My Hubby

My Hubby
Chapter 28



Mereka duduk bertiga di ruang tamu sibuk dengan pikiran mereka sendiri-sendiri.


“Jadi kamu sudah menikah dengan Mbak Mira, Mas?” Ardan mengangguk.


Kini Dinda menatap Mira setengah mengejek.


“Aku tidak menyangka Mbak yang akan menjadi istri Mas Ardan setelah aku”


“Dinda!”


Mira yang terbangun dari lamunan menatap Dinda yang terlihat meremehkannya.


“Aku lebih bahagia saat tau kamu ternyata selamat dari kecelakaan itu”


Dinda terhenyak saat kalimat pedasnya di balas rasa syukur Mira atas keselamatannya.


“Dinda....!!”


“Mama, Papa!” mereka bertiga berpelukan untuk melepas rindu.


Tepat di belakang sepasang lansia itu, Mira bangkit dan menyalami kedua mertuanya.


“Mama bahagia sekali ternyata kamu masih hidup Nak!”


“Dinda juga senang Ma”


“Kenapa kamu tidak datang ke rumah dulu?” tanya Papa Dinda membuat wanita itu menatap Ardan dengan ragu.


“Dinda ingin menemui Arkan, Dinda yakin anak Dinda ada pada suami Dinda, makanya Dinda datang kemari”


“Mantan suami” koreksi Ardan mengundang tatapan tak suka mantan mertuanya padanya.


“Aku tidak menerima gugatan itu, dan kamu masih sah sebagai suamiku” jelas Dinda, nafas Mira tercekat sebelum tangannya di genggam Rini sebagai bentuk suportnya pada sang menantu.


“Kalau kamu lupa aku sudah menalakmu sebelum kecelakaan itu terjadi, talak tiga sekaligus” ucap Ardan yang membuat semua orang yang ada di sana terkejut.


“Aku tidak menerimanya Mas, kamu tidak bisa mencampakkanku begitu saja!” ucap Dinda tak terima.


“Tentu saja bisa!”


“Ardan, tante mohon, tolong pertimbangkan lagi, anak tante baru saja pulang setelah berbagai hal menyakitkan yang terlah dialaminya setelah kecelakaan itu”


“Maaf tidak bisa, Ardan sudah memiliki istri saat ini” potong Rini tidak mau anaknya kembali terhasut oleh teman lamanya.


Baik Mira dan Ardan kembali terkejut saat Dinda bersimpuh di hadapan kaki Ardan.


“Maafin aku Mas, aku cinta kamu, Maafin aku”


“Kamu sudah melakukan hal yang sangat fatal, dan aku belum bisa memaafkannya, permisi” ucap Ardan lalu berlalu pergi.


Namun setelah beberapa langkah, Ardan berhenti dan berbalik ke arah Dinda dan semua orang yang masih duduk di sana.


“Oh ya, satu lagi, kamu ingin bertemu dengan Arkan kan? dia ada di atas, jika kamu ingin membawanya pergi silahkan, tugasku sebagai walinya telah selesai saat kamu sudah kembali” tambahnya kembali menyayat hati Dinda, juga Mira yang sudah menyayangi Arkan sebagai putranya sendiri.


Merasa tak setuju dengan keputusan suaminya, Mira menyusul Ardan ke kamar mereka.


“Mas kamu apa-apaan sih?”


“Apanya?”


“Jangan memberikan Arkan begitu saja Mas, dia masih terlalu kecil untuk memahami masalah orang dewasa”


Ardan menghela nafas lalu berbalik menghadap Mira, “Biarkan saja, mereka lebih berhak atas Arkan daripada kita”


“Ya aku tau itu! Tapi tidak dengan cara seperti ini Mas, apalagi Arkan yang sudah terbiasa dengan kita, kamu tidak kasian dengan anak itu?”


Ardan menunduk, “Semuanya butuh proses Mas, tidak seperti ini, bagaimana jika Dinda benar-benar membawa Arkan malam ini juga?”


“Ayah! Bunda!”


Keduanya di kejutkan dengan suara Aiden yang memburu, lengkap dengan gedoran pintu yang tidak biasa.


“Ya Aiden?”


“Bunda, tolong adik, ada orang asing yang ingin membawanya” ucap Aiden ngos-ngosan.


Mira berlari turun, diikuti Aiden dan Ardan di belakangnya.


Ruang tengah sudah kosong, berbeda dengan halaman depan yang terdengar teriakan Arkan memanggil nama Bunda, dan Ayahnya bergantian.


“Bundaaa!!!! Arkan gak mau ikut tante ini Bunda!! Tolong!!”


“Ini Mommy dan dia bukan Bunda kamu”


“Tidak! Arkan ingin Bunda!” ucap Arkan di sela tangisnya sembari mencoba meraih Mira.


“Sudah Mommy bilang dia bukan Bunda kamu!!!” bentaknya pada Arkan yang semakin menangis ketakutan.


Mira berlari mendekati Dinda yang menggendong Arkan yang meronta-ronta menyambut kedatangannya.


“Bunda...”


“Diam kau! Ini sama sekali bukan urusanmu!” ucap Dinda marah, namun tetap menambah langkahnya membawa Arkan pergi


“Dinda, tunggu dulu, biarkan Arkan menginap semalam disini, aku akan memberitahunya perlahan”


“Tidak! Dia anakku! Akan lebih baik jika kau tidak ikut campur”


“Aku tau itu, aku juga seorang ibu, aku akan memberi pengertian pada Arkan pelan-pelan” ucap Mira yang sama sekali tidak di gubris oleh Dinda dan kedua orang tuanya.


“Abang!!!”


“Adik Arkan! Tante jangan bawa Adik Aiden pergi, Aiden mohon” mohonnya sembari memegang kaki Dinda.


Dengan tak memiliki belas kasihan, Dinda menendang Aiden hingga tersungkur ke tanah.


“Aiden” pekik Mira sembari menolong putranya.


“Ayah!!!” pekik Arkan saat melihat Ardan hendak mendekat membantu Aiden juga.


Tanpa sadar Ardan membeku saat Arkan menatapnya penuh permohonan. Tapi pria itu terdiam menyaksikan anak yang selama ini ia rawat diambil keluarganya.


“Mas, tolong lakukan sesuatu, Arkan bisa sakit jika terus menangis seperti itu” ucap Mira sembari menggoyangkan lengan Ardan, berusaha membuat Ardan bertindak namun tak ada yang berubah dari pria itu.


“Abang tolong!!!”


“Adik!!”


Jerit Aiden dan Arkan bersautan.


Brak


Mira dan Aiden mendadak panik saat Arkan sudah masuk dalam mobil, berusaha keluar namun ia tak bisa.


“Ayah, Bunda!!” rontanya di balik jendela mobil.


“Adik!!” Mira memeluk tubuh Aiden yang hendak berlari mengejar sang Adik yang masih menangis di dalam mobil yang mulai berjalan.


Merasa adiknya semakin jauh Aiden meronta hingga terlepas dari pelukan sang Bunda, anak itu berlari sekencang yang ia bisa.


Hingga Ardan dan Andreas turun tangan untuk menangkap anak itu.


“Lepas Kek, Aiden mau ikut Adik!”


“Dengar Ayah Aiden, Arkan harus ikut keluarganya”


“Kita juga keluarganya Yah!” protes anak itu tak terima.


Tidak mau beradu argumen dengan putranya Ardan memilih membawa sang putra masuk.


“Kunci gerbangnya!” perintah Ardan pada satpam rumahnya sembari menggendong Aiden yang masih meronta.


Rini yang memeluk Mira juga turut menangis melihat respon cucunya.


Mira merentangakan tangannya pada Aiden.


Aiden menangis dalam pelukan Bundanya, “Bunda, Adik Aiden Bunda” adunya sedih, Mira hanya bisa mengusap kepala Aiden guna menenangkan anak itu.


“Kenapa Adik Aiden di bawa pergi Bunda?” Mira hanya menangis, dia tak tau harus menjawab apa.


Rini menuntun menantu dan cucunya untuk masuk ke dalam rumah. Sesekali nenek Aiden itu ikut mengusap puncak kepala Aiden untuk menenangkan anak itu.


“Adik” gumamnya yang masih menangis.


Saat Aiden sudah tertidur, Andreas menawarkan diri untuk membawa sang cucu ke kamarnya.


Setelah ruangan itu hanya diisi olehnya dan sang suami Mira menatap Ardan marah.


“Puas kamu Mas?”


Ardan yang sedari tadi menunduk menatap Mira yang menatapnya marah dengan berlinangan air mata.


“Kenapa kamu terus menyalahkanku Mir?”


Mira menggeleng tak paham dengan jalan pikiran suaminya.


“Karena ini semua karena kamu Mas! Andai kamu tidak mengizinkan Dinda membawa Arkan pergi tadi ini semua tidak terjadi!”


“Lalu aku bisa apa Mir? Arkan juga bukan anak kandungku, bukankah lebih baik jika ia bersama dengan keluarganya?”


“Tega kamu Mas!” Ardan hanya menatap istrinya yang berjalan menjauh, sementara Ardan, ia duduk termenung.


TBC