
Setelah menerima telpon dari Ardan Mira langsung bergegas ke rumah sakit tempat Arkan di rawat.
Sembari menggenggam tangan Aiden wanita itu berjalan sedikit cepat dari biasanya.
Begitu pintu terbuka Arkan yang membuka matanya langsung merentangkan tangannya pada Mira, terlalu rindu Mira segera menghampiri tubuh lemah Arkan di sana.
“Bunda kangen sekali sama Arkan” tidak ada jawaban dari anak itu selain isakannya yang menyayat hati Mira.
“Abang juga kangen sama adik” celetuk Aiden tak ingin di hiraukan Bunda dan adiknya.
Arkan seketika melepas pelukannya pada Mira dan merentangkan tangannya pada Aiden.
“Arkan ingin pulang, bawa Arkan pulang Bunda” pintanya, kali ini Mira tak memiliki jawabannya selain mengusap pelan puncak kepala Arkan yang kini mendongak ke arahnya.
Sadar Bundanya yang terlihat enggan menuruti permintaannya, Arkan mendadak mendung.
“Bunda tidak mau ya Arkan ada di rumah itu lagi?” mendengar itu Mira sontak menggeleng.
Bukan itu yang membuatnya bungkam, tapi ini tentang Dinda, juga keputusan Ardan sebagai kepala rumah tangga di rumah itu.
“Boleh kok, asal Adik sembuh dulu ya” potong Aiden untuk memutus kecanggungan diantaa mereka.
Mira tidak tau harus bernafas lega karena itu atau bersedih karena ia sendiri tau kemungkinan itu sangatlah kecil dilakukan.
Pintu kembali terbuka dengan kedatangan Ardan, juga Dinda.
Mereka berangkat bersama?
Mira menunduk menyembunyikan rasa tidak sukanya, juga Aiden yang beringsut ke arahnya.
Anak itu masih ketakutan.
Dengan Ardan yang membentaknya, juga dengan Dinda yang sudah membawa Adiknya pergi.
Arkan pun memilih bersembunyi dalam pelukan Mira, tidak ingin kembali dipisahkan dengan Bunda dan Abangnya.
Ardan dan Dinda melihat itu semua, menyadari kesalahan mereka yang melukai buah hati mereka masing-masing.
“Aiden” panggil Ardan pada putranya, tapi bukannya mendekat Aiden hanya menengok Ayahnya di balik tubuh Bundanya.
“Sini” ucap Ardan sembari memasang wajah se ramah mungkin agar Aiden tidak lagi takut dengan dirinya.
Tidak langsung beranjak Aiden malah menatap Mira untuk meminta persetujuan Bundanya.
Dengan yakin Mira mengangguk, membuat anak itu berjalan perlahan ke arah Ardan.
Saat Aidensudah berhadapan dengannya, Ardan langsung memeluk anak itu, “Ayah minta maaf sudah membentak Aiden kemarin”
Aiden membisu, ia masih marah, karena kesalahan ayahnya bukan hanya itu.
“Ayah juga minta maaf sudah bikin Mommy Arkan membawa Adik Aiden secara paksa” tambah Ardan yang seakan tau daftar dosa yang sudah ia lakukan pada sang putra.
Saat Aiden masih diam Ardan mengurai pelukan mereka, “Maafkan ayah ya?”
Aiden menatapi wajah ayahnya dengan seksama, seakan meneliti apakah ayahnya ini mengucapkan kata maaf dengan sungguh-sungguh atau hanya untuk mengelabuinya saja?
Tidak mendapatkan kebohongan itu Aiden akhirnya mengangguk membuat Ardan tersenyum senang sembari menggumamkan terimakasih.
“Tapi ada syaratnya” pintanya, Ardan mengangkat sebelah alisnya, baru kali ini Aiden memberikan persyaratan padanya.
“Apa Nak?”
“Bawa Adik pulang bersama kami, jangan biarkan Adik Aiden tinggal bersama dengan tante jahat itu” tunjukknya pada Dinda yang masih berdiri di belakang Ardan.
Mendengar itu Dinda tak sengaja menatap Arkan yang terlihat begitu nyaman dalam pelukan Mira, hatinya kembali nelangsa saat tau ia sama sekali tidak diharapkan oleh putranya.
Begitu juga dengan Ardan yang kini bersitatap dengan istrinya, pandangan itu menyiratkan luka, sepertinya Ardan sudah menyakiti hati istrinya.
“Boleh” ucap Ardan mengejutkan kedua wanita yang ada di dalam ruangan itu.
“Yey!!” pekik kedua anak itu dengan senang.
Bukan apa, Mira hanya tidak ingin kericuhan beberapa hari yang lalu akan terulang kembali.
Tapi Ardan mengangguk samar pada Mira, seolah berkata bahwa ia yang akan mengurus semuanya.
Mira mengacuhkan suaminya, kini ia memilih fokus pada kaka beradik yang kini sudah berceloteh riang di atas brankar, bahkan Mira tidak tau kapan putranya menaiki ranjang rawat itu.
Hal yang sedikit membuat Mira sedikit tenang saat kedua anak itu sudah saling bergurau, juga Arkan yang tampak lebih hidup dari sebelumnya.
Tak terasa Mira tanpa sadar mengusap puncak kepala Arkan dengan gemas, anak itu langsung memandang Mira dan menghadiahi kecupan singkat di pipi wanita itu.
Sekali lagi, Dinda merasa iri pada Mira, namun ia tak bisa berbuat apa-apa.
***
Hari dimana kepulangan Arkan menjadi hari yang menyenangkan bagi Aiden juga Arkan, bahkan mereka sudah merancang berbagai rencana untuk mereka habiskan berdua.
Ardan, Mira dan Dinda hanya memandang mereka dengan senyuman.
Saat sampai rumah, keduanya langsung menuju kamar main mereka yang ada dilantai dua, meninggalkan tiga orang dewasa yang sejak tadi saling diam.
“Emm, maaf, bolehkah aku menginap disini?” tanya Dinda ragu-ragu.
Ardan dan Mira saling tatap, lalu Mira kembali menatap Ibu kandung Arkan itu, “Boleh”
Ardan mendengus saat Mira salah mengartikan mau-nya, atau mungkin wanita itu sengaja melakukan ini?
Ardan tidak tau jalan pikiran wanita.
Merasa tak dibutuhkan juga rasa kesal yang ia punya, Ardan beranjak pergi ke kamar utama.
Dinda menatap kepergian mantan suaminya yang terlihat tidak menginginkan kehadirannya.
“Mbak” panggil Dinda pada Mira yang sontak langsung menatapnya.
“Aku.. Aku ingin mengatakan terimakasih, juga maaf” ucapnya dengan menunduk dalam.
“Untuk apa?”
Dinda sontak menatap wanita di hadapannya ini, “Aku minta maaf karena sudah membuat banyak kesalahan pada Mbak, terutama putra Mbak Mira, disaat Mbak sudah menyayangi putraku seperti anak Mbak sendiri aku malah bersikap kasar pada Aiden, maafkan aku Mbak”
Mendengar rasa bersalah itu Mria menggenggam tangan Dinda, memberikan senyuman hangat pada wanita itu.
“Sudah dimaafkan Din, jangan pikirkan itu” Dinda menggeleng tak setuju dengan itu.
“Aku banyak berhutang pada Mbak menyayangi putraku selama aku tidak ada, juga karena memperbolehkanku tinggal disini”
Mira mendadak termenung dengan respon suaminya, Mira mungkin tau ketidaknyamanan suaminya dengan kehadiran Dinda dalam rumah ini, tapi disini Mira ingin membuat Arkan, juga Aiden tau bahwa kondisi mereka sudah mereka sejak kehadiran Dinda.
Itu alasannya memperbolehkan Dinda tinggal di sini, agar bisa lebih dekar dengan Arkan untuk memperkuat bonding antara keduanya.
“Mbak” Mira tersentak saat menyadari masih ada Dinda di hadapannya.
“Iya Dinda, sama-sama” hanya itu yang bisa Mira jawab, Dinda tersenyum.
“Aku akan menyusul Ardan dulu ya, Bibi akan mengantarkanmu ke kamar tamu” setelah Dinda mengangguk dan memanggil ART-nya.
Mira berjalan ke kamarnya.
Saat pintu terbuka, Ardan menatap istrinya tajam.
Bukan hal yang baru ketika Ardan melakukan ini.
“Harusnya kamu tidak membiarkan Dinda tinggal disini” ucap Ardan marah.
Sesuatu yang membuat Mira sedikit bingung, hingga wanita itu memilih menutup pintu dan berjalan ke arah suaminya yang masih saja menebarkan aura permusuhan dengannya.
TBC