
“Berhenti menganggap oranglain sepenting itu Mira”
“Tapi dia bukan orang lain”
“Kenapa kamu terus mengucapkan itu?!”
Mira kehilangan kata-katanya, apa semua yang ia katakan masih belum bisa di cermati dengan baik oleh pria ini?
“Mas dengar, dia Bang Rey adalah Abang kandungku” ucap Mira yang sudah tidak peduli jika Ardan akan kembali menyanggah perkataannya.
Sedangkan Ardan, dia diam, mencermati perkataan istrinya dengan baik.
“Kamu bercanda?” tanya Ardan tak pecaya.
“Tidak, it’s a long story tapi itu benar, aku dan Bang Rey satu ayah berbeda ibu”
Ardan yang masih tak menyangka memegang bahu istrinya.
“Sungguh Mira?”
“Benar, untuk apa aku berbohong? Itulah sebabnya aku tidak canggung saat berinteraksi dengannya, karena ia saudaraku” senyum di wajah Ardan mengembang begitu saja, rasa nyeri saat melihat Mira dan Rey bersama perlahan sirna.
Ketakutannya memudar, dengan ikatan darah itu Rey tidak bisa mendekati istrinya, untuk urusan dia yang terlihat masih memiliki rasa lain di hatinya Ardan tidak akan memusingkan itu lagi.
Ada batasan tak kasat mata yang akan membuat pria itu tidak berani bertindak lebih jauh akan istrinya.
Ardan mensyukuri itu, dipeluknya Mira yang masih tidak paham kenapa suaminya kini sudah tersenyum lebar.
“Mas”
“Hmm?”
Mira memberanikan diri menatap suaminya, tak terdengar kelanjutan dari istrinya Ardan turut menatap wanita itu membuat mereka saling tatap dalam jarak dekat.
“Aku ingin menemui Dinda untuk mengucapkan belasungkawa” Ardan yang mendengar itu tersenyum.
Salah satu hal baik dari dalam istrinya adalah selalu bersikap baik pada siapapun.
“Jika dokter sudah mengatakan kondisimu membaik kita akan kesana ya?”
Mira mengangguk.
“Apa Arkan tau jika kakek dan Neneknya sudah meninggal?” Ardan diam sejenak, lalu menggeleng pelan.
“Aku tidak tau bagaimana mengucapkan pada anak itu saat dirinya sendiri tidak menerima kehadiran Dinda sebagai ibu kandungnya” jawab Ardan membuat Mira hanyut dalam lamunannya.
Benar juga, bagaimana caranya mereka bicara dengan anak sekecil Arkan jika dirinya sendiri bahkan tidak menerima kehadiran ibu kandungnya.
Mendadak Mira merasa bersalah, padahal ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk meyakinkan anak itu tentang status Dinda dalam hidupnya.
Kondisi yang kacau beberapa waktu lalu membuat Mira urung melakukan niatnya, juga tentang kesehatannya.
Merasa lelah dengan semuanya Mira menghela nafas lelah.
Hal yang tak luput dari pandangan Ardan.
Tangan pria itu mengusap pelan pipi lembut Mira, hingga wanita itu keluar dari lamunannya.
Mereka saling tatap, Ardan bisa melihat kegusaran itu, tanpa mengatakan ia sudah tau jika Mira memikirkan buruknya hubungan ibu anak itu.
“Jangan terlalu memikirkan hal lain untuk saat ini, fokus saja pada kesehatanmu dan adik bayi” ucap Ardan sembari mengusap perut rata Mira dengan lembut.
Desiran halus itu mendadak menyeruak di relung hati Mira, ia terharu, entah karena hormon kehamilan atau yang lain, Mira sangat senang jika kesalah pahaman antara dirinya dan suami sudah berakhir dengan indah.
***
Beberapa hari kemudian Mira diperbolehkan pulang, ada banyak orang yang mengantarnya, ada Abang, mertua, suami juga dua jagoan kecilnya.
Sesampainya di rumah, Mira menatap rumahnya yang hampir seminggu ia tinggalkan, rumah yang tiap sudutnya menyimpan banyak kenangan sedih saat ia dan Ardan masih bertengkar, bahkan di awal pernikahan.
Mira tersenyum untuk menggambarkan rasa bahagianya membayangkan ia dan Ardan akan membuat kisah indah mereka kelak.
“Sedang memikirkan apa?” Mira menoleh pada Ardan yang baru saja datang dengan segelas susu.
Mira menerima gelas berisi susu yang bahkan masih mengepulkan asap itu dengan gembira, tidak ada lagi mual muntah saat mencium bau susu seperti sebelumnya.
Tanpa menjawab pertanyaan suaminya, Mira meminum susu itu hingga tandas.
Justru semakin lebar hingga membuat rasa penasaran Ardan muncul kembali.
“Ada apa?” tapi kali ini diiringi cubitan gemas Ardan di pipi istrinya.
“Aduh, sakit!”Ardan terkekeh mendengar keluhan istrinya.
“Salah sendiri tidak mau menjawab pertanyaanku, sekarang jawab, kenapa senyum-senyum dari tadi, kamu tidak sedang berpikiran jorok kan?”
Merasa kesal dengan tuduhan suaminya Mira melayangkan slingbag-nya.
Bug!
Ardan tertawa mendapati respon istrinya.
“Sembarangan!” serunya tak terima.
“Ya terus kenapa dong kamu senyum-senyum?”
“Aku gak nyangka kita bakal adem ayem ginisetelah semua hal yang terjadi” ucap Mira membuat Ardan mau tak mau ikut tersenyum.
Keinginan Ardan untuk memiliki keluarga yang harmonis perlahan mulai terwujud semenjak kesalahpahaman dengan Mira sudah berakhir.
“Komunikasi kita buruk sekali” celetuk Ardan yang di hadiahi tatapan tajam Mira.
Ardan yang sedang meresapi kondisi rukun antara dirinya dan Istri tentunya belum sadar jika Mira sudah siap memuntahkan laharnya.
Merasa di tatap lama Ardan memilih menoleh ke arah Mira yang sudah seperti akan memakan Ardan habis-habisan.
“Apa?”
“Kamu gak sadar siapa yang bikin komunikasi kita buruk?” Ardan seketika berpikir.
“Kamu!” jawab Mira yang merasa gemas saat suaminya tak sadar bahwa dirinyalah biang masalah mereka selama ini.
Menyadari kesalahannya Ardan hanya menyengir, membuat Mira memutar bola matanya malas.
“Aku sudah minta Maaf kan?”
“Hmmm”
Tak lama mata Mira menangkap sosok Arkan yang berlari masuk bersama Aiden mengangkat tas besar Mira bersama-sama.
Meski terlihat ngos-ngosan anak kecil itu tetap bersikukuh membantu Abangnya.
Mira jadi teringat dengan niatnya yang ingin membuat Arkan sedikit menerima Dinda sebagai Ibu kandungnya.
“Arkan..” seru Mira sembari merentangkan kedua tangannya saat tas besar itu sudah mendarat sempurna dan kini beralih tangan kepada asisten rumah tangganya.
Anak itu berlari di susul dengan Aiden yang kini juga menyempil diantara Ardan dan Mira.
Mira memeluk dua anak lelaki itu dengan sayang menyisakan Ardan yang cemberut karena merasa diabaikan.
Jika berada di dalam rumah Mira sudah bagaikan ratu yang selalu menjadi perhatian tiga pria di dalam rumahnya, tak jarang mereka berebut untuk berdekatan dengan Mira.
“Nanti sore Ayah sama Bunda mau melayat ke rumah Mommy Dinda, Arkan mau ikut?” sesuai dugaan Mira, Arkan menggeleng.
“Melayat itu apa Bunda?” tanya Aiden penasaran.
“Itu kegiatan mengunjungi keluarga dari seseorang yang meninggal” jelas Ardan pada putranya.
“Memangnya siapa yang meninggal Bunda?” tanya Arkan.
“Orangtua Mommy Dinda yang meninggal, Kakek dan Nenek Arkan” ucap Mira hati-hati, dia tak ingin memaksakan Arkan untuk ikut bersama, tapi Mira rasa kehadiran putra kecilnya mungkin bisa membuat Dinda sedikit terhibur.
“Arkan mau ikut? Mommy pasti senang kalau Arkan mau datang dan menghibur Mommy Dinda disana” lagi-lagi Mira mencoba menggoyahkan keputusan Arkan.
“Tapi Arkan masih mau sama Bunda, Ayah dan Abang disini” ucap Arkan sedih.
“Kamu masih bisa kok bareng-bareng sama kita lagi, seperti yang Bunda katakan sebelumnya, apapun yang terjadi, Bunda tetap Bunda kamu, malah sekarang Arkan punya dua Ibu kan? Ada Bunda dan Mommy” diusapnya puncak kepala Arkan yang tampak berpikir itu.
“Arkan mau ikut Bunda, kita pergi sama-sama ya” jawab Arkan membuat senyuman di wajah Mira merekah.
TBC