My Hubby

My Hubby
Chapter 33



Pagi ini Mira berjalan tak bersemangat menuju dapur, hari ini untuk pertama kalinya ia kesiangan, mukanya juga pucat setelah menangis semalaman.


Ada satu hal yang harus ia konfirmasi pada Abangnya.


Mira tidak peduli jika Ardan melarangnya, rasa sakit karena tingkah dan ucapan pria itu kembali menghampirinya.


“Aku masih mencintaimu Mas” Mira segera bersembunyi saat samar-samar ia tak sengaja dengar suara Dinda.


Mas? Maksudnya Ardan kan?


Pelan-pelan Mira sedikit mengintip untuk memastikan pendengarannya.


Bahu lebar itu, juga baju itu, Mira hafal sekali, benar itu adalah Ardan.


“Tapi aku tidak mencintaimu”


Tak bisa di pungkiri Mira sedikit senang mendengar perkataan tegas Ardan. Bisa Mira lihat Dinda kini sedang menangisi penolakan dari suaminya.


“Segera tanda tangani surat cerai itu Din, aku tidak ingin lagi berstatus sebagai suamimu meski itu hanya sebatas hukum negara” Mira menegang di tempatnya.


Jadi benar mereka belum resmi bercerai?


Mira semakin erat mencengkeram handphone yang ada di genggamannya.


Drrrt drrrt


Getaran handphonenya membuat Mira tak bisa lagi fokus mendengarkan pembicaraan suami dan mantan istri suaminya.


Mira menjauh saat dia tau siapa si penelpon itu.


Bang Rey.


Menekan tombol hijau saat ia sudah ada di ruang tamu.


“Halo?”


“Halo Bang, bagaimana kabar Abang disana?”


“Baik sweetypie, bagaimana denganmu?”


“Aku baik, Abang..”


“Ya?”


“Emm ada hal yang ingin Mira tanyakan”


“Apa?”


“Ini tentang..” Mira menggantung ucapannya saat Rey terdengar sedang bicara dengan seseorang.


Mira mendesah lelah saat Rey tak kunjung selesai bicara dengan lawan bicaranya disana.


“Halo Mir, maaf ya kita sambung nanti lagi Abang sedang sibuk disini” Mira menghela nafasnya, ia ingin memaksa untuk meminta waktu Rey namun ia tak kuasa.


“Ya sudah, jaga diri Abang baik-baik disana ya?”


“Yes sweet heart” Mira mendesah saat panggilan itu terputus.


Merasa lelah Mira memilih duduk di salah satu sofa di sana.


Hatinya kembali bimbang, soal pernyataan Ardan kemarin, juga pernyataan Dinda pada suaminya pagi ini.


Dan dari semua itu Mira tidak bisa menjernihkan kondisi keruh ini, tak terasa kepalanya sedikit pening hingga ia memegang kepalanya sendiri sembari meringis menahan sakit.


Badan Mira juga terasa lelah sekali, saat merasa lebih baik Mira yang berniat untuk mengambil air minum berdiri perlahan.


Bukannya membaik pandangan Mira tiba-tiba kabur, dan..


Hap!


“Kamu kenapa?” sayup-sayup Mira menyelaraskan pandangannya yang menampilkan wujud Ardan yang kini menjadi dua.


“Mira kamu kenapa?!” desak Ardan khawatir.


Mira hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, tanpa banyak bertanya Ardan langsung menggendong tubuh istrinya.


“Mau kemana?” tanya Mira saat Ardan membawanya keluar rumah.


“Ke rumah sakit”


Mata Mira terbuka sempurna mendengar jawaban suaminya.


“Ke kamar saja Mas, kepalaku sungguh pusing”


“Karena itu, lebih baik kita ke rumah sakit” Mira menggeleng tidak setuju dengan keputusan Ardan.


Rasa pusing itu semakin menjadi saat Ardan tidak mengindahkan permintaannya.


“Aku ingin ke kemar saja, turunkan aku!” sentaknya membuat Ardan sempat terpaku sejenak.


Tidak ingin memperkeruh suasana Ardan menuruti istrinya dan berbalik arah menuju kamar mereka.


Tapi tanpa di sengaja mereka malah bersirobok dengan Dinda, Mira bisa lihat tatapan sendu itu, juga tatapan dingin suaminya pada Dinda.


“Mas..” Ardan memutus pandangan itu saat Mira kembali merengek, kemudian pria itu menambah langkah meninggalkan Dinda yang masih terus menatap keduanya iri.


Ardan meletakkan tubuh Mira perlahan di ranjang mereka, tanpa sengaja mereka bertatapan dalam diam.


Mira menghela nafas saat Suaminya masih saja diam, meski Mira bisa melihat tatapan khawatir Ardan untuknya, tapi semuanya itu terasa hambar karena masalah diantara mereka.


Pada akhirnya mereka kembali pada kondisi awal.


“Istirahatlah, aku akan menyiapkan Aiden dan Arkan” ucap Ardan yang hanya di angguki Mira.


Dengan enggan Ardan meninggalkan istrinya.


Mira kembali termenung saat pintu sudah tertutup.


Hari ini ia mungkin tidak bisa melihat tampang lucu anak-anaknya, juga kericuhan mereka di meja makan seperti sebelum-sebelumnya.


Mengingat sesuatu Mira merasakan nyeri di hatinya.


Mungkin juga hari ini Ardan dan Dinda akan makan bersama, Mira tersenyum kecut membayangkan itu.


Tak terasa air matanya jatuh, mereka berempat akan terlihat seperti keluarga yang bahagia kan?


Dengan posisi Mira yang di gantikan oleh Dinda.


Merasa sesak, Mira berusaha menyudahi tangisnya, tapi semakin di tahan, hatinya semakin ngilu, air matanya juga bertambah deras.


Berusaha mencari posisi yang nyaman untuk tidur akhirnya Mira menutup matanya.


Entah berapa lama Mira tertidur kesadarannya kembali saat ada seseorang yang mengguncang lengannya pelan.


Menyesuaikan pandangannya dengan cahaya Mira mengucek matanya pelan.


Mira merasa heran saat yang dilihatnya saat ini adalah Ardan, dengan sebuah nampan dan dua piring, juga dua gelas air putih.


“Mas..”


“Makan” Mira bergerak duduk dan bersandar di headboard dengan bantuan Ardan.


“Kok ada dua?” tanya Mira menyuarakan rasa penasarannya, apa Ardan akan menyuruhnya menghabiskan itu semua?


Membayangkan itu entah kenapa Mira merasa mual.


Sontak ia menutup mulutnya, saat rasa itu semakin bergejolak Mira langsung berlari ke dalam kamar mandi.


“Hoekkk” Mira kelimpungan menahan helai demi helai rambutnya yang berjatuhan, sebelum ada sepasang tangan yang mengambil alih tugas itu.


Mira menoleh, benar saja Ardan sudah ada di sana, sembari memberikan pijatan-pijatan lembut di lehernya.


Ajaibnya rasa itu menghilang.


Setelah mencuci mulut Mira berdiri menghadap Ardan.


“Terimakasih” yang dijawab anggukan pria itu, rasa sedih itu kembali menggelungi Mira.


Menyadari bahwa hubungannya dengan Ardan masih memburuk.


Mereka berdua berjalan beriringan dengan Ardan yang telaten menuntun Mira seperti Mira sedang sakit berat, padahal ia hanya mual muntah biasa.


Meski begitu Ardan tetap menuntun istrinya, membantu Mira duduk dengan perlahan.


Memberikan sepiring nasi goreng juga mengambil nasi goreng untuknya sendiri.


“Mas belum makan?” Ardan menggeleng.


Mira jadi tau alasan sepasang sarapan itu, mengetahui itu entah mengapa hati Mira jadi berbunga.


Itu artinya suaminya tidak makan bersama dengan Dinda dan memilih makan bersamanya kan?


“Aku tidak akan mau makan dengan wanita selain istriku” Mira terhenyak kemudian menatap Ardan yang masih asik mengunyah sarapannya.


Menyadari kediaman Mira, Ardan menatap wanita itu.


“Kamu pasti sedang memikirkan itu kan?” todongnya pada Mira.


Bagi Ardan, diam artinya ‘iya’


Tatapan Ardan bertambah tajam, “Itulah kenapa aku tidak ingin ada wanita lain di rumah ini, sekarang kamu merasakan sakitnya kan? hatimu selalu gelisah kan?” tuduh Ardan.


Sayangnya itu tepat sasaran.


Jadi dengan kata lain Ardan melarangnya untuk menjaga perasannya?


TBC