
Mira mengucek mata kala sinar matahari mengusik tidurnya, tangannya meraba ke samping, haya dingin yang terasa, sontak mata Mira terbuka, benar saja suaminya sudah tidak ada disana.
Wanita yang sedang hamil itu terbangun dari tidurnya, tak lupa tetap memegang selimut yang menutupi semua auratnya yang terbuka.
Mira tersenyum mengingat percintaan mereka, tadi malam Ardan memperlakukannya dengan lembut, rasanya sungguh berbeda dari sebelumnya, juga kata-kata cinta yang takpernah luput dari bibir suaminya.
Pipi Mira kembali merona, ingin mengabaikan rasa itu Mira bangkit dari duduknya, tak sengaja ia melihat segelas susu dan sepiring nasi goreng di nakas, Mira kembali tersenyum.
Ardan bahkan mengingat permintaannya semalam, membuatkan sarapan untuk Mira, dengan bahagia Mira meraih segelas susu itu lalu meminumnya, ada kertas dengan tulisan tangan Ardan disana.
...Selamat pagi bidadariku,...
...Jangan lupa dimakan, semua yang kulakukan ini semata-mata demi kamu...
...Tertanda,...
...Seseorang yang selalu ingin melindungimu....
Bug! Bug!
Mira tersentak mendengar gedoran di pintu kamarnya.
“Mbak Mira?! Apa Ardan ada didalam?”
Mendengar jerita Dinda, Mira segera berpakaian, lalu membuka pintu, dan betapa terkejutnya Mira melihat Dinda yang sudah berderai air mata.
“Dinda, ada apa?!” tanya Mira tak kalah paniknya.
“Mas Ardan, Mas..”
Mira semakin kebingungan tapi ia jelas tidak bisa memaksa Dinda untuk bercerita sekarang juga.
“Masuklah, kita bicara di dalam” ucap Mira sembari menuntun Dinda, setelah mendudukkan Dinda di salah satu spot di kamar itu, Mira mengambilkan segelas air putih yang selalu ia sediakan untuknya dan Ardan.
“Sudah merasa lebih tenang?” tanya Mira ketika Dinda sudah meminum sedikit air yang ia berikan.
Tak langsung menjawab Dinda mengamati seisi kamar ini, tanpa dijelaskan Dinda tau apa yang sudah terjadi sebelum ia datang, dan itu semakin membuatnya merasa kecil, karena selama pernikahannya dengan Ardan pria itu tidak pernah mau menyentuhnya.
Hal yang sangat kontras dengan apa yang terjadi pada pernikahan kedua Ardan bersama Mira.
Merasa kamarnya sedang diamati oleh orang lain, Mira merasa tak nyaman, “Hmm, ada apa kamu mencari SUAMIKU sepagi ini Dinda?” tanya Mira dengan menegaskan posisinya.
Dinda yang menyadari sesuatu kembali mencari keberadaan pria itu dalam kamarnya, tapi rupanya ia sudah terlambat, “Mas Ardan, apa mbak Mira tau Mas Ardan kemana?”
“Mas Ardan... kerja?” ucap Mira juga tak yakin, ia semakin khawatir saat melihat respon frustasi Dinda.
Bahkan wanita yang beberapa hari ini tinggal bersama mereka sampai meremas rambutnya dengan sedikit kencang.
“Dinda, tolong katakan ini ada apa?!!” tanya Mira dengan tak sabar dan menghilangkan segala kelembutan yang selalu ia jaga saat bicara dengan siapa saja.
“Mas Ardan.. dia.. dia pergi bekerja, aku yakin dia tidak ke kantor hari ini”
“Lalu kemana?!”
“Menemui mantan kekasihku, ayah kandung Arkan”
“Tidak pasti dia di kantor” ucap Mira menyangkal semuanya, sembari mengambil ponsel, memastikan semuanya.
Dinda membiarkan hal itu terjadi, membiarkan Mira mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Mira semakin gusar saat operator yang menjawab panggilannya pada handphone Ardan, tak kehilangan akal ia menelpon asisten pribadi suaminya.
“Mohon maaf bu, Pak Ardan sedang tidak ada di kantor, beliau sudah mengajukan cuti untuk beberapa hari kedepan”
Setelah mengucapkan terimakasih, Mira merasa lemas, bahkan jika Dinda tidak sigap menangkapnya, Mira sudah yakin badannya akan merasa sakit saat berbenturan dengan lantai.
‘Semua yang kulakukan ini semata-mata demi kamu’
Jadi inikah maksudnya?
Dengan sekuat tenaga Mira mengguncang bahu Dinda, “Mas Ardan akan selamat kan Din, dia akan baik-baik saja kan?!” tanya Mira yang harus menelan kecewa saat Dinda bersuara.
“Aku gak tau Mbak, maaf, harusnya aku tidak melibatkan Mas Ardan dalam masalah pribadiku” rasa iba itu muncul begitu saja di hati Dinda, apalagi setelah ia tau Mira sedang mengandung.
Air mata Mira luruh begitu saja, rasanya sakit sekali, rasanya seperti ia tertipu oleh sikap baik Ardan yang membuat ia percaya bahwa semuanya sudah baik-baik saja ternyata tidak!
“Mbak Mira jangan khawatir, aku akan menyusul Mas Ardan, aku pastikan ia akan kembali pada Mbak dan anak-anak”
“Aku ikut!!” ucap Mira dengan semangat.
“Jangan, Mbak sedang hamil, konsentrasi Mas Ardan akan pecah saat melihat Mbak ada di tempat yang berbahaya”
“Bagaimana denganmu? Kamu juga seorang wanita, Mas Ardan pasti tidak akan tega melihatmu menyusulnya” ucap Mira parau, rasa khawatir itu juga muncul saat Dinda juga akan ada dalam bahaya yang sama dengan suaminya jika pergi ke tempat dimana Ardan berada.
“Yang dicari Alex adalah aku, jika aku disana mungkin semuanya akan selesai” ucap Dinda lirih.
“Kita cari jalan lain, tidak ada yang boleh pergi dari rumah ini” kata Mira setelah meraih semua kewarasannya.
Hati Mira kembali terenyuh saat Dinda menggenggam kedua tangannya, seolah mereka berdua saling menguatkan.
“Aku pernah dan sering berbuat jahat pada Mbak, bahkan aku sudah sangat egois dengan merebut Mas Ardan dari Mbak, aku.. aku harusnya berterimakasih pada Mbak Mira, karena setelah semua yang Mbak lakukan untuk Arkan, anakku, aku membalasnya dengan tidak baik”
“Dinda..”
“Harus ada salah satu yang tinggal dan menjaga anak-anak Mbak, dan aku percayakan itu padamu, apalagi Arkan sangat dekat denganmu juga.. kamu yang sangat menyayangi Arkan seperti menyayangi Aiden” sela Dinda sebelum Mira menyelesaikan kalimatnya, kini tekatnya sudah bulat, ia tidak ingin lagi berhutang pada wanita di hadapannya.
***
Prok prok prok!!!
“Aku yakin kamu akan datang, dan ya aku harus mengucapkan selamat datang bukan?” ucap Alex dengan seringaian licik yang membuat Ardan merasa muak.
“Jangan banyak bicara, apa yang kamu mau?! Jangan berani-berani mengusik keluargaku!”
“Hahaha” mata elang Ardan terus mengamati musuhnya yang kian berjalan mendekat.
“Sebelum itu aku harus mengucapkan terimakasih, karena sudah merawat pewaris tunggal ku dengan sangat baik, aku tidak akan pernah melupakan itu”
“Kalau begitu jangan usik aku dan keluargaku, lalu aku akan menganggap semuanya impas”
Seriangaian itu berubah, tak ada lagi senyum saat Ardan mulai menyerangnya melalui kata-kata.
“Aku tidak akan melakukan itu andai wanita tak berguna yang mati-matian kau lindungi datang padaku dan mengantarkan anak kami”
“Kau betul-betul menjijikkan, dengan tega membuang darah dagingmu lalu sekarang kau ingin anak itu mengakuimu ayah dan melakukan semua yang kau mau, begitu?”
“Kau sudah tertipu, dan kau harus tau, wanita yang kau lindungi itu adalah wanita munafik yang pernah ku temui dalam hidupku” Ardan tak gentar juga tak mau mempercayai apa yang Alex katakan.
Menyadari itu, Alex melemparkan sebuah Map di hadapan Ardan, “Aku tidak pernah membuang darah dagingku, dia sudah menipumu habis-habisan”
TBC