My Hubby

My Hubby
Chapter 51



Jalanan yang sepi membuat mereka segera sampai rumah sakit terdekat, Rey menunggu di depan ruang perawatan.


Hari ini adalah hari yang sangat berat, mulai dari ia yang berpacu dengan waktu untuk mengevakuasi adik dan keponakannya, sampai harus bertemu dengan mantan kekasih dan sahabatnya hingga ada dalam kondisi abu-abu karena iparnya dinyatakan hilang.


Malam ini terasa semakin dingin bagi Rey, hidup seperti selalu mempermainkannya, mulai harus kehilangan sosok ibu di usia dini, lalu kemunculan Dinda yang mengisi kekosongan Rey, juga kehadiran Alex yang selalu ada disaat-saat terburuk Rey, tapi akhirnya Rey memilih menjauh dari mereka berdua semenjak pengkhianatan itu terjadi.


Rey sedikit menghela nafasnya, saat rasa sesak membelenggu dadanya, seolah semua itu belum terasa berat Rey kembali bertemu dengan sosok penyayang, Amira Adiba Az-Zahra yang sebulan kemudian dikenalkan sang Papa menjadi adik kandungnya.


Rey meraup wajahnya kasar, kembali menepuk-nepuk dadanya.


“Keluarga saudari Dinda” Rey mendongak lalu mendekat pada dokter itu.


“Mohon maaf Pak, kami sudah melakukan yang terbaik, saudari Dinda telah dinyatakan meninggal” jelas dokter itu, Rey hanya Diam saat dokter itu berjalan menjauh.


Wajahnya tetap datar saat ranjang pasien yang sudah sepenuhnya tertutup kain putih itu di bawa keluar.


Tidak ada air mata Rey yang jatuh, tidak lagi, tidak seperti saat pertama kalinya Dinda menyakiti hatinya.


Hingga saat ranjang itu dibawa menjauh, Rey hanya bisa menatapnya, ‘Akhirnya jadi seperti ini Dinda’


Rey memilih keluar dari area rumah sakit, ia sama sekali tidak ingin lagi diributkan dengan Dinda.


“Rey” pria itu menoleh pada Daru dan satu pria paruh baya di sampingnya.


“Daru, lama tak berjumpa ya” sapa Rey setelah memeluk Daru ala-ala pria, namun kalimat itu terdengar kosong dalam kondisi seperti sekarang.


Daru memindai teman lamanya, kakak kandung Mira, satu-satunya keluarga yang Mira miliki saat ini.


“Syukurlah kamu juga selamat dari kecelakaan itu” Rey mengangguk.


“Ini..” tunjuk Rey pada pria di sebelah Daru untuk mengalihkan topik pembicaraan.


“Oh ini om Andreas, Papanya Ardan”


Mereka saling berjabat tangan sekilas, “Salam kenal Nak, apa ada kabar terbaru tentang Ardan dan Dinda?” tanya Andreas yang sudah tak bisa lagi menahan rasa penasarannya.


Rey menghela nafasnya, “Dinda dinyatakan meninggal, sedangkan Ardan.. dia masih dalam pencarian setelah jatuh ke sungai”


Tubuh kokoh Andreas seketika melemah, hingga Daru harus membantu menopangnya, “Kenapa ini semua harus terjadi pada anakku Tuhan..” keluhnya yang sudah tak memperdulikan sekitar Andreas menangis.


“Saya sudah mengerahkan Tim untuk mencari keberadaan Ardan om, saya turut menyesal harus menyampaikan ini pada anda” dengan lemah Andreas mengangguk, ia bahkan sudah tak malu untuk menangis di hadapan keluarga menantunya.


Rey menuntun Andreas yang masih shock untuk duduk di salah satu bangku di dekat sana, hari ini memang hari yang berat bagi pria paruh baya itu, setelah mengetahui cucu dan menantunya selamat ia belum bisa merasa tenang karena informasi dari Rey.


“Om tau kamu tidak begitu menyukai Ardan” Rey diam saja, tapi ia menoleh pada Andreas yang kini juga menatapnya.


“Jika Om jadi kamu, Om juga akan marah atas apa yang Ardan lakukan pada Mira, dan dengan kejadian itu atas nama Ardan Om minta maaf Rey” ucap Andreas sembari hendak membungkuk tapi Rey segera menahan bahu pria itu.


“Kalau memang harus ada yang mengucapkan maaf itu adalah Ardan bukan Om” tegas Rey, perlahan air mata Andreas kembali luruh.


Andreas mengangguk, ia paham apa maksud Rey “Dia hanya orang yang tidak tau bagaimana cara mencintai, saat beranjak dewasa Om tau bahwa Ardan memiliki rasa yang lebih dari teman untuk Mira tapi sayangnya kami sebagai orang tua tidak bisa mengarahkan perasaan itu, kami terlalu sibuk untuk menyadari itu semua” sesal Andreas, Rey menyimak itu dengan baik.


“Om meminta maaf karena kami sebagai orang tua sudah gagal mendidik anak kami, tapi Om tidak pernah menyesal memiliki menantu seperti Mira, kami bahkan sudah menyayanginya seperti anak sendiri sejak dulu” ucap Andreas membuat Rey kembali bertanya-tanya tentang masa kecil adiknya.


“Seperti apa masa kecil Mira Om?” Andreas tidak terlalu terkejut dengan pertanyaan itu, sebelum kemari Andreas sudah mencari tau tentang Rey dan hubungan pria ini dengan menantunya.


“Dia anak yang sangat baik dan ceria, meski hidup hanya dengan seorang ibu yang sangat hebat, kurang lebih hidupnya sama seperti Ardan karena meski masih memiliki Papa, kami hampir tidak pernah menghabiskan waktu bersama”


Hati Rey ikut teriris, saat dia hidup berkecukupan dengan harta dan kasih sayang kedua orangtuanya, ternyata ada saudara yang sedarah dengannya tidak merasakan hal yang sama.


“Kinanti, nama ibu Mira, adalah wanita karir yang tidak pernah sekalipun mengabaikan Mira, ia sangat epik dalam memerankan peran sebagai ayah dan ibu dalam satu waktu”


“Tak lama dari itu kami memutuskan pindah rumah, hanya itu yang Om tau dari Mamanya Ardan karena kami juga kehilangan kontak Kinanti” Rey mengangguk paham, kini meski sedikit ia jadi tau darimana sifat mandiri juga tahan banting yang Mira miliki.


Sifat Ibu Kinanti menurun pada Mira, juga nasib sial yang Mira terima, kisah Ibu Kinanti dengan Papanya tidak jauh beda dengan kisah Ardan dan Mira, Rey kembali mendung.


Jika saja ia bisa menanggung semua rasa sakit Mira atau mungkin dosa papanya, ia sungguh rela, melihat masa sulit Mira saat hamil si kembar, juga mendengar masa kecil Mira yang sangat menyedihkan itu membuat Rey merasa kecil saat bertemu adiknya.


Juga karena tanpa tau malu cinta menyelimuti perasaan Rey membuat semuanya terasa complicated!


Tau apa yang dipikirkan anak muda di hadapannya Andreas menepuk bahu Rey “Semua orang pernah berbuat salah Nak, tanpa terkecuali para orangtua, mereka juga manusia dengan segala ego dan nafsunya” Rey menoleh pada Andreas.


“Apa yang dilakukan Ardan dan Papamu memang salah, tapi tidak ada yang bisa dilakukan untuk merubah masa yang sudah terjadi jauh sebelum ini kecuali mengambil pelajaran dari semuanya” lanjut Andreas membuat rasa yang sedikit membelenggu tadi perlahan memudar.


Hal selanjutnya membuat Rey terkejut saat Andreas memeluknya, tanpa sadar Rey membalas pelukan itu, pelukan yang terasa seperti pelukan sang Papa.


Dalam hati Rey ingin sekali memaafkan kesalahan Papanya, tapi saat melihat wajah sendu Mira membuat kebencian itu semakin subur dalam hatinya, juga penyesalan karena tidak bisa memeluk sang Papa diakhir hayatnya.


Malam ini, seorang anak yang kehilangan Papa dipeluk oleh seseorang yang sedang kehilangan anaknya.


TBC