
Mira dan Ardan berjalan memasuki rumah megah yang sudah di tempeli bendera kuning itu, raungan Dinda terdengar bahkan sejak mereka bertiga baru saja sampai di perumahan megah milik orang tua Dinda.
Mira sedikit memelankan langkahnya saat merasakan langkah kaki Arkan yang meragu untuk segera masuk dan bertemu mommy-nya.
“Kenapa Arkan?” anak itu mendongak ke arah Mira, bisa wanita itu lihatraut takut di wajah kecilnya.
“Bunda, apa Mommy akan memisahkan kita lagi seperti dulu?” Mira kembali tersenyum, ternyata itulah kekhawatiran sang putra.
“Tidak akan, tadi Bunda sudah janji, Ayah juga sudah bilang kalau kita akan tetap pulang bertiga, Arkan jangan khawatir ya sayang” Arkan hanya menangguk, langkah mereka semakin mendekat seiring dengan tangisan Dinda yang semakin jelas terdengar di telinga ketiganya.
“Assalamu’alaikum” ucap ketiganya mebuat mereka menjadi pusat perhatian semua orang yang ada disana.
Mira dengan dress putihnya, Ardan dan Arkan yang memakai kemeja warna senada.
Arkan menengok ke arah Mira saat Dinda mulai berjalan mendekat ke arah mereka, Mira mengangguk sembari tersenyum menguatkan Arkan yang terlihat sangat ketakutan dengan keadaan kacau Dinda.
“Anakku..” ucap Dinda lirih, sembari memeluk erat Arkan yang masih diam saja di samping Mira.
“Kembali sama Mommy Nak, Mommy sendirian, Mommy hanya punya kamu” racau wanita itu sembari merengkuh tubuh Arkan yang terpaku melihat aksi Mommynya.
Mira sudah menangis dalam pelukan Ardan, wanita hamil itu tak sanggup melihat kesedihan Dinda.
Hal yang mengejutkan terjadi saat Arkan mengusap sayang punggung Dinda.
Merasa ada respon positif dari anaknya Dinda merenggangkan pelukan mereka, “Anak Mommy” ucap Dinda di sela tangisnya.
Dinda kembali pingsan hingga membuat Arkan hampir terjatuh, setelah pelukan itu terlepas, Arkan kembali di sisi Mira.
“Mommy kenapa Bunda?”
“Mommy kecapean Arkan, nanti kalau Mommy bangun Arkan hibur Mommy ya?” dengan patuh anak itu mengangguk.
Jenazah kedua orang tua Dinda sudah di makam kan tadi pagi setelah proses evakuasi semalaman penuh.
Ardan masih setia mendampingi istrinya, memang harusnya ia membantu para kerabat Dinda membopong wanita itu saat ia kembali pingsan.
Tapi Ardan tidak melakukannya, disini Mira adalah prioritasnya, jadi ia tidak akan melakukan apapun selain menjaga Mira dan calon anak mereka dalam situasi yang aman dan kondusif.
“Ardan, Dinda ingin bicara dengamu” ucap salah satu paman Dinda tepat saat Ardan selesai mendoakan jenazah mantan mertuanya, tidak langsung berdiri Ardan justru menatap istrinya meminta persetujuan.
Meski Mira sudah mengangguk, Ardan tidak serta merta beralih dari posisinya.
“Ikut Mas” titahnya pada Mira.
“Aku disini saja Mas, pasti Dinda ingin bicara berdua dengan kamu lagian aku harus menemani Arkan disini” jawab Mira dihadiahi tatapan tak suka dari suaminya.
Rini yang mengetahui kondisi buruk anak dan menantunya segera mendekat.
“Ikutlah dengan Ardan Mira, tidak baik jika Ardan dan Dinda ada dalam satu ruangan, kamu adalah istrinya Ardan, kamu berhak mengikuti Ardan kemanapun ia berada, biar Arkan bersama Mama” mau tak mau Mira mengangguk.
Sesungguhnya Mira tak berpikir sejauh itu, ia cukup percaya dengan Ardan, juga suasana duka yang mashi sangat kental disini sangat tidak memungkinkan jika Dinda memanfatkan kondisi.
Ardan menggandeng tangan istrinya, menuntunnya dengan pelan, keadaan Mira yang sempat dinyatakan buruk membuatnya menjadi suami siaga tiba-tiba.
Pintu itu terbuka, menampakkan Dinda yang kini bersandar di headboard dengan tatapan kosongnya.
Dinda mengalihkan pandangannya saat menyadari ada seseorang yang sedang ia tunggu kehadirannya.
“Mas...” ucap Dinda yang kembali menumpahkan air matanya.
Hanya itu yang bisa Dinda lakukan, untuk memeluk Ardan rasanya Dinda mashi memiliki rasa segan karena istri dari pria itu ada di sini.
Ardan tak menghiraukan Dinda, dirinya justru sibuk menarik kursi rias Dinda, meletakkannya di sebelah ranjang Dinda.
“Duduklah, kamu pasti kelelahan kan?” perintah Ardan sembari mendudukkan istrinya tanpa peduli tatapan iri Dinda pada istrinya.
“Turut berduka cita ya Dinda, mbak ikut sedih dengan apa yang terjadi, semoga almarhum dam almarhumah di terima di tempat terbaik di sisinya” ucap Mira sembari menggenggam tangan Dinda yang kembali menangis.
Merasa tak tega Mira memilih bangkit dan memeluk Dinda yang masih tergugu dalam tangisan pilunya.
Mira pernah merasakan ini, Mira pernah ada di posisi saat Ibu, satu-satunya orang tua yang Mira punya berpulang pada Yang Maha Esa.
Melihat kondisi Dinda yang masih belum bisa berhenti menangis membuat Mira bisa merasakan kesedihan yang sama, terlebih Mira sudah pernah ada di posisi Dinda.
Tak lama setelah itu, saat Dinda sudah merasa tenang, ia merenggangkan pelukannya dengan Mira, wanita yang ia benci setengah mati kini ada di sampingnya menenangkannya.
“Terimakasih Mbak” Mira hanya mengangguk.
“Duduklah Mira jangan terlalu banyak berdiri kamu baru keluar dari rumah sakit” putus Ardan kembali menunjukkan sisi perhatiannya pada sang istri, membuat dua hati yang ada disana bergetar.
Mira yang merasa terharu, sedangkan Dinda hanya bisa menelan rasa iri itu untuk dirinya
Setelah semuanya sudah lebih kondusif, Ardan menatap Dinda yang sejak tadi curi-curimenatapnya.
“Ada apa Dinda?”
Ditanya seperti itu membuat tangisan Dinda muncul begitu saja.
“Tolong aku, ayah kandung Arkan kini sedang mengincar Arkan, aku tidak ingin kehilangan anakku Mas” ucap Dinda dengan berderai air mata.
Mendengar itu Mira tidak bisa untuk tidak merasa cemas, Arkan sudah ia anggap seperti anak kandungnya, juga Aiden yang pasti akan sangat kehilangan jika terjadi sesuatu pada anak berusia lima tahun itu.
“Lakukan sesuatu Mas” pinta Mira yang kini juga memohon pada Ardan.
Ardan menatap wajah pucat istrinya, entah apa yang akan Mira lakukan jika ia tau sebagian besar deritanya selama ini ada Dinda yang turut andil sebagai penyebab semua yang terjadi diantara mereka saat ini.
Bruk
Pandangan Ardan beralih pada Dinda yang bersimpuh di hadapannya, terlalu terkejut Mira hanya bisa menutup mulutnya.
“Mas aku tau kesalahanku sangat banyak kepadamu, kepada Mbak Mira, aku minta maaf, aku tidak ingin berpisah kembali dengan putraku, aku berjuang untuk hidup hanya untuk bisa hidup dengan tentram dengan Arkan, aku tidak akan mengganggu kamu dan Mbak Mira lagi, Aku janji, tolong”
Merasa tak tega Mira berjongkok dan membantu Dinda untuk berdiri, “Jangan seperti ini Dinda” ucapan itu hanya dihadiahi gelengan putus asa Dinda.
Dinda sudah tidak memiliki siapapun yang bisa diandalkan, semua kerabatnya sudah angkat tangan sejak tau penyebab kematian kedua orang tua Dinda.
“Aku akan melindungi Arkan apapun yang terjadi” dua wanita itu menatap Ardan yang kini sudah beranjak keluar.
TBC