My Hubby

My Hubby
Chapter 32



“Kamu tau siapa Dinda itu?” ucap Ardan saat istrinya sudah duduk di sebelahnya.


“Ibu Arkan, Dinda ibu kandung Arkan, benarkan?” putus Mira tanpa memperdulikan fakta lain yang ingin suaminya tunjukkan padanya.


“Dia mantan istriku!” sentak Ardan yang sudah berdiri menghadap Mira yang masih duduk dengan tenang.


Mira masih diam, menunggu kalimat berikutnya.


“Kamu tidak terganggu dengan itu?” tanya Ardan saat istrinya memilih bungkam.


“Hanya mantan istri kan? dia juga berada di rumah ini tidak berniat menjadi istrimu lagi, apa aku benar?”


“Salah!!!”


Lagi-lagi Mira berjengit hingga menutup matanya saat Ardan berteriak marah.


Ardan menggeram saat menangkap wajah ketakutan istrinya, namun setelahnya ia tertawa, membaut Mira menatap suaminya heran.


“Oh aku tau, kamu sengaja membuat Dinda tinggal disini agar aku bisa kembali dekat dengannya kan? lalu kamu bisa dengan mudah melanjutkan hubunganmu dengan Rey, iya kan?!”


“Kamu ngomong apa sih Mas!”


Ardan mengibaskan tangannya ke udara, lalu kembali menatap istrinya intens, “Aku bicara fakta”


“Itu tidak benar!”


Dua orang itu saling tatap dengan marah.


Mira memutus pandangan itu terlebih dahulu, sembari menghirup udara sebanyak yang ia bisa untuk menetralkan emosinya, ia merasa harus menjadi pihak yang mengalah jika tidak ingin kesalahpahamannya dengan Ardan terus berlanjut.


“Mas kamu harus tau kalau Bang Rey itu..”


“Cukup! Aku tidak mau dengar” potongnya pada sang istri.


“Ya sudah kalau kamu tidak mau mendengarkan penjelasanku, tapi bolehkah aku tau kenapa kamu sangat memebnci mantan istrimu itu?” tanya Mira sembari menekan kata mantan istri, membuat Ardan bangkit dan membelakanginya.


“Aku tidak suka dengannya”


“Alasannya?”


Ardan berbalik agar bisa menatap istrinya.


“Kenapa kamu ingin tau tentang itu?”


“Tidak ada, hanya ingin tau saja, mengingat kalian pernah hidup bersama bahkan mungkin tidur..”


“Aku tidak pernah meniduri Dinda!” potong Ardan sengit, membuat Mira mengerjap kehilangan kata-katanya.


“Kamu tidur dengannya pun aku tidak apa-apa Mas” Ardan terhenyak di tempatnya.


“Tau kenapa aku berkata seperti itu?” Ardan diam, Mira berjalan menghampiri suaminya.


“Karena kalian pernah menikah” tambah Mira saat Ardan hanya diam saja sembari menatapnya.


“Tapi aku tidak pernah melakukannya dengan Dinda, kamu ingin tau kenapa?” tanya Ardan yang menantang Mira.


“Kenapa?”


Ardan yang tak menyangka istrinya akan balik menantangnya tak langsung menjawab, ia justru memperhatikan Mira yang masih saja menatapnya seakan bertanya.


“Aku hanya ingin melakukan itu denganmu” sedikit terkejut juga tersipu Mira berdehem untuk meredam rasa gugupnya.


“Kamu tidak menyewa perempuan..”


“Tidak!” jawab Ardan tegas.


Atmosfir kamar mereka sejenak berubah, entah kenapa Mira langsung tertunduk saat mereka telah saling tatap lama.


“Lalu kenapa kamu tidak pernah lagi menyentuhku Mas?” tanya Mira setelah mendapat keberanian wanita itu kembali menatap suaminya.


Kini Ardan kembali diam, ia memilih menatap Mira dengan tatapan yang sulit diartikan.


Mira terhenyak saat Ardan memilih meninggalkannya tanpa menjawab apapun.


***


Makan malam kali ini agak ramai seperti sebelumnya, bukan karena ada Arkan disini, kehadiran Dinda juga menambah personel dalam rumah itu.


Ardan terlihat seperti Tuan kaya yang memiliki dua istri, juga dua putra pewaris seluruh kekayaannya.


Meski kenyataannya tak seperti itu.


Hanya Mira nyonya di rumah itu saat ini.


“Cukup Mir” Mira menghentikan kegiatannya menuangkan lauk ke piring suaminya.


Sedangkan Dinda, ia memilih mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


Sejak pertengkaran mereka siang tadi di kamar, baik Ardan dan Mira sama-sama tak ada yang membuka pembicaraan.


Juga Dinda yang terlalu tau diri sebagai tamu di rumah itu, kali ini Dinda sudah menerima takdirnya, ia ada di rumah itu hanya untuk putranya.


Setelah menghabiskan makannnya Ardan menyilangkan sendok dan garpu di atas piringnya, kemudian menatap Mira yang masih saja diam.


Tanpa banyak kata Ardan langsung menarik tangan istrinya tanpa mau peduli istrinya sudah selesai makan atau belum.


Tak memperdulikan tatapan heran Dinda padanya, juga kedua anak yang kini menghentikan aktifitas mereka karena pintu yang tertutup sedikit kencang itu.


Aiden sedikit merasa takut Bundanya akan disakiti oleh Ayahnya juga beranjak turun dari kursinya, tapi tangan Dinda mencegahnya.


“Aiden mau ke kamar Ayah dan Bunda dulu Tante”


“Jangan”


“Kenapa? Apa Ayah akan memarahi Bunda seperti Ayah memarahi kami berdua?” tanya Arkan dengan polosnya. Dinda hanya menggeleng sembari menyiratkan sedikit senyum untuk menenangkan keduanya.


Di dalam kamar, Mira masih kebingungan hanya diam dan menatap Ardan yang terlihat mendambanya.


“Kamu kenapa Mas?”


Tanpa menjawab Ardan mendorong tubuh istrinya ke ranjang mereka.


“Aku ingin kamu Mira”


Tanpa lagi banyak tanya Mira hanya pasrah saat Ardan meminta hak-nya.


Ardan menyudahi hasratnya saat pelepasannya setelah hampir satu jam bergelung dengan Mira.


Pria itu langsung berbaring di samping Mira yang juga masih terengah karena kegiatan mereka.


Dengan ragu Mira menatap suaminya yang memejamkan mata.


“Kenapa tiba-tiba ingin?”


Ardan membuka matanya.


“Aku hanya ingin menghapus jejak pria itu” jawab Ardan menimbulkan kerutan di dahi Mira.


“Maksud kamu apa?”


“Aku tidak ingin ada jejak pria lain di tubuhmu” Mira sontak bangun untuk meraih kesadarannya.


Dia tidak salah dengar kan?


“Bisa ulangi lagi Dan?” tanya Mira yang bahkan kembali memanggil suaminya hanya dengan nama.


Ardan yang kesal juga ikut bangun dan menghadap Mira.


“Aku ingin menghapus jejak Rey di atas tubuhmu”


Plak!


Rasa panas itu menjalari pipi Ardan, hatinya juga ikut marah karena istrinya sudah berani menamparnya.


“Kamu menamparku?!” ucapnya marah sembari mencengkeram dagu Mira kencang.


Ringisan istrinya tak membuat amarah Ardan reda, bahkan saat air mata menyusuri pipi mulus istrinya.


“Lalu kenapa kamu sudi menyetubuhiku lagi?!” jeritnya.


“Aku berpikir kamu tidak lagi ingin ku sentuh setelah merasakan sentuhan pria lain, tapi tadi siang kamu terlihat juga menginginkannya” mendengar itu Mira berontak hingga cengkeraman itu terlepas.


Mira mengangguk paham hingga air matanya jatuh lebih cepat.


“Kamu sungguh berpikir aku tidur dengan Bang Rey?” Ardan diam.


Membuat Mira meyakini tuduhannya adalah benar.


“Baiklah, aku memang sudah sehina itu di matamu, dan aku baru menyadarinya” Mira tertawa miris di hadapan suaminya yang masih membeku.


“Itu sebabnya kamu marah sekali saat aku menyebut nama Bang Rey” gigi Ardan bergemeletuk saat nama pria itu kembali istrinya sebut.


Mira menggoyangnya tangannya di depan Ardan, “Tidak Ardan, aku tidak akan lagi menjelaskan, kamu berpikir seperti itu dan terus-menerus marah atas sesuatu yang belum tentu benar”


“Aku sendiri yang melihatmu dengan damai tidur hanya berbalut selimut di kamar pria itu, lalu aku harus berpikir apa?!”


Jadi itu masalah suaminya.


“Dengar Mira aku percaya padamu tapi tidak dengan pria itu, aku memang marah tapi tidak jijik padamu, tapi jangan temui pria itu lagi atau aku tidak akan bisa lagi menahan hasratku untuk membunuhnya” setelah mengatakan itu turun dan menuju kamar mandi, meninggalkan Mira yang sudah ia sakiti sedemikian rupa.


TBC