
Malam ini Mira memutuskan untuk tidur di kamar putranya, mereka berdua secara tak sadar sepakat mendiamkan Ardan sejak kejadian pagi tadi.
“Bunda, apa benar Arkan tidak akan kembali kesini lagi?” tanyanya sembari mendongak pada Mira yang kini juga menatap anak itu.
Mira memeluk Aiden erat, “Bunda tidak tau sayang”
“Aiden sayang banget sama Adik Arkan Bunda” Mira mengangguk mendengar pengakuan putranya, siapa yang tidak tau itu?
“Kita doakan yang terbaik saja untuk semuanya ya” mau tak mau anak itu mengangguk.
Akhirnya malam itu mereka habiskan dengan bercerita tentang keseharian Aiden di sekolahnya, sambil sesekali anak itu mengenang kebersamaannya dengan Arkan.
Hingga anak itu kelelahan bercerita dan tertidur dengan sendirinya.
Meninggalkan Mira yang masih melamun, ada hal yang sangat menganggu pikirannya sejak kemarin.
Tentang ucapan mantan istri suaminya yang berkata mereka belum pisah secara hukum?
Lalu bagaimana dengan dirinya? Apa dia hanya berstatus sebagai istri kedua?
Terlalu lelah memikirkan itu akhirnya Mira menyusul Aiden ke alam mimpi.
Pintu kamar Aiden terbuka tepat saat semua penghuninya sudah terlelap.
Ardan menatap anak dan istrinya dalam, untuk saat ini menjauh adalah pilihan yang tepat bagi Ardan.
Perlahan kakinya melangkah ke sisi Aiden, diusapnya puncak kepala anak itu dengan lembut, Ardan mencuri satu kecupan disana demi melebur sedikit rasa bersalahnya.
Lalu pada Mira, Ardan hanya bisa menatap wanita itu sendu, tergerak untuk melakukan hal yang sama tapi tubuh Ardan seperti terkunci.
Hingga ia mengurungkan niatnya dan berlalu pergi.
***
Tit tit tit
Dinda masih menangis di samping brankar Arkan sembari mengecup pelan tangan kecil itu.
Rasa bersalah itu semakin memuncak saat dokter menyampaikan bahwa Arkan masih ada dalam kondisi kritisnya.
Dinda menoleh saat bahunya di remas pelan oleh seseorang, Mamanya.
Sontak wanita itu memeluk mamanya dengan sebelah tangannya erat untuk menyalurkan segala kegelisahannya.
“Yang sabar ya sayang” air mata Dinda semakir mengalir deras mendengar ucapan itu.
“Ini semua salah Dinda Ma, Dinda ibu yang buruk” Mama Dinda menggeleng pelan dan mengurai pelukan mereka agar Dinda bisa melihatnya.
“Semuanya butuh proses, kamu masih belajar, sudah ya” hendak mengungkapkan argumennya lagi tapi Dinda merasakan ada yang bergerak di tangannya.
Dinda tidak bisa menggambarkan rasa bahagianya saat tangan kecil itu perlahan menggenggam tangannya.
Arkan sudah sadar!
“Bun-da” lirihnya, Dinda yang masih bisa mendengar itu kembali nelangsa saat ternyata ia tidak berarti apapun bagi putranya.
Tanpa menghiraukan perasaannya Dinda menekan tombol untuk memanggil paramedis disana.
Tak lama setelah itu beberapa suster dan dokter kembali masuk ke dalam ruangan membuat Dinda dan Mamanya sedikit mundur untuk mempersilahkan mereka memeriksa keadaan Arkan.
Dinda menatap Arkan yang juga menatapnya kosong, setelahnya Dinda ikut menangis saat air mata anak itu menetes begitu saja.
‘Sedalam itukah Mommy menyakitimu Nak?’
Dinda sampai harus menutup mulutnya demi meredam isakannya.
Setelahnya Dokter berjalan ke arahnya untuk menyampaikan kondisi Arkan.
“Alhamdulillah Arkan sudah sadar dan melewati masa kritisnya” Mama Dinda memeluk putrinya dengan rasa bahagia.
Setelah mengucapkan terimakasih Dinda kembali berdua dengan putranya karena sang Mama sudah di jemput Papanya untuk pulang.
Arkan masih menatap Dinda seperti tadi, hingga saat Dinda mendekat dan kembali menggenggam tangan kecilnya Arkan kembali bersuara lirih, “Bun-da”
Dinda kembali menangis, tapi tidak ingin membuat anaknya merasa sedih.
“Kamu ingin bertemu dengan Bunda?”
“I-ya”
“Baiklah Mommy akan panggilkan Bunda, Arkan tunggu disini dulu ya?” anak itu mengangguk lemah.
Dinda keluar, setelah pintu rawat Arkan tertutup dirinya bersandar penuh pada dinding, dalam hidup dia hanya punya Arkan dan Ardan, tapi dua orang itu lebih memilih Mira daripada dirinya.
Lalu untuk siapa lagi ia hidup?
Sementara kedua motivasi hidupnya sudah tidak menginginkannya lagi.
Dinda menggeleng untuk menghilangkan pikiran bodoh itu, setelah menitipkan Arkan pada seorang suster akhirnya Dinda keluar dari area rumah sakit.
Ardan, pria itu yang akan menjadi tujuannya sebagai narahubung antara dirinya dan Mira, karena untuk meminta langsung pada wanita itu rasanya Dinda tidak sanggup menahan rasa malunya.
Setelah sampai Dinda tak langsung masuk, ia masih memandang gedung tinggi itu, dimana puncak tertingginya ia yakini sebagai ruangan Ardan.
Langkah demi langkah yang terasa berat tak jadi masalah bagi Dinda, ia juga mengacuhkan tatapan aneh orang-orang sekitarnya.
“Saya ingin bertemu dengan Ardan” resepsionis itu membeku, tapi profesionalitas yang ia punya bisa mengatasi segala rasa takutnya hingga tanpa sadar wanita itu mempersilahkan Dinda masuk.
Mantan istri Ardan yang sudah diumumkan kematiannya kembali datang ke kantor sang suami.
Kehidupan disana terasa stuck saat semua orang menghentikan aktifitasnya saat Dinda perlahan masuk ke dalam gedung hingga sosoknya hilang tertelan lift yang tertutup.
Sekali lagi Dinda tidak menghiraukan itu.
Hingga ia sudah sampai pada tujuannya.
Tok tok tok
“Masuk!”
Dinda membuka pintu itu saat suara tegas Ardan mengudara di telinganya.
Keduanya terpaku di tempatnya, tapi tidak dengan Ardan yang lebih dulu memutus pandangan mereka dan fokus pada pekerjaannya.
“Mas” Ardan bergeming di tempatnya.
Degan ragu Dinda kembali menambah langkah untuk masuk ke dalam sana.
“Berhenti disana!”
Dinda menurutinya, saat Ardan menatapnya penuh dendam Dinda hanya bisa mengalirkan air matanya.
“Tidak puaskah kamu membuat kekacauan di rumahku, dan sekarang kamu ingin membuat hal yang sama disini juga?” tanya Ardan tegas.
Wanita itu hanya menggeleng.
“Aku butuh bantuanmu Mas, ku mohon kali ini bantu aku” mohonnya pada Ardan yang kembali mengacuhkannya dan fokus kembali pada pekerjaannya.
Hati Dinda kembali nelangsa saat Ardan nampak tidak ingin membantunya.
“Arkan sedang di rawat di rumah sakit Mas” ucap Dinda putus asa membuat Ardan menghentikan kegiatannya.
Tapi setelahnya Ardan kembali menghiraukan perkataan Dinda hingga wanita yang tidak memiliki harapan itu tiba-tiba maju dan bersimpuh di kaki Ardan.
“Apa yang kamu lakukan Din!” pekik Ardan yang terkejut dengan sikap wanita di hadapannya.
“Tolong aku Mas, sekali ini saja tolong aku, Arkan, anakku, dia terus ingin bertemu dengan Bundanya” ucap Dinda di sela tangisnya.
“Aku tidak tau harus meminta tolong pada siapa selain padamu, Mbak Mira pasti tidak mau membantuku setelah yang aku lakukan padanya dan anaknya malam itu” tambahnya saat Ardan hanya diam.
“Aiden anak kandungku juga!” koreksi Ardan yang merasa tak terima putra sulungnya hanya berlabel anak Mira.
Menyadari kesalahannya Dinda mengangguk menyetujui statement itu.
“Bangun Dinda” Ardan membantu wanita itu saat Dinda terlihat enggan menuruti perintahnya.
Hingga mereka berhadapan dengan Dinda yangmasih menangis di tempatnya.
“Kamu selalu salah menilai Mira, sejak dulu kamu selalu berprasangka buruk padanya”
Dinda diam, dia tidak bisa mengelak itu karena memang ia selalu menganggap Mira sebagai musuhnya.
“Aku tidak akan pernah lupa bagaimana kamu memfitnah Mira di hadapanku, hingga membuat semuanya kacau seperti saat ini Din”
TBC