
Mira terbangun dengan infus yang tertancap di tangannya.
Selang beberapa menit Rey dan Andreas memasuki kamar rawat inap Mira.
Hal yang mengingatkan Mira tentang apa yang terjadi sebelum ini.
“Dinda..” Rey duduk di sebelah brankar Mira, menggenggam tangan kecil itu dengan lembut.
“Semua yang terjadi sudah takdirnya Mira” mendengar itu Mira semakin sedih.
“Dia janji dia bakal pulang sama Mas Ardan, tapi kenapa dia malah pergi Bang” Rey seketika pucat.
Ia sempat berharap Mira tidak akan menanyakan Ardan saat dirinya masih berkabung dengan kabar kematian Dinda.
“Aku mau lihat Mas Ardan, kenapa dia tidak dirawat satu kamar denganku sih”
Saat Rey hanya diam Mira beralih pada Andreas yang berdiri tidak jauh dari sana, “Pa, Mas Ardan mana Pa?”
“Kenapa semuanya diam? Apalagi yang mau kalian sembunyikan dari aku?!” ucap Mira mulai marah.
“Mira..”
“Jawab Bang, Mas Ardan mana?!” tanya Mira yang mulai tak sabar dengan mengguncang lengan Rey.
“Ardan jatuh ke sungai”
Dunia serasa berhenti bagi Mira, seakan seluruh rasa sakit kini bersatu di dadanya.
“Nggak mungkin” lirih Mira bersamaan dengan air matanya yang jatuh, mata yang biasanya berbinar kini meredup bahkan kosong.
“Mira..” panggil Rey mencoba meraih kesadaran adiknya.
Dengan perlahan Mira menatap Rey dengan tatapan sendunya, itu semakin membuat Rey terpukul.
“Itu bohong kan?” Rey tak mampu menjawabnya.
Rey kini berada di pilihan yang sulit, kejujuran akan membuat Mira semakin terpuruk, tapi berbohong juga bukan pilihan yang tepat, Rey kebingungan menentukan pilihan.
“Jawab Bang, itu bohong kan?” kini air mata Rey jatuh, sungguh kini ia tak tahu harus menjawab apa.
Mira tidak bodoh untuk mengartikan tangisan Abangnya, tapi sayangnya akal sehat Mira masih menolak fakta itu.
Sekuat tenaga ia mendorong tubuh Rey menyamping, membuat pria itu tanggap untuk mencegah Mira yang hendak turun dari brankar.
“Mau kemana?” Mira menatap Abangnya, hanya tatapan kosong yang Rey dapatkan.
“Aku mau bertemu suamiku” satu kalimat itu sukses membuat tubuh Rey melemah, fase denial Mira membuat Rey tak bisa berbuat apa-apa, bahkan saat tubuh ringkih itu turun sembari membawa botol infus keluar kamar Rey masih termenung di tempatnya, menghabiskan kesedihannya disana.
“Rey, Mira..” Rey menatap Andreas sembari menggeleng lemah, membuat Andreas memahami arti sikap Rey.
Mira berjalan menyusuri lorong rumah sakit , meja resepsionis adalah tujuannya, ia sangat yakin suaminya ada disini, Mira bisa merasakannya.
‘Ardan jatuh ke sungai’
Mira menggeleng, menepis perkataan Abangnya beberapa waktu lalu.
‘Aku bisa merasakannya, kamu ada disini’ gigih Mira sembari terus berjalan, tubuhnya yang lemas tak membuat Mira berhenti, ia masih berjalan dengan berpegangan pada dinding rumah sakit yang dingin untuk menopang tubuhnya.
Perlahan tapi pasti, Mira sampai pada meja resepsionis itu, “Permisi, saya mau mencari pasien atas nama Ardan Galih Pramono”
“Baik ditunggu sebentar ya Ibu” Mira mengangguk sembari berharap bahwa dugaannya benar.
“Mohon maaf Bu, tidak ada pasien dengan nama tersebut” mata Mira kembali mengembun, ia belum bisa menerima.
“Tolong cari lagi Mbak, itu suami saya” sayangnya prtugas itu menggeleng, tubuh lemah itu kehilangan keseimbangannya.
Rey dengan sigap menangkapnya, melihat Rey Mira kembali membuka mata, “Abang, suami Mira dimana?” tanya Mira dengan sedih.
Rey juga sedih melihat kondisi adiknya, dulu ia hamil tanpa ditemani suami dan hal ini akan terulang lagi.
“Abang akan cari Ardan sampai ketemu Mira, jangan seperti ini, jangan menyiksa diri kamu sendiri ok?”
“Mas Ardan..” serunya kali ini matanya tertutup, Mira kembali pingsan membuat Rey menggendong tubuh adiknya.
Duduk disebuah kursi taman sembari termenung ia memikirkan nasib Mira kedepannya, ujian Mira kali ini cukup berat, jika sebelumnya mungkin Mira lebih bisa menerima ketidak hadiran Ardan karena status mereka, tapi kali ini berbeda.
Pernikahan ini akan jadi bomerang bagi Mira yang akan sangat sulit menerima ketidakhadiran suaminya, apalagi Aiden yang sudah mengetahui hubungan darahnya dengan Ardan.
“Hufff!” semuanya semakin terasa berat bagi Rey, bagaimana ia harus menghadapi dua orang yang sangat terkait dengannya?
Sekali lagi Rey marah pada keadaan.
Tak lama Andreas menyusul, dan duduk di sebelah Rey yang kini tak bisa menyembunyikan tangisnya.
Seperti malam itu, mereka berdua seperti berbagi kesakitan mereka bersama.
“Ardan pasti ditemukan, ia pasti selamat” ucap Andreas dengan yakin, Rey hanya menatap pria paruh baya itu, kepalanya penuh dan tidak bisa untuk berpikir jernih saat ini.
Tak mendapat tanggapan, Andreas menoleh ke arah Rey, bisa Rey lihat mata tajam pria itu memerah dan berkaca-kaca.
Mereka berdua memiliki beban yang hampir sama, juga ketakutan yang sama.
Rey mengangguk demi memupuk harapan mertua adiknya, juga doa agar semuanya kembali baik-baik saja.
Pagi ini, sinar mentari tak mampu menyinari kehidupan Mira, ia terbangun sembari menangis hebat mengingat berita tentang suaminya.
Tak ada yang bisa dilakukan selain memberikan suntikan penenang, mereka kini semakin cemas dan kalut.
Dalam tidur tenangnya Mira merasakan ada yang mengusap lembut pipinya, harum ini, Mira sangat menenalinya.
Dengan perlahan Mira membuka matanya namun sinar matahari membuatnya kembali menutupkan matanya seketika hingga sinar itu tak lagi menyilaukan pandangannya.
Kini Mira bisa membuka mata, pandangan mereka bersirobok hingga Mira bisa melihat mata yang selalu bisa melemahkanya.
Sontak Mira memeluk tubuh tegap itu dengan erat seakan takut kembali kehilangannya, Mira bisa merasakan usapan lembut di puncak kepalanya.
“Aku tau kamu pasti disini, aku tau itu”
Cup!
“Aku tidak akan pergi meninggalkanmu, selalu disisimu, selalu bersamamu, selalu dihatimu” Mira mengangguk dalam pelukan suaminya, senyuman tak pernah lepas dari wajah cantiknya.
“Mira..” panggil Ardan membuat Mira mendongak demi kembali menatap wajah suaminya.
Saat saling tatap, ibu jari Ardan tergerak mengusap mata Mira yang basah, merasalan sentuhan itu Mira memejamkan matanya, meresapi usapan lembut suaminya.
“Apapun yang terjadi, jangan pernah berputus asa, ada atau tidak ada aku..”
“Jangan bicara seperti itu” potong Mira menatap tak suka pada suaminya.
“Hiduplah demi anak-anak” lanjut Ardan tanpa memperdulikan protesan Mira.
Mira menggeleng, ia kembali menangis, tapi sembelum air mata itu jatuh Ardan dengan sigap menghapusnya.
Ardan menangkup wajah cantik itu, mengecup setiap inci wajah Mira dengan lembut, membuat Mira kembali terpejam menikmati setiap kecupan hangat itu.
“Aku cinta kamu Mira” ucap Ardan seusai menyelesaikan kecupan terakhirnya di bibir Mira.
“Aku juga cinta kamu Mas” lirih Mira yang mashi terpejam merasakan hembusan nafas yang menghangatkan, juga menenangkan.
Tapi seketika kehangatan itu mengilang, sinar mentari juga lenyap, semuanya berganti dengan kegelapan dengan terpaan angin kencang yang membuat Mira menggigil seketika, ia sendirian tidak ada Ardan, kemanapun Mira mencari.
“Mas Ardan!!!!”
“Mira..” panggilan itu membuat Mira tersadar dan menoleh ke sumber suara, Rey berdiri disampingnya dengan wajah khawatir.
Mira melihat ke sekelilingnya, ruangan yang didominasi dengan warna putih memenuhi pandangannya.
Seketika Mira tersadar bahwa apa yang ia lihat sebelumnya hanyalah sebuah mimpi.
“Tenanglah Mira, semuanya akan baik-baik saja” bisik Rey sembari memeluk Mira.
TBC