My Hubby

My Hubby
Chapter 40



“Ayah kandung Arkan?” dengan masih tersedu Dinda mengangguk, setelah itu tubuhnya kian berat.


Dinda pingsan.


“Ya ampun Dinda!” Ardan menoleh ketika mendengar pekikan Mamanya.


Ardan hanya mampu diam saat Mamanya mengambil alih tubuh Dinda dan berteriak memanggil supir pribadinya untuk membopong mantan menantunya.


Meninggalkan Ardan yang termenung.


Ayah kandung Arkan?


Lagi-lagi pertanyaan itu muncul di benaknya.


Setelah menyadari sesuatu Ardan bergegas pergi bahkan tidak menghiraukan panggilan dari kedua orang tuanya.


Bagaimana bisa? Bagaimana bisa orang yang sedang bersama anak dan istrinya melakukan hal sekeji ini?


Begitu sampai di rumah sakit Ardan segera berlari ke ruang rawat istrinya, tebakannya tidak salah saat melihat pria itu masih disana, duduk manis diantara anak dan istrinya.


Empat orang yang ada di dalam ruangan itu terkejut dengan kehadiran Ardan yang tiba-tiba.


Sialnya itu semakin menunjukkan gambaran keluarga yang harmonis di mata Ardan.


Tanpa ba-bi-bu Ardan berjalan cepat ke arah Rey yang masih tidak menyadari bahaya akan dirinya.


“Mas..” seru Mira lirih saat Ardan sudah mencengkeram kerah Rey.


“Kamu ingin Mira semakin shock?” bisik Rey, membuat pandangan Ardan teralih pada istrinya juga dua bocah yang menatapnya takut.


Seketika cengkeraman itu terlepas.


“Aku tidak ingin mereka berdiam diri dengan seorang pembunuh” umpatnya pelan agar tak terdengar oleh dua anak kecil yang ada di sekitar mereka.


Mata Rey berkilat marah tak terima, sedangkan Mira menutup mulutnya merasa terkejut.


“Orangtua Dinda tewas” jelas Ardan pada Mira seakan tau kebingungan istrinya.


“Lalu apa urusannya denganku? Kamu menuduhku?” elak Rey merasa tak terima.


Merasa topik pembicaraan ini tak pantas di dengar oleh anak-anak, Mira menyuruh mereka untuk bermain di luar.


“Apa maksudnya Mas? Kalau orangtua Dinda tewas kenapa Bang Rey yang menjadi tertuduh?” ucap Mira saat anak-anak sudah tidak ada dijangkauannya.


Meski sedikit tak terima istrinya lagi-lagi membela Rey, Ardan menatap Mira dengan seksama.


“Mereka di bunuh ayah kandung Arkan”


Rey terkekeh, “Lalu kau pikir aku adalah ayah kandung Arkan?”


“Jangan jadi pengecut dengan tidak mengakui kelakuan keji yang sudah kamu lakukan pada Dinda beberapa waktu lalu” ucap Ardan untuk memancing emosi lawannya.


“Jadi, Arkan itu anak kandung Abang sama Dinda?”


“Iya” bukan Rey yang menjawab, melainkan Ardan sembari masih menatap lawan bicaranya dengan sengit.


“Benar Bang?”


“Kalau Abang bilang bukan apa kamu mau percaya dengan Abang?” tanya Rey yang dihadiahi tatapan ragu Mira.


“Dasar brengsek!” umpat Ardan yang sudah akan maju memukul pria dihadapannya.


Tapi gerakan itu terhenti saat Mira menggenggam lengannya membuat Ardan menatap istrinya, “Kalau Abang bilang bukan berarti memang bukan”


Ardan terhenyak dengan pernyataan itu, merasa kesal ia menghempaskan tangan Mira begitu saja.


“Kamu lebih percaya pria ini dari pada suami kamu sendiri?!” sentaknya membuat Mira yang terkejut harus memejamkan mata.


“Bang Rey bukan orang lain” ucap Mira lirih, tapi Ardan masih bisa dengan jelas mendengar itu.


“Apa benar ia ayah dari anak yang sedang kamu kandung?”


“Mas!!”


“Kenapa? Kamu selalu mengatakan dia bukan orang lain!” tunjuk Ardan pada pria lain di ruangan ini, Mira hanya bisa menggeleng, hingga air matanya berjatuhan.


“Kamu gak tau apa-apa Mas, sebaiknya kamu bertanya dari pada terus menerus menuduhku”


“Apa yang harus aku tanyakan tentang laki-laki yang sudah membuat rumah tangga kita berantakan!”


“Kamu sudah berani membentak suamimu sendiri hanya untuk membela orang lain?!” ucap Ardan yang membuat Mira menyadari kesalahannya.


Tapi belum sempat meminta maaf, Ardan memilih pergi meninggalkan Mira yang masih menangisi kondisi rumah tangganya yang semakin kacau.


***


“Aku bukan ayah kandung Arkan” Ardan tertawa sinis mendengar itu, hal yang tak ia sangka adalah Rey yang menyusulnya.


Ardan tidak pulang seperti sebelumnya, ia memilih duduk di taman rumah sakit membawa dua anak kecil yang sudah asik bermain di depan sana.


“Kau tidak percaya?”


Ardan memilih mengabaikan Rey.


“Tidak masalah jika kamu tidak percaya dengan itu, tapi hal yang tidak bisa aku toleransi adalah kamu yang tak mempercayai bahwa anak yang dikandung Mira itu darah dagingmu” ucap Rey sembari memberikan rekaman cctv di kamarnya.


“Aku tidak butuh”


“Jadi kamu sudah tau?” tanya Rey penasaran.


“Itu sama sekali bukan urusanmu” ucap Ardan dingin membuat Rey mau tak mau bungkam.


Mereka berdua menatap dua anak kecil yang sedang berlarian bersama, melupakan bahwa keduanya hampir terlibat baku hantam beberapa waktu lalu.


“Mira terus menangis merasa bersalah setelah membentak suaminya, tenangkan Mira, hanya kamu yang bisa melakukannya” dengan sigap Ardan berdiri.


Rey termenung seharusnya ia bisa membuat kondisi menjadi lebih buruk, bahkan membuat dua manusia itu bercerai, memang itulah tujuannya, tapi, tangisan Mira beberapa waktu lalu membuat semua rencananya kacau.


“Setidaknya ucapkan terimakasih” sindir Rey saat Ardan herndak pergi begitu saja.


“Urusan kita belum selesai!!!” setelah mengatakan itu Ardan beranjak pergi untuk menyelesaikan kesalahpahaman dengan sang istri.


“Mira...” serunya saat sudah sampai ruang rawat sang istri.


Wanita hamil itu hanya menoleh dengan wajah sembabnya.


Tanpa perduli akan mendapat kekerasan dari istrinya Ardan mendekat, memeluk Mira yang kembali menangis dalam pelukannya, kali ini Mira tak menolaknya justru semakin mengeratkan pelukannya.


“Aku minta maaf, semua kata-kataku pasti menyakitimu”


“Aku tidak berselingkuh dengan Bang Rey, sungguh, ini bukan anak Bang Rey” racau Mira yang semakin menambah penyesalan di hati Ardan.


“Aku tau, aku tau dia adalah anakku, bukan pria lain”


“Tapi..”


“Aku cemburu Mira, aku tidak suka kamu berdekatan dengan Rey atau pria manapun selain aku” potongnya tak mau sang istri kembali mengungkit kebodohannya.


Mira bungkam, kini sedikit banyak ia tau penyebab perubahan suaminya.


“Aku marah saat kamu bermalam di rumah Rey, bahkan sampai tidur di kamar pria itu, aku tau aku bodoh karena mengungkapkan amarahku dengan menuduhmu, aku minta maaf Mira” ungkap Ardan yang semakin membuat Mira terharu dan menumpahkan air matanya.


“Ini anak kamu Mas”


“Aku tau” Mendengar itu Mira mendongak demi bisa menatap wajah suaminya yang menunduk.


Tangisnya pecah, bulir air mata itu kembali mengalir di pipi mulus Mira, dan Ardan segera menghapusnya.


“Tapi kenapa seolah kamu menolak kehadirannya?” tanya Mira dengan suara khas orang menangis.


“Sudah aku bilang, aku sedang marah, maaf ya?” ucap Ardan penuh dengan permohonan, tangannya tergerak mengusap lembut perut yang belum membuncit itu.


“Aku tidak percaya kalau Arkan adalah anak kandung Bang Rey” ucap Mira yang kembali mengusik amarah Ardan.


“Dinda pernah berkata bahwa Arkan anak dari kekasihnya, kamu jelas tau kan siapa yang kita maksud disini?” Mira terdiam, ia ingin membantah lebih jauh tapi juga khawatir suaminya akan kembali termakan api cemburu.


Meski firasatnya mengatakan hal yang sama, kali ini Mira memilih diam, hingga dirinya terkesiap saat Ardan mengusap lembut pipinya.


“Jangan temui dia lagi, please” pinta Ardan yang tak bisa Mira sanggupi dengan segera.


“Aku tidak bisa”


“Kenapa Mira?”


“Karena dia Abangku” Ardan menatap Mira tak suka.


TBC