
Suasana makan malam kembali riuh dengan perbincangan dua anak laki-laki yang sedang asik bercerita tentang film yang baru saja mereka tonton di televisi.
Mira masih menuangkan nasih ke dalam piring suaminya, sementara Dinda, wanita itu justru tertarik mendengarkan keduanya berceloteh sembari menyiapkan makanan anak-anak itu.
“Cukup Bunda” Mira sedikit tersipu saat Ardan juga memanggilnya Bunda, tidak ada yang memintanya melakukan itu, Ardan melakukannya atas keinginannya sendiri.
Setelah itu Mira juga mengisi piringnya, mereka makan dengan masih diiringi celotehan kedua kakak adik itu.
Mira memperhatikan itu jadi semakin tak sabar akan kelahiran anak yang ada dalam kandungannya.
Melihat bagaimana Aiden bisa dengan sabar mendengarkan cerita Arkan, juga sikap manisnya pada Arkan membuat hati Mira menghangat, juga yakin bahwa Aiden akan jadi kakak yang baik bagi adik kandungnya kelak.
Prang!!!
Semua orang yang ada di ruang makan itu terkejut, anak-anak jadi panik dan berlarian pada Mira, Dinda cemas saat Ardan berjalan ke sumber suara hingga wanita itu mengikuti Ardan.
Kaca besar yang menjadi pembatas ruang tengah dan kolam renang pecah, mata Ardan menelusuriberbagai penjuru untuk mencari penyebabnya.
“Bunda, apa ada orang jahat di rumah ini?” Mira yang memperhatikan Ardan mengalihkan atensinya pada Ardan yang ada di dekapnya.
“Semuanya akan baik-baik saja, Arkan jangan khawatir ya?” ucap Mira yang turut mensugesti dirinya dengan kalimat positif.
Saat Arkan mengangguk, Mira menatap Aiden yang juga menyiratkan rasa takut yang sama, Mira mengusap puncak kepala Aiden dengan lembut berharap bisa menyalurkan ketenangan disana.
“Mas!”
Ardan menoleh pada Dinda yang memekik histeris, di tangannya ada butalan kertas yang terlihat membungkus batu, kini Ardan yakin bahwa ada seorang yang sengaja memberi teror dengan cara ini.
Dengan langkah pasti Ardan mendekat lalu mengambil alih buntalan itu, membukanya..
‘Jangan ikut campur dan serahkan darah dagingku, atau kau akan kehilangan semuanya’
Rahang Ardan bergemeletuk menahan amarah, tangannya kembali meremas kertas itu tak beraturan.
Tanpa kata Ardan meninggalkan Dinda yang masih shock, Dinda sadar bahwa ini pasti ada hubungannya dengan ayah biologis Arkan.
Rasa bersalah itu menelusup di relung hati Dinda, harusnya ia tak menyeret Ardan pada masalah peliknya, harusnya Dinda pergi menyerahkan diri pada ayah biologis Arkan dan semua ini tak terjadi, bahkan mungkin kedua orang tuanya masih ada, jika saja semua angan itu terjadi.
Air mata menetes, menghiasi wajah Dinda, ia melakukan ini untuk melindungi putranya, sebagai seorang ibu Dinda tidak ingin anaknya terancam setiap saat mengingat musuh James, ayah kandung Arkan tidak sedikit.
***
Malam mencekam itu masih terasa, Mira bersandar pada kursi malas di area balkon sembari menikmati suasana malam.
Dia belum mendapatkan penjelasan apapun dari suaminya yang sejak tadi pergi entah kemana, hal yang berhasil membuatnya tak bisa tidur.
Arkan dan Aiden sudah tidur di kamar mereka, dengan banyak kalimat penenang dan beberapa dongeng yang berhasil mengalihkan ketakutan mereka.
Tiba-tiba rasa takut dan khawatir itu menghampiri Mira, bayangan mimpinya sore tadi terbayang jelas dan menghantuinya.
Mira tak ingin kehilangan siapapun, baik Aiden maupun Ardan, jika boleh egois, biar Mira saja yang harus hilang atau apapun itu, karena ia sudah tidak sanggup jika harus merasakan kekosongan yang sudah penuh dengan dua orang itu.
Mira terperanjat saat sehelai selimut tebal menyelimutinya, dia menoleh dan merasa lega saat Ardan berdiri di sampingnya memberikan senyuman.
Rasa bahagia itu membuncah saat melihat suaminya, Mira bangkit dan segera memeluk Ardan erat untuk menumpahkan kegelisahannya.
Ardan mendekap tubuh itu tak kalah erat, ia juga merasakan kegelisahan yang sama hingga memutuskan pergi ke rumah orang tuanya untuk meminta bantuan, bukan Ardan tak mampu sendirian, tapi jika menyangkut Aiden dan Mira, Ardan tidak ingin ceroboh.
Kemanan rumah Ardan sudah berhasil di perketat, Ardan juga sudah melaporkan kejadian malam ini kepada kepolisian, semua hal itu membuat Ardan sedikit merasa aman.
Masih tak percaya dengan apa yang ia lihat dan rasakan, Mira merenggangkan pelukan mereka, tangan kecilnya membingkai wajah tegas Ardan yang berhasil mencuri hatinya.
“Ini beneran kamu kan? Aku gak lagi mimpi kan, Mas?” setetes air mata jatuh saat Ardan menggeleng, rasa khawatir beberapa saat lalu menguap berganti dengan rasa lega.
“Kenapa belum tidur?”
“Mira nungguin Mas” ucap Mira dengan kekhawatiran yang kentara, tapi Ardan justru menangkap sinyal lain dari istrinya.
“Mira gak lagi ingin apa-apa kok” jawab Mira yang tak paham.
“Ingin juga tidak apa-apa kok, sudah lama kan?” tanya Ardan yang semakin membuat Mira tak paham.
“Ingin apa sih Mas, aku gak paham, kita lagi bicarain apa?”
Merasa gemas dengan istrinya Ardan mendekatkan diri, menempatkan mulutnya di depan telinga Mira.
Hembusan nafas itu membuat Mira kegelian dan ingin menjauh tapi dekapan Ardan mengunci Mira pada posisi awal.
“Bercinta, sudah lama kan kita tidak melakukannya” ucap Ardan dengan nada rendah dan kerlingan nakal.
Mira menatap suaminya tak percaya, saat dirinya merasa cemas malah hal itu yang suaminya pikirkan.
Bug!
“Kok di pukul sih sayang” ucap Ardan mendramatisir, seolah pukulan kecil itu menyakitinya.
“Aku cemas Mas, aku khawatir, aku tau kita sedang dalam bahaya kan” cerocos Mira mengeluarkan unek-uneknya.
Mira kembali memukul Ardan dengan brutal, tapi Ardan membiarkan istrinya meluapkan kekesalannya.
Saat merasa lelah Mira menghentikan aksinya, kemudian menangis merasa semuanya tidak baik-baik saja.
Cup!
Ardan mencuri satu ciuman dari bibir manis istrinya.
“Jangan sedih dong bumil” hibur Ardan yang tampak tak berefek.
“Aku takut Mas” ucap Mira di sela tangisnya.
“Aku disini, jangan takut” ucap Ardan bersungguh-sungguh, tatapan mata Ardan yang membius mampu menghentikan tangisan Mira.
“Janji kalau kamu gak akan tinggalin aku Mas”
“Janji!”
“Janji kalau kamu akan temani aku melahirkan anak kita” tangan Ardan menyentuh perut Mira yang sudah mulai membuncit.
“Ayah Janji”
Sekali lagi Mira memeluk suaminya.
Malam ini sangatlah berat, tapi Ardan mampu membuatnya tenang.
Segala ketakutan Mira menghilang.
“Bun, bagi jatah dong, pengen nih” pinta Ardan dengan manja.
Kali ini Mira menatap wajah itu lamat-lamat, wajah seseorang yang menjadi tujuan Mira untuk bahagia bersama.
Tak mendapatkan respon dari istrinya, Ardan mencolek pinggang Mira untuk menyadarkan wanita itu dari lamunannya.
“I want you” bisik Ardan lagi untuk menegaskan keinginannya.
“Aku cinta kamu Mas” Ardan tersenyum, ia anggap ungkapan cinta itu sebagai jawaban iya.
“Aku juga cinta kamu Mira” setelah mengatakan itu Ardan menggendong tubuh istrinya untuk masuk.
Hingga malam yang mencekam itu telah berubah menjadi malam yang syahdu bagi keduanya.
TBC