My Hubby

My Hubby
Chapter 29



Perang dingin antara Mira dan Ardan terus berlanjut, dan saat ini di tambah dengan murungnya sang putra yang masih terpuruk kehilangan adiknya, semakin menambah kesunyian rumah megah itu.


Hanya ada Ardan dan kedua orang tuanya di meja makan.


Alasan ketidak hadiran Mira adalah untuk membujuk sang putra yang sudah sejak kemarin menolak makan.


“Ardan akan menyusul Mira dulu, Ma, Pa” putus Ardan tak mau kedua orangtuanya terlambat sarapan karena anak dan istrinya tidak kunjung berada di ruang makan.


Ardan bangkit dari duduknya saat kedua orangtuanya mengangguk.


“Aiden ayo makan yuk”


“Tidak mau Bunda, Aiden cuma mau Adik Aiden dikembalikan, ayo jemput adik dulu Bunda”


Samar-samar Ardan mendengar perdebatan ibu dan anak itu.


“Aiden, makan!” ucap Ardan tegas di ambang pintu.


Merasa takut dan keinginannya yang tak mungkin di turuti, Aiden kembali menangis, membuat Mira menatap suaminya kesal.


Tak ingin memperpanjang masalah, Ardan menggendong paksa putranya dan membawa nya ke ruang makan, tak peduli jika anak itu kembali mengamuk dalam pelukannya.


“Lepas!!! Aiden tidak mau makan”


“Kamu harus makan!!!” bentak Ardan tak kalah kencang.


Semua orang terkesiap, bahkan Rini sampai akan turun tangan menghadapi amarah putranya tapi Andreas menahan istrinya.


Mira menatap sedih putranya yang kini menunduk dengan menangis tanpa suara.


Pelan-pelan Mira mendekati anak itu, mengusap pelan rambutnya, lalu membingkai wajah sembab Aiden dengan lembut.


“Aiden makan ya, kalau tidak mau makan nanti Aiden sakit dan membuat Bunda sedih” mendengar tutur kata Mira yang lembut membuat anak itu memeluknya kencang meluapkan kesedihannya, juga ketakutannya pada sang Ayah.


“Aiden sedang sedih Bunda, tidak ada Adik disini” adunya sembari tergugu.


“Bunda juga sedih, nanti kita cari jalan keluarnya bersama ya” anak itu mengangguk.


“Sekarang Aiden makan dulu lalu pergi sekolah” anak itu mengangguk lagi.


Semua orang disana bisa bernafas lega saat Aiden mulai memakan makanannya juga ikut malahp sarapan mereka yang sedikit telat pagi ini.


Saat semuanya sudah selesai makan, Rini dan Andreas menawarkan diri mengantar Aiden sekaligus pamit pulang.


Hingga di ruang makan ini hanya tersisa Ardan dan Mira yang makan dalam diam.


Ardan lebih dahulu menghabiskan makanannya, lalu bangkit pergi tanpa berkata apapun pada wanita yang kini memandangnya.


Saat Ardan benar-benar pergi, Mira kembali menghela nafasnya sedih, wanita itu mengangkat piring kotor mereka berdua.


Suasana rumah menjadi hening membuat Mira seketika teringat akan putra kecilnya, hal yang semakin menambah kesedihan Mira.


‘Sedang apa putra kecil Bunda disana?’


***


“Bunda..”


“Jangan panggil wanita itu lagi Sayang, dia bukan Bunda kamu, hanya ada Mommy” tegasnya pada anak laki-laki yang berwajah sembab itu.


“Arkan mau Bunda” terlalu kesal dengan anak kandungnya sendiri Dinda bangkit dan meninggalkan Arkan sendiri.


Sebelum benar-benar pergi Dinda menoleh pada Arkan yang terbaring di ranjangnya “Mommy tidak akan memberimu makan jika kamu masih tidak mau berhenti memanggil wanita licik itu!”


“Bunda..” lirihnya, Dinda mendengus saat lagi-lagi anak itu menyebut nama itu.


Brak!


Dinda hanya menatap pintu yang sudah tertutup itu dengan kesal.


“Dinda, kamu tidak jadi menyuapi Arkan?”


“Tidak, dia sedari tadi hanya menyebut Bunda-Bunda dan Bunda, Dinda kesal Ma!”


“Tapi Arkan belum makan sejak malam, dia bisa sakit Nak”


Hati Dinda mulai goyah, tapi dia tidak ingin bertemu anak kandungnya yang masih saja akan membuatnya jengkel dengan lebih membutuhkan orang lain daripada dirinya.


“Biarkan saja” mama Dinda hanya menatap putri semata wayangnya dengan wajah sedih.


Dinda menuju kamarnya, merebahkan tubuhnya kasar disana, matanya terpejam untuk sekedar mengistirahatkan otaknya.


Pernikahannya dengan Ardan, juga kehadiran buah hatinya Arkan. Dinda menyukai momen itu.


“Kenapa hidupku tidak pernah bahagia?” monolognya.


“Aku pikir dengan kembali setelah kecelakaan yang hampir saja merenggut nyawaku akan mengembalikan suami dan keluarga kecilku seperti sedia kala, tapi itu tidak terjadi”


Tes


Dinda membiarkan air mata yang jatuh membasahi kasurnya, ia menangis hingga merasa lelah dan tertidur.


Wanita itu kembali membuka mata dengan kondisi kamar yang sudah mulai gelap.


Dengan malas Dinda bangun perlahan sembari mengucek matanya.


Hatinya sudah membaik, setidaknya tidur siangnya membuat ia merasa lebih baik dari sebelumnya.


Matanya membeliak kala melihat jam dinding yang menunjukkan pukul enam sore.


Itu artinya Dinda sudah membiarkan putranya tidak makan hampir seharian.


Sontak hal itu membuat Dinda bergegas turun dari kasurnya, ia berjalan secepat yang ia bisa menuju kamar Arkan putra kecilnya.


Hal yang pertama ia lihat hanya kegelapan, “Arkan?”


Senyap.


Ctek


Lampu yang menyala menggambarkan kamar yang sudah kosong, Dinda mendadak panik, apa yang sudah ia lewatkan selama tidur?


“Non” Dinda menoleh ke sumber suara yang tepat di belakangnya.


“Bibi, apa Bibi tau kemana Arkan? Dimana Mama dan Papa juga?”


“I-itu, Tuan dan Nyonya..”


“Kenapa Bi?!” desaknya.


“Itu Non, Den Arkan masuk rumah sakit” bagai tersambar petir Dinda hampir kehilangan keseimbangannya.


“Bibi tau Papa dan Mama bawa Arkan kemana?”


Bibi hanya mengangguk sembari menyebutkan nama rumah sakit yang kedua orangtuanya tuju untuk menolong Arkan.


Tanpa pikir panjang Dinda segera memacu mobilnya, rasa bersalah itu kembali menyeruak.


Bukan ini yang ia inginkan, tadinya ia hanya ingin membuat Arkan mengerti bahwa ibunya adalah dirinya, bukan wanita yang suda emrebut suaminya, Mira!


Tapi kenapa semuanya berakhir seperti ini?


Dinda meremas rambutnya kasar. Berkali-kali ia memukul setir mobil untuk meluapkan kekesalannya.


Setelah memarkirkan mobilnya Dinda segera berlari ke UGD, ketika dirinya melihat kedua orang tuanya, Dinda menambah kecepatannya.


“Mama, dimana anak Dinda?”


Plak!


“Mas!” ucap Mama Dinda sembari memegang tangan suaminya yang akan kembali menyakiti putri mereka.


Dinda membeku di tempatnya, masih mencerna mengapa ia berakhir di tampar oleh Papanya sendiri.


Dengan mata berkaca-kaca sembari menahan perih di pipi Dinda memberanikan diri menatap kedua orang tuanya.


“Harusnya kamu menurut saat Papa minta kamu menggugurkan anak itu! Karena nyatanya kamu belum siap menjadi orang tua!”


Dinda kembali merintih kesakitan saat lengannya di cengkeram sang Papa yang menariknya mendekat di sebuah ruangan intensif.


“Lihat itu!” mata Dinda tertancap pada objek di depan sana, seorang anak yang tertidur lelap dengan segala alat medis yang menempel di badan mungilnya.


“Beberapa tahun lalu kamu mencaci Papa, bahkan kamu sempat mengatai Papa manusia yang tidak memiliki hati nurani, tapi nyatanya sekarang kamu yang lebih kejam dari iblis!”


Dinda hanya menangis bukan karena cengkeraman papanya, bukan juga karena perkataan pedas Papanya, tapi penyesalannya.


‘Tolong maafkan Mommy Arkan’


TBC