My Hubby

My Hubby
Chapter 35



“Kalau begitu kita cerai saja Mas”


Hati Mira terasa di remas saat Ardan menggeleng.


“Aku tidak mau melakukan itu”


Mira mengerang frustasi mendengar penuturan Ardan.


“Lalu apa mau kamu Mas? Kamu mau hidup dengan perempuan yang sudah kamu anggap kotor ini?!!” tanya Mira yang sudah semakin kacau.


Ardan memegang bahu Mira, membuat wanita itu menatapnya.


“Aku tidak menganggapmu seperti itu Mir, satu-satunya orang yang harus disalahkan adalah Rey, bukan kamu” lagi-lagi Mira menggeleng lemah, dengan tangisan yang belum reda.


“Aku tidak bisa hidup dengan laki-laki yang memandangku jijik seperti apa yang kamu lakukan padaku, aku tidak bisa” ucap Mira parau, tidak mau sang istri semakin tertekan Ardan memeluknya.


Mira mendorong dada Ardan untuk menjauh, pelukan itu tak membuatnya tenang saat suaminya sendiri menuduhnya sekeji itu.


“Biarkan aku sendiri Mas”


“Aku tidak akan mengijinkan itu, kamu sedang hamil Mira” ucap Ardan mengingatkan, mengundang senyum kecut di wajah Mira.


Andai saja Ardan tidak ada tuduhan itu, sudah dipastikan Mira akan langsung memeluk suaminya lagi, tapi kondisinya berbeda saat Ardan bahkan tidak mengakui anak yang ada di tubuh Mira sebagai darah dagingnya karena pemikiran jahat pria itu.


“Kamu bilang anak ini bukan darah dagingmu kan? jadi biarkan saja, barangkali jika janin ini gugur kamu tidak perlu repot-repot mengurusnya seperti katamu tadi”


“Mira!” ujar Ardan tak terima.


“Apa?”


“Berhenti Mira, kamu sedang hamil dan aku tidak ingin membuat keributan disini atau dimanapun”


Mereka saling diam. Tak lama nama Mira dipanggil, Ardan segera bangkit untuk mengambil resep itu.


***


“Bundaaa” jerit Aiden membuat Mira yang awalnya melamun membalik badannya guna menyembunyikan air matanya.


“Ya sayang?”


“Bunda kemana saja?”


“Bunda ke rumah sakit Nak” mata kecil itu mengerjap berkali-kali mengamati Bundanya.


“Bunda pucat, apa bunda sakit?” tanyanya khawatir, Mira lantas berjongkok, lalu membingkai wajah mungil itu serta memberikan beberapa kecupan di pipi kanan dan kiri secara bergantian.


“Tidak, tapi Bunda punya kabar gembira untuk Aiden”


“Benarkah Bunda?” tanyanya antusias, Mira mengangguk berkali-kali meyakinkan.


“Apa itu?”


Tak langsung menjawab, Mira meletakkan tangan kecil Aiden ke perutnya, ia sedikit tertawa saat mendapati ekspresi bingung putranya.


“Bunda hamil, sebentar lagi adik Aiden akan bertambah” mata yang semula sayu melebar, dengan rona bahagia yang tidak bisa Aiden gambarkan.


“Sungguh Bunda?” lagi-lagi Mira mengangguk.


“Yey!!! Aiden akan jadi abang lagi!!!” pekiknya senang, membuat Mira mengusak puncak kepala itu dengan gemas.


Tapi senyum Mira perlahan memudar saat netranya tak sengaja menangkap siluet Ardan yang akan masuk.


Hati Mira menjadi mendung saat mengingat penolakan suaminya, juga tuduhan yang sudah Ardan berikan untuknya.


“Ayah Aiden akan punya adik baru” ucap Aiden dengan semangat, berbeda dengan Ardan yang nampak biasa dengan itu.


Hanya senyum yang mampu Ardan berikan pada sang putra, hal itu semakin menyakiti Mira yang kini menggigit bibirnya untuk meredam tangis.


“Arkan tidak suka adik baru” tiga orang itu memandang anak laki-laki yang berdiri dengan mata merahnya.


“Arkan..”


“Pokoknya Arkan tidak suka punya adik Bunda!” bentaknya saat Mira berusaha memberikan penjelasan.


Dinda datang tergopoh, “Ada apa ini? Kenapa kamu menangis Nak?”


Meninggalkan Dinda yang sedang shock dengan fakta yang baru saja ia dengar.


Mira berjalan menuju kamar Arkan, “Arkan? Buka pintunya Bunda mau bicara”


Tidak ada jawaban.


Mira kembali menangis, hari ini ada dua orang yang menolak kehadiran bayinya.


“Sudah Bunda biar Aiden yang bicara dengan Adik Arkan ya? Bunda jangan sedih”


Hanya Aiden yang selalu mendukung Mira.


Entah karena hormon hamil atau tidak, Mira memeluk putranya, setidaknya ada satu orang yang ada di pihaknya.


“Kamu harus beristirahat Mira” ucap Ardan yang sama sekali tidak di hiraukan Mira yang masih ingin memeluk putranya.


“Ayah benar Bunda harus istirahat, jangan menangis lagi ya Bun” meski terlihat tak rela, Mira bangkit dan menuju kamarnya tanpa mau menatap Ardan yang selalu mengawasi gerak-gerik wanita itu.


Saat kondisi yang tak kondusif itu berangsur membaik, Dinda yang sejak tadi termenung berjalan cepat ke arah Ardan.


“Mas kamu akan punya anak lagi?”


“Ada yang salah dengan itu?” tanya Ardan tanpa mau menjawab pertanyaan basa-basi dari Dinda.


Bukankah wanita itu sudah mendengar semuanya dengan baik, apa telinga Dinda mendadak tuli sekarang?


Sadar Aiden masih diantara mereka, Ardan mengisyaratkan Dinda untuk mengikutinya.


Taman belakang.


“Mas kamu akan memiliki anak lagi” itu lagi yang Dinda ucapkan membuat Ardan geram.


“Lalu apa masalahnya Din? Aku dan Mira sudah menikah, bukankah hal yang wajar jika aku memberikan adik pada Aiden” jelas Ardan pada Dinda yang kembali merenung.


“Tapi ini terlau cepat” gumam Dinda mengundang decakan tak suka dari Ardan.


“Kamu yang terlalu lama menghilang” ucap Ardan gamang.


Mendengar itu Dinda menatap Ardan saat menyadari satu celah, “Jika aku tidak menghilang, apa pernikahanmu dan Mbak Mira tidak akan terjadi Mas?”


“Pernikahanku dan Mira pasti akan terjadi, ada atau tidak ada dirimu, aku dan Mira akan tetap bersatu apapun caranya” ucap Ardan dengan congkaknya.


“Tau kenapa?”


“Karena Mira sudah mengandung putraku, dan dia bukan wanita munafik seperti mu!” jelas Ardan saat wanita di hadapannya ini hanya memandanginya nelangsa.


“Setidak berharga itukah aku di matamu?”


“Tidak, bahkan seujung kukupun tidak!”


Sakit, itu yang Dinda terima, setelah apa yang ia perjuangkan untuk kembali hidup demi putra dan suaminya, semuanya pupus.


“Aku menikahimu hanya untuk menyelamatkan benih tak berdosa yang akan orangtuamu buang Din, tidak lebih dari itu!”


“Tapi aku memintamu menikahiku waktu itu karena aku sudah mencintaimu Mas” jawab Dinda lirih.


“Aku tidak pernah melarang siapapun mencintaiku, itu di luar kendaliku, yang jadi masalah disini adalah saat kamu berusaha menggunakan segala cara untuk mendapatkan apa yang kamu mau, itu salah!”


“Dimana salahnya Mas?!”


“Karena kamu sudah memfitnah Mira, kamu membuat ia tampak buruk dimataku, kamu memanfaatkan rasa percayaku untuk menghancurkan hubunganku dan Mira tujuh tahun lalu!!!” bentak Ardan yang sudah kehilangan kesabarannya.


“Aku sudah minta maaf!” jerit Dinda tak kalah kencang.


“Apa maafmu bisa mengembalikan semuanya Din? Apa aku dan Mira bisa hidup seperti sepasang suami istri yang saling mencintai hanya dengan maafmu itu?! Tidak!!”


Dinda memejamkan mata saat suara Ardan terdengar melengking di telinganya.


“Mira membenciku, bahkan aku kehilangan momen tumbuh kembang anak-anakku, dan itu semua karenamu!!”


Dinda terduduk sembari menangis kencang, memukul dadanya yang sesak, sedangkan Ardan memilih pergi sebelum ia hilang kendali dan bersikap lebih jahat dari sebelumnya.


TBC