
Mira terbangun saat waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, dengan buku harian Ardan yang masih ada di pangkuannya.
jajaran tulisan itu hanya tentang dirinya, dan Mira tidak pernah menyangka Ardan bisa menyimpan perasaannya dengan sangat baik.
Perlahan Mira meraba tulisan tangan Ardan, Mira sedih harus mengetahui semua ini di kondisi Ardan yang tidak ada di sisinya.
“Apa?! Kenapa dihentikan?!” sayup-sayup suara itu memenuhi pendengaran Mira.
Seketika wanita hamil itu bangkit mendengar suara Papa mertuanya yang tidak biasa, “Cuaca buruk Om, semua Tim dilarang melakukan pencarian dengan alasan keselamatan” samar-samar suara itu membuat gerakan Mira yang memegang handle pintu terhenti.
‘Apa yang dihentikan?!’
Perlahan Mira memberanikan diri untuk keluar, pemandangan di hadapannya tidak sesuai harapannya, tatapan frustasi kedua mertua dan abangnya membuat kesimpulan Mira mengerucut pada satu hal.
“Apa yang dihentikan? Kalian sedang membicarakan apa?” cecar Mira sembari menahan tangis.
Tidak ada yang mampu menjawab pertanyaan itu.
“Apa?!” bentaknya tak sabaran.
Mira bukan orang yang pemarah, tapi situasi dan kondisinya saat ini sangat tidak memungkinkan.
Rey berdiri dan menghampiri Mira tapi wanita itu malah menjauh, “Aku gak butuh kata-kata apapun Bang, aku mau Abang jujur tentang apa yang kalian bicarakan” Rey menghela nafasnya.
“Ardan..”
Satu nama itu sudah membuat Mira kehabisan nafasnya, air mata yang bergumul dipelupuk mata siap meluruh sewaktu-waktu.
“Mas Ardan kenapa?!”
“Pencarian Ardan dihentikan” lanjut Rey setelah berkali-kali meyakinkan diri untuk bicara.
Mira menggeleng selaras dengan air mata yang luruh, keseimbangannya goyah namun Rey dengan sigap menangkapnya.
“Nggak Bang, mereka gak bisa menghentikan pencarian, jangan” serunya disela isakan yang semakin menjadi.
“Mira..”
Dia tidak siap menerima kabar buruk ini.
Rey menepuk pelan pipi Mira, kesedihan Mira adalah duka terdalam Rey yang belum bisa membawakan kebahagiaan di hidup adiknya.
“Abang akan menemukannya, untuk kamu Abang akan bawa Ardan dihadapan kamu Mira, jangan seperti ini” mohon Rey setengah putus asa, mendengar itu Mira mendapatkan separuh kesadarannya.
“Aku mau kesana, aku mau ke tempat suamiku dinyatakan hilang, mungkin saja Mas Ardan menunggu aku menjemputnya, Bang tolong antar aku kesana” ucap Mira setengah memohon, melihat kondisi Mira juga alasan penghentian pencarian itu Rey tidak bisa mengambil resiko lebih besar dari ini.
“Biar Abang yang kesana, kamu cukup disini, makan dan istirahat yang cukup, sambut suamimu dengan kondisi yang baik, Ardan akan sedih saat melihatmu kacau seperti ini, hmm?” Mira semakin menangis, permintaannya ditolak.
Tapi ia juga tidak bisa berbuat apapun, saat merasa semua tidak ada gunanya tanpa sengaja Mira bersitatap dengan Aiden.
Wajah anak itu murung, oh Mira baru ingat sudah beberapa hari Mira mengabaikan putranya.
Sadar arah pandangan Mira, Rey bergerak mundur memberikan ruang bagi ibu dan anak itu, Mira merentangkan tangannya pada Aiden yang langsung berlari ke pelukan bundanya.
Pelukan itu mampu membuat Mira sedikit tenang, meski gelisah itu masih menggelayuti hatinya.
“Bunda jangan sedih terus, Ayah pasti ketemu Bunda” mendengar itu Mira kembali menangis, saat harusnya ia yang menenangkan Aiden tapi kini malah sebaliknya.
Mira merenggangkan pelukan mereka, menangkup wajah kecil Aiden lalu mengecup setiap inci wajahnya sebagai bentuk rasa bersalahnya.
“Maaf Bunda gak pernah main sama Aiden” tangan kecil itu terulur menghapus air mata bundanya membuat Mira semakin terenyuh dan mengecup tangan itu dengan lembut lalu kembali memeluknya sembari menatap Rey yang berdiri tak jauh dari mereka.
“Bawa suami Mira pulang Bang” Rey mengangguk mantap.
Mira duduk di depan teras menunggu kedatangan Rey, hal yang selalu ia lakukan demi mengetahui kabar terbaru seputar Ardan.
Pintu gerbang terbuka ada beberapa orang membawa karangan bunga, Mira tak terganggu dengan itu, fokusnya hanya Rey tapi pria itu tak kunjung datang.
Bahkan saat orang-orang itu merakit karangan bunga Mira tak memperdulikannya hingga saat semuanya sudah jadi Mira stuck di tempatnya.
“Turut berduka cita atas meninggalnya Ardan” amarah yang terpendam menguar seketika.
“Pak, apa maksudnya ini suami saya belum meninggal!!” dua orang itu hanya saling tatap, lalu salah satu dari mereka berkata.
“Kami hanya menjalankan tugas nyonya” Mira tidak terima, dia berjalan maju bersiap untuk merusak karangan bunga itu.
Tingkah brutal itu tak mampu dicegah siapapun termasuk dua orang itu hingga kegaduhan terdengar sampai ke dalam rumah membuat Rini dan Andreas yang bersimbah air mata berlari menghentikan menantu mereka.
“Mira, ya ampun, jangan seperti ini nak” ucapan rini tidak Mira gubris yang masih asik mengahncurkan karangan bunga itu.
“Mas Ardan masih hidup Ma, dia belum meninggal” ucap Mira yang tidak terima.
Rini menyerah, rasa sedih itu membuatnya tak berdaya, hingga Andreas maju untuk merangkul menantunya.
Gerakan itu terhenti, bukan karena Andreas tapi karena Mira yang lelah, tubuhnya luruh beriringan dengan tangis.
“Nggak mungkin, Mas Ardan gak mungkin tinggalin aku dan anak-anak Pa” adunya, Andreas hanya mampu mengangguk sembari membopong Mira ke dalam rumah.
Saat sudah mencapai ruang tamu, Rini bergerak memeluk menantunya, mengusap lengan yang masih berguncang itu dengan sayang.
“Sabar sayang, kamu harus kuat” kalimat itu tak sepenuhnya Mira dengar, jiwanya melayang bersama dengan kabar itu.
Di tempat lain..
“Rash kamu cari disebelah sana, aku akan menyusuri sungai” ucap Rey sembari memasang pelampung di badannya, tahu Rasha yang tidak bergerak membuat Rey menatap asistennya marah.
“Kenapa kamu diam saja Rash?! Kamu tidak mau membantuku?”
“Tuan..” satu kata itu membuat Rey paham, ia mengangguk lalu berjalan ke arah sungai.
“Pergilah aku akan mencari Ardan seorang diri” dari kejauhan Daru berlari mendekat saat melihat sikap nekat Rey.
Daru baru mengetahui kabar mengenai Ardan langsung tancap gas ke TKP hingga saat ia sampai semua sesuai dengan dugaannya.
“Rey!” mendengar itu membuat Rey tetap melangkah maju, tidak ada yang bisa menghentikannya.
“Berhenti Rey!” cegahnya yang sudah sangat dekat dengan sungai.
“Lepas!”
“Jangan gila Rey, saat ini Mira hanya punya kamu dan Aiden” mendengar itu Rey yang tadinya kuat tak mampu tangis.
Rey merasa gagal memenuhi janjinya pada Mira.
Tubuh tegap itu melunglai hingga menyentuh tanah, tatapannya tertuju pada sungai yang masih berarus deras, tempat dimana cinta adiknya dinyatakan hilang.
“Aku sudah berjanji untuk membawa Ardan kembali, bagaimana aku akan bertemu dengan Mira setelah ini?” keluhnya yang tidak bisa Daru jawab, ia juga sama sedihnya dengan Rey walau bagaimanapun hal yang menyangkut Mira selalu menjadi urusannya.
“Ayo kembali, Mira pasti akan mengerti ini hanya soal waktu Rey” ingin sekali Rey meyakini itu tapi rasanya sulit.
Rey sangat mengharapkan itu terjadi, tapi ia tau setelah ini semuanya akan berbeda.
TBC