My Hubby

My Hubby
Chapter 57



Rey duduk berhadapan dengan dokter baru Mira, dokter Maya yang dulu merawat Mira dinyatakan meninggal karena usia, sebenarnya sudah ada perubahan meski tidak banyak, tapi semua kembali ke nol sejak kelahiran Aira.


Mira sangat terpukul karena ketidak hadiran suaminya, juga trauma masa lalunya membuat semuanya menjadi complicated.


“Setelah saya pelajari dari catatan yang almarhumah dokter Maya, satu hal yang saat ini bisa saya sarankan, kita harus membawa Ibu Mira ke tempat di mana suaminya dinyatakan hilang” Rey menatap dokter Rian, dulu Rey menolak karena kondisi Mira yang sedang berbadan dua, dan setelah itu Rey lupa dengan permintaan Mira yang meminta untuk diantar ke tempat itu.


“Apakah ini akan berhasil?” dokter Rian tersenyum.


“Kita harus mencobanya, setidaknya dengan begitu Ibu Mira bisa sedikit sadar dan mungkin saja menerima jika suaminya sudah tiada” Rey mengangguk, dia sudah pasrah, pikirannya buntu, terlalu banyak yang ia pikirkan, dan perkataan dokter Rian tidak ada salahnya.


“Lakukan apa saja dokter, saya sudah tidak tau harus apa lagi supaya adik saya bisa kembali normal seperti sediakala” dokter Rian mengangguk, ia paham dan sangat mengerti, rata-rata semua keluarga pasiennya akan berespon sama seperti Rey, meski tidak sedikit juga yang memberikan respon tidak baik.


“Dan ada satu lagi Pak Rey”


“Apa itu dokter?” Rey bisa melihat bahwa dokter itu ragu untuk mengungkapkan sesuatu.


“Tidak ada yang buruk kan Dok?” tambah Rey membuat Dokter Rian tersadar dari lamunannya.


“Saya ingin meminta ijin untuk mendekati Ibu Mira sebagai seorang teman” awalnya Rey terkejut dengan permintaan itu, namun penjelasan dokter Rian mengurungkan pikiran buruknya.


“Sebagai orang yang kehilangan apalagi seorang suami dan baru saja melahirkan, perempuan cenderung lebih sensitif dari biasanya, karena Ibu Mira sudah terbiasa dengan dokter perempuan saya khawatir kalau keberadaan saya akan ditolak” Rey mengangguk paham, hilang sudah semua prasangka yang sempat bersarang dipikirannya.


“Saya ijinkan asal jangan sampai melewati batas anda dok, tolong tetap bersikap profesional” Dokter Rian mengangguk mantap.


“Hanya itu saja Pak Rey, kalau begitu saya pamit undur diri dulu” Rey mempersilahkan tamunya pergi.


Kini ia duduk seorang diri di ruang tamu itu, tak pernah terbayangkan, mereka akan ada di tahap ini, kehilangan Ardan dan kelahiran Aira membuat semuanya menjadi sangat berbeda.


“Uncle” Rey menoleh, ada Aiden disana.


“Ya Boy, kemarilah” anak itu berjalan lalu duduk disamping Rey dengan wajah tertekuk.


“Ada apa Aiden?” dengan memberanikan diri anak itu menatap wajah Rey.


“Maaf uncle, boleh Aiden minta peluk sebentar?” Rey agak terhenyak, namun ia tak butuh menjawab dan langsung membawa Aiden ke dalam pelukannya.


Tak lama, Rey bisa mendengar isakan kecil yang keluar dari bibir Aiden, hati Rey terasa sakit, tangisan itu sama persis dengan tangisan Aira yang kelaparan saat Rey lupa memberinya susu walau hanya beberapa menit saja.


Rey tidak memakai jasa baby sitter, ia hanya menggunakan asisten rumah tangga untuk memandikan Aira, Arkan bahkan Aiden sisanya Rey kerjakan seorang diri.


Rey sudah berjanji bahwa ia akan melindungi serta menjaga Mira dan semua anaknya.


“Aiden rindu Bunda dan Ayah ya?” anak itu mengangguk membuat rey semakin mengeratkan pelukan mereka.


“Uncle, bisakah Aiden mengunjungi makam ayah? Kenapa Ayah tidak memiliki makam seperti adek Aisyah?” Rey mendadak kelu, tapi ia tidak bisa mengabaikan pertanyaan ini.


“Seperti ini Aiden, dulu waktu Aisyah meninggal itu karena sakit kan?” anak itu mengangguk, karena selama ini Bundanya selalu mengatakan hal itu.


“Sedangkan ayah, dia hanyut di sungai” Aiden diam otaknya sedang memproses sesuatu.


“Berarti masih ada kemungkinan ayah masih hidup ya uncle” kini Rey diam.


“Kenapa Uncle diam?” sejenak Rey menatap Aiden yang mendongak menatapnya.


“Karena uncle tidak tau jawabannya” anak itu kembali murung, tapi dengan cepat rey membuat anak itu mendongak.


“Cukup uncle, maaf ya sudah bikin uncle merasa tidak nyaman” sekali lagi Rey memeluk anak itu dengan sayang.


Kalau saja ia punya mesin waktu, ia akan berdamai dengan Ardan, menerima semua takdir ini lebih awal, setidaknya jika saat itu mereka baik-baik saja, Ardan mungkin akan meminta bantuannya dan tidak bertingkah bodoh dengan mengorbankan dirinya sendiri.


Tapi semua itu hanya angan karena semuanya telah terjadi.


Di tempat lain..


“Sayang lihat, Aira sudah semakin besar, lihat Aiden dan Arkan juga sedang bermain, kita keluarga yang sangat bahagia bukan?” ucap Mira dengan semangat dengan menggendong boneka cantik ditangannya.


“Sayang, kenapa kamu hanya diam? Kamu tidak senang ya?” lagi-lagi tidak ada jawaban.


“Ohh kamu sakit, ya sudah istirahatlah aku akan menidurkan Aira dulu ya” ucap Mira semabri menimang boneka yang ia anggap anaknya.


“Selamat siang”


“Sssssstt tolong jangan berisik, anak dan suami saya sedang tidur” mendengar itu dokter Rian menutup mulutnya rapat-rapat.


Melihat pria asing yang tidak beranjak dari tempatnya membuat Mira menghampirinya.


“Anda siapa?” dengan semangat Dokter Rian mengulurkan tangannya.


“Kenalkan bu, saya Rian” Mira manggut-manggut saja tanpa membalas jabatan tangan itu membuat Rian menurunkan tangannya.


“Ohh, tetangga baru ya? Saya tidak pernah melihat..”


“Rian, nama saya Rian, kalau Ibu sendiri namanya siapa?” Mira kembali mengangguk dalam pikirnya ia akan mengingat nama itu dengan seksama.


“Nama saya Mira, ini Aira putri bungsu saya” Dokter Rian tersenyum lalu sedikit membungkuk untuk menyapa.


“Halo Aira, kenalkan nama Om, Rian” setelah mengucapkan itu Rian kembali ke postur tegak untuk kembali berbincang dengan Mira.


“Putrinya sangat cantik Bu” ucap Rian tanpa sadar saat menatap wajah ayu Mira.


Tapi dengan cepat rian menggeleng untuk menepis pikiran liar itu.


“Terimakasih Uncle” jawab Mira sembari menirukan suara anak kecil, membuat Mira sendiri tampak lebih imut dari usianya.


“Segitu saja perkenalan untuk hari ini” Mira mengernyit heran, jadi apakah maksudnya pria ini akan datang lagi?


“Saya mungkin akan sering kemari untuk berkunjung” Mira mengangguk sekilas ia menoleh ke belakang.


“Ya mungkin anda harus kemari lagi untuk berkenalan dengan suami saya, dia juga butuh teman, sepertinya kalian akan cocok” ucap Mira sembari tersenyum indah membuat dokter Rian semakin terpana.


Tiba-tiba saja bayangan wajah garang Rey muncul di benaknya juga serentetan kalimat yang membuat Rian tidak berani bertingkah lebih jauh dari ini.


‘Jangan sampai melewati batas anda dok, tolong tetap bersikap profesional’


Sekali lagi Rian merutuki kebodohannya, untuk pertama kalinya Rian merasa sedang melanggar sumpah profesinya sebagai seorang dokter, tapi pesona ibu tiga anak itu sangat sulit untuk Rian tolak.


Ada hal yang membuat Rian ingin berbuat lebih demi kesembuhan Mira, meski sampai saat ini Rian dengan keras menolak fakta itu.


TBC