
Hening.
Dinda jatuh terduduk saat rumah megah itu telah diselimuti abu, Arkan putranya masih ada disana, teringat jelas perpisahan manis mereka beberapa jam lalu.
“Arkan!!” raung Dinda tak kalah histeris ditengah tangisnya.
Sedangkan Ardan, tiga nyawa yang berusaha ia lindungi sudah pergi, kemarahannya memuncak, ia berjalan cepat lalu menerjang Alex yang masih tersenyum puas melihat hasil karyanya di layar.
Bug!
Bug!
Bug!
Alex yang tidak terima berbalik menyerang Ardan hingga keduanya berada dalam pertarungan sengit.
Dinda masih dalam masa sedihnya meratapi kepergian putranya yang ia pikir mereka akan bisa bertemu kembali.
Tapi semuanya sirna karena ulah pria yang sedang memukuli Ardan dengan hebatnya.
Semua ini karena dia, semua masalah dalam hidupnya karena dia, orangtua dan anaknya meninggal karena dia, karena Alex!
Dengan tangan gemetar Dinda mulai membidik dengan mengumpulkan segala kebencian yang ada dalam dirinya pada Alex.
Dor!
Kedua pegulat itu menghentikan aksi mereka.
Bruk!
Alex terjatuh dengan luka di dada.
“Dinda?”
“Aku sudah membunuhnya, aku membunuhnya!” Dinda bergerak gelisah, lalu menjatuhkan pistolnya.
Ardan mendekat, meninggalkan Alex yang sudah bersimbah darah.
“Tenang Dinda..” panggil Ardan dengan lembut membuat Dinda mengalihkan atensinya, saat mata mereka bertemu, keduanya menangis.
“Arkan Mas, dia ada di rumah itu” ucapnya yang kembali teringat perihal pengeboman itu, Ardan memeluk Dinda seperti saat mereka masih kecil dan bertumbuh bersama seperti sepasang adik dan kakak.
“Aku tau..” jawab Ardan lirih, ia juga merasakan kehilangan yang sama, senyuman Aiden dan Mira kemarin tidak akan pernah ia dapatkan lagi di hari-hari berikutnya.
Ardan menengadah demi mencegah luruhnya air mata, namun air mata itu tetap jatuh.
Berusaha tetap tegar, Ardan membantu Dinda berdiri, “Kita harus pulang Dinda”
“Untuk apa aku kembali jika anakku sudah tidak ada lagi, kamu tau kan mas, tujuanku tetap hidup adalah Arkan, jika Arkan tidak ada lalu untuk apa aku hidup, lebih baik aku mati!”
Ardan menahan tangan Dinda yang hendak menggapai pistol, “Jangan gila, setidaknya kita harus pulang dan memastikan semuanya”
“Tapi mas..”
“Terserah saja jika kamu ingin tetap disini, kita juga tidak aman di tempat ini Dinda, anak buah Alex pasti mencurigai sesuatu saat tidak menerima perintah apapun dari bos mereka”
“Kita pulang”
Meski terseok-seok, Ardan mencoba menguatkan langkahnya, apapun yang terjadi ia harus melihat Mira dan Aiden meskipun..
Ardan menggeleng, kemungkinan istri dan anaknya selamat masih ada, mereka berjalan ke arah jalan raya, pondok Alex yang terletak di tengah hutan dan kondisi malam membuat mereka kesulitan mencari jalan keluar.
Alex perlahan membuka matanya, rasa sakit itu ia rasakan saat darah masih keluar dari dada kirinya, amarah itu muncul pada Dinda yang dengan berani menembaknya.
Alex berhasil mengelabuhi keduanya, luka tembak itu tak berdampak apapun pada Alex yang sudah terbiasa hidup dengan senjata.
Setelah membalut luka ia meraih pistol di laci meja lalu berjalan keluar, ia akan membunuh wanita itu apapun kondisinya.
“Lebih cepat Dinda, kita tidak punya banyak waktu”
“Rasanya kita sudah melewati jalan ini mas, apa kamu yakin ini jalan keluarnya?” Ardan buntu, rasanya memang mereka tersasar.
“Kita tidak bisa pulang dengan keadaan gelap gulita seperti ini”
Rasa lelah, sedih bercampur kecewa menjadi satu pada Ardan yang menatap sengit Dinda.
“Lalu kita harus apa? Kamu ingin tinggal disini?”
“Sudahlah Dinda, aku hanya ingin segera sampai rumah”
Mendengar kata rumah Dinda kembali sayu tapi tak ada yang bisa ia katakan mereka memang harus segera sampai rumah.
“Aishh..”
“Dinda?!” wanita itu sudah terduduk sembari meringis memegang kakinya yang mengeluarkan darah.
“Sakit sekali Mas” keluhnya, Ardan segera merobek lengan bajunya lalu membelitkan pada luka itu.
“Tahan ya, begitu sampai jalan raya kita akan ke rumah sakit” Dinda mengangguk.
“Cari mereka, cari sampai dapat!” keduanya saling tatap saat sayup-sayup suara itu menggema.
Ardan reflek membekap mulut Dinda dengan tangannya saat ia hendak bicara, mereka memilih meringkuk di balik semak belukar.
“Aku akan mendapatkanmu Dinda, luka ini akan segera kamu bayar!”
Masih dengan posisi yang sama Ardan mengeratkan bekapannya saat Dinda menangis ketakutan.
Ardan tak banyak bergerak karena Alex tepat berada di belakang mereka.
Mereka bisa bernafas lega saat Alex dan anak buahnya pergi, “Mas.. Alex masih hidup”
“Kita akan baik-baik saja, anak-anak juga Mira akan baik-baik saja, kuatkan hatimu Dinda kita harus keluar dari sini dengan selamat” sembari menangis Dinda mengangguk pelan.
Mereka berjalan memilih arah yang berlawanan, bukannya jalan keluar mereka semakin masuk ke dalam.
Tak jauh dari tempat mereka berdiri, ada suara gemericik air, mereka kembali saling tatap lalu melanjutkan langkah ke sumber suara.
Sebuah sungai besar.
Sedikit membersihkan diri dan melepas dahaga serta lelah, mereka duduk di antara bebatuan.
“Sepertinya tidak ada cara lain, kita akan menyusuri sungai” Dinda yang sudah tidak bisa lagi berpikir hanya mengiyakan.
Ardan menengadahkan kepalanya, ada bulan yang belum bulat sempurna di sana, bentuk yang hampir serupa dengan senyuman istrinya.
Ardan menyesal, mereka tidak berpamitan dengan benar sebelum ini, harusnya dia tidak meninggalkan Mira dengan menulis surat, harusnya ia bisa saling memeluk dan menguatkan sebelum pergi dalam misi ini.
Tapi semuanya sudah terlambat, entah Mira atau dirinya yang akan pergi meninggalkan pasangan mereka.
Ardan menitihkan air matanya, takdir mereka tidak seindah yang ia rancang saat menawarkan pernikahan dengan Mira.
***
“Mira!!”
“Aiden!!”
Rini terduduk di depan puing-puing menghitam itu.
Begitu mendapat kabar rumah putranya Rini memaksa Andreas untuk segera mengecek keadaan anak menantunya.
Beberapa pihak kepolisian berlalu lalang, juga pemadam kebakaran semakin membuat kondisi malam itu semakin ramai.
Api masih saja berkobar untuk memakan puing-puing yang masih tersisa.
Rini menangis sesenggukan menangisi nasib anak menantu serta cucu mereka, belum ada yang bisa memastikan berapa korban jiwa dari kejadian itu.
“Mah, tenanglah..”
“Gimana Mama bisa tenang Pa, lihat api itu, lihat! Anak, menantu dan cucu kita disana Pa” keluhnya membuat Andreas semakin tak tega dan memeluk sang istri.
“Papa tau..” lirih Andreas sembari menatap merahnya api yang masih menyala, melalap habis apa yang ada di dalam sana.
Sebagai laki-laki Andreas tidak bisa menahan tangisnya, masih teringat jelas bagaimana senangnya saat mengetahui kehadiran Aiden, cucu mereka.
Masih teringat jelas pernikahan sang Putra dengan wanita pujaannya, juga rona bahagia keluarga kecil Ardan beberapa hari lalu.
Harapan mereka untuk menua dengan bahagia bersama anak cucu di rampas tiba-tiba.
TBC