
“Abaangg tangkap bolanya!”
“Siap!”
Mira menatap Aiden dan Arkan yang kini bermain bersama, hatinya menghangat saat dua orang yang tak ada hubungan darah itu bermain dengan akurnya.
Setelah mengetahui kondisi Arkan yang berbahaya, Ardan memutuskan untuk membawa anak itu ke kediaman mereka, dengan kehadiran Dinda tentu saja.
Mereka kembali hidup bersama, tapi bedanya kini Dinda tak lagi bersikap kasar pada Mira maupun Aiden, hal yang membuat Mira bahagia melihatnya.
Soal masa lalu Dinda dengan suaminya, Mira akan menutup buku lama mereka rapat-rapat, hanya akan ada Dinda sebagai adik suaminya dan Arkan keponakan yang sudah seperti anak mereka sendiri.
“Minum dulu susunya Bunda” Mira tersenyum pada Ardan yang kini duduk di sebelahnya dengan segelas susu yang masih mengepulkan asap.
Hubungan keduanya membaik setelah kesalahpahaman tentang Rey terpecahkan.
Saat ada yang bilang kita akan menuai kebaikan dari kebaikan yang kita tanam, Mira sangat menyetujuinya.
Kini kesabaran dan kejujuran Mira sudah berbuah memberikannya keluarga utuh yang diidam-idamkan anaknya, juga dirinya.
“Kamu gak kerja Mas?” tanya Mira setelah menghabiskan segelas susu yang Ardan buat tanpa mengalihkan atensinya pada anak-anak disana.
“Aku ambil cuti untuk beberapa hari ke depan” mendengar itu Mira langsung mengalihkan atensinya pada Ardan yang kini juga mengawasi putra-putra kecilnya.
“Kenapa cuti Mas? Aku akan baik-baik saja kok, kamu jangan khawatir” Ardan kembali menatap Mira dan membingkai wajah cantiknya, kini Ardan tertarik untuk mengerjai istrinya.
“GR kamu, aku memilih stay di rumah untuk istirahat kok” Mira mencebik, dengan kesal ia menghempaskan tangan itu, mengundang kekehan renyah meluncur bebas dari mulut Ardan.
“Eh, kamu kok jadi ngambek sih?”
“Bodo amat” jawab Mira sembari meninggalkan suaminya.
Pilihannya adalah dapur, Mira sekarang mudah sekali merasa lapar, bahkan belum ada satu jam ia menenggak habis segelas susu, perutnya kembali merasa lapar.
Saat kebingungan hendak memakan apa, sepasang tangan melingkari tubuhnya, tanpa menoleh Mira sudah tau siapa pelakunya.
“Lepas Mas, aku mau makan” ucap Mira dengan lirih saat Ardan mulai mengecupi bahunya.
“Aku cuti untuk memikirkan siasat melindungi kalian semua” bisik Ardan yang tak mau istrinya akan semakin kesal padanya.
Sedikit menoleh, karena jarak yang sangat dekat membuat bibir Mira tepat mendarat di pipi Ardan membuat keduanya tersenyum malu.
Emosi Mira memang selabil itu, mudah marah, lalu sedih, lalu dengan gampangnya jadi bahagia dalam kurun waktu yang sama.
Mengingat kejadian kemarin membuat Mira kembali cemas, ada seseorang yang menguntit mereka, bahkan melemparkan batu berisi ancaman.
Merasakan kecemasan itu Mira mengeratkan pelukan suaminya, ia takut sekali.
“Semuanya akan baik-baik saja” ucap Ardan menenangkan istrinya, meski ia juga tau kalimat itu tak akan berpengaruh apapun bagi Mira selama masalah ini belum selesai.
“Aku, hanya takut”
“Aku tau itu, itu sebabnya aku disini untuk membuatmu dan anak-anak aman, kamu percaya aku kan Mira?” wanita itu mengangguk, sejenak mereka saling tatap.
Ardan suka jika Mira ada di dalam mode penurut seperti ini, karena suasana cukup mendukung juga posisi mereka yang amat dekat membuat Ardan memajukan tubuhnya, mengikis jarak antara mereka.
Saat bibir merah itu sudah akan menyambut bibir lawannya, mereka terlonjak saat mendengar pekikan anak-anak ang tiba-tiba saja ada di dekat mereka.
“Ayah!!”
Ardan menggeram kesal, sementara Mira berusaha mati-matian menahan tawanya.
“Ya nak?” tanya Ardan dalam mode tenang.
Keduanya kembali terkejut saat ternyata bukan hanya anak-anak yang ada disana, melainkan Dinda yang juga melihat keromantisan mereka.
Merasa tak nyaman Mira mendorong Ardan untuk menjauh dan menampilkan senyum terbaik untuk menutupi kegugupannya.
“Kita mau main ke taman sama Mommy Dinda boleh?” pamit Arkan yang sudah mulai menerima kehadiran Dinda sebagai Mommy-nya.
“Boleh, tapi hati-hati ya?” anak itu mengangguk.
“Aiden ikut juga boleh kan Bunda?”
“Boleh sayang, tapi harus nurut sama Aunty Dinda ya”
“Iya”
Mira yang merasa di tatap seseorang segera menoleh, benar saja, ia bisa melihat Ardan menatapnya dengan wajah jahil.
“Kenapa?”
Ardan menggeleng sembari terkekeh, “Kamu mulai nakal ya?” alis Mira menukik bingung.
“Aku gak paham” mendengar itu Ardan berdecih kesal.
“Kamu nyuruh mereka semua pergi biar bisa berduaan sama aku kan?” tuduhnya pada sang istri.
“GR kamu, aku melakukan itu biar bisa istirahat kok” Ardan mencebik saat Mira membalikkan kata-katanya.
Merasa tak terima Ardan membuntuti istrinya yang kini berjalan ke lantai dua, letak kamar mereka melupakan keinginannya untuk makan.
“Jadi yakin nih cuma buat istirahat aja?” tanya Ardan saat melihat Mira berhasil merebahkan diri di ranjang keduanya.
“Iya” Ardan menghela nafas kesal, namun berjalan mendekat lalu merebahkan diri di ranjang mereka.
Mira terkikik lucu mengundang pandangan sebal suaminya.
Mereka terdiam, hingga lama-lama kantuk menyambut Mira.
Sebelum benar-benar hilang, Mira merasakan kecupan basah bersarang di keningnya, membuat lengkungan sempurna terukir di bibir tebalnya.
Matanya sedikit terbuka, dia bisa melihat Ardan yang berjalan mendekati pintu, ada rasa tak nyaman melihat itu, Mira tidak ingin di tinggalkan suaminya.
“Mas..”
Ardan menoleh, tapi ia tak mendekat, hanya tersenyum di ambang pintu.
Mira yang melihat itu bangun dari posisi rebahnya, sedikit mengucek mata, rasanya ingin meminta maaf karena telah mengerjai suaminya tadi.
Saat hendak bicara Ardan sudah terlebih dahulu menyelanya “Jaga dirimu dan anak-anak kita dengan baik ya Sayang”
Tunggu suaminya mau pergi kemana?
Belum juga menyuarakan keheranannya, Mira memekik saat melihat Ardan tertarik dalam lubangan hitam yang seperti menyedotnya masuk.
“Mas Ardan!!!” Mira terbangun dengan nafas ngos-ngosannya.
‘hanya mimpi’ batin Mira lega.
Dengan cepat ia menoleh ke samping, Ardan masih disana, tidur dengan wajah damainya tak terganggu dengan jeritan Mira sebelumnya.
Meski begitu, Mira belum bisa tenang karena mimpi buruknya, ia menempelkan jari telunjukknya di depan hidung Ardan untuk mengecek pernapasan suaminya.
Saat hembusan halus itu menerpa kulit jemarinya, Mira merasa sedikti lega.
Mimpi itu.
Membuat Mira merasa tak nyaman, rasanya takut sekali jika mimpi itu menjadi kenyataan.
Mira memeluk suaminya, menumpahkan segala ketakutannya disana, membuat Ardan terkejut dan membuka matanya perlahan.
“Mira?”
Wanita itu mendongak, rasa bersalah telah membangunkan suaminya menelusup di kalbunya, tapi ia hanya tersenyum getir.
“Maaf membangunkanmu, aku mimpi buruk, aku mimpi..” Ardan membungkan mulut istrinya dengan kecupan singkat.
Lalu Mira merasa sedikit nyaman saat Ardan mendekapnya, “Jangan diteruskan, tenang saja, itu hanya mimpi”
Mira sangat ingin membuat dirinya berpikiran sama dengan suaminya, tapi..
“Tenanglah Mira” ucap Ardan sembari mengusap pelan punggung istrinya.
Dan ya, kata itu berhasil membuat Mira sedikit tenang.
TBC