My Hubby

My Hubby
Chapter 38



“Aku ingin bertemu Bang Rey” Ardan menghentikan kegiatannya saat kalimat itu meluncur bebas dari mulut sang istri.


Mereka saling tatap dengan aura permusuhan.


“Aku yakin kamu tidak lupa apa yang sudah aku larang” ucap Ardan datar.


Wajah Mira berubah sedih, dalam semua kondisi buruk ini ia pikir bertemu dengan Rey dan meminta penjelasan dari pria itu adalah hal yang baik.


Mira yakin Rey tidak sejahat itu untuk menjamah tubuhnya tanpa sepengetahuan Mira.


“Jangan terlalu banyak berpikir Mira”


Dengan marah Mira menghentakkan selimutnya “Aku tidak butuh nasehatmu, aku hanya ingin Bang Rey!” sentaknya lalu beralih membelakangi Ardan sembari menangis.


Ardan meraup wajahnya kasar, saat ini ia tidak boleh termakan emosi, melihat istrinya dengan tatapan kosong setelah keinginannya bertemu pria brengsek itu di larang, membuat Ardan juga kepikiran.


Apalagi bahu bergetar Mira yang bisa dengan jelas Ardan lihat dengan mata kepalanya.


Perlahan Ardan memilih bangkit, lalu memeluk tubuh itu yang seketika menegang.


“Maaf Mira, aku minta maaf” mendengar itu Mira berbalik menghadap suaminya.


“Aku tidak butuh itu” ucap Mira dengan suara serak.


“Aku akan kabulkan apapun permintaanmu, apapun, asal jangan bertemu pria itu” lagi-lagi Mira menangis.


“Aku hanya ingin bertemu Bang Rey”


“Aku tidak akan mengabulkan itu”


Merasa frustasi Mira menatap sengit suaminya “Bisa kasih aku satu alasan kenapa kamu sangat tidak ingin aku bertemu dengan Bang Rey?”


“Aku..”


“Kenapa?!”


“Aku cemburu” ucap Ardan yang kini memilih memandang langit yang putih di luar sana, meninggalkan Mira yang terhenyak karena pernyataannya.


“Tapi aku butuh mengkonfirmasi sesuatu, aku yakin Bang Rey tidak melakukan hal hina seperti tuduhanmu” ucap Mira lirih.


“Aku sudah bilang aku tetap menerimamu, aku sudah melupakan kejadian itu”


“Tapi kamu tetap berpikir bayi ini bukan anakmu, dan itu cukup mengusik ketenanganku” sanggah Mira yang seketika membuat Ardan terdiam.


Rasa kepemilikan pada bayi itu sungguh ada, apalagi saat dokter menyampaikan kabar buruk hatinya ikut sakit.


“Aku..” Mira melepas belitan Ardan padanya saat kembali menemukan tatapan ragu dari suaminya.


“Sudahlah Mas, aku ingin tidur, kamu bisa keluar? Aku tidak ingin melihatmu” setelah mengatakan itu Mira kembali memunggungi Ardan yang masih diam di belakangnya.


Dengan ragu Ardan memilih menuruti keinginan istrinya.


Tepat saat pintu tertutup Ardan bersandar pada tembok sembari tetap menatapi pintu yang tertutup di depan sana.


Pikiran Ardan berkecamuk.


Hari itu adalah hari yang paling Ardan sesali, seandainya Ardan tidak meninggalkan Mira begitu saja, pasti masalah ini tak akan terjadi.


Ingin sekali rasanya Ardan membunuh Rey saat itu juga, tapi dia tidak melakukannya.


Selalu ada wajah teduh nan polos Aiden yang langsung terpampang di depan matanya saat amarah itu siap meledak.


Ardan jelas tidak ingin anaknya di labeli anak pembunuh semisal Ardan benar-benar melakukan niatnya.


Merasa kesal Ardan menonjok tembok sebagai bentuk kekesalannya.


Sadar tak merubah apapun Ardan memilih pergi.


Mungkin mereka butuh waktu untuk merenung, pikir Ardan.


Sedangkan di dalam kamar Mira meraih ponselnya, jemarinya dengan lancar menuliskan serangkaian angka.


“Abang..” serunya begitu panggilan itu diterima.


***


Ardan langsung melihat Arkan dan Aiden yang duduk di depan rumah dengan bergandengan tangan.


Penampakan yang begitu menyejukkan hatinya.


Seketika Ardan lupa dengan masalahnya.


“Halo anak-anak?!”


“Ayah!!!”


Ardan merentangkan tangannya saat kedua anak itu berlarian ke arahnya.


“Ayah bagaimana keadaan Bunda?” tanya Aiden memburu.


“Bunda baik-baik saja”


“Lalu bagaimana dengan keadaan Adik Yah?” kini Ardan berganti menatap Arkan yang juga memiliki kekhawatiran yang sama dengan sang Abang.


Ardan tak langsung menjawabnya, jantungnya kembali berdegub kencang.


“Ayah...” seru Aiden tak sabar saat mendapati Ardan diam.


“Dia juga baik” ucap Ardan sendu.


Dapat Ardan lihat bahwa keduanya menghela nafas lega bersama.


“Loh Mas, sudah pulang?” mereka semua terdiam dan hanya menatap Dinda tanpa minat.


Dinda menghela nafas saat pertanyaannya tak kunjung dijawab oleh Ardan yang justru berjalan keluar, diikuti oleh dua anak kecil dibelakangnya.


“Bagaimana keadaan Mbak Mira dan bayinya?” tanya Dinda lagi saat hanya ada mereka berdua di dapur.


Dua anak itu memilih pergi ke kamar bermain saat tau Dinda membuntuti Ardan.


“Untuk apa kamu tau?” tanya Ardan sembari menuangkan segelas air putih ke dalam gelas.


“Aku hanya bertanya”


Ardan menggeram sembari menggenggam erat gelas yang ada di tangannya.


“Mereka baik-baik saja”


Wajah Dinda berubah menjadi sendu, menyadari perubahan mimik wajah wanita di hadapannya, Ardan tersenyum mengejek.


“Kamu pasti sedih kan tidak ada hal buruk yang terjadi diantara Mira dan bayi itu?” tuduh Ardan pada wanita yang kini menatapnya.


“Aku hanya bertanya, sebagai sesama ibu aku memiliki rasa empati yang besar pada Ibu yang sedang mengandung seperti Mbak Mira”


Ardan tertawa, “Aku tau itu semua hanya bualanmu saja”


“Apa sudah seburuk itu aku dimatamu?”


“IYA!!!” ucap Ardan sedikit keras.


Dinda memejamkan kedua matanya, lalu perlahan terbuka menatap Ardan yang menatapnya marah.


“Dengar ini Dinda, kalau bukan karena Mira aku tidak ingin kamu berada di sini, aku masih membencimu, dan jangan harap aku bisa memaafkan kesalahanmu”


Mendengar itu mata Dinda berkaca-kaca, Ardan yang merasa muak memilih pergi sebelum tangannya di cekal Dinda.


Ardan menghentakkan tangannya, membuat tubuh Dinda yang lebih kecil darinya sedikit terpelanting meski tak sampai jatuh.


“Aku melakukan itu semua karena aku mencintaimu Mas, tidak bisakah kamu memahami situasiku?”


“Kamu mencintaiku?” Dinda mengangguk.


“Tapi aku mencintai Mira” mendengar itu Air mata Dinda berjatuhan.


“Kesalahan terbesarmu adalah merusak hubunganku dengan Mira bahkan sebelum aku memulainya, dan aku tidak bisa menerima itu”


Setelah mengatakan itu Ardan beranjak pergi, meninggalkan Dinda yang sudah menangis.


Hari sudah menjelang sore, Ardan yang sudah sempat tertidur berniat akan kembali ke rumah sakit.


Perasaannya sedikit membaik setelah bangun dari tidur.


Setelah selesai bersiap Ardan berjalan keluar kamar dan ia dikejutkan oleh keberadaan dua putranya yang sudah berdiri di depan pintu.


“Ayah kami ingin ikut menjaga Bunda” pinta Aiden seolah mengerhit keheranan Ardan yang melihat mereka berdua.


Gelengan Ardan dihadiahi wajah cemberut keduanya.


“Dirumah sakit itu banyak penyakit, kalau kalian ikut dan terjangkit bagaimana?”


“Ayo dong Yah, kita kan ingin membantu Ayah dengan menjaga Bunda disana” ucap Arkan setengah membujuk.


Ardan terkekeh di tempatnya, rasanya mereka hanya akan merecoki saja malah membuat ia dan Mira semakin kerepotan.


“Bener kata Adik Yah, kita boleh ikut kan?” Tanya Aiden yang juga berusaha merayu Ayahnya.


Ardan mengamati wajah melas keduanya, rasanya tidak buruk jika mereka berdua ikut, mungkin dengan begitu Mira akan melupakan keinginannya bertemu dengan pria brengsek itu.


“Baiklah”


“Yeeeyyy!!!!!”


TBC