My Hubby

My Hubby
Chapter 37



“Bukan urusanmu!”


Sedikit terhenyak tapi Dinda memilih berjalan mendekati Ardan.


Keinginannya yang ingin bicara dengan Mira menguap begitu saja setelah mengetahui fakta ini.


“Kalau kamu butuh teman bicara aku dengan senang hati akan menemani” ucap Dinda dengan nada rendah setengah berbisik.


Ardan sedikit menjauh saat tangan Dinda sudah akan menjamahnya.


“Jangan melewati batas Din”


Merasa kecewa Dinda menelan ludahnya kasar, “Aku hanya ingin membuat kamu merasa nyaman Mas”


Ardan menoleh untuk menatap lawan bicaranya, “Aku diam bukan berarti aku nyaman dengan semua yang kamu lakukan Din, aku masih menghargai dirimu yang sudah kamu jual terlalu murah itu”


Saat Dinda diam menatapnya nelangsa Ardan berbalik, menghadap penuh wanita itu, “Ingatlah niat awalmu disini, untuk Arkan, bukan lagi untukku”


“Jangan membuat usaha Mira yang sudah berbaik hati menampung wanita sepertimu sia-sia hanya karena keserakahanmu” tambah Ardan yang langsung pergi setelah menandaskan kalimat pedas itu.


Dinda hanya bisa memandang Ardan dengan kecewa.


***


Pagi ini Mira merasa lebih buruk dari sebelumnya, pusing dan mual yang ia rasa terasa lebih berkali-kali lipat dari biasanya.


“Bundaaaa”


Tok tok tok


Mira menoleh ke arah pintu saat suara Aiden menggema memasuki pendengarannya.


Hal yang semakin membuat ia semakin pusing.


Tapi Mira tidak ingin membuat putra kecilnya khawatir, dengan tertatih Mira berjalan perlahan, dengan susah payah ia akhirnya mencapai daun pintu yang terkunci itu.


Mira memutar kunci lalu membuka pintu, menampakkan dua putranya yang sudah rapi.


“Bunda pucat!” pekik Arkan yang hanya dibalas senyuman hangat Mira.


“Bunda tidak apa-apa sayang”


“Bunda sakit!” pekik Aiden yang kini ikut-ikutan merasa khawatir akan kondisinya.


Mira semakin tak bisa mengontrol tubuhnya, hingga ia oleng dan bersandar pada pintu.


“Abang, panggil Ayah! Bunda mau pingsan” seru Arkan yang langsung diangguki Aiden seketika melesat untuk menjalankan perintah adiknya.


“Sabar Bunda, Adik akan jaga Bunda selama Abang cari bantuan ya?!” Mira tersenyum sembari mengangguk lemah.


Tak berapa lama berat Mira beralih, ia merasa melayang, saat membuka mata, hanya wajah dingin Ardan yang ia lihat.


‘Ah pria ini lagi’


Sekuat apapun Mira melayangkan ketidak sukaannya, tetap saja pria yang sudah menjadi suaminya ini yang menolongnya.


Tiba-tiba perutnya merasa sakit.


“Sakit Mas” keluhnya.


“Sebentar lagi kita akan kerumah sakit, tahan ya” tidak ada kemarahan disana, justru Mira menangkap ketakutan disana.


Dengan perlahan Ardan meletakkan Mira di sebelah kemudi, lalu ia berlari kecil memutari mobilnya.


Saat dalam perjalanan, Mira terbelalak saat melihat darah di lengan Ardan.


Sontak Mira menengok tubuhnya sendiri, darah itu berasal dari dirinya.


Merasa panik Mira mengguncang lengan Ardan, “Mas, bayiku”


“Dia tidak apa-apa Mira, percayalah”


“Selamatkan bayiku Mas” Ardan hanya memfokuskan dirinya untuk menyetir secepat yang ia bisa.


Pasalnya Ardan juga terkejut saat mendapati istrinya tergolek lemah di depan pintu dengan darah yang mengucur membasahi kaki wanita itu.


“Bertahan sayang” lirih Mira mengatakan itu sembari mengusap perutnya.


Cepatnya mobil yang berlaju tak sama sekali Mira hiraukan, seperti de javu, Mira pernah mengalami ini sebelumnya.


Bedanya perutnya saat ini masih rata, juga orang yang ada disampingnya.


“Hati-hati Mas” ucap Mira yang kembali teringat kejadian nahas itu.


Entah berapa lama Mira terpejam, kini ia merasa sedang melayang saat Ardan meggendongnya.


Tangan dingin Ardan selalu melingkupi tangan Mira saat wanita itu sudah di letakkan di atas brankar.


Sayup-sayup Mira menengok Ardan yang kini menatapnya intens sembari berjalan cepat.


“Bertahan Mira, kita sudah sampai rumah sakit” ucap Ardan lirih, tapi Mira masih bisa mendengarnya dengan jelas.


Brankar yang di dorong itu semakin membuat Mira merasa tenang, setidaknya ia akan mendapatkan pertolongan.


Hingga saat mereka sudah sampai di depan UGD, tangan Ardan terlepas begitu saja, dan pintu perawatan tertutup.


Ardan meremas rambutnya kasar, hatinya cemas tak karuan.


Tapi tak ada yang bisa Ardan lakukan selain berjalan mondar-mandir untuk menghilangkan kecemasannya setelah menyelesaikan administrasi Mira.


“Keluarga Nyonya Mira”


“Saya suaminya dok” dokter itu mengangguk dan mengarahkan Ardan untuk mengikutinya.


“Kandungan istri Anda melemah pak” ucap dokter itu sesaat setelah mereka berada di ruang dokter yang tak jauh dari ruang perawatan sebelumnya.


Jantung Ardan terasa di remas saat kalimat itu keluar dari mulut sang dokter.


“Tapi anda tenang dulu, memang kondisinya memburuk, tapi tidak menutup kemungkinan keadaannya membaik”


“Lakukan yang terbaik dokter” dokter muda itu mengangguk.


“Pasti pak, saya dan tim sudah memberikan penguat janin serta..” Ardan tidak lagi fokus mendengar penjelasan dokter itu, yang ada di pikirannya hanya keadaan Mira.


Setelah selesai dengan penjelasan dokter Ardan keluar dengan sebuah harapan bahwa semuanya akan baik-baik saja, tentang Mira, juga tentang bayi dalam kandungan istrinya.


Meski awalnya menolak mengakui anak itu darah dagingnya, Ardan tetap merasa memiliki bagian dari janin itu.


‘Itu hanya karena ia tumbuh di rahim istrimu’


Batin Ardan yang masih enggan mengakui feelingnya.


Wajah Ardan mengeras mengingat apa yang sudah Rey lakukan terhadap keluarga kecilnya.


Ardan menggeram meluapkan kekesalannya.


Pintu terbuka, menampilkan Mira yang sudah memejamkan mata dengan infus yang tertancap di tangannya.


Ardan membuntuti kemana paramedis itu membawa istrinya, yang ia tau Mira akan dipindahkan ke ruang rawat inap sesuai penjelasan dokter tadi, Ardan sudah mengurus semuanya.


Hingga Mira dibawa ke ruang VVIP rumah sakit ini.


Ardan menunduk kaku saat para medis yang mengantar istrinya tadi menyapanya sebelum keluar.


Laki-laki itu memilih duduk di sofa sembari tetap memandangi wajah damai Mira di depan sana.


Entah berapa lama ia termenung akhrirnya Mira membuka matanya, pria itu menangkap wajah gelisah istrinya.


“Bayiku Mas?”


“Dia baik-baik saja” bohong Ardan yang langsung di hadiahi helaan nafas lega dari Mira.


Mendapati wajah suaminya yang datar saja mengundang emosi Mira.


“Kamu pasti berharap dia tidak ada kan Mas?”


Ardan diam tidak ingin mengatakan apapun pada istrinya, hal itu semakin membuat Mira nelangsa saat secara tidak langsung Ardan membenarkan tuduhannya.


“Harusnya kamu tidak usah menyelamatkanku tadi”


“Dan membiarkan kamu mengangis karena kehilangan bayi itu, begitu Mira?” tanya Ardan yang semakin membuat ia terlihat tidak menginginkan bayi itu.


“Lebih baik seperti itu kan?! Aku tau kamu lebih menginginkan itu”


Ardan menghembuskan nafasnya kasar tidak ingin bertengkar dengan istrinya yang baru saja pulih.


“Jaga bicaramu Mira, kamu tidak lupa kan kalau ucapan seorang ibu itu adalah do’a?” ucap Ardan yang berusaha tenang menghadapi luapan amarah dari istrinya.


Tak lama setelah itu Mira menangis, Ardan hanya diam di tempatnya.


Mira mengusap perut datarnya, “Bunda tidak membencimu sayang, meski ayahmu tidak menerimamu, kamu masih punya Bunda dan dua Abang yang akan menyayangimu” ucapnya lirih sembari menatap tajam Ardan.


TBC