
Mira merasa cemas saat Dinda mulai berkemas, dia baru tau jika Ardan menyimpan beberapa senjata di rumah mereka, Dinda mengambil satu pistol dan beberapa peluru lalu memasukkannya pada tas pinggang.
“Jangan cemas Mbak, semuanya akan baik-baik saja” rasanya Mira ingin mengiyakan itu tapi sulit, saat semua terlihat jelas bahwa tidak ada yang akan baik-baik saja dengan kondisi seperti ini.
“Dinda apakah kamu yakin akan melakukan ini?” tanya Mira sekali lagi saat Dinda sudah bersiap untuk pergi menyusul Ardan.
“Iya Mbak, tenanglah, Mas Ardan akan pulang dan kembali berkumpul dengan kalian”
“Kalau begitu kamu juga harus selamat bersama Mas Ardan, aku ingin kalian berdua selamat”
Dinda sedikit meragu, alasan ia melakukan ini semua adalah untuk menebus dosanya, dosa menipu Ardan, dosa memfitnah Mira, dosa pada Arkan, dan dosa-dosa lainnya.
Apakah masih ada kesempatan untuk menebus semuanya setelah apa yang sudah terjadi diantara mereka?
“Dinda.. tolong berjanji kalau kamu juga akan kembali dengan selamat” desak Mira saat Dinda hanyut dalam pikirannya.
“Iya mbak, aku berangkat, tolong sekali lagi aku titip Arkan pada Mbak Mira ya..”
“Dinda..” panggil Mira yang masih agak berat melepas kepergian Dinda.
“Kami akan kembali Mbak, doakan keselamatan kami ya..”
Mira mengangguk, tidak ada lagi yang bisa ia lakuka selain melepas kepergian Dinda menyusul suaminya, kata Dinda dia tau persembunyian Alex, hanya dia yang tau.
Sekarang tugas Mira hanya berdoa.
Mira mengekori Dinda yang menuju ruangan anak-anak, demi keselamatan mereka Mira memboloskan mereka berdua.
“Mommy pergi dulu ya Nak, Arkan disini sama Bunda dan Ayah”
“Iya, Mommy mau kemana?” buliran air mata itu meluruh, begitu juga dengan Mira, semenjak hamil ia tak bisa mengontrol emosinya, selalu merasa tersentuh pada hal-hal kecil yang ada di sekitarnya.
Hingga Aiden turun tangan untuk menenangkan Mira.
“Mommy akan menjemput ayah”
“Apakah akan lama?”
“Tidak, tidak akan lama sayang, nanti kalau Ayah kembali, Arkan harus janji akan selalu jadi anak baik, ok?”
“Iya Mommy”
“Mommy sayang sekali sama Arkan”
“Arkan juga sayang sama Mommy, sama Bunda, sama semuanya..” gelak tawa mencuat begitu mendengar seloroh Arkan.
***
“Apa maksud semua ini?”
Alex menertawai kebingungan Ardan.
“Tepat seperti yang ku katakan dia, wanita iblis itu telah menipu kalian semua”
“Apapun itu aku tidak akan memberikan Arkan padamu, menjadi penerusmu? Begitu? Tidak akan!”
“Jadi kau lebih suka keluargamu dalam bahaya dari pada menyerahkan putraku, benar begitu?”
“Jangan sentuh mereka!!!” lagi-lagi Alex tertawa, kemarahan lawannya sudah seperti lelucon baru baginya.
“Silahkan pilih tuan Ardan, melindungi mereka atau menyerahkan putraku, jangan bersikap serakah”
“Aku tidak akan memberikannya padamu, dunia hitam sama sekali tidak pantas untuk Arkan yang selama ini hidup dengan aman dan nyaman, sebagai ayah tidakkah kamu pikir ini terlalu berbahaya untuk putramu?”
“Tapi aku butuh penerus! Bisnis ini, dan seluruh kekayaanku sudah ku siapkan untuk Arkan, aku juga seorang ayah, seperti kamu aku akan melindunginya akan aku buat ia menjadi pria kuat yang tangguh”
Ardan bungkam, hatinya jelas menolak, Arkan terlalu suci untuk menjadi penerus mafia seperti pria di hadapannya ini, hati Arkan terlalu lembut untuk menghadapi hal-hal berbahaya di masa mendatang nanti.
“Sudahi ini Ardan, aku berterimakasih, aku tidak akan melupakan kebaikanmu dalam merawat Arkan, tapi ia masih punya seorang ayah, biarkan anak itu kembali pada ayahnya”
“Kamu sudah mengikis kesabaranku sampai hampir habis, untuk mempercepatnya, aku menaruh bom di rumahmu, jika kamu masih menolak, aku bisa menelpon seseorang untuk mengaktifkannya, aku kira kamu butuh itu untuk mempercepat semuanya, harus kamu tau aku tidak memiliki banyak waktu” Alex mengambil handphone yang ada di saku celananya, tapi dengan cepat Ardan melempar map ke arah Alex.
Handphone itu terjatuh.
Ardan berlari menghampiri handphone itu untuk merusaknya, tapi gerakannya terhenti saat sebuah senapan di todongkan ke arahnya.
“Ckckck, kamu curang Ardan, sangat curang, hancurkan saja ponsel itu, aku akan segera menarik pelatuknya, aku membunuhmu, juga bisa mengganggu keluargamu saat kau sudah tiada, ku dengar istrimu sangat cantik bukan? Sepertinya dia akan cocok menjadi pendampingku” darah Ardan mendidih, tidak ada yang boleh menyentuh Mira tidak dengan pria ini atau siapapun.
Dengan cepat Ardan berbalik, menendang dada Alex hingga jatuh, mengambil pistol lalu berbalik menodongkan senjata pada Alex.
“Kamu pikir kamu siapa Alex? Sejak anak itu lahir, hanya aku lah ayah bagi dirinya, kamu atau siapapun tidak berhak mengambilnya dari kami” Alex kembali terkekeh.
“Rasanya salah jika aku berbaik hati padamu”
“Kalau begitu jangan berbaik hati, karena aku tau kejahatan sudah sangat melekat pada tubuhmu kan?”
“Mas Ardan?!!” keduanya menoleh pada Dinda yang juga menodongkan pistol ke arah Alex.
“Wah wah apa ini, apakah kamu merindukanku sayang?”
“Aku bahkan tidak sudi hanya sekedar bertatap muka denganmu”
“Ohh aku tau, kamu kesini untuk menyelamatkan pria yang kamu cintai ini ya? Sayang sekali, sepertinya cintamu bertepuk sebelah tangan ya kan?”
Mereka tak menggubris perkataan Alex, dengan sikap waspada Ardan mendekat ke arah Dinda, “Untuk apa kamu kemari?”
“Aku ingin menyusulmu”
“Apa kamu sudah gila Dinda?”
“Pulanglah, Mbak Mira menunggumu, ini sepenuhnya menjadi urusanku” saat nama Mira di sebut Ardan seketika merindu padahal belum ada sehari mereka berpisah.
“Hey hey, apakah kalian tidak menghiraukanku?” keduanya kembali berwaspada.
“Sampai kapanpun aku tidak akan menyerahkan Arkan pada pria brengsek sepertimu” ucap Dinda to the point.
“Aku ayah kandungnya”
“Aku ibunya! Kamu sama sekali tidak punya hak apapun atas Arkan”
“Ouhh, kata-kata itu sungguh menyakitiku sayang, kenapa kamu bersikap jahat padaku hmm?” ucap Alex berpura-pura sedih, tapi itu justru membuat Dinda semakin jijik.
“Baiklah kalian sudah memilih, jika aku tidak bisa memiliki Arkan maka kalian juga tidak” ucap Alex sembari kembali meraih handphonenya, namun dengan cepat Ardan merebut itu lalu menghancurkan benda pipih itu dengan sekali hentakan.
“Hahaha, apa kamu kira kamu bisa mencegahku untuk menghancurkan kalian semua dengan merusak ponsel itu?” Alex mengeluarkan benda persegi dengan tombol di tengahnya, membuat Ardan dan Dinda saling tatap.
“Sebentar aku akan menyalakan televisi, mari kita lihat pertunjukkan”
“Apa maksudmu?!”
“Kita lihat saja”
Klik
Televisi itu menampilkan rumah Ardan dari sisi depan, “Siap?”
Ctek
Bluar!!
Rumah itu hancur.
“MIRA!!!!!”
TBC