
Dentuman musik yang teramat keras itu tak mampu mengusir sepi di hati Ardan.
Hatinya benar-benar kosong.
Apa yang harus ia lakukan setelah semua ini, Ardan tidak tau.
“Minum Bro” Ardan hanya melirik Rian yang duduk di sampingnya sembari menyodorkan segelas vodka.
Ardan menggeleng pelan.
Mendapat penolakan Rian hanya mengendikkan bahu dan beranjak pergi, setelah meletakkan vodka itu di hadapan Ardan yang masih asik merenung.
Saat semua temannya sudah turun ke lantai dansa, Ardan justru sibuk menatapi gelas berisi cairan bening itu.
Minuman yang membuat hubungannya dengan Mira menjadi seasing ini, minuman yang ia minum juga karena rasa cemburu pada wanita itu.
Reuni sekolah enam tahun lalu..
“Eh aku bawa barang bagus nih!”
“Apa?”
“Nih, taraaaa!!!” sontak semua anak disana memekik senang, dengan girang mereka semua menyodorkan gelasnya, kecuali Ardan.
“Kenapa bawa begituan?” empat laki-laki dewasa itu memandang Ardan heran.
“Eitss, jangan menghakimi gitu dong guys, Ardan ini anak baik, mana tau dia minuman beralkohol, taunya kan susu” ujar Rian yang sudah merangkul sahabatnya, tak peduli jika Ardan menatapnya sengit.
Mereka semua tertawa.
Membuat Ardan yang kesal, menghempaskan lengan Rian dengan tak santai.
“Eh eh, lihat tuh! itu Mira kan?” kelima pria itu langsung memfokuskan pandangannya pada wanita di depan sana.
“Itu anak XII IPA 1 yang jadi saingan Ardan itu kan?” tanya Rian memastikan di hadiahi anggukan teman-temannya.
Saat mereka mengagumi kecantikan Mira dewasa, Ardan tidak begitu, darahnya mendidih melihat siapa yang sedang berdansa dengan Mira.
Reynald.
Brak!!!
Keempat pria itu berjengit kaget saat Ardan tiba-tiba memukul meja.
“Kenapa Dan?”
Ardan tidak menjawab, pandangannya masih lurus ke sana, lalu tingkah pria itu kembali mengundang rasa takjub saat tiba-tiba Ardan membuang jus jeruknya, lalu menyodorkannya pada Rian yang kini memegang botol alkohol.
Meski kebingungan Rian tetap menuangkan cairan itu ke gelas sahabatnya.
‘Abang, pacar Dinda selingkuh, dia, dia memutuskan Dinda begitu saja’ adunya beberapa saat sebelum Ardan pergi.
“Jadi dia selingkuhan Rey?”
“Ha?!!” ucap keempatnya serempak saat Ardan sudah mulai meracau, pandangannya sudah tidak karuan.
Tidak mendapat jawaban dari Ardan mereka semua memilih turun ke lantai dansa, hingga arena yang tadinya sedikit lengang tiba-tiba penuh.
Tapi meski begitu Ardan masih bisa melihat Mira meski penampakan semua orang itu seperti kerumunan semut di bawah sana, Ardan tetap bisa mengenali Mira.
Tangan Ardan meremas gelas itu saat Rey membisikkan sesuatu pada Mira.
Ardan membanting gelas yang sudah remuk itu, lalu meminum vodka itu hingga hampir kosong, ada rasa panas yang membakar tenggorokannya, namun ada yang lebih panas dari itu.
Jarak mereka yang begitu dekat membuat Ardan memilih ikut turun, membelah keramaian.
Lagu berganti mengisyaratkan semua orang harus berganti pasangan, begitu aturan mainnya, Ardan segera mengambil posisi Rey untuk berdansa dengan Mira.
“Ardan? Ini kamu?” pekik Mira tak percaya saat dia sudah berhadapan dengan pria yang selalu menghiasi masa SMA-nya.
“Kamu tidak melupakanku” Mira tersenyum.
“Tentu saja tidak” Ardan tersenyum sinis.
Saat musik mengisyarakan untuk berganti pasangan Ardan tetap memegang pinggang Mira erat, seolah tak mau berganti pasangan.
“Tetap denganku Mir” dengan kebingungan, Mira mengangguk.
Hingga ia tak sadar jika mereka sudah sampai di pinggir area dansa.
“Ahh, Ardan, kita mau kemana? Jalannya pelan-pelan aja?!” pekik Mira yang tidak digubris oleh Ardan.
Bahkan dengan kasar pria itu membanting Mira ke jok mobilnya.
Saat Mira berusaha keluar Ardan sudah mengunci pintu.
“Ardan, kita mau kemana? Kenapa kamu diam saja dari tadi?!” pekik Mira yang sudah merasa takut dengan kelakuan pria di sampingnya.
Ardan diam, ia hanya memfokuskan diri untuk menyetir secepat mungkin.
Dalam diam Ardan terus teringat betapa menyedihkannya Dinda saat tadi bercerita kekasihnya yang tak lain adalah Reynald menghianatinya.
Seakan kejutan tak ingin memberikan jeda pada Ardan, kini Ardan tau satu hal bahwa Mira lah wanita itu, wanita selingkuhan Rey.
Mobil berhenti, Mira semakin kebingungan dengan apa yang terjadi, dirinya mendadak takut saat Ardan membawanya ke sebuah rumah kecil di tengah hutan.
Belum sempat memikirkan jalan keluar, Mira kembali di kejutkan dengan pintu mobil yang di buka oleh Ardan, wajah pria itu terlihat marah.
“Ardan, kamu kenapa? Jangan bikin aku takut” ucap Mira memelas sembari melelehkan air mata.
Seketika hati Ardan juga ikut teriris, keinginannya yang ingin memberi pelajaran pada Mira tiba-tiba sirna karena tangisan wanita itu.
Tapi niat baik Ardan disia-siakan oleh Mira yang sudah menendang Ardan hingga pria itu terjungkal.
Dengan berkilat marah Ardan berjalan santai, karena ia tau Mira tidak akan bisa kemanapun karena Ardan sudah membawanya jauh dari kerumunan.
“Keluar kamu Mira!” hanya suara jangkrik yang bersautan, Ardan mengedarkan pandangannya kemanapun, matanya cukup jeli jika hanya untuk mencari seorang Mira.
Gotcha!
Dia disana, di balik semak belukar yang sedikit rendah dan tak bisa menyembunyikan tubuh Mira dewasa.
Dengan berjalan perlahan Ardan bergeleng pelan sembari tertawa kecil, apa Mira pikir dia sedang bermain petak umpet seperti yang mereka lakukan saat kecil dulu?
“Aaarrgghh” pekik Mira saat Ardan sudah mencengkeram lengannya kencang.
Tanpa basa-basi Ardan kembali menyeret Mira yang kali ini sedikit melakukan perlawanan.
“Cukup, Ardan ini sakit!!!” ucap Mira yang sudah bisa melepaskan cengkeraman Ardan saat mereka sudah ada di dalam rumah itu.
“Kamu selalu bisa mendapatkan apapun, tapi bukan berarti kamu bisa merebut milik orang lain Mira” Mira mengernyit heran saat kembali bersuara.
“Apa maksudmu?” merasa wanita di hadapannya sedang berkilah, Ardan kembali marah.
“******!”
“Apa?! Aku tidak seperti itu!”
“Menjijikkan!” merasa tak terima Mira mendorong Ardan, selain untuk membuat pria itu menjauh darinya, juga untuk melampiaskan rasa tidak terimanya.
“Kamu gak berhak menyebutku seperti itu!” rahang Ardan mengetat, amarahnya muncul saat Mira mulai membentaknya.
“Siapapun yang merebut kekasih seseorang adalah ****** bagiku!”
“A-apa? Aku tidak melakukan itu?!”
“Bohong!!!” Mira terkesiap saat Ardan mendorongnya hingga terjatuh di sofa.
“Biar ku tunjukkan padamu bagaimana seorang ****** itu bersikap” sedikit terkejut dengan perkataan itu Mira kembali dikejutkan saat Ardan mulai mengikis jarak diantara mereka.
“Tidak, kamu mau ap- hmmmpphh?!” pekik Mira yang langsung Ardan bungkam dengan bibirnya.
Sadar bahwa yang mereka lakukan tidak benar, sekuat tenaga Mira kembali mendorong Ardan hingga pagutan mereka terlepas.
Dengan kasar Mira mengusap bibirnya kasar sembari menangis.
“Kenapa, apa ciumanku tidak sehebat Rey?” Mira kembali ternganga.
“Sebenarnya kamu ini kenapa?!!”
“Aku cemburu Mira, andai kamu tau, saat itu aku sedang cemburu” monolognya, setelahnya Ardan meneguk cairan bening itu dengan sekali tegukan.
Kini pandangan Ardan benar-benar kosong.
TBC