di malam hari, lokasi yang menjadi tempat terakhir Ardan sebelum semuanya hilang karena kendala signal.
Rey tidak sebodoh Ardan dengan pergi seorang diri, dia pergi bersama tim pengawalan yang akan membantu membekukan lawan.
Hingga mereka sudah sampai di dekat gubuk yang menjadi satu-satunya tempat dengan tanda-tanda kehidupan karena ada lampu yang menyala disana.
Rey membagi Tim menjadi dua, satu tim yang termasuk dirinya dan Rasha-asisten pribadinya mengawasi dari depan sedangkan tiga orang lainnya ia utus untuk mencari celah untuk mereka masuk ke dalam gubuk itu.
Semua anggota tim sedang menjalankan tugasnya, Rey tetap waspada di tempatnya, hingga satu objek membuatnya mematung di tempat.
Alexander Watson
Emosi juga dendam yang menumpuk membuat Rey ingin segera menghabisi Alex saat itu juga, tapi Rasha berhasil menahan gerakan gegabah tuannya.
“Aku ingin mengabisinya Rash” ucap Rey penuh tekad.
“Tahan tuan, tindakan gegabah hanya akan membahayakan kita semua” emosi Rey mereda, ucapan Rasha sangat benar karena saat ini bukan hanya satu orang yang akan Rey selamatkan.
Tak lama tim dua datang, “Mereka hanya bertiga”
“Apa kamu yakin mereka hanya ada tiga orang saja?” tanya Rasha dan orang itu mengangguk.
"Gubuk itu hanya memiliki satu pintu" Rey mengangguk paham.
Jika demikian bukankah dari segi jumlah Alex sudah kalah?
Sontak Rey keluar dari persembunyiannya, mereka semua jadi siap siaga menodongkan senjata ke arah Alex.
Alex tersenyum melihat kawan lamanya mendekat dengan wajah marah.
“Halo sahabatku, apa kamu juga merindukanku?”
“Jangan banyak bicara Lex, serahkan mereka padaku, berhenti mengusik keluargaku!” Alex tertawa.
“Apa kamu sedang ingin menjemput mantan kekasihmu yang aku..”
“Diam!!!” Rey sungguh tak ingin kalimat itu di lanjutkan, dan itu kembali mengundang gelak tawa Alex yang sama sekali tidak ketakutan dengan banyaknya senjata yang diacungkan kepadanya.
“Santai bro, karena kita baru bertemu bagaimana jika kita ngopi bersama” Alex menengok ke belakang Rey yang membawa tim.
“Ajak juga teman-temanmu, sampai kapanpun kamu adalah sahabatku, jadi temanmu juga temanku”
“Dimana Ardan, apa ia bersamamu?” tanya Rey yang tidak memperdulikan ucapan Alex.
“Untuk apa kamu mencarinya? Oh apakah kamu sudah mulai menerima takdir dan mengakui Ardan adalah iparmu?”
“Aku tidak ada waktu untuk bicara omong kosong denganmu Lex, serahkan mereka sekarang!!!”
Rey mengisyaratkan timnya untuk meringkus Alex yang hanya pasrah tanpa perlawanan membiarkan Rey masuk.
Hanya ada Dinda disana, dengan seorang pria yang tak dikenal.
Sontak ia berlari menerjang Alex, “Mana Ardan?!!” Alex menyeringai.
“Aku membuka jalanmu untuk bisa membersamai Mira, harusnya kamu berterimakasih padaku kawan”
“Mana Ardan!!!”
“Aku menembaknya, dan ia jatuh terbawa arus sungai” ucap Alex enteng, dengan kencang Rey melepas cengkeramannya.
Apa yang harus ia katakan pada Mira nantinya, padahal ia berjanji untuk membawa serta suaminya, tapi Ardan malah..
“Kenapa kamu melakukan ini Lex, berhenti, jangan teruskan bisnis haram orangtuamu”
“Aku tidak punya pilihan lain, aku hanya bisa berhenti jika aku sudah menemukan penerus, dan anak dari wanita sialan itu yang ku harapkan, tapi mereka tidak memberikannya padaku” ucap Alex putus asa, dengan Rey Alex tidak akan berbuat seperti yang ia lakukan pada Ardan.
Rey adalah sahabatnya yang selalu ada dan membantunya dulu sebelum ia ditemukan kedua orangtuanya yang ternyata hanya datang untuk mewariskan bisnis hitam ini.
“Apa kamu akan menjadikan darah dagingmu bernasib sama sepertimu, begitu?”Alex terdiam.
Nuraninya menentang itu, tapi ia sangat ingin berhenti dari dunia hitam yang ayahnya perkenalkan semenjak ia ditemukan.
“Semua tindakan itu salah Lex, jangan biarkan anakmu merasakan perang batin yang melelahkan seperti yang kamu alami”
“Aku sudah tidak menginginkan anak itu, tapi kamu harus tau, suami dari Adik tercintamu itu melindungi wanita sialan yang sudah mencoba membunuhku” ucap Alex sembari menunjuk luka di dadanya yang masih basah bekas tembakan Dinda.
Kali ini Rey ikut marah dengan Ardan yang lagi-lagi mementingkan orang lain dari pada keluarganya sendiri.
TBC