My Hubby

My Hubby
Chapter 52



Mira berjalan sedikit cepat, bahkan ia hampir saja berlari jika Siska tidak memeluk lengannya.


Tiga orang pria sudah menunggunya di luar rumah sakit, Mira semakin tidak sabar untuk segera sampai.


“Harusnya kamu tunggu di rumah saja Mira” ucap Rey yang membuat Mira menatapnya tak suka.


“Lalu membiarkan kalian semua menutupi yang terjadi padaku begitu?”


“Bukan begitu maksud Abang, Mira, udara malam sangat tidak baik untuk ibu hamil” Mira memejamkan matanya menahan tangis.


Mira sangat menyadari itu, tapi kabar tentang Ardan dan Dinda sangat ia nantikan, jika saja ia tidak sengaja mendengar pembicaraan Siska dan Daru, ia yakin semua orang tidak akan bicara apapun.


Menyadari adiknya yang sangat terpuruk Rey maju untuk memeluknya, tapi karena kesal Mira menghindar lalu memukulnya, bagi Rey pukulan itu tidak berarti apa-apa, hingga ia membiarkan Mira memukulinya.


Saat sudah lelah Mira berhenti sembari mengusap air mata, “Kalian semua menyembunyikan kabar tentang Mas Ardan, kenapa? Apa seburuk itu kondisi suamiku” tak mau adiknya semakin kalut Rey memeluknya.


“Semua akan baik-baik saja Mira” ucap Rey lirih.


Merasa dipermainkan Mira mendorong Rey, menatap Abangnya penuh amara “Tapi kenapa gak ada satupun dari kalian yang kasih tau aku, kenapa?!” raung Mira sembari menangis.


Tidak ada lagi yang bisa bersuara, semuanya diam sembari menatap sendu ibu hamil yang sedang menangis itu.


“Abang sudah janji, Abang janji akan kabari aku kalau sudah dapat kabar tentang Mas Ardan, lalu kenapa Abang gak menghubungi aku terlebih dahulu??” Rey bungkam, lalu Mira beralih pada Daru dan Papa mertuanya.


“Papa dan Daru juga sama, kenapa kalian gak kasih kabar apapun sama aku? Aku istri Mas Ardan aku wajib tau kan bagaimana kabar suamiku? Tapi kenapa kalian semua seperti itu?” keluhnya dengan masih tergugu.


“Gak ada yang berniat seperti itu Mira, Abang mau kasih tau kamu, Abang akan kasih tau kamu, tapi kondisinya sedang tidak memungkinkan” ucap Rey sembari berusaha menggapai Mira dalam pelukannya tapi wanita itu menolak.


“Aku sudah bilang kan Bang, aku mau tau kabar suamiku, aku khawatir, kenapa kalian gak ada yang mengerti perasaanku sih?!” sekali lagi Rey memeluk Mira kali ini Mira tak lagi menolak.


Rey mengusap rambut Mira dengan sayang, berharap bisa menenangkan adiknya sebelum ia menyampaikan kabar yang sama sekali tidak baik kondisi Mira yang sedang mengandung.


Merasa belum mempunyai kekuatan untuk bicara, Rey mengecup puncak kepala Mira, menarik nafas berkali-kali sebelum ia mengatakan “Dinda sudah meninggal dunia Mira”


Mira menjauhkan tubuhnya dari Rey, sekuat tenaga ia mengelak berita itu, saat Rey hendak mendekat Mira Mendorong tubuh Rey kembali menjauh, “Abang bohong kan?!”


Rey tidak ingin mengatakan ini, tapi Rey tidak ingin Adiknya bertambah nekat jika ia tidak mengatakan yang sebenarnya.


“Abang gak bohong Mira, Dinda dinyatakan meninggal dunia beberapa jam yang lalu”


Mira stuck, air matanya luruh, tubuhnya melemah, jika saja Rey tidak sigap Mira mungkin sudah terjatuh di tanah.


“Mira.. sadarlah..” tak ada jawaban, meski mata Mira masih terbuka tapi pandangannya kosong, hanya air matanya yang berjatuhan.


Rey membingkai wajah itu dengan perasaan yang campur aduk, ini adalah pertama kalinya Rey melihatadiknya terpuruk.


“Mira..” saat tetap tak ada jawaban, Rey menggendong tubuh itu masuk.


“Suster tolong!!”


Saat tubuh itu sudah di letakkan di atas brankar mata Mira sudah tertutup, Rey semakin panik dibuatnya.


“Apa yang terjadi, apa dia baik-baik saja?!”


“Tolong keluar dulu Pak kami akan melakukan tindakan” Rey hendak marah tapi badannya ditarik Andreas menjauh.


“Tenanglah, biarkan mereka melakukan pekerjaannya” Rey diam saja.


Siska menangis di pelukan Daru, sementara Rey dan Andreas hanya diam menunggu penjelasan dokter.


Saat dokter keluar Rey adalah orang pertama yang menghampirinya, “Bagaimana kondisi adik saya Dok?”


“Ini cukup buruk untuk kondisi ibu hamil pak, tekanan darahnya turun drastis, selain itu pasien juga diduga kurang cairan, tolong jangan membebani pikiran pasien terlebih dahulu, terutama jangan membuatnya shock” Rey diam.


Setelah ini bagaimana cara membuat Mira tetap tenang sementara keberadaan Ardan belum di ketahui.


“Terimakasih Dokter” ucap Andreas saat Dokter itu melaluinya.


Beban Rey semakin terasa berat, hingga remasan kecil di bahu menyadarkannya, “Yang kuat Nak, saat ini Mira hanya punya kita yang bisa menguatkannya” Rey mengangguk.


Siska masih menangis di pelukan suaminya, sedangkan Andreas hanya bisa menatap kepergian Rey, beban mereka hampir sama, ia juga kebingungan menyampaikan berita ini pada istrinya.


Ponsel Andreas sekali lagi berdering, Rini.


Andreas menghela nafas lalu mengangkat panggilan itu setelah sedikit menjauh dari Daru dan Siska.


“Halo Ma”


“Papa! Kenapa baru angkat telfon sih, Mira sudah sampai sana kan?”


“Iya” hanya itu yang bisa Andreas ucapkan.


“Lalu bagaimana kabar Mira Pa, gimana anak kita?” akhirnya Andreas mendengar pertanyaan itu, pertanyaan yang sulit ia jawab.


“Halo, Pa? Papa masih disana kan?”


“Iya” lirih Andreas.


“Pah, terjadi sesuatu yang buruk kan? Papa jangan bikin Mama khawatir dong, gimana Anak kita? Menantu Mama mana Pah?” cecar Rini.


Andreas sedikit menjauhkan ponsel untuk meredam isakannya.


“Benar kata Mira, kita orang rumah gak bakal tau kalau gak datang sendiri kesana”


“Jangan, kalau kamu kesini siapa yang menjaga Aiden dan Arkan?”


“Kalau gitu kasih tau dong, gimana kabar anak dan menantu kita?!”


“Mira sedang dalam perawatan dia pingsan, tekanan darahnya rendah sekali juga dehidrasi” ucap Andreas pada akhirnya setelah berkali-kali menghela nafas.


Tidak ada jawaban dari Rini, hal itu semakin membuat Andreas khawatir, “Halo Mah? Mama masih di sana kan?”


“Lalu gimana kabar anak kita Pah, apa yang membuat Mira sampai drop seperti itu?”


“Dinda dinyatakan meninggal dunia”


“Innalillahi, Pah anak kita Pah, gimana kondisi Ardan” ucap Rini yang sudah histeris.


“Ardan hanyut disungai Mah” Andreas bisa mendengar raungan istrinya diseberang sana, dirinya juga sama sedihnya dengan Rini, karena mau sebejat apapun Ardan ia tetap anak kandung Andreas satu-satunya.


“Mah, kita harus tenang, ada cucu dan menantu yang harus kita kuatkan mereka hanya punya kita Mah” meski berat akhirnya Rini mengangguk pelan.


“Ardan pasti selamat Pah”


“Iya kita doakan semoga Ardan selamat ya” setelah mendengar Rini sudah agak tenang, Andreas mengakhiri panggilan mereka.


Sementara di tempat lain..


“Apa ada perkembangan Rash?”


“Belum tuan, Tim-Sar dan beberapa tim tambahan masih dalam tahap pencarian” Rey menghembuskan nafasnya kasar.


Harapannya yang ingin menyampaikan berita baik untuk adiknya pupus begitu saja saat Ardan masih belum bisa ditemukan.


“Tolong kabari saya kalau ada perkembangan sekecil apapun”


“Baik tuan” saat panggilan terputus Rey menatap langit yang kali ini lebih banyak bertabur bintang.


“Mah Pah, apa yang harus Rey lakukan?” keluhnya saat mengingat kondisi Mira.


Kali ini air mata ikut terjatuh, Rey tidak sekuat itu untuk tidak menangis saat mengingat tatapan menyedihkan itu dari Mira.


‘Dosa siapa yang sedang kamu bayar Mira, tidak cukupkah selama ini kamu menderita?’


TBC