My Hubby

My Hubby
Chapter 56



Hilang, semua jiwa Mira seakan melayang, pria yang ia benci mati-matian kini meninggalkan penyesalan yang sangat dalam bagi Mira.


Mira menyesal tidak pernah bersikap baik pada Ardan selama mereka menjadi sepasang suami istri.


Banyak orang yang bilang tahun pertama pernikahan adalah masa yang sulit, tapi cobaan ini terlalu berat bagi Mira.


Wanita hamil itu hanya diam sembari menggenggam tangan kecil Aiden yang mati-matian menahan tangisnya agar Bundanya tidak semakin sedih.


Duka itu bukan hanya milik Mira, tapi juga Aiden yang baru saja bertemu dan merasakan kasih sayang ayah kandungnya.


Kini mereka kembali di garis awal hidup tanpa Ardan, bedanya, ada satu nyawa lagi yang Ardan titipkan untuk mereka.


Lirih lantunan ayat suci memenuhi rumah duka, Mira masih ada di kamarnya, tidak ada air mata yang membasahi wajahnya, tapi aura kehidupan juga tidak terpancar dari tubuhnya.


Semua belasungkawa Mira terima tapi tak ada satupun dari mereka yang menerima respon dari Mira.


Siska yang berada di samping Mira juga tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya, saat pertama kali mengetahui kehadiran Aiden untuk pertama kalinya Mira juga berespon sama, seperti de javu kini Mira sedang mengandung anak kedua mereka.


Rini menggenggam tangan Mira yang tidak menangis juga tak mengucapkan apapun, wanita itu khawatir pada kondisi menantunya.


“Assalamualaikum” salam Daru membuat semua orang menoleh ke arahnya termasuk Mira, ada Rey yang menunduk di belakangnya.


Seketika tatapan Mira berubah, wanita itu langsung berdiri dan menghampiri Abangnya, “Mana Mas Ardan?” Rey menatap Adiknya sedih, ini alasan ia menolak pulang.


Mira menatap Rey penuh harap, wajahnya berubah sumringah hal yang semakin rey merasa bersalah “Abang, jawab dong, Mas Ardan di luar ya? Mira mau kesana..” tapi gerakan itu terhenti seketika


“Ardan tidak ada diluar”


Mira masih belum bisa menerimanya “Abang sudah janji, Abang bilang akan bawa Mas Ardan untuk aku” gumam Mira yang semakin membuat Rey sedih dan merasa tak berguna.


“Oh aku tau, Mas Ardan pasti ingin membuat kejutan kan? biar aku yang balik mengejutkannya” tanpa mendengarkan semua orang Mira berlari keluar, Rey yang hendak menahan kepergian adiknya ditahan oleh Andreas.


“Biarkan Rey, biar adikmu memenuhi rasa penasarannya” tinggal Rey yang kini diam menatapi kepergian adiknya dengan nelangsa.


Langkah demi langkah Mira tempuh, sudah terbayang bagaimana wajah tampan suaminya yang sangat ia rindukan, puluhan orang berbaju hitam hanya bagaikan bayangan bagi Mira karena fokus utamanya adalah halaman depan, tempat dimana Ardan berada, pikir Mira.


Degub jantung yang berdetak kencang berpacu dengan cepatnya langkah Mira, begitu sampai di halaman depan, Mira tersenyum.


Ardan ada disana, tepat sesuai pikirannya.


Langkah itu semakin cepat selaras dengan Ardan yang merentangkan tangannya, tapi..


“Mira!!” jeritan Rey membuat Mira menoleh dan berhenti di tempatnya, tepat sebuah mobil yang melaju kencang melewati Mira.


Semua orang berlari, tapi Mira tetap pada pendiriannya, namun tidak ada lagi Ardan disana.


Mira gelisah, hendak berlari menyebrang jalan tapi Rey terlebih dahulu memeluknya.


“Tadi Mas Ardan disana, tapi sekarang kok gak ada..” ucap Mira kebingungan.


“Kita masuk ya” ajak Rey, tapi Mira dengan tegas menggeleng.


“Aku harus mencari suamiku” Rini dan Siska menggigit bibir mereka untuk meredam tangis.


“Ini sudah petang Nak, Ardan akan marah pada kami jika terjadi sesuatu padamu maupun calon anak kalian, hmm?” mendengar nama itu Mira menurut, sekali lagi ia menoleh ke tempat tadi Ardan sudah tidak ada disana.


“Ayo Nak kita masuk ya?” ajak Andreas lagi, kali ini mereka semua menuntun Mira ke dalam rumah.


Saat sudah berada di dalam rumah, Daru memasukkan obat ke dalam minuman Mira yang membuat wanita itu tertidur.


“Kita harus membawa Mira ke psikiater, dia butuh bantuan” Rey menatap Daru tak suka.


“Adikku tidak gila”


Daru merasa paham dengan respon itu, “Rey, keadaan ini jika terjadi terus menerus akan berakibat fatal untuk semuanya, apa kamu bisa menjamin bahwa Mira akan terus menerus aman setelah tadi kita melihat sendiri dia hampir tertabrak karena berhalusinasi tentang Ardan?”


“Yang dikatakan Daru ada benarnya Nak, Mira sedang butuh bantuan tenaga ahli, kita terutama kamu pasti ingin kembali melihat senyuman Mira kan?” ucap Andreas menengahi, tapi itu justru membuat Rey kalah telak, ia juga sadar ini terjadi karena dirinya yang tidak bisa membawa Ardan.


“Bang, ke psikiater bukan hanya untuk orang dengan gangguan jiwa, dulu Mira juga pernah mengalaminya saat kembaran Aiden meninggal, percayalah dia akan baik-baik saja” tambah Siska yang semakin membuat Rey pasrah.


“Baiklah” Daru akhirnya bisa bernafas lega.


“Aku akan menghubungi psikiater yang dulu menangani Mira” Rey hanya mengangguk saja, tapi tatapannya tertuju pada wanita cantik yang kini sedang menutup mata.


Sadar mereka butuh ruang semua orang meninggalkan kakak beradik itu, “Maaf aku tidak bisa membawa suamimu pulang” setetes air mata membasahi wajah tampan Rey.


Rey tak memperdulikannya, ia hanya fokus menatapi wajah Mira, dan mendadak sendu saat mengingat wajah sedih adiknya.


“Ini diluar kendaliku Mira, tapi aku jamin semuanya akan baik-baik saja” tak sengaja tatapannya beralih pada baby bump Mira yang mulai terlihat, tangan Rey tergerak mengusapnya.


“Aku akan melindungimu dan kedua anakmu Mira, itu janji terakhirku, dan kali ini aku akan menepatinya” ucap Rey bersungguh-sungguh.


Satu tahun kemudian..


“Aiden, Arkan, ayo berhenti mainnya..”


“Yah uncle!”


“Ayo makan dulu, kalian sudah janji satu putaran saja kan?” dengan lesu dua anak itu berjalan lunglai ke arah Rey yang sedang menggendong baby Aira yang baru berusia lima bulan.


“Ini untuk Kakak, ini untuk Adik” ucap Rey yang membagi makanan sesuai porsi mereka berdua.


Rey sudah menerima kehadiran Arkan sebagai anak angkat Mira, dia sudah berdamai dengan keadaan yang ada.


“Lalu untuk si kecil Aira mana uncle?” tanya Arkan dengan nada menggemaskan.


“Ini..” ucap Rey sembari menunjukkan sebotol dot kecil berisi susu formula.


Dua kakak beradik itu tertawa lucu saat Aira dengan cepat mengenyot susu itu.


Mereka makan sembari berceloteh ria.


Saat siang, Rey menempatkan semua ponakannya ke dalam kamar mereka.


Rey menatap mereka bertiga dengan haru, saat harusnya mereka tidur dengan buaian Bunda mereka, tapi mereka harus puas dengan Rey.


“Tuan, dokter Rian ingin bertemu” Rey mengangguk dengan pelan ia keluar agar tidak membangunkan ketiganya.


Saat ada di ruang tengah, pria ber-stel-an rapi berdiri menyambutnya.


“Selamat siang Tuan Rey” Rey mengangguk sopan.


“Panggil Rey saja Dokter, jadi bagaimana kondisi Mira?” tanya Rey to the point.


TBC