My Hubby

My Hubby
Chapter 39



“Jujur aja sama aku Bang, kenapa Abang tega ngelakuin itu sama aku?” ucap Mira sembari tersedu.


Saat tangan Rey hendak menyentuh bahunya, Mira dengan cepat menepis tangan itu.


“Suami kamu salah paham” mendengar itu Mira yang sejak tadi langsung menumpahkan amarahanya pada Rey langsung menatapnya.


“Salah paham?” Rey mengangguk.


“Semua ruangan di rumah Abang ada cctvnya, kamu ingin lihat apa yang terjadi hari itu?”


“Berarti tuduhan Suami Mira tidak benar kan Bang?” kini Rey terdiam, dari semua kosa kata yang ada, kenapa wanita di hadapannya harus melabeli Ardan dengan sebutan suami?


“Abang?!” desak Mira sembari menggoyang lengan Rey yang malah melamun.


“Iya itu semua tidak benar” Mira bisa menghela nafas lega.


“Boleh Mira minta abang untuk kasih rekaman itu ke Mas Ardan aja?”


“Tentu”


Beberapa jam yang lalu Mira menyatakan kehamilannya, juga segala yang terjadi dalam rumah tangganya karena pernah bermalam di rumah Rey saat itu.


Rey tidak heran jika Ardan menuduh mereka berdua melakukan hal terlarang itu.


‘Benar-benar sumbu pendek!’


“Kalau Mira boleh tau, kenapa Abang sampe kasih Mira obat tidur?” tanya Mira membuat Rey kembali ke alam nyata berhadapan dengan wanita yang sedang mengandung anak dari musuhnya.


“Jujur saja, Abang tidak suka dengan Ardan” mendengar itu Mira menunduk sedih.


Awalnya Mira juga merasakan hal yang sama, tapi setelah bersama kurang lebih tiga bulan ini, Mira turut merasakan perhatian dari pria itu, mungkin juga cinta yang Ardan gambarkan lewat matanya.


“Kenapa kamu nekat menikahi pria seperti itu Mira?” lagi-lagi tanpa menjawab Mira semakin menunduk dalam.


“Dia yang memaksa kamu kan? apa dia menggunakan Aiden untuk melancarkan aksinya?” tuduh Rey yang sialnya sangat tepat sasaran membuat Mira berani memandang Abangnya.


Melihat respon Mira, Rey tersenyum sedih, kenapa nasib Mira buruk sekali.


“Apa kamu sedang menanggung seluruh dosa Papa yang sudah mempermainkan ibuku dan ibumu Mira?”


Mira seketika menggeleng hingga air matanya jatuh, “Cukup Bang, jangan salahkan Papa lagi, bagaimanapun dia tetap Papa kandung kita” rahang Rey mengetat saat Mira kembali membela pria brengsek itu.


Semuanya menjadi rumit karena ulah serakah pria yang selama ini Rey panggil Papa itu, cintanya kandas saat tau Mira ternyata ada hubungan darah dengannya.


Tanpa canggung Mira mengusap pelan rahang Rey yang mengeras itu, ia tau bahwa Abangnya sedang marah, hal ini selalu terjadi saat mereka berdua membahas Papa kandung mereka.


Rey menggenggam tangan itu, matanya semakin berembun saat pandangan keduanya bertemu.


“Bunda! Uncle Rey!” pekik Aiden membuat keduanya membuat jarak.


Ketiganya membisu, lebih tepatnya sepasang pasutri yang kini saling tatap menyiratkan lukanya.


Bahkan saat kedua anak kecil itu sudah berlari ke brankar, tatapan mereka tidak terputus.


“Loh Bunda kok menangis?” Mira menatap Arkan yang kini menjulurkan tangan kecilnya untuk menghapus air mata itu saat Ardan memilih pergi tanpa kata.


Mira menoleh saat merasakan usapan lembut di bahunya, Rey tersenyum, senyuman yang tak kalah pedihnya ketika melihat wanita yang ia cintai sudah mencintai pria lain.


Rey tidaklah buta, dia juga bisa merasakan perubahan sikap Mira yang memaksanya kemari hanya untuk mengkonfirmasi sesuatu yang di tuduhkan pria sebodoh Ardan.


“Abang yang akan jelaskan pada Ardan” Mira hanya mengangguk, Rey beranjak saat Mira sudah asik dengan kedua anak kecil itu.


Sebelum benar-benar pergi, Rey menyempatkan diri mengusap puncak kepala Aiden yang disambut senyuman hangat anak itu.


Sial, senyuman itu, wajah itu, persis sekali dengan si penabur benih, melupakan kekesalannya Rey keluar untuk menjelaskan sesuatu yang seharusnya tidak perlu dijelaskan jika saja yang ia hadapi pria bodoh seperti Ardan.


***


Ardan memilih mengendarai mobilnya pulang, tak lagi ia pedulikan tatapan sedih wanita itu, juga dua anak yang tadi pergi bersamanya.


Toh mereka semua tidak membutuhkan kehadiran Ardan.


Seketika Ardan merasa marah dengan itu, ia merasa Mira sedang menantangnya, sedangkan pria itu mengejeknya karena istrinya memilih membangkang padanya hanya untuk bertemu dengan laki-laki brengsek itu.


Merasa semuanya semakin tak terkendali Ardan menepikan mobilnya, menyetir dengan amarah hanya akan menyelakakan orang lain.


Ardan menelungkupkan kepalanya ke setir mobil sembari menetralkan amarahnya.


‘Kenapa kamu tidak pernah mau mendengarkan perintahku Mira?’


Apa itu bawaan bayinya? Apa benar anak itu adalah hasil hubungan..


Ardan menggeleng untuk mengenyahkan pikiran itu.


Pria itu memilih menatap nanar jalanan sepi di hadapannya.


Padahal Ardan baru saja ingin berbaikan dengan Mira, juga meminta maaf pada ibu hamil itu tentang semua ucapan buruknya.


Sekali lagi Ardan tertawa miris.


Merasa lebih tenang Ardan kembali mengendarai mobilnya.


Satu-satunya tujuan adalah rumah, Ardan ingin mendinginkan tubuh dan pikirannya.


Ardan turun dari mobil dengan segala lelah yang ia punya.


“Papa! Mama! Tidaaaakk!!” Ardan segera berlari saat mendengar pekikan Dinda dari dalam kamarnya.


Saat berusaha masuk Ardan terhalang pintu yang dikunci dari dalam.


“Dinda? Ada apa?”


Tidak ada jawaban, tidak ingin menyerah Ardan kembali mengetuk pintu itu berharap Dinda mau membukanya.


Tapi tidak ada.


Saat hendak mendobrak pintu, handphone Ardan berdering, seakan terlupa dengan kekhawatirannya pada Dinda di dalam sana, Ardan merogoh handphonenya yang ada di saku celananya.


Mama.


“Halo?”


“Halo Nak, Mama ingin bertanya apa Dinda masih ada di rumah kamu?” mendengar pertanyaan itu Ardan kembali menatap pintu yang masih tertutup itu, samar-samar Ardan bisa mendenagr isakan dari dalam sana.


“Halo Ardan? Kamu masih disana?”


“Iya Ma, kenapa?” tanya Ardan yangsemakin penasaran saat mendengar helaan nafas lega dari Mamanya.


“Orang tua Dinda di nyatakan tewas dalam sebuah kecelakaan”


Bagai kepingan puzzle yang mulai terakit, Ardan mulai mengerti kenapa Dinda menjeritkan Mama dan Papanya dari dalam sana.


“Mama akan kesana Nak, tolong kamu tenangkan Dinda dulu ya?” setelah Ardan menyanggupinya panggilan itu terputus.


Ardan kembali akan mendobrak pintu itu tiba-tiba diam saat pintu kamar Dinda mulai terbuka.


“Dinda..” ucapan Ardan terpotong saat Dinda langsung memeluknya sembari tetap terisak pilu atas kepergian kedua orang tuanya.


“Mama, Papa..” tangan Ardan tergerak untuk mengusap kepala Dinda untuk menenangkan wanita itu.


“Sabar, itu kecelakaan yang kita tidak pernah ingin untuk terjadi, ikhlaskan ya?” ucap Ardan membingkai kalimat itu sebagus mungkin demi menenangkan wanita itu.


Dinda menggeleng tak terima, “Itu bukan kecelakaan, bukan” jawab Dinda lirih ditengah isakannya.


Ardan merenggangkan pelukan mereka, memegang bahu Dinda membuat Ardan bisa melihat wajah sembab itu dengan jelas “Maksud kamu?”


“Mereka dibunuh” ucap Dinda yang masih tergugu.


“Siapa yang melakukan ini, kamu tau?” Dinda mengangguk.


“Ayah kandung Arkan”


TBC