
“Adik, lihat itu Bunda” Aiden dengan wajah yang berbinar sangat berbanding terbalik dengan si bungsu yang berwajah sendu serta hidung berair.
“Bundaa..” Mira langsung membentangkan tangannya pada Arkan yang sudah berlari kecil ke arahnya.
Mira memutuskan untuk pulang saat itu juga kala dirinya sudah terbangun, ia sudah yakin hal ini pasti terjadi.
Wanita itu mengedarkan pandangannya untuk mengecek keberadaan sang suami.
“Ayah belum pulang sejak menjemput Bunda tadi, mungkin kalian berpapasan saat dijalan” Mira hanya tersenyum kecut saat mendengar ucapan Aiden.
Mira tau bahwa mungkin Ardan masih marah dengannya, tentu saja pria itu tidak ada karena sedang menghindarinya.
Semarah apapun Ardan, kini ia tidak bisa meluapkan amarahnya yang sudah seperti kembang api saat marah, tidak seperti dahulu saat belum ada anak diantara mereka.
Hati Mira yang gelisah ia salurkan dengan menenangkan si kecil Arkan, anak itu bahkan masih sesenggukan dalam gendongan Mira.
“Dia Aiden?” Mira menoleh ke belakang, dan menepuk dahinya sendiri, ia bahkan lupa masih kedatangan tamu.
“Iya, Aiden kenalin ini uncle Rey, unclenya Aiden dari bunda” ucap Mira menjelaskan pada putranya.
“Jadi Aiden juga punya uncle Bun?” Mira mengangguk dan membuat anak itu berlari ke arah Rey, kemudian mengamatinya.
“Hai Boy!” sapa Rey sembari menawarkan sebuah tos, Aiden hanya memperhatikan tangan besar itu, lalu kembali menengok kepada Mira.
Saat sudah yakin Aiden kembali menghadap Rey dan membalas tos itu.
Tos!
Dengan gemas Rey mengusak rambut Aiden, namun setelahnya ia terpaku saat Aiden justru memeluknya.
“Aiden gak nyangka, setelah Allah memberikan Ayah dan Adik sekaligus, Allah kasih bonus Aiden dengan memiliki Uncle juga” celetuknya menjalarkan rasa haru di hati Mira.
Ternyata putranya sangatlah kesepian, tapi hebatnya anak itu tidak pernah menampakkannya.
“Senang punya Uncle?” tanya Rey saat merenggangkan pelukan mereka.
“Senang!” melihat pekikan bahagia putranya Mira menitikkan air mata.
“Aku mau ngantar Arkan ke kamarnya dulu ya” ucap Mira yang bicara tanpa suara pada Rey yang langsung diangguki pria itu.
Saat sudah berada di kamar Arkan, Mira meletakkan tubuh kecil itu perlahan, sembari mengusap rambut Arkan yang bercampur dengan keringat dan air mata.
Setelah memastikan Arkan tidur dengan nyaman Mira beranjak pergi menemui Abang dan putranya yang berada di ruang tamu sana.
Sadar tidak ada yang perlu di khawatirkan, Mira beralih ke dapur, membuat dua gelas minuman dingin untuk keduanya.
“Nah itu Bunda!” sadar langsung menjadi sorotan, Mira menatap Rey penuh dengan tanya.
Namun segera mencebik saat Abangnya itu mengendikkan bahu tidak mau memberi tahunya.
“Ada apa nih?”
“Ini Bun, Uncle mau ajak Aiden jalan-jalan, boleh?” pertanyaan yang berat bagi Mira, ia sebenarnya tidak masalah dengan itu, tapi suaminya?
Mira yakin membiarkan Aiden pergi bersama Rey hanya akan membuat masalah semakin runyam.
“Tidak sekarang Mir, kamu bisa mendiskusikan ini dengan Ardan terlebih dahulu” putus Rey menyadari kebimbangan Mira.
“Baiklah” keduanya bersorak senang.
“Aku pulang dulu ya, jaga dirimu baik-baik, jika..”
“Jika ada apa-apa aku harus menghubungi Abang, begitu kan?” Rey tersenyum saat Mira menyela perkataannya.
Rey sadar jika ia sudah berkali-kali mengucapkan itu kepada Mira, kekhawatirannya berdasar, ia sangat takut jika Ardan kembali menyakiti Mira.
“Ok, Uncle pulang dulu ya jagoan!” Aiden mengangguk mantap, kemudian ia dan sang Bunda berjalan mengantar Rey hingga depan pintu.
“Hati-hati uncle!” Rey mengangguk sembari melajukan mobilnya keluar pekarangan rumah Mira.
“Aiden mengantuk ya?”
“Iya Bunda”
“Ya sudah, gosok gigi lalu tidur ya?” anak itu mengangguk dan meninggalkan Mira di ambang pintu.
Hari sudah malam, memang masih pukul delapan, tapi suaminya belum pulang.
Mira sudah bertekad akan menyelesaikan masalah ini sekarang juga, ia yakin bahwa Ardan sudah salah paham dengannya dan sang Abang.
Mira memilih duduk di salah satu kursi rotan yang ada di halaman rumah, udara malam ini cukup sejuk.
Pikirannya masih merangkai kata-kata yang akan ia ucapkan pada Ardan, entah kenapa ia merasa cemas dengan keadaan pria itu.
Dimana suaminya berada sekarang?
Saat akan menelpon asisten pribadi suaminya, mobil Ardan memasuki gerbang, membuat Mira berdiri sembari tersenyum lebar menyambut kedatangan sang suami.
Mira merasa kali ini ia lah yang harus mengalah, jika dirinya dan Ardan sama-sama tidak mau mengalah, masalah tidak akan selesai justru malah menambah masalah baru.
“Mas” sapa Mira saat Ardan berada tepat di hadapannya.
Wanita itu menyalimi Ardan sembari mengambil alih tas kerja suaminya, meski Ardan menerima semua perlakuan manis istrinya, pria itu tetap bungkam.
Tidak seperti beberapa hari lalu saat Ardan sudah mulai mencair, kini balok-balok es sudah kembali menyelimuti dirinya.
“Mas ada yang ingin aku bicarakan”
“Apa?” sahut Ardan dengan malas sembari berjalan masuk ke dalam rumah.
“Tentang Bang Rey” langkah Ardan terhenti seketika, membuat Mira bisa dengan mudah menyusul sang suami.
“Aku sedang lelah Mira” kilah Ardan saat Mira sudah berada tepat di hadapannya.
“Hanya sebentar Mas, ku mohon” pinta Mira setengah memelas.
“Aku ingin tidur” putus Ardan yang sudah mengambil langkah lebar meninggalkan istrinya.
Mira menatap nanar punggung sang suami yang lama-kelamaan hilang tertelan pintu kamar.
Merasa Ardan butuh waktu untuk mendengar penjelasannya, Mira memilih duduk di ruang tamu untuk menenangkan hatinya yang terasa sakit karena penolakan suaminya.
Di tempat lain Ardan duduk meringkuk di balik pintu sembari memegang dadanya yang sesak.
Otaknya memaksa pria itu untuk mendengar penjelasan Mira, tapi hatinya menolak, ia belum sanggup menerima segala kenyataan yang mungkin akan lebih menyakitkan dari apa yang ia lihat pagi tadi.
Di sebut pengecut pun Ardan terima, ia begitu takut sekarang, takut sikapnya akan kembali membuatnya kehilangan Mira dan buah hati mereka.
Sekali lagi Ardan menyeka air matanya dengan kasar, pria itu kemudian menelungkupkan wajahnya diantara kedua lututnya.
Sesekali Mira menatap pintu yang masih saja tertutup, setelah berkali-kali menghela nafas akhirnya Mira memutuskan untuk tidur.
Tepat saat berada di depan kamar mereka, langkah Mira kembali meragu, khawatir Ardan akan berlaku kasar padanya seperti yang sudah-sudah.
Akhirnya Mira memutuskan untuk tidur di kamar putranya, kamar Arkan dan Aiden, sengaja mereka di tempatkan di kamar yang sama karena keduanya tak ingin dipisahkan sedikitpun.
Di sisi kanan ada bed Arkan, sedangkan di sisi kiri ada bed Aiden.
Mira sedikit tersenyum melihat posisi bereka yang hampir sama, hingga akhirnya Mira memilih tidur dengan Aiden.
Meski awalnya Aiden sedikit terusik, namun anak itu segera menyamankan diri di dalam pelukan sang Bunda, membuat Mira mencuri satu kecupan dari dahi putranya.
Raga Mira memang masih di sana, tapi pikirannya sudah berkelana kemanapun yang ia suka, hingga kantuk melanda dan akhirnya Mira juga tertidur dengan lelapnya.
TBC